Selasa, Agustus 4, 2026
ULASANPanggung TariPanggung Teater

NAKSNAKS Leu Wijee : Seperti Apa Imaji tentang Papua yang Menubuh dalam Diri Kita?

Beberapa tahun lalu saya berbincang dengan salah satu warga di satu wilayah tidak jauh dari tempat saya tinggal di Yogyakarta. Ternyata di wilayah tersebut ada kesepakatan bersama dari warga untuk tidak menerima mahasiswa Papua untuk ngekos atau kontrak rumah. Pemicu dari kesepakatan ini adalah satu waktu ada mahasiswa asal Papua yang ngekos di area tersebut. Beberapa waktu kemudian induk semang ini meminta mahasiswa tersebut pindah, alasannya, “Yang ngontrak 1 orang, tapi setiap hari selalu ada lebih dari 5 orang di rumah itu, mereka main gitar dan menyanyi sampai lebih dari tengah malam. Saya diprotes warga karena mereka merasa terganggu, jadi terpaksa saya minta mereka pindah.” Apakah kisah ini familiar?

Adegan menonton PS dalam NaksNaks karya Leu Wijee
Adegan menonton PS dalam NaksNaks karya Leu Wijee

Entah PS berapa yang ada di atas panggung dan tengah dimainkan, saya tidak terlalu familiar dengan detail alat permainan itu. Game sepak bola yang sedang dimainkan membawa suasana yang dekat bagiku akhir-akhir ini, mungkin karena saat pertunjukan ini digelar, Piala Dunia juga tengah berlangsung, sehingga sehari-hari di rumah aku mendengar suara riuh rendah siaran langsung Piala Dunia dari laptop suamiku. Di luar itu, di ingatan masa kecilku, permainan PS sepak bola ini lekat sebagai bagian sehari-hari saudara laki-laki dan teman laki-laki di sekitarku, terutama ketika sedang liburan sekolah dan berkumpul. Kata kunci berkumpul, saudara, teman, laki-laki sangat lekat dengan permainan ini. Sungguh ini bukan soal stereotip namun lebih kepada penanda berdasarkan ingatan personalku yang hadir ketika menonton adegan awal NAKSNAKS. Mungkin pengalaman penonton lain akan berbeda, namun bagiku bagian ini memang set the tone keseluruhan karya ini. Ruang berkumpul para laki-laki yang akrab baik sebagai saudara maupun teman, seakan ada nuansa semacam ini yang hadir sebelum hal lainnya.  NAKSNAKS merupakan karya terbaru Leu Wijee, koreografer yang lahir di Parigi, Sulawesi Tengah. Karya dalam proses ini dipentaskan di IFI Yogyakarta tanggal 2 dan 3 Juli 2026 lalu.

Pernak-pernik benda dan perkakas yang ditaruh di atas panggung memang menandai pula niatan ruang itu diatur, yang juga tertulis di dalam deskripsi karya baik di sosial media maupun dalam booklet, kos-kosan. Sebagai fiksi, ia sangat jelas dan tegas. Namun sebagai realita memang tidak ada penanda waktu di sana, semua snack yang terserak adalah snack merek baru, semua barang yang hadir juga terlihat baru, kardus-kardus sepatu baru, ember dan gayung plastik baru, belum terlihat ada perjalanan waktu dari benda-benda yang ada di set tersebut. Mungkin ini bisa tidak terlalu penting, karena ada hal yang lebih penting di dalam keseluruhan karya, tubuh dua orang yang hadir di ruang itu.

Danny Mambrasar mengawali adegan bermain PS sejak penonton masuk ke ruang pertunjukan di IFI Yogyakarta itu. Hingga sekian waktu, Jansen Speson Manyakori menyusul masuk ke panggung. Mereka sejenak berbincang tentang casting yang akan mereka ikuti. Jensen berlatih memperkenalkan diri untuk casting sedangkan Danny berhenti sejenak dari PS nya dan mengamati apa yang dilakukan teman karibnya ini sembari menikmati Chiki Balls di tangannya. Kemudian gerakan mereka mulai berubah melambat dan menjadi sangat perlahan. Kertas bertuliskan nama yang dipegang Jensen perlahan dilepaskan dari tangannya. Dari makan Chiki Balls, Danny membawa tubuhnya perlahan menjatuhkan bungkus kuning itu, namun bukannya Chiki Balls yang kita kenal bulat berwarna orange yang tumpah, namun justru bola-bola berkilat berwarna hitam semacam kelereng. Atau mutiara? Mutiara hitam? Hmmm… Di tahun 1977, frasa ini (mutiara hitam-red) muncul sebagai judul lagu dari Black Brothers, rock band dari Papua yang dibentuk tahun 1974 di Jayapura. Lagu ini menggambarkan kekuatan tim sepak bola Persipura Jayapura kala itu. Mungkin sekarang kita juga masih sering mendengar frasa ini, tapi seringkali dikaitkan dengan kekayaan alam Papua yang melimpah. Mutiara hitam (alami) adalah salah satu jenis mutiara yang paling langka di dunia, karenanya, ia terkenal sangat mahal. Sedang dalam pertunjukan ini, mutiara tersebut berserak keluar dari bungkus cemilan murah yang mudah ditemui di warung-warung dan minimarket. Apa sebenarnya yang sedang coba ditandai dari persinggungan dua nilai komoditas yang berbeda ini?

BACA JUGA:  Tradisi "Dibuang" Kemana? Performance and Discussion : Dinamika Wacana Tari dari Kursi Penonton
Jensen, berdiri membawa kertas bertuliskan namanya, memperkenalkan dirinya seperti dalam sebuah casting film. (dok. NaksNaks oleh Isna Nugraha).
Jensen, berdiri membawa kertas bertuliskan namanya, memperkenalkan dirinya seperti dalam sebuah casting film. (dok. NaksNaks oleh Isna Nugraha).

Mungkin sekitar 40-50 menit, gerakan lambat ini dibangun di atas panggung. Setelah Jansen mengeluarkan earbuds dan memasangnya di telinga (dengan gerakan yang masih lambat) muncul teks judul musik. Penonton hanya dapat membayangkan seperti apa musiknya melalui gerak tubuh Jansen. Saya tidak tahu persis apa yang sebenarnya sedang mereka tubuhkan melalui gerakan lambat ini, tapi cukup terlihat familiar dan sehari-hari. Dari gerakan mereka berdua seperti kadang ada dialog antara keduanya, kadang mereka sendiri-sendiri tapi asik melakukan sesuatu, seakan ada teks di baliknya, bukan gerak lambat “menari”.

Adegan ini berakhir ketika percakapan verbal di antara keduanya akhirnya pecah. Dari titik itulah mengalir obrolan yang tampak acak: mulai dari pengalaman mereka diperlakukan ketika berada di tempat baru, hingga cerita tentang daun bungkus, obat kuat alternatif yang dikenal berasal dari Tanah Papua. Di sela-sela percakapan itu, mereka beberapa kali tertawa kecil, seolah menertawakan situasi yang sedang mereka kenang. Seperti ketika mereka menceritakan saat pertama pindah ke Jakarta, dan duduk di teras kos, ada bapak-bapak tetangga yang berjalan lebih cepat ketika melewati mereka. Ternyata bapak-bapak ini adalah pemilik salah satu warung nasi di dekat kos. Ketika mereka datang untuk membeli makan di sana, si pemilik inipun bisik-bisik dengan karyawannya, seperti mencurigai mereka berdua. Hingga lambat laun perlakuan seperti berubah menjadi keramahan ketika mereka mulai saling mengenal.

Menarik mendengar obrolan ini, karena ada imaji familiar yang muncul, bahkan di detik itu, sebagai penonton tiba-tiba aku mengobservasi pikiranku sendiri. Apa yang terlintas dan kenapa aku berpikiran demikian. Jujur, sepanjang menonton karya ini, aku sangat waspada dengan pikiranku sendiri. Baru melihat dua pemeran yang secara kasat mata berasal dari Papua saja sudah membuatku berkali-kali mengoreksi dan mempertanyakan argumen dan imaji yang ada di kepalaku. Sejak awal, terasa ada tegangan antara imajinasi yang menubuh di dalam diriku tentang Papua yang selama ini terbentuk dari media, kejadian, dan percakapan sehari-hari di sekitarku, dengan apa yang secara sadar sedang kusaksikan di atas panggung. Pertunjukan ini memaksaku menyadari betapa mudahnya prasangka bekerja, bahkan sebelum para pemeran mengucapkan sepatah kata.

Di atas panggung, kedua pemeran justru memilih untuk mengklaim kerentanannya melalui tubuh dan humor. Mereka tidak berusaha menyembunyikan pengalaman-pengalaman yang rentan, tetapi mengolahnya menjadi ruang untuk berbagi sekaligus menertawakan absurditas yang mereka hadapi. Tubuh dan humor menjadi medium yang memungkinkan mereka berbicara tanpa harus selalu berada dalam posisi sebagai korban. Cara ini seperti menciptakan jarak yang cukup agar pengalaman diskriminasi dapat diucapkan, dibagikan, kemudian sesaat ditertawakan bersama karena seperti hal konyol lainnya, sebenarnya apa yang terlanjur terjadi tidak seharusnya dan selayaknya terjadi.

BACA JUGA:  Rembesan "Mili" Mbah Mantri: Transformasi Tradisi dalam Ekspresi Kontemporer "Kala-Kili"
Jansen dan Danny, bergerak perlahan seolah mengkomunikasikan absurditas hidup yang mereka hadapi. (Dok. NaksNaks oleh Isna Nugraha)
Jansen dan Danny, bergerak perlahan seolah mengkomunikasikan absurditas hidup yang mereka hadapi. (Dok. NaksNaks oleh Isna Nugraha)

Berbicara tentang kekonyolan, di akhir pertunjukan aku juga akhirnya menertawakan diri sendiri. Sepanjang pertunjukan, kedua pemeran berbicara dalam bahasa Indonesia dengan dialek Papua, sementara teks terjemahan bahasa Inggris ditampilkan di layar di bagian belakang panggung. Konyolnya, aku justru lebih mudah memahami teks terjemahan itu daripada percakapan yang sedang berlangsung di hadapanku. Sungguh keterlaluan!

Ini juga menandai bagaimana kita kerap merasa terlalu mapan dengan standar yang dihadirkan secara struktural oleh negara, salah satunya bahasa. Ketika berhasil memenuhi standar tersebut, tanpa sadar kita bisa menjadi ignorant terhadap standar-standar lain yang hidup di luar kerangka itu. Mungkin tidak semua orang mengalaminya, tetapi pertunjukan ini menyadarkanku bahwa ternyata aku adalah salah satu warga negara yang demikian.

Jauh sebelum hari itu, aku sudah mendengar karya NAKSNAKS. Mungkin pertama kali koreografer, Leu Wijee, menyebutkan rencana soal karya ini di tahun 2025. Dari obrolan itu, yang kupahami, karya ini sudah mulai dituliskan Leu di jurnal berkaryanya sejak tahun 2023. Ya, sepanjang aku mengenalnya, memang Leu adalah salah satu koreografer yang rajin menuliskan ide-idenya jauh sebelum ide itu direalisasi. Waktu itu, idenya sesederhana karya soal teman-temanku, karena “naks-naks” adalah bahasa gaul dari anak-anak yang berarti teman sepergaulan di awal tahun 2010-an. Kalau kalian ingat di tahun tersebut banyak slang dengan tambahan S di belakang, misalnya santai-sans, cantik-cans, ganteng-gans, gila-gils, dan sebagainya. Dari sinilah judul karya ini hadir.

Ketika baru lulus SMP, Leu awalnya pergi ke Jakarta dalam rangka mengikuti acara battle dance. Tapi kemudian ia menetap karena ada tawaran bermain di sinetron Bintang di Langit kala itu. Dari perjalanan rantau ini ia kemudian terhubung dengan anak-anak breaking (komunitas break dance) di luar lingkarannya sebelumnya, termasuk koreografer kenamaan, Jecko Siompo. Mulailah ia bergaul dengan teman-teman dari Papua, termasuk Danny dan Jansen, dua pemeran dalam karya ini. Bahkan, karya Leu: Museum I: Waves yang kemudian bertumbuh menjadi Ridden dan pentas keliling di berbagai festival–baik nasional maupun internasional–bentuk kosa geraknya terinspirasi dari pengalaman tubuhnya di atas kapal ketika ia dalam perjalanan kembali dari Sorong, Papua.

Dalam karya Ridden maupun karya setelahnya Massage x Gossip, Leu sebagai koreografer juga menjadi penari di dalamnya. Sedangkan kali ini di karya NAKSNAKS ia memilih hanya berperan sebagai koreografer. Mungkin, ini dapat dipahami bahwa Leu ingin bereksplorasi dengan cara yang berbeda, menjadi koreografer namun tidak tampil di atas panggung. Tapi di luar itu, keputusan ini pun menjadi relevan dengan tujuan karyanya, ini adalah karya tentang teman-teman Leu, bukan Leu sendiri. Kenapa teman-teman yang ia tampilkan adalah teman-teman dari Papua, karena memang waktu ia bertumbuh sebagai seniman di Jakarta, dia satu kos dengan teman-teman ini, dan mereka saling membentuk satu sama lain dalam karir maupun kehidupan sehari-hari. Jadi, seturut pembacaanku berdasarkan bagaimana aku mengenal Leu dan mendengar cerita hidupnya, pilihan ini sesederhana karena teman-teman Leu adalah mereka.

Dalam proses karya ini, aku sempat bertanya kepada Leu, siapa yang menulis naskahnya, dan ia menjawab bahwa naskah secara kolaboratif ditulis olehnya dan Danny. Berbicara tentang naskah, sebagai penonton, berdasarkan pengalaman menontonku, aku merasa karya ini seperti belum selesai. Di akhir pertunjukan, aku merasa masih ada yang mengganjal dan obrolan seperti rasanya tiba-tiba dipotong di tengah-tengah. Mungkin memang itulah yang ingin dihadirkan, sepotong percakapan teman satu kos yang berasal dari etnis yang sama dan membicarakan prasangka orang terhadap etnis mereka. Namun, mungkin juga menarik ketika mendengar obrolan mereka melebihi tentang pengalaman mereka berhadapan dengan prasangka atas ke-Papuaan mereka. Karena karya ini adalah tentang teman-teman, ada rasa penasaran dalam diriku untuk melihat sebenarnya sehari-hari apa sih obrolan mereka di kos-kosan? Termasuk hal yang mungkin remeh temeh. Ini mungkin secara subtil akan memberikan dimensi manusiawi bagi kedua pemeran ini, tanpa terus-terusan ditatap sebagai dua orang Papua di atas panggung membicarakan Papua.

BACA JUGA:  Tubuh Kota, Tubuh Kita : Selepas Festival Kala Monolog 2024

Di saat yang sama, hal itu mungkin juga akan membuat relasi mereka di atas panggung terasa lebih cair dan akrab, sebagaimana layaknya dua orang yang telah lama tinggal bersama dalam satu kos, alih-alih percakapan yang sepenuhnya terasa mengikuti struktur naskah. Namun akhirnya, keputusan artistik ini adalah keputusan mutlak teman-teman yang bekerja di dalamnya. Sebagai penonton, selain pulang dengan banyak gangguan dalam pikiranku, aku juga berbahagia karena kecipratan jatah cemilan dari Danny dan Jansen, yang membagikan berbagai merek cemilan di tengah-tengah pertunjukan. Apakah adegan bagi-bagi cemilan ini signifikan? Bisa jadi adegan ini sekedar gimmick tapi jika dilihat dari keseluruhan struktur pertunjukan, ini juga mengingatkanku ketika berada di kos semasa kuliah, saling berbagi makanan dengan teman-teman lain, apalagi ketika sedang sulit secara keuangan atau akhir bulan. Berbagi ruang, makanan, emosi, cerita, bahkan suara karena tembok antar bilik kamar yang tipis adalah bagian dari hidup indekos yang mungkin familiar jika teman-teman pernah merasakannya.

Dari yang aku tahu, karya ini masih dalam tahap pengembangan, maka apakah teman-teman lain juga akan hadir di karya NAKS-NAKS berikutnya?


Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Nia Agustina

Nia Agustina

Berbasis di Yogyakarta, Indonesia, Nia Agustina (Agustin Pandhuniawati Heryani) telah terlibat dalam kerja-kerja bersama praktisi tari muda Indonesia melalui menulis, kuratorial, dan dramaturgi sejak mendirikan Paradance Platform pada tahun 2014.Sejak tahun 2017, bersama suaminya, Ahmad Jalidu, ia turut menumbuhkan gelaran.id, sebuah ruang digital untuk tulisan-tulisan tentang seni pertunjukan. Praktiknya bertumbuh dan terbentuk melalui kerja-kerja dekat dengan koreografer yang bekerja bersamanya.