Pakaian yang Tak Selesai Dilipat : Catatan Atas “Tubuh Domestik – Mengurai Residu” Amalia Rizqi
Bahkan sebelum mengenal istilah “refleksi diri”, tubuh kecilku selalu dibiasakan untuk menoleh kedalam. Saat aku malas makan misalnya, ibuku kerap berkata “kalau ga dihabisin entar nasinya bisa nangis”.
Menjelang lulus sekolah dasar, aku kembali berjumpa dengan model introspeksi yang lain. Kali ini formatnya tidak sendiri melainkan “berjamaah”—dimana aku bersama kawan satu kelas dikumpulkan di satu atap yang sama.
Kami yang kadung bandel selama enam tahun, seketika diminta serius memikirkan masa depan. Meski petuah-petuah yang disampaikan tak lagi kuingat, namun aku masih hafal bagaimana suasana “introspeksi berjamaah” itu bekerja: Lampu dibuat padam, musik mengalun pelan, dan seorang pemandu meminta kami untuk memejamkan mata.
Satu persatu wajah yang dekat dengan kami dipanggil masuk ke dalam bayangan: ibu yang merawat tanpa mengenal jam, ayah yang menukar tenaga demi penghidupan, serta guru, saudara, dan orang-orang yang selama ini rela menopang langkah kami yang ugal-ugalan.
Tak lama kemudian, tangis pecah di berbagai sudut ruangan. Kami diminta mengingat kesalahan, memaafkan luka, mengucapkan terimakasih, lalu berjanji akan hidup lebih bersungguh-sungguh. Meski bersamaan dengan itu, sebagian dari kami ada saja yang cengengesan di pojok belakang.
Anehnya, pengalaman semacam itu terus berulang, bahkan ketika hidup belakangan nyaris seperti anomali TikTok—absurd, meloncat-loncat, nyaris tak dapat dicerna. Namun format “refleksi berjamaah” masih tetap sama: musik yang menenangkan, mata yang dibuat terpejam, ingatan yang ditarik ke masa lalu. Lalu keesokannya, hidup berjalan seperti biasanya. Jalanan tetap macet, tugas menumpuk, tagihan datang silih berganti, dan kecemasan perlahan kembali mengambil tempat.
Karena itu, ketika menonton pertunjukan Tubuh Domestik: Mengurai Residu yang berlangsung pada 5 Juli 2026 di Sakatoya Collective Space, aku seperti berjumpa kembali dengan pengalaman-pengalaman introspeksi itu. Bedanya, kali ini aku tidak sekedar diajak ke masa lalu, melainkan menyerap tubuh-tubuh yang selama ini bekerja secara senyap di belakang ruang tamu [1].
Fragmen Pertama
Meski secara formal pertunjukan ini membagi dirinya menjadi dua bagian, namun aku perlu membacanya kedalam tiga fragmen [2]. Dalam fragmen pertama, pertunjukan dibuka dengan kesunyian yang terasa ganjil. Panggung seperti selembar kain hitam yang dibentangkan lebar-lebar. Menyisakan staging rendah di bagian tengah yang lekas ditimpali kain putih.
Seolah batas antara ruang domestik dan dunia di luarnya sengaja dibuat tegas. Yang di luar dibiarkan tenggelam dalam gelap, asing, dan nyaris tak terbaca. Sementara ruang domestik justru disorot terang-benderang, mengundang penonton untuk menatap kerja-kerja yang biasanya luput dari perhatian [3].
Dua orang ibu berpakaian rapi serba putih, duduk bersila di bagian tengah. Mereka tidak memulai dengan dialog atau gestur dramatis, melainkan dengan pekerjaan yang begitu akrab yakni melipat pakaian. Tumpukan baju terus berpindah dari tangan ke tangan. Dirapikan, dilipat, lalu ditumpuk kembali dengan ritme yang nyaris terasa mekanis [4].
Di situasi mekanis yang nyaris hipnotik, yang terdengar hanya dentuman jam yang berulang-ulang. Suaranya keras, datar, intimidatif, sesekali mengganggu. Seolah waktu sedang mengawasi kerja domestik mereka yang tak kunjung selesai
Di sela-sela repetisi itu, sesekali Amalia Rizqi keluar dari ritme mekanis yang sedari awal mengepung tubuhnya. Meski tangannya masih melipat pakaian, namun gerakannya tak lagi sekedar menyudahi pekerjaan. Beberapa helai pakaian tampak disinggahi jeda yang lebih panjang, seolah menyimpan kenangan yang terlalu akrab untuk segera dilipat begitu saja.
Kerapian benar-benar kusut, tatkala sebuah peristiwa yang memang tak direncanakan menyelinap ke atas panggung. Seorang anak dari salah satu aktor mencari ibunya dengan merangsek masuk ke panggung. Alih-alih dihentikan atau diarahkan keluar, pertunjukan tetap dibiarkan berlangsung.

Di situasi tersebut Ericha Nurcholifatin membagi tubuhnya ke dalam dua peran sekaligus. Antara meneruskan perannya sebagai aktor, sekaligus memenuhi kebutuhan biologis anaknya untuk menyusu.
Kehadiran anak Ericha dalam situasi tersebut turut mengubah cara kerja adegan. Repetisi melipat pakaian yang semula terasa mekanis, mendadak berhadapan dengan kerja perawatan yang tak benar-benar dijadwalkan. Apabila lipatan pakaian menampilkan kerja domestik sebagai rutinitas yang berulang, maka momen menyusui justru memperlihatkan sisi lain yang lebih cair: kasih sayang, respons spontan, dan kesediaan tubuh untuk selalu menyela pekerjaannya sendiri.
Dalam fragmen pertama ini, memperlihatkan bahwa kerja domestik tidak hanya terdiri dari tugas-tugas teknis yang dapat diulang, tetapi juga relasi afektif yang tak pernah sepenuhnya tunduk pada ritme, jadwal, bahkan naskah sutradara.
Fragmen Kedua
Memasuki fragmen kedua terjadi pergeseran dramaturgi yang cukup menarik. Panggung tak lagi berupa ruang hitam yang dipenuhi tumpukan pakaian, melainkan sudut rumah yang begitu nyata dan terasa akrab, seperti jemuran, mesin cuci, wastafel penuh piring, serta dinding yang ditempeli kliping komentar dan kolase video TikTok [5].
Apabila pada fragmen sebelumnya, ruang domestik dikurasi hingga menyisakan kerja melipat pakaian, kali ini rumah tangga dihadirkan lebih utuh dengan seluruh keruwetan aktivitasnya.

Kali ini aktornya bukan lagi terpaku pada ibu, melainkan bapak yang diperankan oleh Ahmad Abdushomad. Lagi-lagi, tanpa banyak dialog maupun gimmick dramatis, Ahmad Abdushomad segera tenggelam dalam pekerjaan domestiknya. Pakaian kotor dimasukan, mesin cuci dinyalakan, lalu di waktu yang nyaris bersamaan menggeser perhatiannya pada tumpukan piring yang menunggu untuk dibilas.
Di titik ini kerja domestik—lepas dari ibu maupun bapak, menuntut tubuh untuk terus mengerjakan banyak hal sekaligus. Sembari mesin cuci bekerja, piring-piring mesti segera dibersihkan. Seolah tubuh bapak bergerak mengikuti ritme berbagai peralatan rumah tangga. Sementara tanggungan di dalam rumah tidak pernah berjalan satu persatu, melainkan bertumpuk dan saling menyela.
Dalam Fragmen ini kerja domestik terlihat bukan urusan sederhana, tetapi sebagai laku manajerial yang mengharuskan seseorang terus-menerus mengambil keputusan. Mana yang dapat dikerjakan dahulu, mana yang bisa ditinggalkan sejenak, lalu mana yang tak boleh terlambat untuk ditangani.
Sayangnya, ritme yang perlahan mulai terbentuk itu terlanjur dipotong oleh kehadiran Master of Ceremony yang mengarahkan penonton berpindah ke fragmen berikutnya. Perpindahan tersebut terasa terlalu cepat, seolah pertunjukan belum sempat memberi nafas kepada penonton untuk beralih atau tinggal lebih lama.
Fragmen Ketiga
Apabila pada fragmen kedua, pertunjukan sangat percaya pada dramaturgi laku—tubuh berbicara lebih dulu ketimbang kata-kata. Kemudian penonton diajak menyaksikan, mengamati, dan perlahan merasakan. Namun di fragmen ketiga, strategi tersebut mengalami perubahan yang cukup kontras. Ia tidak lagi mengandalkan laku, melainkan mulai menjelaskan dirinya sendiri.
Lampu panggung menyala lebih terang, penonton baru mulai datang berhimpitan, kemudian panggung perlahan berubah menjadi ruang presentasi. Pergeseran semacam ini membuat alur pertunjukan terasa sedikit tersentak. Dua ibu rumah tangga (Amalia dan Ericha) yang sedari awal hadir sebagai subjek domestik, kini tampak memainkan peran lain. Mereka berbicara, bertanya, mengajukan hipotesis, bahkan sesekali menyerupai peneliti yang sedang mempresentasikan temuannya.
Pakaian rapi serba putih yang dikenakan sejak awal, mendadak memperoleh konteks baru. Semula aku mengira pakaian itu sekedar seragam kerja—sebagai standar mekanis yang berlangsung di pabrik-pabrik pakaian. Ternyata ia lebih menyerupai jas laboratorium yang dikenakan dua peneliti. Sembari menguji satu pertanyaan sederhana, mungkinkah pedagogi domestik sebenarnya dimulai dari aktivitas melipat pakaian?

Namun di sisi lain, justru di fragmen ketiga premis pertunjukan tersorot lebih terang: melipat pakaian. Di sini, penonton dilibatkan melalui pertanyaan-pertanyaan yang tampak sederhana: siapa yang pertama kali mengajarimu melipat pakaian?
Satu persatu jawaban muncul dari berbagai sudut ruangan. Pertautan itu memperlihatkan bahwa melipat pakaian ternyata bukan sekedar keterampilan rumah tangga, melainkan dapat dibaca sebagai pengetahuan yang diwariskan antar generasi.
Premis “melipat pakaian” mencapai titik paling menarik, tatkala penonton diminta mengeluarkan pakaian yang menurut mereka memorable. Sebagian rupanya memang telah mempersiapkannya dari rumah, sebagian lain tampak kebingungan dan memilih pakaian yang memang sedang dikenakan, bahkan seorang penonton dengan spontan mengeluarkan kaus kaki.
Satu persatu pakaian itu dibentang, dirapikan, kemudian dilipat bersama. Setelah lipatan selesai, Amalia mengajak penonton berhenti sejenak, meresapi lebih dalam pakaian yang ada dihadapan, mengingat siapa yang pernah mencucinya, lalu menghadirkan ulang residu-residu yang sempat menempel dari pakaian tersebut. Disini pakaian kembali menjadi arsip afektif yang bukan sekedar milik Amalia maupun Ericha, melainkan berpindah ke pengalaman penonton.
Sayangnya, setelah memori itu berhasil dibuka, pertunjukan justru mengalami perubahan arah. Lampu dibuat padam dan instrumen mengalun pelan, penonton dipandu untuk mengurai perasaan-perasaan buruk, berdamai dengan masa lalu, berterimakasih kepada orang terdekat, hingga berjanji menyongsong hari esok dengan lebih baik.
Disinilah dramaturgi “introspeksi berjamaah” kembali muncul dalam bentuk dan format yang serupa. Pengalaman tersebut terasa lebih menyerupai sesi ESQ (Emotional Spiritual Quotient), dimana kerja refleksi diarahkan pada penyembuhan diri dan resolusi personal.
Akibatnya, pengalaman domestik yang sedari awal telah berhasil dibangun melalui tubuh, repetisi, dan relasi sehari-hari, perlahan bergeser menjadi pengalaman batin yang harus dituntaskan oleh masing-masing individu.
Menurutku, pertunjukan ini terasa cukup kuat ketika membiarkan pakaian, tubuh, dan kerja domestik berbicara sendiri. Ia memperlihatkan kekuatan yang paling puitik. Repetisi melipat pakaian, tubuh ibu yang terus disela oleh kebutuhan anaknya, hingga pakaian yang diam-diam menyimpan relasi telah cukup membuka ruang tafsir, tanpa perlu diterjemahkan secara verbal. Bagiku, kepercayaan semacam itu jauh lebih menggugah, daripada ajakan untuk berdamai atau berjanji menjadi pribadi yang lebih baik.
Catatan Tambahan:
[1] Tubuh Domestik: Mengurai Residu merupakan pengamatan panjang yang ditempuh oleh Amalia Rizqi Fitriani sebagai seniman sekaligus ibu rumah tangga. Bersama Ericha Nurcholifatin dan Ahmad Abdushomad, mereka menelusuri gestur-gestur perawatan yang dijalankan oleh ibu-ibu PKK di Peken Klangenan Kotagede. Sementara Ericha, mengolah kembali ingatan tubuhnya melalui pengalaman berpakaian yang berlangsung di Lapangan Mandala Krida.
[2] Pertunjukan tersebut dibagi ke dalam dua bagian. Bagian pertama berlangsung selepas Ashar, dalam format instalasi performatif berdurasi panjang (long durational performance). Sementara bagian kedua, berlangsung selepas Isya sebagai pertunjukan interaktif yang dibuka oleh Ahmad Abdushomad, kemudian berlanjut pada sesi “Mengurai Residu” yang dipandu oleh Amalia Rizqi dan Ericha Nurcholifatin.
[3] Menurutku, keputusan membagi ruang panggung menjadi dua wilayah merupakan siasat yang cerdas. Kontras antara ruang terang dan gelap tidak hanya memusatkan perhatian pada Amalia dan Ericha, tetapi memberi kesempatan penonton untuk menyerap situasi batin yang sedang dihadapi oleh Amalia dan Ericha secara lebih intens.
[4] Dengan pilihan artistik demikian, menurutku justru menggeser bayangan tentang kerja domestik di dalam rumah tangga. Aktivitas melipat pakaian yang dilakukan secara seragam, bersih, teknis, terpantau waktu, dan nyaris tanpa percakapan justru mengesankan ritme buruh lipat di pabrik garmen, daripada keseharian rumah tangga. Pun juga penggunaan busana serba putih yang hendak diposisikan sebagai peneliti justru memunculkan situasi anomali. Alih-alih menyatu dengan keseharian domestik yang penuh noda dan lipatan, kostum tersebut justru memberi kesan steril sehingga menciptakan jarak tertentu dengan pengalaman material yang hendak dihadirkan.
[5] Menurutku, kehadiran “kolase teks” berupa kolom komentar dan video TikTok yang ditempelkan di dinding terasa kurang memperoleh konteks yang memadai. Dibanding elemen panggung lain seperti mesin cuci, wastafel, hingga jemuran, properti ini cukup jelas memperlihatkan kerja domestik yang sedang dihadapi oleh Ahmad Abdushomad. Menariknya, kolase video TikTok tersebut justru bekerja lebih efektif ketika suaranya bocor dan menembus ruang pertunjukan di fragmen pertama. Kolase tersebut hadir sebagai kebisingan latar yang menyusupi ruang domestik, memperlihatkan bagaimana kerja perawatan hari ini berdampingan dengan konten digital yang terus menginterupsi perhatian.


