Let Me Change Your Name: Rapuhnya Diri dalam Dunia yang Serba “Cepat”

Oleh : Michael HB Raditya.

Enam penari tersebar di atas panggung. Mereka menggunakan pakaian dengan warna cerah yang berlainan satu sama lain—laiknya tengah menampilkan keanekaragaman. Dengan musik yang mengentak, selama lima menit tanpa henti para penari bergerak dengan gerak acak dan motif yang berlainan satu sama lain. Kemudian seorang penari berbusana hitam berlari dengan kencang dari arah luar panggung ke arah para penari tersebut. Keenam penari terjatuh dengan tiba-tiba seiring dengan lajunya lari penari itu. Selintas namun sangat berpengaruh, laiknya manusia yang rapuh dan mudah berpaling dalam arus dunia yang serba ‘cepat’.

Cuplikan di atas merupakan salah satu fragmentasi dari pertunjukan tari kontemporer bertajuk Let Me Change Your Name, karya koreografer Korea Selatan, Eun-Me Ahn. Karya yang dibuat sejak tahun 2006 ini, mengartikulasikan fenomena yang kerap dialami masyarakat kini, yakni ihwal kedirian individu dalam berkontestasi atau bernegosiasi pada kecenderungan arus utama (baca: mainstream) tertentu. Di dalam karya ini, Eun-Me Ahn sang koreografer—sekaligus penata kostum—bekerja sama dengan Young-Gyu Jang (musik), Andre Schulz (penata cahaya), dan keenam penari, yakni: Ha Ji Hye, Kim Hyekyoung, Kim Jeeyeun, Nam Hyun Woo, Kim Seunghae, dan Park Sihan. Karya yang digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada hari kamis (6/10/2018), menjadi pertunjukan pembuka dalam Indonesian Dance Festival 2018.

Pada tahun ini, pergelaran yang dihelat dua tahunan ini mengangkat tema pertunjukan, “Demo/cratic Body: How Soon Is Now?”. Tema ini turut ditautkan dengan perayaan 20 tahun demokrasi, yang turut berurusan dengan tubuh-tubuh yang beraneka ragam, baik secara kultural, sosial, ataupun politikal. Secara lebih lanjut, Indonesian Dance Festival mengajak penontonnya untuk menilik tentang seberapa jauh demokrasi telah terjalin, dan seberapa siap kita menghadapinya. Lantas, Eun-Me Ahn menjadi pertunjukan pembuka yang kiranya dianggap dapat mewakili keberagaman dan kemerdekaan tubuh.

Tumpang Tindih Identitas

 Diawali dengan cahaya gelap, dua orang penari berbusana hitam muncul dari sisi kiri panggung. Dari sisi yang berbeda, mereka melangkah secara perlahan. Mereka bergerak dengan gerak dinamis, seperti mengesot ke sana kemari dan terus tersambung; melangkah dengan cepat; melompat dengan kuantitas yang banyak dan serentak. Gerak-gerak dinamis tersebut diwujudkan secara acak.

BACA JUGA:  Butakah Kami? : Catatan dari Pertunjukan "Kami Bu-Ta" APDC

Gerak lainnya yang cukup menyita perhatian adalah ketika para penari mengibaskan baju yang ia kenakan masing-masing. Dengan mudahnya mereka mengibaskan pakaiannya terlebih ketika terselisip satu sama lain. Puncak dari kibasan baju tersebut adalah lepasnya pakaian-pakaian yang mereka kenakan, baik dilepaskan oleh empunya pakaian, dilepaskan oleh orang lain, atau meminta orang lain melepaskannya. Secara lebih lanjut, pakaian adalah hal yang melekat pada tubuh, laiknya identitas yang turut ‘melekat’ pada tubuh. Lantas upaya melepaskan pakaian (baca: identitas) sekaligus memperbarui—atau mencari—terus dilakukan pada realitas kini.

Pemain melepas/memperbarui pakaiannya. Foto oleh: @dibalranuhphotography

Upaya memainkan identitas tersebut kiranya didukung dengan latar musik dan sorot lampu yang berubah secara drastis. Hal ini kiranya menunjukkan signifikansi pada dua atau lebih keadaan tertentu. Tidak hanya itu, pakaian yang digunakan para penari cukup merepresentasikan signifikansi tersebut. Di mana penggunaan pakaian dengan warna yang kontras, semisal: pink, ungu, kuning, hijau, putih, hitam, dan seterusnya, menunjukkan perbedaan. Pertemuan dan tumbukan identitas di dalam semesta realitas kini memang acap terjalin, dan kiranya hal tersebut terwujud pada aural-visual karya.

Terlepas dari ketangkasan gerak, motif yang tegas, teknik yang baik, eksplorasi yang kuat, persoalan yang diangkat kiranya sangat menarik untuk kehidupan global kini. Di mana upaya mempertahankan dan memperbarui identitas adalah keniscayaan di tengah arus global yang serba cepat dan terus berubah. Perkara identitas yang sesuai dengan kontekstual zaman terus dilakukan, sehingga menanggalkan tradisi bukan soal yang asing. Pertunjukan dari Eun-Me Ahn kiranya menyadarkan masyarakat akan persoalan identitas yang sudah barang tentu lekat dengan masyarakat di manapun berada.

Tidak hanya itu, satu hal yang cukup menarik dari pertunjukan ini adalah struktur dari karya. Pasalnya, sang koreografer dapat mengejawantahkan gagasannya hingga bagaimana struktur disusun. Secara lebih lanjut, Eun-Me Ahn menerapkan kebosanan-kebosanan zaman yang diwujudkan dengan repetisi gerak yang terus berulang hingga menuju pada titik jenuh. Hal ini tentu berisiko, pasalnya para penonton memang banyak yang menanggap tontonan tersebut membosankan. Di mana beberapa orang keluar dari ruang pertunjukan ataupun wawancara yang saya lakukan kepada beberapa penonton mengekspresikan hal tersebut.

BACA JUGA:  Diary Monsoon Ayu Permata Sari

Namun di balik hal itu, Ahn tidaklah ceroboh soal durasi dan intensitas repetisi, melainkan ia sangat menyadari soal kebosanan yang ia sematkan dalam karyanya. Secara lebih lanjut, Ahn sengaja memperlihatkan kejenuhan zaman yang memang terjadi dan teralami oleh masyarakat. Di mana masyarakat tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya mengulangi hal tersebut hingga perubahan zaman lainnya muncul. Bertolak dari cerminan masyarakat Korea Selatan yang berubah serba cepat—ditandai dengan seni tradisi ke Korean Pop—, Ahn mengajak kita untuk melihat rapuhnya identitas dalam belantara kemajuan zaman.

Atas Nama Moralitas, Seni Mau Apa?

Karya Let Me Change Your Name telah dipentaskan beberapa kali di pelbagai tempat. Hal yang cukup menarik, karya ini mengalami perubahan ketika digelar di Indonesia. Di mana terjadi reduksi nilai pada karya, khususnya pada soal ketelanjangan dari para penari perempuan di beberapa bagian. Padahal ketelanjangan di dalam karya ini bukanlah upaya eksploitasi pada organ intim tubuh, melainkan menunjukkan ‘ketelanjangan’ diri, tubuh yang polos, tubuh yang nir-identitas. Lantas untuk menampik pelbagai tudingan, semisal: mesum, liberal, merusak moral, dan pelbagai alasan normatif moralis lainnya, IDF memutuskan untuk menyensor pada bagian ketelanjangan. Hal tersebut diamini, Eun-Me Ahn menyiasatinya dengan penggunaan kain berwarna kulit yang melekat pada tubuh penari perempuan.

Lantas apakah nilai dari karya menjadi berkurang? Tentu setiap karya tari dibuat dengan pemikiran yang matang, tetapi gagasan setiap karya tidak akan ditangkap utuh oleh penonton. Hal ini akan menciptakan interpretasi yang berlandaskan pengalaman kultural, sosial, dan kontekstual lainnya. Ketakutan akan kesesatan pikiran inilah yang membuat negosiasi harus dilakukan oleh IDF. Kendati demikian hal ini tidaklah keliru, setiap penyelenggara mempunyai keputusannya masing-masing. Terlebih pilihan negosiasi hanya terbatas, yakni: menaati rambu-rambu moral, melawan rambu-rambu tersebut, atau bersiasat dengan penonton, semisal memberikan kategori usia atau mementaskan karya di hari terakhir dengan karakter penonton yang berpikiran lebih terbuka. Namun IDF mengambil pilihan untuk  tidak mengambil risiko atas hal tersebut. Alhasil ‘perjudian’ IDF ini—mau tidak mau—berdampak pada karya, dan hasilnya pertunjukan Eun-Me Ahn tidak jauh lebih dari kata, “aman.”

BACA JUGA:  EVERYTHING YOU WANT IS PROCESS : Catatan atas pertunjukan Sally Dance Masstricht di Yogya 2017

Bertolak dari hal tersebut, ketelanjangan di dalam karya Eun-Me Ahn agaknya telah dicerabut dari konteks karya, dan menjadi sesuatu yang tabu di Indonesia. Padahal setiap elemen yang ada terjalin menjadi satu kesatuan yang utuh di dalam karya. Hal tersebut sudah barang tentu mendukung tersampaikannya pesan mendalam yang disematkan di karya Let Me Change Your Name ini. Dalam hal ini, saya tidak membela dan mengusung ketelanjangan sebagai sebuah hal yang harus dilakukan, jika tanpa alasan. Namun dari sini, agaknya saya menjadi percaya bahwa setiap karya yang merdeka memang tidak benar-benar mendapat tempat di tempat yang tidak ‘merdeka’ dalam pemikiran. Sudah merdekakah kita?[]

Michael HB Raditya

Penulis buku kritik seni pertunjukan yang bertajuk Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan (2018). Bekerja di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM.

Michael HB Raditya

Penulis buku kritik seni pertunjukan yang bertajuk Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan (2018). Bekerja di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana, UGM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *