Nusantara Sebagai Wacana Dialog Keberagaman, Catatan dari FMN 2017

Fikcy Tri Sanjaya*
Festival Seni Internasional

Semasa jayanya Majapahit, nusantara merupakan kesatuan maritim dan kerajaan laut terbesar diantara bangsa-bangsa beradab di muka bumi. Arus beregerak dari selatan ke utara, segalanya : kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatanya, dan cita-citanya, semua bergerak dari nusantara di selatan ke ‘Atas Angin’ di utara.  Kutipan dari pengatar novel Arus Balik  karya Pramoedya Ananta Toer tersebut mungkin cukup pantas mewakili semangat produksi Festival Monodrama Nusantara 2017, yang diselenggarakan 15- 16 Desember 2017 di Pasca Sarjana ISI  Yogyakarta, diselenggarakan oleh Whanidproject bekerjasama dengan pasca sarjana ISI yogyakarta.

Sungguh menarik menyaksikan perkembangan gelaran Internasional di Yogyakarta, bagaimana sebuah wacana serta gagasan digulirkan melalui gelaran budaya, sebagai sebuah tawaran dari strategi kebudayaan. Gagasan mengenai festival monodrama nusantara 2017 unik, tidak kalah mengairahkan sebagaimana even seni internasional lain di Yogyakarta seperti Asia Tri, Jogja Street Internasional Performance, Bienale Jogja, Network for the Promotion of Asian Cinema (NETPAC), Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), Pesta Boneka, dsb. Hanya saja yang berbeda dalam festival ini adalah mencoba menampilkan seni peran tunggal sebagai representasi kebudayaan nusantara di tiga negara Indonesia, Malaysia dan Singapura melalui label Nusantara. Festival ini juga memiliki program lain seperti workshop penulisan naskah monolog, wokrshop keaktoran  dan lounching buku.

Para aktor dalam Parade Monolog Festival Monodrama Nusatara. dari kiri ke kanan : Danial Lee, Irna NJ, Roslan Daud, Ard Omar, Dalifah Shahril dan Uul Syarifah Lail. Paling kanan (menggendong bayi) adalah Whani Darmawan, aktor dan penulis yang menggagas acara ini. Foto : Yusof Bakar.

 

Suasana Workshop keaktoran, rangkaian Festival Monodrama Nusantara 2017. Foto : Yusof Bakar.
Wacana Sejarah Keberagaman di Tiga Negara Malaysia, Singapura dan Indonesia.  

Sebagai perkenalan, Festival Monodrama Nusantara 2017 ini berusaha mengangkat gagasan utama mengenai kata Nusantara; dengan kata dasar  ‘’Nusa’’ dan ‘’Antara’’.  Mencoba mengenali kembali kosep negara kepulauan nusantara dari zaman kerajaan hingga masa modern Indonesia dalam bentuk Republik saat ini. Meskipun wacana nusantara ini adalah wacana lalu, namun luasnya cakupan wilayah yang disebut sebagai nusantara, sebagai konsep negara kepulauan membuatnya memiliki makna dan konteks lain dalam pengertian dan perkembangan berbangsa di era sekarang. Dalam buku pengantar kata Nusantara merujuk pada kerajaan majapahit masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1359) yang telah menggunakan konsep ini sebagai negara kepulaan. Dalam catatan sejahrawan Denis Lombard terhitung yang disebut patih Gajah Mada sebagai bagian nusantara adalah lima puluh dua titik lokasi. Utamanya adalah bagian dari Indonesia, ditambah Malaysia, Singapura, Kamboja, Vietnam, Timor Leste, Laos, dan Filipina.

Wacana nusantara memang terkesan mengagungkan peninggalan sejarah yang romatik. Namun secara posistif wacana ini mencoba mengkaitkan hubungan perkembangan antar manusia dengan kebudayaannya saat ini. Sebagai ruang dialog kebudayaan, hubungan ini berharap dapat dikelola agar tidak terjebak kepada hal romantik. Sebagai awalan ruang ini dapat menjadi titik tolak kajian perkembangan gagasan seni pertunjukan di tiga negara Malaysia, Indonesia dan Singapura. Sebagai sebuah alternatif festival gelaran monodrama ini nampaknya memiliki peluang untuk mereposisi perkembangan arus seni pertunjukan kotemporer saat ini. Meski seni teater berasal dari kebudayaan barat, tetapi nilai-nilai yang tersirat sebagai entitas dan idenditas dalam pertunjukanya seperti dari ide, tema, bahasa, keaktoran, artistik, dapat bersumber dari masing-masing negera peserta.

Sejarah mencatat sejak abad XV-XVII apa yang disebut negara kepulaan (Nusantara) telah berkembang dan bekerjasama, memiliki bahasa pemersatu dari bahasa Jawa Kuna sebagai Lingua Franca, kemudian bahasa melayu sebagai komunikasi perdagangan secara luas. Ketika kemudian perlintasan perdagangan dan kekayaan kebudayaan nusantara terkenal, berbodonglah para pedagang Arab, China dan Eropa dengan armada-armada lautnya untuk ikut berinteraksi di Nusantara. Menengok perlintasan sejarah Nusantara berarti menapaki jejak perjumpaan dan pertukaran kebudayaan di Asia yang beraneka ragam. Tentu saja  keberagamaan (pluralisme) sebagai tinggalan kebudayaan Nusantara lampau,  jika dikaji dari sudut pandang kolonialime bisa berarti menengok sebuah kehancuran kerjasama antar bangsa. Tetapi jika bertumpu dari gagasan Pluralisme masa ini, berarti berharap pada semangat positif kerjasama kebudayaan antar manusia di era modern saat ini.

Monodrama Nusantara

Istilah kata Monodrama dalam gelaran ini memang tidak baru. Tetapi sebagai wacana seni pertunjukan Indonesia, publik umum teater lebih akrab dengan istilah monolog. Meski memiliki kesamaan yaitu dimainkan secara solo. Tetapi secara konteks Mononodrama ternyata lebih luas merujuk pada kata drama serta tidak hanya menitik beratkan pada kemampuan dan penguasaan dialog seperti dalam monolog. Buku pengatar acara festival, menerangkan lebih jauh. Monodrama konon lebih dekat dengan Melodrama; adalah bagian dari pertunjukan opera ketika satu orang aktor bermain tunggal dan beraksi. Tidak melulu monolog/ berakting bicara, tetapi bisa menyanyikan lagu atau juga pantomim. Nampaknya festival ini sugguh sadar menempatkan definisi makna kata sebagai representasi tanggung jawab atas wacana, teknis dan langkah kerja gagasannya.

Dari enam orang yang berpartisipasi dari 3 negara Malaysia, Singapura dan Indonesia yang tampil malam itu antara lain Syarifah Lail Al Qadhariani (Indonesia) membawakan lakon Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu Karya WS Rendra, Muhammad Daniel Lee bin Muhammad Hadi Lee (Malaysia) membawakan lakon Duri-Duri Hati : Kisah Malim karya Mohd. Yusof Bakar, Dalifah Shahril (Singapura) membawakan lakon Naked karya Yohana, Roslan Mohd Daud (Singapura) membawakan lakon 370 karya Rafaat Haji Hamzah, Irna Nurjanah (Indonesia) membawakan lakon Sampai Depan Pintu Karya Wani Dharmawan, Ard Omar (Malaysia) membawakan lakon Perempuan yang Bernama Saad karyanya sendiri. Dari enam lakon yang dibawakan, para aktor dari masing-masing negara tampil maksimal. Meski masih memiliki catatan kekurangan dalam segi keaktoran sebagai komponen utama penampil, tetapi banyak pula sisi lain dari pertunjukan ini yang sebenarnya tidak kalah menarik sebagai bahan kajian, seperti tema lakon, bahasa, penyajian pertunjukan (artistik meliputi kostum, musik, properti, make up, gaya akting, termasuk cara penyikapan ruang dan penonton).

Semisal Dalam Lakon Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu Karya WS Rendra yang dibawakan Syarifah berlatar waktu sebelum kemerdekaan. Lakon tersebut senyatanya menceritakan kisah cinta antara laki-laki dan perempuan, namun narasi latar besar yang lain bercerita bagaimana rakyat Indonesia kala itu pernah dijajah Jepang, rakyat kala itu turut membantu perang Jepang menjadi tentara Heiho dan tidak kembali. Persentuhan lantunan musik keroncong melalui tape/radio memberi latar nuansa kesadaran selera zaman yang telah berubah ke era modern.  Penampil lain dari Indonesia melalui naskah Sampai Depan Pintu  Karya Wani Dharmawan tampil berbeda dengan isu dan unsur-unsur cerita dan peristiwa kosmopolit Indonesia kekinian.

Lakon  Duri-Duri Hati : Kisah Malim karya Mohd. Yusof Bakar, yang dibawakann Daniel Lee menceritakan tentang konflik sosial dan ekonomi yang dialami sebuah keluarga Melayu Islam yang miskin. Seorang anak laki-laki yang bekerja keras sebagai tulang punggung keluarga. Pendidikan yang tidak tinggi menyebabkanya bekerja dengan upah yang tidak layak. Ia menginginkan kebahagian baik secara pribadi maupun keluarga, namun jalan pintas yang ditempuhnya dengan menjadi penjambret. Keraguan antara kebenaran, dosa dan tanggung jawab berkecamuk dalam dirinya. Sialnya kakak kandungnya sendiri yang menjadi korban. Narasi-narasi naskah para penampil dari Malaysia kental sekali akan nuansa dunia Islam bahkan dengan membawakan konteks isu ‘trans gender’.

Ard Omar (Malaysia), memainkan “Perempuan Bernama Saad” dan membawa isu transgender. Foto : Yusof Bakar.

Lakon Naked karya Yohana, yang dimainkan Dalifah bercerita tentang seorang perempuan yang mengalami gangguan mental Obsesif Compulsif Disorder (OCD) berdasarkan kisah nyata. Perempuan tersebut jika tertekan kemudian berusaha untuk telanjang bulat di hadapan umum dan bernyanyi sekeras-kerasnya agar merasa bebas, meski suaranya tidak bagus. Lagu berjudul Dancing Qeen adalah salah satu lagu favoritnya. Dari dua penampil Singapura unsur-unsur kebudayaan barat (Inggris) muncul melalui penggunaan bahasa dalam dialog dan nuansa musik dalam unsur-unsurnya, nilai-nilai Islam juga kental dari penampil lain di lakon lainnya 370 karya Rafaat Haji Hamzah yang dimainkan Roslan Daud.

Dari keenam lakon-lakon yang dimainkan tampak sekali latar belakang tema, tempat, serta kurun peristiwa pada waktu tertentu. Dalam pertunjukan monodrama cara dan laku seniman dalam merepresentasikan penyutradaaan, laku aktor, artistik dalam mewujudkan  drama yang utuh, memberi impresi besar bagi penonton akan nilai dan gambaran jernih akan sebuah perlintasan persistiwa kebudayaan yang tengah terjadi baik yang sudah, sedang atau akan terjadi. Nilai dan gambaran tersebut menjadi penting sebagai bahan permenungan, kajian, dan diskusi mengenai peradaban nusantara saat ini.

*Fikcy Tri Sanjaya, aktor, pantomimer, penulis lepas. Aktif di Bengkel Mime Theatre, dan berbagai kegiatan seni pertunjukan lain di Yogyakarta dan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *