Kompleksitas Ambang dalam NoSheHeOrIt

Oleh: Galih Prakasiwi

Seorang wanita berbaju coklat muda bediri di tengah area pementasan. Sorot lampu kuning terfokus pada dirinya. Rambut ikal hitam jatuh terurai. Ia gerakkan tubuhnya dengan stacato tangannya merentang membangun ruang yang luas, tumpuan kaki lebar seperti kuda-kuda. Tubuh perempuannya tampak maskulin. Sementara di sudut kiri depan arena pentas, dua orang laki-laki berbaju hitam memakai sepatu hak tinggi bertali. Lalu mereka berdiri membuka kaki. Suara bisikan bergema terdengar “no he, no she, no it, but I’m Lengger”. Pelahan pinggul mereka digerakkan ke kanan, kiri, kanan, kiri, terus berulang. Tatap nanar kedua penari itu menyapu ke area penonton, hanya pinggul lah yang ditekankan untuk bergerak. Gerak pinggulnya tipis namun memikat. Demikian pertunjukan ‘Nosheheorit’ karya Otniel Tasman dimulai. Gedung Kesenian Jakarta malam itu menjadi tempat karya ini bertemu publik negrinya. Bulan Mei lalu, Nosheheorit premiere di Belgia dalam acara Europalia. Kali ini, pada 8 November 2018 tampil dalam pertunjukan utama (main performance) rangkaian Indonesian Dance Festival 2018 hari kedua.

Poster NoSheHeOrIt di ajang IDF 2018

Otniel yang kini tengah melanjutkan pendidikan ke jenjang magister penciptaan seni di ISI Surakarta ini, terinspirasi dari sosok Lengger Lanang (laki-laki) bernama Dariah hingga terciptalah karya ini. Kesenian Lengger khas Banyumas, akrab dengan diri Otniel sejak kecil. Sosok Dariah tidak hadir begitu saja secara biografis dalam karya ini, ia melebur dalam keutuhan permulaan hingga akhir tarian. Kesenian Lengger seperti halnya Tayub di Jawa Tengah yang banyak ditarikan oleh perempuan namun konon dulunya ditarikan oleh laki-laki (lihat Serat Centhini V). Perjalanan seorang perempuan terpilih hingga menjadi seorang Lengger dituturkan Ahmad Tohari novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Kisah Dariah menjadi Lengger memang tidak sama persis dengan apa yang dikisahkan oleh Ahmad Tohari, namun terdapat hal mendasar yang diangkat Otniel memiliki keserupaan misalnya seseorang tidak memilih menjadi Lengger melainkan dipilih oleh indhang (roh yang dipercaya dimiliki oleh setiap Lengger). Perihal Lengger Lanang ini menarik sebab keadaan dirinya yang terlahir berjenis kelamin laki-laki, tetapi menarikan dan mengenakan rias busana layaknya seorang perempuan. Keadaan ambang problematis atas konstruksi laki-laki dan perempuan ini lah yang diangkat Otniel dalam karya ini. Isu yang lebih global dialami oleh beberapa orang yang lain.

BACA JUGA:  Hibah Pina Bausch Fellowship 2018 untuk Penari dan Koreografer

Selama 25 menit, Otniel mempresentasikan maskulinitas di tubuh perempuan dan femininitas pada tubuh laki-laki. Seolah ingin menyatakan bahwa dalam diri manusia ada sisi gender yang sebaliknya, hanya saja mana yang lebih dominan. Seorang sinden dan pengendang hadir di atas panggung, sedang musik lainnya hadir melalui rekam dan komposisi suara. Suasana yang dibangun atas hal ini yang paling dominan adalah kegetiran dengan beberapa gema, bisikan, lonceng, serta rapalan mantra (Lengger) berbahasa Jawa. Lirik tembang menyuratkan ide karya koreografer, yang aktif berkegiatan di rumah Banjaransari ini, dengan puitis. Etude gerak tari Banyumasan sesekali terlihat dari gerak tangan para penari yang menekuk jari telunjuk dan mendekatkan ujungnya dengan ibu jari, sedang jari tangan yang lain lurus dan merapat.      

Kendhang itu ditabuh oleh seorang lelaki yang mengenakan iket, tlang tung tak den dang tung tak det tlang dang, dang det dang det… Bunyi kendhangan khas Banyumasan itu menarik raga untuk bergerak mengisi setiap detail bunyi, namun Otniel tak mengamodir hal itu justru ia memilih gerak kontras. Bersamaan dengan bunyi kendang yang rapat, suara calung kian terdengar, lagu ‘dawet ayu’ dinyanyikan. Tangan kanan Otniel yang semula merentang perlahan berpindah menjadi rentangan tangan kiri. Ia tampak menahan diri. Lama kelamaan tariannya pun utuh, setiap bunyi tepak kendang terisi gerak. Celana ketat merah tua, kemben merah dengan ornamen emas melekat pada tubuh Otniel. Perpaduan gerak dan busana yang dikenakannya pun mengantarkan pada tahap transisi tubuh hingga menjadi seorang Lengger.

Pada pertengahan, tampak seorang penari laki-laki dan perempuan bergantian untuk mengangkat, mengendong, lalu terjatuh. Terasa mereka merupakan dua tubuh yang saling berbagi, saling ingin mengendalikan, namun satu. Suara lantang sinden terdengar bahwa cerita Lengger telah ada sejak lama, tubuh laki-laki dan perempuan bersatu, nyawiji dengan raga. Nyawiji ialah konsep Jawa mengenai penyatuan, diri dengan tarian atau bahkan menemukan diri dalam tarian hingga mencapai spritiualitasnya.

Otniel Tasman (berdiri memegang beberapa kuntum mawar) dalam salah satu adegan NoSheHeOrIt di IDF 2018. Foto dok. IDF oleh Dibal Ranuh.

Adegan terakhir diolah Otniel dengan pertimbangan artistik secara visual dan penciuman (bau). Otniel membawa banyak mawar merah bertangkai, lantas ia membagikan segenggam pada lima orang penari yang berpencar memenuhi panggung. Usai setiap orang mendapatkan bagiannya, ia pun menepi ke sudut kiri panggung. Bunga-bunga itu dihantamkan ke tubuh berulang kali, sontak kelopaknya berhamburan memerahkan panggung. Pelahan Otniel memakan satu per satu kelopaknya lalu menghantamkannya juga ke tubuh. Usai bisikan gusti ngaraos hina lampu perlahan padam, yang tersisa ialah harum semerbak bunga mawar. Tepuk tangan riuh terdengar. Pertunjukan usai.

BACA JUGA:  Latihan Melakukan Perubahan : Forum Theatre di BTF 2017

Karya ini ditutup dengan kegetiran. Otniel seolah masih meninggalkan masalah, namun pada titik inilah karyanya hidup. Masalah gender selalu terkait dengan bagaimana seseorang diperlakukan secara sosial. Lengger tak ubahnya seperti fungsi saman, dipercaya sebagai seseorang yang suci bahkan setengah ‘dewa’, pemberi pengaruh baik dalam hal kesuburan maupun tolak bala di tengah masyarakat melalui ritual keseniannya. Sekularisasi yang terjadi di dunia ini mengakibatkan beragamnya sudut pandang yang dapat ditilik lebih jauh lagi. Tarik menarik ‘kelaki-lakian’ atau ‘keperempuanan’ dinyatakan Otniel dengan kompleks seperti mawar berduri yang indah dan harum menghantam tubuh-tubuh mereka.**


Galih Prakasiwi

Mahasiswa S2 PSPR UGM, Pendiri Kawung Art, Culture and Wisdom. Tinggal di Yogyakarta.

Latest posts by Galih Prakasiwi (see all)

Galih Prakasiwi

Mahasiswa S2 PSPR UGM, Pendiri Kawung Art, Culture and Wisdom. Tinggal di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *