fbpx

Tubuh Pala dan Luka yang Mirah Punya : Ulasan “Karma Puan Karna Pala” – Secret Invitation Movement di Linimasa #5

[Raihan Robby]. Apa yang membuat para penjajah, seperti bangsa Spanyol, Inggris, Portugis dan Belanda menghabiskan berpuluh-puluh tahun untuk melarung dan mengarungi samudra, dengan mengorbankan banyak hal: nyawa, harta dan armada-armada laut menuju pulau-pulau di timur yang jauh, pulau-pulau seperti: Maluku, Banda Neira, Ai dan Pulau Run, dituju dan hendak dimonopoli oleh para penjajah. Sebab kala itu Eropa tengah mencret darah, disentri, sampar hingga menyebabkan kematian dan dikenal sebagai Black Death yang melanda eropa pada abad ke-14 hingga 18.

Sebab ketakutan akan kematian, dan di titik tertentu untuk cita rasa masakan, para penjajah itu datang, mereka mencari dan ingin menguasai komoditas pasar Eropa, rempah-rempah yang setara dengan emas, seperti: kayu manis, cengkeh, lada dan bunga lawang. Namun, buah pala-lah yang paling banyak dicari, buah yang digambarkan sebagai ‘emas hitam’ itu, dipercayai mampu mengatasi wabah Black Death, sehingga diburu dan dimonopoli oleh para penjajah.

Dengan menghadirkan video screen laut biru dengan ombak yang perlahan-lahan saling menyapu itu, Secret Invitation Movement, yang disutradarai oleh Dexara Hachika memulai pertunjukan pada Parade Teater Taman Budaya Yogyakarta LINIMASA #5 tanggal 25 Oktober 2022, pertunjukan yang menggabungkan berbagai macam lintas-disiplin ini diberi tajuk “Karma Puan Karna Pala”, Dexa membuka pertunjukan dengan sempurna.

Laut dalam video screen itu menjadi traumatis, bukanlah sesuatu yang indah dan menenangkan, melainkan suatu bentuk permulaan yang penuh ketegangan. Ketegangan yang terbungkus kompleks dengan hadirnya musik yang menggelegar dan bulat penuh. Nyanyian yang berulang-ulang menunjukan daya magisnya yang kuat, penonton seakan ditarik mengalami luka yang terjadi di laut Banda itu, para aktor hanya menggunakan kain untuk menutup tubuhnya, aktor yang berjumlah delapan belas orang itu, kebanyakan didominasi oleh aktor perempuan, mereka berjalan dengan perlahan, tubuh-tubuh mereka yang tegap dan berjajar menciptakan keutuhan dimensi, penonton dibuat terpukau dengan kemunculan awal yang telah membawa teks sejarah penuh luka itu.

Setelah semuanya memenuhi panggung, lagu dengan gema yang terus terbawa dalam kepala penonton perlahan berhenti. Berganti dengan gemuruh, layar proyektor berubah menjadi ombak yang ganas, dengan para perempuan yang perlahan-lahan merenggangkan kaki, seakan membentuk kuda-kuda dan menurunkan kedua tangannya, perlahan-lahan, selayaknya membawa beban berat, gerakan yang perlahan itu semakin lama semakin cepat temponya hingga mereka berteriak. Dan berdiam setelahnya. Para aktor laki-laki memperhatikan dan mengangkut mereka satu persatu. Kini, hanya tersisa satu orang aktor perempuan, yang dalam pertunjukan ini ia bermonolog sendirian, perempuan itu bernama Mirah.

Dengan latar suara air laut, Mirah terpesona dengan apa yang ia lihat: lanskap alam pulau Banda. Namun, siapa sebenarnya Mirah, dan mengapa ia menjadi tokoh sentral dalam pertunjukan ini? Para aktor kembali masuk menciptakan gerak memutar dengan kepala yang menggunakan keranjang sebagai tudung. Selesai berputar mereka menciptakan barisan dengan levelitas rendah, Mirah keluar dari barisan itu dan bermonolog, ia menggugat kekejaman yang dilakukan oleh para tuan tanah, ia marah sebab dirinya dan banyak kuli kontrak di kebun pala itu tersiksa.

Mirah bernostalgia, ia bercerita tentang masa lalunya, bahwa sebenarnya ia tinggal di Jawa, namun ia tak mengingat rumahnya, bahkan, ia tak mengingat nama kedua orang tuanya. Saat ia mengatakan itu, musik seketika mengubah suasana, di belakang para aktor menari dengan langgam Jawa dan keluar panggung dengan berjalan-simpuh, gambaran suasana Jawa yang juga getir.

BACA JUGA:  Srawung Tanpa Simbah

Ia adalah gadis polos yang diculik dengan iming-iming gulali oleh bandit suruhan tuan tanah di pulau Banda, ia bersama Bibinya, Yu Karsih, dikurung dan dikirim ke Banda sebagai budak, sebagai kuli kontrak untuk tetap dapat bertahan hidup. Kesakitan yang ia alami sebagai kuli kontrak, digambarkan melalui latar gerak para aktor dengan tubuh yang kaku dan keras, tegang dan perlahan sambil membawa keranjang untuk mengumpulkan buah pala, para aktor itu benar-benar mengeksplorasi gerak tubuhnya, mengeksplorasi sekaligus mengekspresikan tersiksanya menjadi kuli kontrak di kebun pala.

WhatsApp Image 2022 10 29 at 17.26.41 | Tubuh Pala dan Luka yang Mirah Punya : Ulasan “Karma Puan Karna Pala” – Secret Invitation Movement di Linimasa #5
Belasan Aktor bergerak pelan dalam Karma Puan Karna Pala. Foto oleh : Devi Marlinda.

Waktu dalam pertunjukan ini mengalami lompatan-lompatan, berada dalam nostalgia dan masa kini, sekelebat masa lalu yang indah dan masa sekarang yang mengekang. Ruang dalam pertunjukan ini menghadirkan sepotret kenangan dan kejadian. Secara cepat, perpindahan itu mempertemukan Mirah dengan Lawao, mereka adalah kuli kontrak yang jatuh cinta, namun, cinta saja tak cukup untuk menghidupi keduanya, Lawao harus pergi berlayar ke Tenggara, Lawao harus mengumpulkan tabungan untuk dapat menikahi Mirah, dan pergi selama-lamanya dari hutan pala.

Namun, Mirah tak bisa selamanya menunggu, dalam sekelebat ruang yang berbeda itu, Lawao dan Mirah bertemu, mereka mulanya seakan bermonolog dengan dua fokus cahaya masing-masing, sebelum dipertemukan dalam dimensi yang sama. Sekali lagi, Mirah tak bisa selamanya menunggu ia dalam situasi yang memaksa, harus menjadi nyai dari Tuan Besar.

Dengan cemerlang, Dexa menggambarkan status sosial dari Mirah yang semula menggunakan kebaya biasa, menjadi kebaya putih dengan beberapa perhiasan, status Mirah bukan lagi sebagai kuli kontrak di kebun pala, ia telah menjadi nyai di rumah Tuan Besar. Meski, perubahan status ini penuh akan diskriminasi, ia tak diakui sebagai istri dari Tuan Besar, statusnya satu tingkat lebih tinggi dari para pelayan di rumah Tuan Besar, yang lebih memilukan lagi, anak-anak hasil perkawinan Indo-Eropa, anak nyai Mirah, di dalam lingkungan keluarga, ia adalah anak Mirah dan Tuan besar, namun di hadapan umum, ia memiliki status yang berada di ambang.

Anak-anak yang tidak tahu menahu tentang status sosial ini pun tak dapat diakui pula kehadirannya di tengah masyarakat, anak-anak hasil pergundikan ini, statusnya lebih mulia dari pada ibu yang melahirkannya, tetapi lebih rendah daripada bapak yang menyebabkan kelahirannya. Sungguh, kolonialisme tak hanya memonopoli perdagangan pasar, namun juga memonopoli manusia, mengotak-kotakkan manusia berdasarkan status sosial, warna kulit, hingga bahasa.

Ya, barangkali dengan narasi dan sejarah besar yang pilu, Dexa terinspirasi dari novel “Mirah dari Banda” karya Hanna Rambe. Ia menghadirkan intertekstualitas dari buku menuju pertunjukan, sebuah usaha berangkat dari teks yang kompleks, menuju pertunjukan yang performatif dan kompleks pula.

Usaha Dexa menghadirkan atau mungkin berangkat dari novel itu, setidaknya dapat dilihat melalui gerak aktor yang didukung oleh visual art, musik, dan lampu yang menciptakan dimensi kuat, serta dialog-dialog antar tokoh, di titik tertentu porsinya lebih banyak monolog dengan gugatan-gugatan dan kemarahan yang dialami oleh Mirah

Dengan monolog pun dialog inilah, Dexa memindahkan ruang dan waktu secara cepat, ia menjadi seutas tali yang disambung-susun membentuk pertunjukan, menghantarkan sekaligus memutuskan di titik tertentu yang sekiranya kuat untuk ia narasikan. Selebihnya, eksplorasi tubuh yang repetitif, dan berat itu cukup menjadi latar kesakitan menjadi kuli kontrak, dan latar suasana pulau Banda yang diburu karena buah pala.

Mendekati akhir dari pertunjukan, para aktor yang bergerak itu mengentak-entakkan kakinya, melingkari Mirah yang mengenakan kebaya putih, Mirah bernyanyi dengan lagu yang sama di awal pertunjukan, musik yang memang membungkus-seluruh, dan menggema tak hanya melalui telinga, namun juga secara pengelihatan. Di belakang mereka, layar video menunjukan ilustrasi terjadinya perang Banda, perpindahan posisi penjajah dari yang satu ke penjajah yang lainnya. Dari Belanda ke Jepang, Mirah mengalami segala luka itu, kedinamisan hidup yang tak pernah ia sangka begini sakit, Tuan Besar dan anak-anaknya hilang dalam perpindahan kuasa penjajahan itu, ia kini kembali sendiri, sebagai seseorang yang bukan siapa-siapa.

BACA JUGA:  A Bucket of Beetles: Dari Serangga ke Isu Ekologi

Dalam ‘kekalahan’-nya itu, Mirah bermonolog kembali dengan para aktor menutup kepalanya menggunakan keranjang, selayaknya menyebrangi ruang antara, Mirah berpasrah diri kepada Tuhan, ia membayangkan situasi padang mahsyar, akankah ia dapat mengingat wajah kedua orang tuanya, akankah ia bebas dan merdeka dalam kehidupan setelah kematian itu, meski dengan nada kekalahan, hingga di titik ini, Mirah masih menyimpan nada-nada perjuangan, nada-nada yang menggambarkan bagaimana ia sebagai perempuan hidup dalam kondisi masyarakat patriarki yang menyiksa dan sakit.

Ini semua terjadi karena karma dari buah pala, begitulah narasi yang menutup pertunjukan ini. Narasi yang sama menjadi judul dari pertunjukan ini, saya mencoba menarik dan memahami bahwa kata ‘karma’ yang dipakai Secret Invitation Movement, adalah sebagai ‘dampak buruk’, alih-alih sebagai ‘sebab-akibat’, jika ditilik dari pertunjukan, Mirah terpincut oleh gulali, yang mana seluruh anak-anak menyukai manis-manisan, dari keluguannya itu, ia diculik dan dijadikan budak, apakah ini penyebab karma hadir? Mungkin, tetapi karma-karma yang lain berdatangan, karma-karma yang ditimbulkan dari kondisi yang memaksa ia untuk tetap bertahan hidup, apakah itu juga dapat dikatakan karma? Lagi-lagi jawabannya adalah mungkin.

Namun, Mirah tak datang karena buah pala, ia berada dalam posisi yang entah. Jika mempercayai tiga rentang waktu tentang karma, yang seperti buah pala itu, karma juga dapat matang dan kita terima, berangkat dari ajaran Hindu ketiga jenis karma itu terdiri, antara lain: Sancita Karmaphala (karma masa lalu), Prarabda Karmaphala (karma saat ini), dan Kriyamana Karmaphala (karma masa depan). Lantas, karma apa yang diterima oleh Mirah itu? Karma di kehidupan sebelumnya, atau karma saat ini? Narasi tentang karma yang dibawa oleh Dexa, bagi saya tak begitu kuat, sebab, seperti kebanyakan perempuan lainnya di tengah kepungan kolonialisme, mereka, seakan tak mempunyai pilihan, pun ketika dapat memilih, mereka selalu salah.

WhatsApp Image 2022 10 29 at 17.26.40 | Tubuh Pala dan Luka yang Mirah Punya : Ulasan “Karma Puan Karna Pala” – Secret Invitation Movement di Linimasa #5
Gambaran derita perempuan di tanah kolonial. Foto oleh : Devi Marlinda

Lebih jauh, Secret Invitation Movement, belum begitu rapih menggunakan nalar lintas-disiplin, bentuk video-video yang hadir, sebagai latar ilustasi dan animasi saja, beberapa bahkan dapat ditemukan di YouTube, video-video itu seakan melepaskan bentuk kesejarahan visualnya, alih-alih mencoba menghadirkan konkretisasi dalam laut Banda, semisal, atau peperangan yang melanda Banda, yang hadir justru bentuk-bentuk menuju ‘latar penggambaran’, lagi-lagi yang menempuh ‘latar penggambaran’ itu adalah imajinasi penonton, meski keimajinasian ini dapat direka, dan di titik tertentu memudar, saat kebanyakan penonton, mungkin, tak paham konteks sejarah yang dibawakan. Sehingga sejarah menjadi tercerabut, dan novel “Mirah dari Banda” itu tetap menjadi arsip dingin, yang belum sepenuhnya mencair.

Bahasa dalam pertunjukan ini pun dapat dilihat lebih dekat dan jauh. Saat keberangkatan dari novel itu, Mirah memang fasih menggunakan bahasa Maluku, atau bahasa Indonesia dialek Maluku, perubahan transisi yang semula ia menggunakan bahasa Jawa menjadi tertarik ke dalam letak sosial-geografis, dalam perjalanan yang mengubah seluruh hidupnya itu.

BACA JUGA:  Memaklumi Retorika Bunuh Diri

Dexa menggunakan setidaknya dua bahasa dalam pertunjukan ini, bahasa verbal melalui monolog dan dialog, yang berisi nostalgia pun gugatan, dalam pandangan saya masih berada pada ekspresi yang sama, tak ada perubahan berarti dalam penggunaan bahasa verbal itu, ia tetap bernada sama, dengan raut wajah yang tegang dan keras, yang melotot dan penuh kemarahan.

Bahasa yang lain adalah usaha menerjemahkan ‘bahasa’ ke dalam tubuh, hasilnya dapat dilihat, bagaimana gerak yang performatif dan selaras itu, lebih mungkin dapat ‘berbicara’ kepada penonton. Teks-teks pertunjukan itu, di satu sisi saling bertemu dan menyatu, di satu sisi saling menikam. Mungkin, hal ini sangat mendasar, sebab Secret Invitation Movement berangkat dari novel yang tebalnya hampir 400 halaman itu, amat sangat tidak mungkin menciptakan keseluruhan konflik dan kedinamisan tokoh dalam dimensi pertunjukan yang terbatas. Maka, barangkali usaha Dexa menghadirkan teks-teks yang melimpah ruah itu menjadi penting, ia ingin menghadirkan potret-potret kecil di dalam novel, yang tersusun-sambung menjadi dunia kompleks di atas panggung pertunjukan, usaha yang tak mudah untuk dilakukan.

Begitulah kejamnya kolonialisme menghancurkan entitas hidup pada masa itu. Yang menjadi korban terparah, tentu saja masyarakat pulau Banda sendiri, yang masih berdampak hingga kini. Apa yang dilakukan Secret Inviation Movement menjadi penting untuk sama-sama kita melihat kembali posisi Indonesia, atau nusantara dalam jalur komoditas global, bukan sebagai bentuk kebanggaan, melainkan menelisik ulang kembali makna hidup, di titik tertentu mempelajari bahwa “penjajahan” itu masih terjadi, dan pelaku serta bentuknya berubah, berada di tengah-tengah kita. Pertunjukan yang membuat penonton, melepaskan nalar terjajahnya, dan melihat dunia dengan kacamata yang bebas dan merdeka. Di titik ini, barangkali Secret Invitation Movement berhasil menyadarkan kita semua.

Bahan Referensi:

1. Rambe, Hanna. 2010. Mirah dari Banda. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

2. Nasib Buruk Anak Nyai – Historia

3. Nyai Tak Pernah Diakui – Historia

4. Kepulauan Banda: Dari Rempah Pala dan Apa-apa yang Terjadi Setelahnya – Jalur Rempah Kemdikbudristek Republik Indonesia

5. Genosida VOC di Pulau Banda – Historia

6. Parade Teater Taman Budaya Yogyakarta LINIMASA #5 “RUANG KOSMIK JIWA” | Hari 3 : 25 Oktober 2022 – YouTube

7.  Pembantaian Banda Maluku – YouTube

Dokumentasi pertunjukan Karma Puan Karna Pala.
Raihan Robby

Raihan Robby

Raihan Robby, lahir dan besar di Jakarta, kini ia sedang menyelesaikan studinya di Sastra Indonesia UNY, ia menjadi alumni kelas penulisan Naskah Lakon Komunitas Salihara 2022, dan tengah mengikuti Lokakarya Penulisan Naskah Teater Remaja DKJ 2022. Dapat ditemui di IG @raihanrby.