Sabtu, Agustus 15, 2026
ULASANPanggung Teater

Arsip yang Bernapas : Catatan atas Our Bodies – KOURYU/JIAOLIU Project

Meskipun diadakan di tengah perlintasan Taman Ismail Marzuki yang ramai dilalui orang, pertunjukan Our Bodies oleh The Sino-Japan Contemporary Performing Arts KOURYU/JIAOLIU Project seakan tidak ingin tampak menonjol. Alih-alih menginterupsi ruang (seperti yang lazim dilakukan oleh pertunjukan yang memilih area terbuka sebagai panggungnya), pertunjukan yang menjadi bagian dari Djakarta International Theatre Platform 2026 ini memilih untuk melebur ke dalamnya. Para performer tampak sibuk dengan apa yang terjadi di dalam tubuh mereka sendiri.

Mereka memulai penampilannya dengan duduk melingkar di lantai. Tanpa sepatah kata pun, pandangan mereka saling berpindah, bergerak perlahan dari satu wajah ke wajah lainnya, seperti tengah berkenalan kembali dengan kehadiran orang lain di hadapannya. Beberapa saat kemudian, mereka berdiri. Tubuh-tubuh itu perlahan menjauh, memperlebar diameter lingkaran yang semula rapat. Setiap langkah diambil dengan ritme yang tenang dan terukur.

Our Bodies oleh The Sino-Japan Contemporary Performing Arts KOURYU/JIAOLIU Project
Para performer melingkar tanpa sepatah katapun. Our Bodies oleh The Sino-Japan Contemporary Performing Arts KOURYU/JIAOLIU Project. Foto oleh Hidayat Adhiningrat.

Lalu mereka mulai bernapas dengan suara yang sengaja diperdengarkan. Tarikan napas mereka panjang dan dalam. Barangkali hanya inilah momen ketika para performer benar-benar berusaha menginterupsi ruang di sekitarnya. Suara udara yang keluar-masuk terdengar jelas dan berulang. Hirupan napas itu perlahan memenuhi ruang, menciptakan lanskap bunyi yang cukup untuk mengubah atmosfer lingkungan di depan kolam air dan angin yang berhembus perlahan ini.

Perlahan-lahan, apa yang terjadi di hadapan saya mulai terasa seperti sebuah usaha untuk mendengarkan sesuatu yang sering kali kita abaikan. Kita tahu, tubuh manusia sepanjang hidupnya tanpa sadar akan terus merekam. Ia mengingat jatuh, ia mengingat lelah, dan ia juga mengingat bagaimana rasanya berdiri di depan banyak orang atau menyendiri di kamar gelap. Semua itu tertanam di otot-otot, di ritme napas, di cara bahu mengendur atau menegang.

Pertunjukan yang sekilas tampak sederhana ini seolah hendak mengatakan bahwa tubuh bukanlah alat yang semata kita pakai untuk melakukan sesuatu, melainkan juga sebuah tempat di mana kehidupan itu sendiri tersimpan. Dan di atas panggung Promenade siang itu, para performer membiarkan tempat penyimpanan itu terbuka, tanpa diterjemahkan, tanpa dijelaskan, hanya dihadirkan apa adanya.

Our Bodies oleh The Sino-Japan Contemporary Performing Arts KOURYU/JIAOLIU Project
Para performer mulai berdiri dan memperlebar lingkaran. Our Bodies oleh The Sino-Japan Contemporary Performing Arts KOURYU/JIAOLIU Project. Foto oleh Hidayat Adhiningrat.

Setelah lingkaran membesar, satu per satu mereka mulai mengisi ruang yang ada secara acak. Dengan gerakan yang masih saja lambat mereka menjaga jarak satu sama lain. Dua mikrofon diletakkan saling berhadapan di salah satu sudut. Secara bergantian, para aktor mendekat, lalu membiarkan napas mereka terdengar melalui pengeras suara.

Desahan itu tiba-tiba menjadi sesuatu yang besar, menggelegar di antara dinding-dinding dan udara. Meskipun, lagi-lagi, bunyi itu tidak mengajak kita pada satu cerita tertentu. Ia hanya ada, seperti sebuah fakta bahwa setiap orang bernapas dengan caranya sendiri—ada yang pendek dan tergesa, ada yang panjang dan berat, ada yang terputus-putus.

Lama-kelamaan, saya mulai menyadari bahwa pertunjukan ini memang tidak sedang mengajak kita menebak makna di balik setiap gerakan. Ia lebih seperti sebuah pengingat bahwa tubuh-tubuh ini—seperti tubuh kita sendiri—adalah gudang bisu dari segala yang pernah kita alami. Dan di atas panggung yang terbuka itu, para performer seolah berkata: dengarkanlah, inilah suara dari sesuatu yang tidak pernah kita dengar karena kita terlalu sibuk menggerakkan tubuh tanpa pernah berhenti untuk merasakannya.

Setelah sekitar lima belas hingga dua puluh menit, penampilan singkat itu usai. Para performer lalu mengajak siapa saja yang hadir untuk ikut dalam sebuah lokakarya singkat. Para penonton yang bergabung, kata mereka, akan menjadi pelaku utama di pertunjukan berikutnya. Saya mendekat, meski masih menjaga jarak, tidak sepenuhnya yakin ingin terlibat langsung. Dari kejauhan, saya melihat mereka yang bergabung diminta untuk menggambar sesuatu tentang sungai, apa pun yang terlintas, apa pun yang terasa.

Saya urung ikut serta, karena jujur saja, saya tidak bisa menggambar. Ternyata saya keliru. Kemampuan menggambar sama sekali bukan titik berat di sini. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk menarik sesuatu dari ingatan tubuh kita tentang sungai sebagai sebuah arsip yang seringkali tak disadari.

Seorang performer mendekati saya dan memberikan gambarnya. Ia meminta saya mengikuti proses selanjutnya. Saya mengangguk. Mulai saat itu, saya bukan lagi pengamat. Kami diminta untuk menafsirkan gambar yang telah dibuat menjadi kata-kata, lalu menuliskannya di selembar kertas. Gambar yang diberikan performer itu saya baca sebagai seorang anak kecil yang sedang menyeberangi sungai dengan riang, kaki telanjang, dan air setinggi betis.

Setelah kata-kata itu tertulis, kami diminta menciptakan gerakan sederhana yang mewakilinya. Sekali lagi ditekankan bahwa bukan gerakan yang indah atau sempurna yang diharapkan hadir. Yang penting adalah gerakan itu lahir sebagai respons tubuh terhadap kata-kata yang sudah kita buat. Untuk sampai ke sana, kami harus menarik memori yang mengendap, lalu membiarkannya berubah menjadi gerak yang muncul begitu saja, tanpa paksaan.

Proses yang sama kemudian dilakukan untuk menciptakan bunyi yang kami rasa bisa mewakili tafsir kami. Secara keseluruhan, mereka menuntun kami melewati serangkaian langkah sederhana: menarik memori arsip tubuh tentang sungai, mengubahnya menjadi kata, lalu mewujudkannya dalam gerak dan bunyi.

Our Bodies oleh The Sino-Japan Contemporary Performing Arts KOURYU/JIAOLIU Project
Penonton diajak menulis dan menggambar sebagai “recall” memori tubuh. Our Bodies oleh The Sino-Japan Contemporary Performing Arts KOURYU/JIAOLIU Project. Foto : Hidayat Adhiningrat

Lokakarya usai. Kini tiba saatnya pertunjukan kedua, kali ini dengan komposisi pemain yang berbeda dengan para penonton tadi telah menjadi bagian dari panggung. Segala tafsir yang kami tulis, gerakan yang kami ciptakan, dan bunyi yang kami hasilkan, semua dimasukkan ke dalam sistem yang sama seperti pertunjukan pertama. Kami mengikuti pola yang sudah kami saksikan sebelumnya.

Berawal dari lingkaran kecil, saling menatap, lalu perlahan melebar. Tubuh-tubuh bergerak tanpa arah yang pasti, sambil melahirkan gerakan dan suara yang muncul dari ingatan masing-masing. Hingga akhirnya, perlahan, kami kembali merapat ke pusat. Lingkaran itu mengerucut lagi. Selesai sudah.

Ketika pertunjukan usai, saya jadi ingat bahwa saya datang ke pertunjukan ini sebagai pengamat. Saya hendak menulis ulasan, mencatat apa yang saya lihat, menilai, dan menarik kesimpulan. Namun saya pulang dengan perasaan bahwa saya yang justru sedang diamati oleh tubuh saya sendiri.

Dalam proses lokakarya tadi, saya menyadari bahwa tubuh saya ternyata menyimpan lebih banyak dari yang saya kira. Selama ini saya tidak pernah mengingat itu. Atau setidaknya, saya tidak pernah berniat mengingatnya. Tapi di ruang Promenade yang terbuka itu, di antara orang-orang yang juga sedang menggali arsip tubuh mereka sendiri, memori itu muncul begitu saja.

Maka, apa yang dilakukan KOURYU/JIAOLIU Project, tampaknya, adalah menciptakan ruang bagi kemunculan itu. Mereka tidak mengajar kami menari atau bernyanyi. Mereka hanya membuka pintu, dan membiarkan kami masuk ke dalam gudang memori yang selama ini kami bawa tanpa pernah kami sadari.

Dan disitulah letak kekuatan pertunjukan ini. Ia tidak berbicara tentang tubuh, tetapi membiarkan tubuh berbicara dengan caranya sendiri. Dan saya, yang semula hanya ingin menulis ulasan, pulang dengan membawa sesuatu yang tidak bisa saya tuliskan sepenuhnya dengan kata-kata. Hanya bisa saya rasakan, di dalam tubuh.


Data pertunjukan:

Judul : Our Bodies
oleh : Sino – Japan Contemporary Performing Arts KOURYU / JIAOLIU Project
Collaborators: An Na ; Hagiwara Yuta ; Sakamoto Momo ; Wang Mengfan ; Yamamoto Suguru ; Zhang Yuan

Produksi : Precog.co.Ltd.


Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya

 

 

Hidayat Adhiningrat

Hidayat Adhiningrat

Lahir di Bandung dan kini memutuskan tinggal sambil bekerja di Jakarta. Memiliki minat terhadap kesenian dalam kapasitas sebagai penulis dan penonton. Kadang datang ke pameran, kadang menonton seni pertunjukan, kadang ikut diskusi kesenian, kadang ikut workshop penulisan ulasan kesenian.