NASKAH DRAMA
Membutuhkan Naskah Drama? Selamat datang di Bank Naskah Drama Teater Gelaran.Id. Anda diperkenankan mengunduh naskah-naskah tersebut untuk kepentingan Anda baik individual (literasi, riset dll) maupun untuk kepentingan proyek pertunjukan. Kami sangat tekankan agar Anda selalu berusaha untuk menghubungi penulis yang bersangkutan terutama apabila penggunaan naskah tersebut memiliki implikasi publisitas dan atau ekonomi. Anda juga bisa berkontribusi mengirimkan naskah karya Anda kepada kami melalui email : jogjateater@gmail.com
A NIGHT IN ELSINORE | Richard Nathan
Penulis : Richard Nathan
Tahun : 2000
Bahasa : Inggris
“A Night in Elsinore” oleh Richard Nathan adalah konsep ulang modern dari “Hamlet” karya Shakespeare. Bertempat di kastil Elsinore yang ikonik, drama ini memadukan tema ambisi, pengkhianatan, dan pertanyaan eksistensial.Ceritanya mengikuti sekelompok karakter yang bergulat dengan masa lalu dan ambisi mereka saat mereka menjalani malam yang penuh dengan intrik dan ketegangan. Hantu Raja Hamlet muncul, mendesak putranya untuk membalas dendam terhadap Claudius, yang telah merebut takhta. Saat malam tiba, hubungan menjadi tegang, rahasia terungkap, dan karakter terpaksa menghadapi dilema moral mereka sendiri.Adaptasi Nathan mengeksplorasi kedalaman psikologis karakter, memadukan humor gelap dengan refleksi tajam tentang hidup dan mati, yang pada akhirnya mempertanyakan sifat keadilan dan konsekuensi dari balas dendam. Drama ini menangkap esensi karya asli Shakespeare sambil menanamkan relevansi kontemporer, menjadikannya pengalaman yang menggugah pikiran bagi penonton.
DOWNLOAD
ANAI-ANAI | Joko Yulianto
Penulis : Joko Yulianto
Tahun: n.a
Bahasa : Indonesia
Menjelang maghrib, Dongok pulang dari sawah. Merkuri menyala terang di depan rumah pojok desa. Anak-anak saling berkejaran dari rumah satu ke rumah lainnya. Tetangga yang dilewati tidak saling menyapa. Semua senyap menikmati dirinya sendiri.
Nuriyati atau Nur yang sudah 10 tahun menikah dengan Dongok terlihat lebih tua dari perumpuan lain seusianya. Gemar marah-marah kepada Dongok sebagai kekecewaan terhadap kondisi ekonomi keluarga yang tidak kunjung membaik. Kedua anaknya terpaksa putus sekolah. Bahkan salah satunya -Jahar- pernah dipenjara sebab tuduhan begal di sepanjang jalan raya.
DOWNLOAD
ANTIGONE | Sopochles
Penulis : Sophocles
Tahun: 441 SM
Penerjemah : Nn
Sinopsisi : “Antigone” adalah sebuah drama tragedi Yunani karya Sophocles yang menceritakan kisah seorang wanita muda bernama Antigone yang menentang perintah Raja untuk menguburkan saudaranya, Polyneices, yang tewas dalam pertempuran melawan saudaranya sendiri, Eteocles. Antigone percaya bahwa adalah tugasnya untuk menghormati saudara laki-lakinya dengan memberinya penguburan yang layak, apapun konsekuensinya. Drama ini mengeksplorasi tema kesetiaan, keluarga, keadilan, dan pembangkangan terhadap otoritas. Ketika tindakan Antigone memicu perebutan kekuasaan antara moralitas dan tirani, penonton dibiarkan merenungkan kompleksitas sifat manusia dan konsekuensi dari mempertahankan keyakinan seseorang.
DOWNLOAD
BANGKU | Ridho Maulana Yusuf
Penulis : Ridho Maulana Yusuf
Tahun : 2026
Sinopsis : BANGKU merupakan naskah drama reflektif yang berlatar sebuah bangku di ruang terbuka, tempat berbagai manusia datang dan pergi dengan cerita mereka masing-masing. Kala, seorang laki-laki yang sering duduk di bangku itu, bertemu dengan Lara dan tokoh-tokoh lain yang singgah dalam momen-momen sederhana namun bermakna.
Percakapan tentang hujan, diam, toko roti, dan waktu perlahan membuka lapisan-lapisan batin para tokohnya. Bangku menjadi ruang aman untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan menyadari bahwa tidak semua perjalanan harus dijalani dengan tergesa.
Naskah ini berbicara tentang keberanian untuk berhenti tanpa menetap, serta keikhlasan untuk berjalan kembali tanpa melupakan apa yang pernah dirasakan.
DOWNLOAD
BANGUN PAGI BAHAGIA | Andy Sri Wahyudi
Penulis : Andy Sri Wahyudi
Tahun: 2016
Bahasa : Indonesia
Naskah ini berkisah tentang tiga orang yang terbawa arus reformasi yang sedang terjadi di Indonesia. Mereka merasakan dan melakoninya, namun jauh dalam hati mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Peristiwa reformasi bagi mereka seperti sebuah pesta kebun atau acara ulang tahun yang hanya menjadi kenangan. Setelah reformasi, orang-orang saling cakar, sikat, dan menjilat kekuasaan. Namun, hal buruk dan memalukan terjadi pada mereka bertiga. Mereka paham sebagai rakyat biasa, hidup mereka dipenuhi ketidaksengajaan dan selalu bersiap untuk kehilangan. Mereka membangun dunia kecilnya dan mendidik diri sendiri untuk bangun pagi bahagia.
DOWNLOAD
BERUANG PENAGIH HUTANG | Anthon P. Chekhov ; Landung R. Simatupang (Penerjemah)
Penulis : Anton P. Chekhov
Tahun : 1888
Bahasa : Indonesia
Penerjemah : Landung R Simatupang
“Beruang Penagih Hutang” adalah versi bahasa Indonesia dari karya Anton Chekhov berjudul “ะะตะดะฒะตะดั” (Medved’) atau The Bear yang ia tulis pada tahun 1888. Merupakan drama komedi yang mengeksplorasi tema cinta, kehilangan, dan sifat manusia. Chekhov dikenal karena penggambarannya yang mendalam tentang kompleksitas hubungan dan emosi manusia, dan “The Bear” adalah salah satu komedi paling populernya. Versi berikut adalah terjemahan Indonesia oleh Landung Simatupang.
DOWNLOAD
BILA MALAM BERTAMBAH MALAM | Putu Wijaya
Penulis : Putu Wijaya
Tahun : 1965
Bahasa : Indonesia
Bila Malam Bertambah Malam adalah sebuah drama yang ditulis oleh dramawan Indonesia Putu Wijaya. Ceritanya berkisar pada pasangan suami istri, Soegianto dan Murni, yang menghadapi tantangan dalam hubungan mereka karena pergumulan pribadi dan keinginan yang saling bertentangan. Saat malam semakin larut, masalah mereka yang belum terselesaikan muncul ke permukaan, menyebabkan serangkaian konfrontasi dan pengungkapan emosi. Melalui interaksi dan konflik mereka, drama ini mengeksplorasi tema cinta, komunikasi, dan kompleksitas hubungan antarmanusia. Pada akhirnya, “Bila Malam Bertambah Malam” menggali seluk-beluk kehidupan perkawinan dan pencarian pemahaman serta hubungan antara dua individu.
DOWNLOAD
CANIBALOGY | Benny Johannes
Penulis: Benny Johannes
Tahun: 2008
Bahasa: Indonesia
Pemenang Sayembara Naskah Drama dari Federasi Teater Indonesia 2009. “Canibalogy” karya Benny Johannes adalah sebuah drama yang mengeksplorasi tema tentang moralitas, manusiawi, dan batasan yang dilanggar dalam situasi ekstrem. Cerita ini berfokus pada sekelompok orang yang terjebak dalam kondisi kritis, di mana mereka terpaksa menghadapi keputusan mengerikan untuk bertahan hidup.
Di tengah situasi yang penuh ketegangan, karakter-karakter dalam drama ini mulai menunjukkan sisi gelap mereka. Dinamika hubungan di antara mereka diuji, dengan konflik batin dan dilema etika yang muncul seiring dengan semakin dekatnya mereka pada tindakan kanibalisme.
Melalui narasi yang provokatif dan dialog yang tajam, “Canibalogy” menggambarkan perjalanan moral para karakter, menghadirkan pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang kemanusiaan dan batasan yang dapat diterima dalam menghadapi krisis. Drama ini menantang penonton untuk merenungkan tentang apa yang sebenarnya berarti menjadi manusia ketika semua norma sosial diuji.
DOWNLOAD
CIUT PAS SESAK PAS | Genthong HSa
Penulis: Genthong HSa
Tahun: 2003
Bahasa: Indonesia
Naskah ini adalah Pemenang III Sayembara Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta 2004.
DOWNLOAD
DHEMIT | Heru Kesawa Murti
Penulis: Heru Kesawa Murti
Tahun: 1986
Bahasa: Indonesia
Adaptasi: Agus Suharjoko, S.Sn.
Naskah tersebut menceritakan kaum dhemit yang merasa terancam karena lingkungan tempat tinggalnya dirusak oleh manusia. Drama ini termasuk dalam kategori komedi/satir.
DOWNLOAD
FESTIVAL TOPENG | Budi Ros
Penulis: Budi Ros
Tahun: 2003
Bahasa: Indonesia
“Festival Topeng” mengisahkan tentang kekacauan yang terjadi perihal Festival topeng di Desa Masokambang. Masalah dimulai ketika Mbah Joyo, sang raja festival memutuskan untuk berhenti memakai topeng dan menyatakan bahwa topengnya sekarang adalah wajahnya sendiri. Topeng di dalam pertunjukan ini menyimbolkan kemunafikan diri yang suka menutupi keburukan dengan kebaikan di depan orang lain. Cerita karya Budi Ros ini bermaksud agar penonton sadar untuk tidak memakai โTopengโ kembali setelah melihat pertunjukan ini. Karya ini adalah Pemenang Harapan I Sayembara Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta 2003.
DOWNLOAD
GODLOB | Uje Lelono
Penulis : Uje Lelono berdasarkan cerpen Danarto
Tahun : 1975 (berdasarkan tahun cerpen ditulis)
Bahasa : Indonesia
Sinospsis : Naskah tragedi 3 babak ini memuat adegan tentang situasi setelah perang. Di mana seorang ayah membunuh puteranya yang terluka agar puteranya mendapat gelar Pahlawan. Dalam dialog-dialog tokoh utama terdapat pendapat dan pertanyaan kritis mengenai nasib dan kedudukan rakyat kecil di tengah kehidupan yang diatur oleh orang-orang besar.
DOWNLOAD
GUBERNUR NYENTRIK | Agustan T Syam
Penulis : Agustan T Syam
Tahun : 2007
Bahasa : Indonesia
Sinopsis : Seorang Gubernur yang hidup sederhana bersama istrinya. Ia ingin dikenang oleh rakyat atas jasa-jasanya, kemudian ia membuat sebuah mega proyek yang menuai kontroversi.
DOWNLOAD
JAKARTA 2039 | Seno Gumira Ajidarma
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Tahun : 2001
Bahasa : Indonesia
Sinopsis : Gelisah dan sedihnya sorang perempuan keturunan Tionghoa, yang baru tahu bahwa ia, adalah anak yang lahir dari pemerkosaan di masa tragedi 98.
DOWNLOAD
KANG (Kudeta Damai) | Keshia Sawitri
Penulis : Keshia Sawitri
Tahun : n/a
Bahasa : Indonesia
Sinopsis dan Informasi Penting (Dibuat dengan AI)
Kang (Sebuah Kudeta Damai) mengisahkan sebuah gerakan perubahan sosial yang bergerak secara diam-diam, damai, dan sistematis melalui figur misterius bernama Kang. Cerita dibangun dengan alur maju-mundur dan tiga lapisan waktu, memperlihatkan bagaimana perubahan besar justru lahir dari kerja akar rumput.
Kisah dibuka dengan adegan pengejaran terhadap Kang oleh sekelompok massa fanatik bersenjata gelap. Kang memilih berdiam diri dan menyerahkan dirinya demi keselamatan para pengikutnya. Cerita kemudian mundur, memperlihatkan bagaimana jaringan Kang terbentuk.
Melalui tokoh Rana, penonton diperlihatkan konflik rumah tangga akibat kekerasan domestik dan ketimpangan ekonomi. Rana bertemu Nunu, aktivis perempuan yang menjadi bagian jaringan Kang, yang mengarahkan korban kekerasan untuk mendapatkan perlindungan sekaligus membangun kesadaran sosial.
Di sisi lain, Iskandar, DeVito, dan Tirta mewakili gerakan perlawanan ekonomi terhadap perusahaan roti raksasa yang meracuni rakyat dan memonopoli pangan. Mereka memandang Kang sebagai figur kunci yang mampu menggerakkan perubahan tanpa kekerasan.
Sementara itu, dari jalur aparat, Sahib dan Lembing menggambarkan konflik batin aparat negara yang terjebak di antara tugas formal dan nurani kemanusiaan. Sahib diam-diam ikut terlibat dalam jaringan Kang.
Ketiga jalur ini akhirnya bertemu: keluarga, ekonomi rakyat, dan kebebasan sipil. Melalui strategi damai Kang, kekerasan rumah tangga menurun, korban industri pangan membaik, dan ormas fanatik dibubarkan.
Namun keberhasilan ini memicu perlawanan balik. Para pemburu mengepung jaringan Kang. Dalam klimaks cerita, Kang menghilang secara misterius, sementara para pemburu justru saling membunuh karena kebencian dan fanatisme mereka sendiri.
Drama ditutup dengan tiga tokoh inti membacakan Kredo Kudeta Damai, menegaskan bahwa perubahan sejati tidak lahir dari darah dan senjata, melainkan dari kesadaran, kesabaran, dan perjuangan batin manusia.
DAFTAR TOKOH & KARAKTER
TOKOH UTAMA
1. Kang
- Figur sentral dan simbol gerakan damai.
- Karakter karismatik, tenang, visioner.
- Tidak menggunakan kekerasan, tetapi mengatur perubahan sosial secara strategis.
- Digambarkan misterius, hampir mitologis.
- Simbol โpemimpin tanpa tahtaโ.
2. Nunu
- Aktivis perempuan intelektual.
- Penghubung korban kekerasan rumah tangga ke jaringan Kang.
- Rasional, tegas, empatik.
- Berperan sebagai perekrut dan penggerak sosial tingkat akar rumput.
3. Iskandar
- Aktivis perlawanan ekonomi rakyat.
- Emosional, idealis, penuh semangat revolusioner.
- Korban langsung ketidakadilan industri pangan.
- Pendukung fanatik strategi Kang.
4. Sahib
- Aparat kepolisian anti huru-hara.
- Idealistis, kritis terhadap sistem negara.
- Terlibat diam-diam dalam gerakan Kang.
- Representasi konflik moral aparat negara.
TOKOH PENDUKUNG
5. Rana
- Korban kekerasan dalam rumah tangga.
- Perempuan kelas bawah yang berjuang mandiri.
- Simbol perempuan korban sistem patriarki.
- Pintu masuk penonton ke isu domestik dan ekonomi keluarga.
6. Abang (Suami Rana)
- Representasi laki-laki patriarkal.
- Temperamental, posesif, penuh kekerasan verbal dan fisik.
- Simbol konflik rumah tangga dan maskulinitas toksik.
7. DeVito
- Aktivis perlawanan industri pangan.
- Lebih realistis dan berhitung secara strategi.
- Menjadi penyeimbang emosi Iskandar.
8. Tirta
- Aktivis yang skeptis.
- Takut kehilangan logistik dan dukungan.
- Akhirnya berkhianat dan muncul di kubu pemburu.
- Simbol oportunisme.
9. Lembing
- Polisi anti huru-hara.
- Sinis, pragmatis, humoris.
- Kontras karakter dengan Sahib.
- Simbol aparat lapangan yang terjebak sistem.
TOKOH KOLEKTIF
10. Para Pemburu
- Gabungan ormas fanatik, massa gelap, dan mantan sekutu.
- Simbol kekerasan, fanatisme, dan ketakutan terhadap perubahan.
11. Ormas Fanatik
- Representasi ekstremisme sosial.
- Digunakan sebagai alat kekuasaan dan teror sosial.
CATATAN DRAMATURGI
Naskah ini kuat sebagai:
- Drama politik-sosial kontemporer
- Teater kritik kekuasaan
- Pertunjukan simbolik (semi-epik)
- Pertunjukan ansambel multi-ruang
Struktur alur non-linear memberi ruang eksplorasi artistik: pencahayaan simbolik, koreografi massa, suara narasi berita, dan transisi ruang imajiner.
DONWLOAD
KAPAI-KAPAI | Arifin C. Noor
Penulis : Arifin C. Noor
Tahun : 1970
Bahasa : Indonesia
SINOPSIS dan Informasi Penting
Kapai-Kapai mengisahkan perjalanan hidup Abu, seorang manusia kecil yang terjebak dalam lingkaran kemiskinan, kerja mekanis, mimpi palsu, dan ilusi kebahagiaan. Sejak kecil Abu dibuai dongeng tentang Cermin Tipu Daya, benda imajiner yang diyakini mampu memberi keselamatan dan kebahagiaan instan. Mitos ini menuntunnya menjalani hidup penuh kepatuhan, eksploitasi, penderitaan rumah tangga, dan keterasingan sosial.
Dalam perjalanannya, Abu berhadapan dengan kekuasaan, waktu, sistem kerja, agama simbolik, nafsu, dan kematian, namun selalu gagal menemukan makna sejati hidup. Pencarian โujung duniaโ dan kebahagiaan justru berakhir tragis: Abu akhirnya mati setelah โmencapaiโ apa yang selama ini ia kejar.
Drama ini merupakan kritik tajam terhadap modernitas, sistem sosial, eksploitasi manusia, serta ilusi harapan palsu yang terus meninabobokan manusia kecil.
DAFTAR TOKOH / KARAKTER
Berdasarkan daftar Dramatic Personae dalam naskah
TOKOH UTAMA
1. Abu
Tokoh sentral cerita.
Naif, patuh, penuh harapan palsu.
Terjebak dalam sistem kerja, mitos kebahagiaan, dan ilusi sosial.
2. Iyem
Istri Abu.
Mengalami penderitaan ekonomi, kelaparan, kehilangan anak.
3. Emak
Pendongeng mitos โCermin Tipu Dayaโ.
4. Yang Kelam
Representasi kekuasaan, waktu, dan kematian.
Mengatur nasib Abu dari balik layar.
5. Bulan
Pendamping Emak dan Yang Kelam.
TOKOH PENDUKUNG
6. Majikan
Menindas Abu secara verbal dan struktural.
7. Kakek
Memberi jawaban metafisik yang tidak membebaskan Abu.
8. Jin
Bagian dari lapisan absurditas cerita.
9. Putri
Tokoh dongeng.
10. Pangeran
Tokoh mitos penyelamat.
11. Bel
Personifikasi mesin, sistem kerja, dan otomatisasi.
TOKOH KOLEKTIF / ANSAMBEL
12. Pasukan Yang Kelam : Aparat kekuasaan simbolik.
13. Kelompok Kakek : Massa religius simbolik.
14. Seribu Bulan Yang Goyang-Goyang : Elemen puitik dan erotik simbolik.
15. Gelandangan : Representasi kaum marjinal.
16. Tanjidor dan Kelompok Musik : Elemen teatrikal dan atmosfer pertunjukan.
KASIANAH MERANA | Herlina Syarifudin
Penulis : Herlina Syarifudin
Tahun : 2006
Bahasa : Indonesia
SINOPSIS dan INFORMASI PENTING
Betapa berat tanggungan Kasianah dengan 3 orang anaknya dengan rumah ngontrak, sementara dia sendiri hanya seorang buruh tani yang bersuamikan Bulak si tukang ojeg dan suka main perempuan. Penghasilan Kasianah sebagai buruh tak sanggup menghidupi rumah tangganya. Karena si Bulakpun jarang sekali menafkahi keluarganya secara layak karena uang hasil ngojeg selalu habis untuk foya-foya bersama perempuan nakal.
Keinginan Kasianah untuk menceraikan Bulak takkan mungkin bisa dia lakukan karena mengingat amanat almarhum bapaknya. Detik-detik terakhir sebelum bapak Kasianah meninggal dunia, beliau berpesan bahwa Kasianah harus patuh dan taat kepada suami pilihannya. Jangan ada penyesalan di kemudian lantas mengambil jalan pintas dengan menceraikannya. Seberat apapun resiko yang harus ditanggung, harus dilalui dengan sabar dan tegar. Karena patuh kepada suami betapapun buruk perilakunya, itu adalah ibadah.
Kasianah memang telah tertipu oleh sikap manis Bulak di awal usia perkawinan mereka. Tapi menjelang tahun ke-4, barulah sifat asli si Bulak benar-benar terlihat. Bulak bukan hanya buaya darat, tapi juga monyet licik yang selalu pandai berkelit untuk menutupi kebusukannya. Bulak selalu bersikap sopan dan arif pada tetangga sekitar. Terkadang dia juga memberikan petuah yang sok agamis kepada warga sekitar. Jadi tidak ada seorangpun yang tahu akan sifat asli Bulak kecuali istrinya sendiri.
Karena penghasilannya tak mencukupi, Kasianah menjalani profesi sampingan sebagai tukang pijit. Namun profesi sampingannya itu malah membuat malapetaka bagi dirinya. Kasianah dituduh melakukan tindakan yang abmoral dengan kedok tukang pijit. Karena yang memakai jasa dia adalah teman-teman sesama buruh pabrik yang mayoritas pria. Fitnah dan gunjingan dari warga setempat termasuk teman-teman kerja Kasianah di pabrik tak pernah henti meneror ketenangan hidupnya. Suaminyapun percaya dengan rumor yang beredar terhadap istrinya. Malah Bulak semakin senang, karena kedok dia yang sebenarnya dapat tertutupi dengan rapi dengan adanya kasus istrinya. Siksaan batin Kasianah akhirnya membuatnya menjadi gila.
PARA PELAKON :
– Kasianah (ibu rumah tangga, usia 35 tahun)
– Bulak (suami Kasianah, usia 30 tahun)
– 3 orang anak (anak Kasianah dan Bulak, usia sekitar 1 tahun, 2 tahun dan 5 tahun)
– Seorang lelaki (usia 40 tahun)
– 4 orang buruh tani wanita (usia terserah)
– 2 orang wanita nakal (usia 25-30 tahun)
– 3 orang ibu-ibu tetangga Kasianah dan Bulak (usia 40-45 tahun)
– 1 orang wanita sebagai ratu neraca keadilan
*) Untuk orang-orang yang berkerudung hitam dan putih di adegan monolog akhir Kasianah, bisa diambil dari peran buruh wanita, peran wanita nakal dan peran ibu-ibu tetangga.
KERETA KENCANA | Eugene Ionesco ; W.S. Rendra (Penerjemah)
Penulis : Eugene Ionesco
Penerjemah : W.S. Rendra
Tahun : n/a
Bahasa : Indonesia
SINOPSIS dan INFORMASI TOKOH
Kereta Kencana mengisahkan sepasang manusia tua โ Kakek dan Nenek โ yang hidup terasing di sebuah rumah tua yang hampir runtuh. Pada suatu malam, mereka mendengar suara misterius yang memanggil keduanya dan menjanjikan kedatangan sebuah โkereta kencanaโ sebagai penjemput menuju akhir kehidupan.
Sambil menunggu waktu tengah malam, pasangan ini larut dalam permainan imajinasi, nostalgia, dialog absurd, dan ingatan masa lalu tentang kejayaan, cinta, kegagalan, dan kebudayaan yang telah hilang. Mereka menyambut tamu-tamu tak terlihat โ tokoh-tokoh berpengaruh, pemimpin dunia, hingga Kaisar simbolik โ yang seolah memenuhi ruangan, walau secara fisik panggung tetap kosong.
Menjelang klimaks, suasana semakin sakral dan surreal. Ketika bunyi kereta akhirnya terdengar, Kakek dan Nenek bersiap menghadapi kematian dengan penuh emosi, cinta, dan penerimaan. Drama berakhir ketika keduanya rubuh bersamaan, meninggalkan kesunyian yang menjadi simbol kehampaan manusia modern, absurditas hidup, dan kegagalan komunikasi antar manusia.
DAFTAR TOKOH / KARAKTER
TOKOH UTAMA
1. Kakek (Henry)
- Tokoh sentral laki-laki.
- Berusia sangat tua (simbol manusia yang telah melewati zaman).
- Intelektual yang merasa dilupakan sejarah.
- Penuh nostalgia, kesepian, dan kerinduan akan pengakuan.
- Karakter absurd: berganti peran (badut, profesor, pahlawan).
2. Nenek
- Pasangan hidup Kakek.
- Emosional, penuh kasih, setia.
- Menjadi penopang psikologis Kakek.
TOKOH SIMBOLIK / TAK TERLIHAT (DIMAINKAN MELALUI IMAGINASI AKTOR)
Tokoh-tokoh ini biasanya tidak diwujudkan secara fisik, tetapi dihadirkan lewat reaksi Kakek dan Nenek:
3. Suara Pemanggil (Suara Kereta)
- Suara misterius yang memanggil pasangan tua.
- Simbol kematian, takdir, atau panggilan eksistensial.
4. Perdana Menteri
- Simbol kekuasaan politik.
- Representasi dunia yang dulu menghormati Kakek.
5. Kaisar
- Figur metaforis tertinggi.
- Simbol kekuasaan absolut, Tuhan, atau kematian itu sendiri.
6. Para Tamu Tak Terlihat
Meliputi figur imajiner:
- Jenderal
- Senator
- Kardinal
- Menteri
- Profesor
- Anak-anak
- Tokoh masyarakat
➡️ Mereka melambangkan masyarakat, sejarah, dan dunia yang seolah datang โmengucapkan perpisahanโ.
KIBLAT TANAH NEGERI | Gondhol Sumargiyono
Penulis : Gondhol Sumargiyono
Tahun : 2006
Bahasa : Indonesia (+banyak istilah Jawa)
SINOPSI DAN INFORMASI
Kiblat Tanah Negeri mengisahkan konflik spiritual dan kekuasaan antara Ki Gedhe Lemah Kuning, seorang tokoh spiritual yang mengajarkan pemahaman mistik tentang kehidupan sejati, dengan otoritas kerajaan Unggul Pawenang beserta para sesepuhnya. Ajaran Lemah Kuning yang menekankan konsep โhidup dalam matiโ dan penyatuan diri dengan Yang Maha Kuasa menarik banyak pengikut, namun dianggap membahayakan tatanan syariat, stabilitas negara, dan ketertiban sosial.
Ketegangan meningkat ketika utusan kerajaan gagal membujuk Lemah Kuning untuk menghadap. Upaya penjemputan paksa oleh Nila Ambara berujung bentrokan fisik antara prajurit kerajaan dan murid padepokan. Para sesepuh kemudian turun tangan untuk meredakan konflik melalui dialog.
Puncak drama terjadi ketika Lemah Kuning menegaskan pilihannya untuk menempuh jalan spiritual radikal: meninggalkan dunia raga dan โmukswaโ (lebur ke dalam kesadaran ilahi). Drama ini menutup dengan peristiwa metafisik tersebut, meninggalkan pertanyaan tentang batas antara kebebasan spiritual, tanggung jawab sosial, dan kekuasaan negara.
DAFTAR TOKOH / KARAKTER
TOKOH UTAMA
1. Ki Gedhe Lemah Kuning
- Tokoh sentral spiritualis.
- Karismatik, keras pendirian, radikal secara ajaran.
- Mengajarkan konsep โgesang sejatiโ, hidup dalam mati, dan penyatuan dengan Ywang Sukma.
- Menolak tunduk pada kekuasaan negara.
2. Panembahan Purwa
- Penguasa Unggul Pawenang.
- Berusaha menjaga stabilitas melalui para sesepuh.
3. Nila Ambara
- Senopati kerajaan.
- Tegas, keras, berorientasi kekuasaan dan ketertiban.
- Ditugaskan menjemput Lemah Kuning, bahkan dengan paksaan.
4. Jalak Manitis
- Sesepuh penengah.
- Bijaksana, diplomatis.
TOKOH SESepuh / PENASIHAT
5. Glathik Pamikat
- Penasehat spiritual kerajaan.
- Khawatir terhadap penyimpangan ajaran Lemah Kuning.
6. Bonang Panuntun
- Tokoh bijak dan moderat.
- Menekankan kehati-hatian dalam penyebaran ilmu spiritual.
7. Podang Binorehan
- Sesepuh yang keras menentang Lemah Kuning.
- Takut hilangnya syariat dan tatanan agama.
8. Gagak Rimang
- Penasehat kritis.
- Mewaspadai dampak sosial ajaran mistik.
TOKOH MURID PADEPOKAN
9. Kebo Kenanga
- Murid utama Lemah Kuning.
- Loyal, vokal membela guru.
10. Gajah Sora
- Murid padepokan.
- Representasi pencari spiritual.
11. Lembu Tanaya
- Murid padepokan.
- Aktif dalam konflik fisik melawan prajurit.
TOKOH TAMBAHAN
12. Wilutama
- Abdi dalem kerajaan.
- Penghubung komunikasi istana.
13. Kidang Tlangkas
- Utusan kerajaan.
- Membawa laporan penolakan Lemah Kuning.
14. Utusan Unggul Pawenang
- Figur simbolik kekuasaan negara.
KISAH CINTA HARI RABU | Sapardi Joko Damono
Penulis : Sapardi Joko Damono
Tahun : n/a
Bahasa : Indonesia
Sinopsis:
โKisah Cinta Hari Rabuโ adalah drama komedi satu babak yang diadaptasi dari cerpen Anton Chekhov oleh Sapardi Joko Damono. Cerita berpusat pada seorang gadis berusia sekitar 25 tahun yang sangat ingin menikah dan hanya menerima tamu pada hari Rabu karena kepercayaan astrologinya. Suatu pagi Rabu, datang seorang tamu laki-laki yang awalnya disangka sebagai calon suami. Percakapan mereka berkembang menjadi negosiasi pernikahan yang kaku dan penuh syarat, hingga akhirnya terungkap bahwa tamu tersebut hanyalah seorang makelar perjodohan yang mewakili seorang pria lainโyang ternyata seusia ayah almarhum sang gadis. Drama ini menyoroti modernisasi dan โkepraktisanโ cinta di masa depan, sambil menyindir birokrasi dan kesepian manusia dalam mencari pasangan.
Tokoh/Karakter:
1. Gadis (G). Usia sekitar 25 tahun. Tinggal sendiri dan sangat ingin menikah. Hanya menerima tamu pada hari Rabu karena keyakinan astrologis.
2. Tamu (T). Usia 35 tahun. Tampaknya datang sebagai calon suami, tetapi sebenarnya adalah makelar perjodohan. Cerdik, praktis, dan hanya mengejar transaksi.
3. Pengung (P). Usia sekitar 40 tahun. Bujang/pelayan di rumah Gadis. Sering berbicara langsung kepada penonton sebagai narator yang menyampaikan pandangan satir tentang โkemajuanโ cinta di masa depan (tahun 2010).
KOPRAL WOYZECK | George Buchner ; Drs. Muslich (penerjemah)
Penulis : George Buchner
Penerjemah : Drs. Muslich
Tahun : 1836โ1837 (versi asli Buchner)
SINOPSIS
“Kopral Woyzeck” adalah drama ekspresionis yang menggambarkan kehidupan Woyzeck, seorang prajurit rendahan yang hidup miskin dan tertekan. Ia mengalami pelecehan dari atasannya (Kapten) dan dijadikan objek eksperimen oleh seorang Dokter yang kejam. Sementara itu, kekasihnya, Marie, berselingkuh dengan Mayor Tambur yang berpangkat lebih tinggi. Tekanan psikologis, kemiskinan, dan pengkhianatan itu perlahan-lahan menghancurkan kesehatan mental Woyzeck, mendorongnya ke dalam paranoid dan halusinasi. Akhirnya, dalam keadaan putus asa dan kehilangan akal sehat, Woyzeck membunuh Marie. Drama ini berakhir dengan pencarian mayat Marie dan Woyzeck yang hilang (diduga bunuh diri), meninggalkan kesan suram tentang dehumanisasi, ketidakadilan sosial, dan kehancuran manusia oleh tekanan sistem.
Daftar Karakter/Tokoh:
TOKOH UTAMA:
- Woyzeck โ Kopral/prajurit rendahan, menjadi objek eksperimen Dokter. Hidup miskin, mengalami gangguan mental, dan akhirnya membunuh Marie.
- Marie โ Kekasih Woyzeck, ibu dari anaknya. Terjebak dalam kemiskinan dan berselingkuh dengan Mayor Tambur.
- Dokter โ Tokoh otoriter yang menjadikan Woyzeck sebagai subjek eksperimen medis yang tidak etis.
- Kapten โ Atasan Woyzeck yang sering merendahkan dan melecehkannya.
- Mayor Tambur โ Prajurit berpangkat tinggi yang menjalin hubungan dengan Marie.
TOKOH PENDUKUNG:
6. Andress โ Rekan seperjuangan Woyzeck, sering menemani dan menjadi pendengar.
7. Anak Marie โ Anak dari hubungan Woyzeck dan Marie.
8. Tukang Teriak โ Penjual pertunjukan keliling yang menghibur masyarakat.
9. Orang Yahudi โ Penjual pisau yang menjual senjata pembunuh pada Woyzeck.
10. Margareth โ Tetangga Marie.
11. Pembantu I & II, Orang Sinting, Pelayan Hotel, Anak-anak, Polisi, Hakim, dll. โ Tokoh-tokoh latar yang melengkapi suasana dan konteks sosial dalam drama.
LAUTAN BERNYANYI | Putu Wijaya
Penulis : Putu Wijaya
Tahun : 1980
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Pendek
Lautan Bernyanyi (1980) karya Putu Wijaya berkisah tentang Kapten Leo dan juru masak setianya, Comol, yang terdampar bersama kapal Harimau Laut di pantai Sanur, Baliโsebuah daerah yang dikenal angker dan penuh takhayul. Terisolasi dan menunggu kapal penolong yang tak kunjung datang, Kapten Leo mulai diganggu oleh suara-suara misterius dari laut yang ia sebut “lautan bernyanyi”. Ia yakin ada ancaman gaib, sementara Comol, yang lebih percaya pada cerita-cerita mistis pantai, ketakutan.
Ketegangan meningkat ketika anak buah mereka, Panieka, muncul dengan membawa Dayu Badungโgadis yang ia culik, yang ternyata adalah putri dari Dayu Sanur, seorang dukun perempuan (Leak) yang ditakuti. Kehadiran gadis yang ternyata terjangkit cacar ini membawa malapetaka dan memicu konflik antara rasionalitas Kapten Leo yang skeptis dengan kepercayaan magis masyarakat pantai. Persahabatan, kesetiaan, ketakutan, dan kegilaan diuji dalam keterasingan ini, berujung pada tragedi dan penyesalan di tengah kekuatan alam dan keyakinan yang tak terjangkau akal sehat.
DAFTAR TOKOH
- SUARA-SUARA (dari pantai): Mewakili para nelayan dan anak buah kapal lainnya yang memanggil-manggil dari darat, serta suara-suara misterius dari laut.
- KAPTEN LEO: Nahkoda kapal Harimau Laut. Seorang pelaut tua yang tegas, keras kepala, dan berusaha keras mempertahankan rasionalitasnya meskipun perlahan digerogoti kesepian, ketakutan, dan halusinasi.
- COMOL: Juru masak kapal. Tubuhnya bongkok, polos, mudah percaya pada takhayul, dan sangat setia kepada Kapten Leo. Ia menjadi penghubung antara dunia kapal dan kepercayaan mistis masyarakat pantai.
- PANIEKA: Anak buah kapal. Suka mabuk dan ceroboh. Dialah yang menyebabkan kapal kandas karena tertidur saat berjaga. Konflik utama dimulai ketika ia melarikan Dayu Badung.
- DAYU SANUR: Seorang dukun perempuan (Leak) yang sangat disegani dan ditakuti di sepanjang pantai Sanur. Ibunda Dayu Badung. Ia mewakili kekuatan magis dan misteri Bali yang menjadi lawan dari rasionalitas Kapten Leo.
- DAYU BADUNG: Putri Dayu Sanur yang dilarikan oleh Panieka. Ia terjangkit penyakit cacar, yang dianggap sebagai wabah dan kutukan.
- ADENAN: Anak buah kapal yang lebih waras dan menjadi penengah. Tinggal di darat dan memahami cara berpikir masyarakat setempat.
- RUBI: Anak buah kapal lain yang pemalu dan baik hati. Ia menjual gitarnya untuk membantu biaya pengobatan kawannya.
- DUKUN: Seorang tetua atau dukun laki-laki dari pantai yang akhirnya datang ke kapal. Memiliki hubungan dengan Dayu Sanur dan berusaha menyelesaikan kekacauan dengan caranya.
- ABU: Anak buah kapal yang disebut-sebut pergi ke Denpasar dan menjadi “bobotoh” (penjudi sabung ayam).
- DANGIN: Anak buah kapal yang sakit dan akhirnya meninggal karena wabah cacar di pantai.
LELAKON RADEN BEI SURIO RETNO | F. Wiggers
Penulis : F. Wiggers
Tahun : 1901
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Pendek
Drama ini mengisahkan Raden Bei Suryo Retno, seorang Collecteur (pemungut pajak) yang jujur dan sangat menjaga amanah negara. Ia memiliki seorang istri yang terlalu memanjakan anak lelaki mereka, Raden Ongko, yang sedang bersekolah kedokteran di Betawi. Ongko hidup boros, suka berhutang, dan bergaul dengan kalangan yang tidak baik. Ia terus-menerus meminta uang dari orangtuanya, dan sang ibu diam-diam mengambil uang dari kas kecil rumah tangga serta menggadaikan perhiasan Kartani, adik Ongko, demi memenuhi permintaan anak kesayangannya.
Suatu hari Ongko pulang dengan keadaan terdesak karena ia telah menggunakan uang iuran pesta sekolah sebesar 500 ringgit dan kini harus melunasi hutangnya. Sang ayah tegas menolak memberi uang karena semua simpanan di peti besi adalah uang negara yang wajib dijaga. Ia juga sudah muak dengan kebohongan Ongko. Namun, ketika Ongko mengancam akan bunuh diri, sang ibu yang lemah hati akhirnya bersekongkol untuk mengambil uang dari peti besi pada tengah malam. Saat mereka sedang membuka peti, Raden Bei muncul dan menyaksikan perbuatan itu.
Dengan perasaan hancur karena kepercayaannya dikhianati oleh istri dan anaknya sendiri, Raden Bei mengambil uang 500 ringgit dari peti, memberikannya kepada istrinya untuk Ongko, lalu masuk ke kamar dan menembak dirinya. Drama berakhir dengan kesedihan mendalam: sang ibu limbung, Kartani berteriak histeris, sementara Ongko terpaku bagai patung, menyadari bahwa ambisinya telah membunuh ayahnya sendiri.
Daftar Karakter
- LOPER KORAN โ Tokoh kecil yang muncul untuk memberikan surat kabar.
- RADEN BEI SURYO RETNO โ Seorang Collecteur (pemungut pajak) yang jujur, berumur, berwibawa, dan sangat menjunjung tinggi kepercayaan serta kehormatan. Ia sabar namun tegas dalam prinsip.
- ISTERI โ Istri Raden Bei, seorang ibu yang sangat menyayangi anak lelakinya secara berlebihan hingga rela melakukan apa saja, termasuk mengambil uang negara.
- RADEN ONGKO โ Anak laki-laki, mahasiswa kedokteran di Betawi. Tampan, pandai bicara, tetapi boros, suka berhutang, dan mudah terpengaruh pergaulan buruk.
- KARTANI โ Anak perempuan, adik Ongko. Berhati mulia, sederhana, rela berkorban, dan sangat menyayangi keluarganya.
- JURUTULIS โ Pembantu setia Raden Bei yang jujur dan dipercaya. Ia sering menjadi tempat curhat sang majikan.
- MAGANG-MAGANG (termasuk Magang Kromo) โ Para pegawai kantor yang membantu pekerjaan administrasi dan penerimaan pajak.
- LURAH-LURAH โ Para kepala desa yang datang menyetorkan uang pajak.
MALAM JAHANAM | Motinggo Busye
Penulis : Motinggo Busye
Tahun : 1958
Bahasa : Indonesia
Sinopsis
“Malam Jahanam” menggambarkan kehidupan keras di sebuah kampung nelayan, di mana tragedi berawal dari kematian burung beo milik Mat Kontan, seorang nelayan yang sombong dan lebih mencintai burungnya daripada keluarga. Kematian burung itu memicu kemarahan Mat Kontan yang bersumpah membunuh pelakunya.
Di balik konflik ini, terungkap hubungan rahasia antara istrinya, Paijah, dengan tetangga mereka, Soleman. Soleman akhirnya mengaku membunuh beo tersebut karena sakit hatiโburung itu kerap menirukan penolakan Paijah terhadapnya. Pengakuan ini berlanjut dengan rahasia lebih besar: anak Paijah yang sakit ternyata adalah anak Soleman, bukan anak Mat Kontan.
Drama berakhir dengan kekacauan: Mat Kontan yang kecewa pergi lalu kembali untuk balas dendam, Utai (pemuda setengah sinting) tewas dalam kejar-kejaran, Soleman melarikan diri, dan anak Paijah meninggal. Cerita ditutup dengan kesedihan dan kegelapan yang menyelimuti kampung itu.
Daftar Tokoh Utama
- Si Kecil โ Bayi Paijah yang sakit, penyebab konflik tersembunyi.
- Mat Kontan โ Nelayan sombong, pencinta burung, suami Paijah.
- Paijah โ Istri Mat Kontan, ibu yang tertekan, memiliki hubungan rahasia dengan Soleman.
- Soleman (Leman) โ Tetangga, ayah kandung anak Paijah, pembunuh beo.
- Utai โ Pemuda setengah sinting, sering tertawa tanpa sebab, menjadi korban konflik.
MANGIR | Pramoedya Ananta Toer
Penulis : Pramoedya Anantra Toer
Tahun : 1955
Bahasa : Indonesia
Sinopsis
Drama “Mangir” karya Pramudya Ananta Toer mengisahkan perlawanan Perdikan Mangirโsebuah wilayah merdekaโmelawan ekspansi Kerajaan Mataram di bawah Panembahan Senapati. Tokoh utama, Wanabaya (Ki Ageng Mangir Muda), adalah panglima perkasa yang baru memenangkan pertempuran.
Suatu ketika, Wanabaya jatuh cinta pada Adisaroh, seorang waranggana (penari) cantik yang ternyata adalah Putri Pambayunโputri Senapati yang menyamar sebagai mata-mata Mataram. Keinginan Wanabaya untuk menikahinya ditentang oleh para tetua Mangir, terutama Baru Klinting, yang curiga pada identitas Adisaroh dan takut semangat perang Wanabaya melemah.
Konflik pun pecah antara kesetiaan Wanabaya pada Mangir dan cintanya pada Adisaroh, sementara rombongan penari yang ternyata mata-mata Mataram terus menyulut ketegangan. Drama ini mengungkap pergulatan antara kemerdekaan lokal, tipu muslihat politik, dan cinta yang berbahaya.
TOKOH UTAMA (8 Tokoh)
- WANABAYA / KI AGENG MANGIR MUDA
(Pemuda 23 th, Panglima Perdikan Mangir) - BARU KLINTING
(Pemuda 26 th, Tetua & Ahli Siasat Mangir) - PUTRI PAMBAYUN (ADISAROH)
*(Putri 16 th, Mata-mata Mataram)* - SURIWANG
(Pria 50 th, Pandai Tombak Mangir) - TUMENGGUNG MANDARAKA
(Pria 92 th, Penasihat Mataram) - PANGERAN PURBAYA
(Pemuda 20 th, Putra Mahkota Mataram) - DEMANG PATALAN
(Pria 35 th, Pemimpin Daerah Mangir) - DEMANG JODOG
(Pria 55 th, Pemimpin Daerah Mangir)
TOKOH PENDUKUNG (5 Tokoh)
- KIMONG
*(Pria 30 th, Mata-mata Mataram)* - TUMENGGUNG JAGARAGA
(Pria 35 th, Kepala Pasukan Mataram) - TUMENGGUNG PRINGGALAYA
(Pria 45 th, Kepala Pasukan Mataram) - DEMANG PAJANG
(Pria 42 th, Pemimpin Daerah Mangir) - DEMANG PANDAK
(Pria 46 th, Pemimpin Daerah Mangir)
TOKOH TAMBAHAN / FIGURAN (4 Tokoh)
- PENCERITA (TROUBADOUR)
(Narator pembuka) - KI AGENG PAMANAHAN
*(Pria 90 th, hanya disebut/dalam kilasan)* - PANEMBAHAN SENAPATI
*(Pria 45 th, hanya disebut/dalam kilasan)* - ANGGOTA ROMBONGAN WIYAGA / PRAJURIT
(Figuran, tidak berdialog)
MENGAPA KAU CULIK ANAK KAMI | Seno Gumira Ajidarma
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Tahun : 1999
Bahasa : Indonesia
SINOPSIS:
“Mengapa Kau Culik Anak Kami?” adalah drama tiga babak karya Seno Gumira Ajidarma yang berlatar tahun 1999. Lakon ini mengisahkan tentang sepasang orang tua paruh baya yang duduk di rumah mereka pada suatu malam, berjuang menghadapi trauma dan ketidakpastian setelah anak bungsu mereka, Satria, seorang aktivis, diculik dan hilang tanpa jejak lebih dari setahun yang lalu.
Melalui percakapan yang intens antara Bapak dan Ibu, drama ini membuka luka kolektif mengenai kekerasan negara di masa lalu (mengacu pada peristiwa 1965-66 dan penculikan aktivis 1997-98). Mereka berdebat tentang ingatan, lupa, dan dosa sebagai bangsa. Ibu terus-menerus mengungkit kekejaman yang pernah ia saksikan semasa kecil dan menuntut agar kejahatan tidak dilupakan. Sementara Bapak berusaha menghindar, tetapi akhirnya terpaksa menghadapi kenyataan pahit bahwa anak mereka menjadi korban dari sistem teror yang sama.
Cerita ini adalah potret kesedihan, kemarahan, dan ketidakberdayaan keluarga korban. Drama ini menggugat mekanisme kekuasaan yang menggunakan penculikan dan penyiksaan sebagai alat, serta mengecam masyarakat yang memilih untuk “pura-pura lupa” atas kekerasan politik yang pernah terjadi.
Daftar Tokoh
BAPAK. Usia sekitar 50 tahun. Berpakaian sederhana: kaos oblong putih dan sarung. Karakternya cenderung pasif, berusaha menghindar dari ingatan buruk dengan dalih “mikul dhuwur mendem jero”. Namun, seiring dialog, ia mulai membongkar mekanisme penyiksaan dan penculikan yang ia bayangkan terjadi.
IBU. Usia sekitar 50 tahun. Berpakaian kain dan kebaya Sumatera.
MURTAD | Muhammad Lutfi
Penulis : Muhammad Lutfi
Tahun : 2024
Bahasa : Indonesia
Sinopsis : Menceritakan tentang Prayogo yang berkembang sujud kepada Ratu Siluman Ular. Keluarga Prayogo menjadi tumbal dari kebiadaban Prayogo. Dan akhirnya yang menjadi tumbal selanjutnya adalah Prayogo sendiri.
DOWNLOAD
NGEK – GENG | Muhammad Lutfi
Penulis : Muhammad Lutfi
Tahun : 2024
Bahasa : Indonesia
Sinopsis : NGEK GENG adalah naskah drama tentang seorang lelaki yang kehilangan kewarasan karena
penyakit Skizofrenia. Baru setahun dia menikah dan mengalami hidup yang bahagia. Dia
temukan makna cinta secara semu. Tetapi semua itu lenyap seolah tidak pernah ada cinta. Dan
hidupnya terus gundah gulana berkeliaran sepanjang malam seperti kelelawar.
DOWNLOAD
NYANYIAN ANGSA | Anton P Chekhov ; Djohan A Nasution (Penerjemah)
Penulis : Anton P Chekhov
Tahun : 1888
Penerjemah : Djohan A. Nasution
Sinopsis :
Seorang aktor gaek, tertidur karena mabuk susai sebuah pementasan. Di tengah malam ia terbangun dan mendapati dirinya sendirian di dalam gedung teater. Ia pun mulai bicara sendiri, membanggakan sekaligus menyesali masa lalunya. Ia bukanlah bintang aktor, tetapi hanya seorang pemain komedi yang hidup sebatang kara. Di tengah lamunannya, ternyata ada seorang pembisik yang juga menginap di gedung itu. mereka berbicara dan si aktor membuka luka-lukanya tentang mantan pujaan hatinya yang mengagumi akting panggungnya tetapi tidak bersedia menikah. Ia juga menumpahjkan kekecewaannya pada penonton, yang bertepuk tangan dan memberikan bunga, tetapi segera setelah pentas usai, penonton pulang tanpa peduli lagi betapa sepinya hidup sang aktor.
Tokoh :
Vasili Svietlovidoff : Seorang komedian berumur 68 tahun
Nikita Ivanitch : Seorang promter (pembisik), orang tua
NYONYA-NYONYA | Wisran Hadi
Penulis : Wisran Hadi
Tahun : 2003
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Pendek
Drama “Nyonya-Nyonya” karya Wisran Hadi berkisah tentang seorang Nyonya yang tinggal di rumah mewah, sementara suaminya (seorang Datuk) terbaring sakit di rumah sakit karena kanker lidah. Sepanjang hari, kediamannya terusik oleh kedatangan Tuan, seorang pedagang barang antik yang licik dan gigih.
Dengan berbagai alasan (hujan, taksi tidak lewat, malaria), Tuan berusaha memaksa diri untuk masuk, mulai dari berdiri di teras, duduk di ruang tamu, hingga akhirnya masuk ke kamar Nyonya. Setiap kali diusir, Tuan menggunakan siasat dagangnya: ia membeli bagian-bagian rumah Nyonya secara paksa (marmer teras, kursi tamu, kursi makan, bahkan tempat tidur) dengan transaksi tawar-menawar yang absurd dan ancaman akan melaporkan Nyonya ke pengadilan. Nyonya yang sangat khawatir akan “nama baik” dan “ekor” (implikasi buruk/gosip) akhirnya terus menerus terpaksa menjual barang-barangnya.
Konflik memuncak dengan kedatangan para Ponakan (A, B, C) dari suaminya yang menuduh Nyonya telah menghabiskan uang hasil penjualan tanah pusaka keluarga untuk membangun rumah mewah itu. Dengan ancaman pisau dan tipu daya, mereka memeras uang dari Nyonya. Drama ini diakhiri dengan kekacauan ketika Istri Tuan dan para Ponakan menyaksikan Tuan dan Nyonya dalam situasi intim di kamar, yang memicu kejaran dan teriakan.
Drama ini merupakan satir gelap yang mengkritik mentalitas materialistis, kedok “perdagangan”, hipokrisi sosial, dan obsesi terhadap penampilan serta nama baik di tengah konflik keluarga yang rumit.
Daftar Pemain / Tokoh
- NYONYA
- Istri muda dari seorang Datuk tua yang sakit. Tinggal di rumah mewah. Sangat terobsesi dengan nama baik dan takut pada gosip (“ekor”). Meski awalnya tegas, ia mudah terpaksa dan dimanipulasi melalui transaksi uang.
- TUAN
- Pedagang barang antik yang lihai, manipulatif, dan tak kenal malu. Dengan dalih-dalih yang dicari-cari, ia terus menerobos batas privasi Nyonya. Senjata utamanya adalah “hukum perdagangan” dan ancaman melaporkan ke pengadilan. Sering berkata “Tidak percaya? Tanya istri saya.“
- ISTRI
- Istri dari Tuan. Karakter yang keras dan mudah naik pitam. Ia datang mencari suaminya dan memaksa untuk membawa pulang kursi yang dibeli Tuan.
- PONAKAN A
- Kemenakan (lelaki/perempuan) dari suami Nyonya (Datuk). Yang pertama datang menagih uang tanah pusaka dengan ancaman pisau. Sempat mencuri uang hasil penjualan marmer Nyonya.
- PONAKAN B
- Kemenakan lainnya. Bekerja sama dengan Ponakan C untuk memeras Nyonya dengan siasat palsu seolah-olah Datuk telah meninggal dan meninggalkan bukti tertulis.
- PONAKAN C
- Kemenakan yang paling banyak bicara dan menjadi penggerak dalam rencana pemerasan bersama Ponakan B. Mengaku paling berjasa dalam penyusunan siasat.
- DATUK
- Suami tua Nyonya yang sakit kanker lidah dan dirawat di rumah sakit. Tidak pernah muncul di panggung, tetapi menjadi pusak konflik (uang tanah pusakanya) dan objek ratapan para kemenakan.
Catatan: Naskah ini ditulis dengan gaya khas Wisran Hadi yang banyak menggunakan dialog panjang, repetisi, dan simbolisme (seperti kata “ekor” yang terus diulang). Setting berpindah-pindah: Teras, Ruang Tamu, dan Kamar.
OBROK OWOK-OWOK EBREK EWEK-EWEK | Danarto
Penulis : Danarto
Tahun : 1973
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Pendek
Drama ini berlatar di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, sebuah ruang di mana masa lalu, masa kini, dan masa depan melebur menjadi satu. Kisah berpusat pada Sumirah, seorang juragan batik, yang menjalin hubungan asmara dan bisnis dengan Tommy Hendronegoro, seorang pelukis berbakat. Namun, hubungan mereka terusik oleh desas-desus yang disebarkan oleh Slentem, seorang tukang sapu pasar yang usil dan filosofis, bahwa Tommy juga dekat dengan Kusningtyas, putri seorang Professor Seni Rupa.
Konflik semakin meruncing ketika Professor dengan keras kepala tidak meluluskan ujian Tommy, dengan alasan kriteria artistik yang tidak terpenuhi. Sumirah mencurigai keputusan ini bermotif pribadi terkait hubungan Tommy dengan putrinya. Di tengah kekacauan, Slentem bertindak sebagai “dukun” yang menjual rambut ajaib, yang secara tak terduga mempertemukan dunia Sumirah dan Professor dalam pengalaman supranatural.
Drama ini memadukan realitas pasar dengan elemen absurd, pertengkaran para pengamen tradisional dan modern, intrik cinta segitiga, serta sindiran tajam terhadap dunia seni dan pendidikan, hingga akhirnya semua karakter harus berhadapan dengan perjalanan waktu dan pilihan hidup masing-masing.
Daftar Karakter
TUKANG CLEMPUNG : Pemain clempung (alat musik petik) dalam kelompok pengamen Sariyem.
SLENTEM : Tukang sapu pasar yang cerdik, usil, dan seringkali menjadi narator atau komentator atas semua kejadian. Ia adalah katalisator utama konflik.
TOMMY HENDRONEGORO : Pelukis berbakat, kekasih Sumirah, dan mahasiswa seni rupa yang tengah menghadapi ujian.
SUMIRAH : Juragan Batik di Pasar Beringharjo, pasangan bisnis dan kekasih Tommy.
PROFESOR SENI RUPA : Dosen Tommy, ayah dari Kusningtyas. Seorang akademisi yang keras kepala dan penuh prinsip.
KUSNINGTYAS (TYAS) : Putri Professor, mahasiswi kedokteran, dan gadis yang dikabarkan dekat dengan Tommy.
NYONYA PROFESOR : Istri Professor yang lebih bijaksana dan sering mencoba menengahi kekerasan kepala suaminya.
ATI : Pedagang batik dan sahabat dekat Sumirah yang setia mendampingi dan menasihati.
SARIYEM : Seorang Ledek (penyanyi tradisional) dari kelompok pengamen. Ia mewakili seni tradisional.
WARTI : Pengamen dengan cassette tape recorder. Ia mewakili seni modern/populer. Saingan berat Sariyem.
TUKANG KENDANG : Pemain kendang dalam kelompok pengamen Sariyem.
TUKANG SULING : Pemain suling dalam kelompok pengamen Sariyem.
PAGI BENING | Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero ; Sapardi Joko Damono (Penerjemah)
Penulis : Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero
Tahun : n/a
Penerjemah : Sapardi Joko Damono
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Pendek
Drama satu babak ini berkisah tentang pertemuan dua orang lanjut usia, Donna Laura dan Don Gonzalo, di sebuah taman terbuka di Madrid pada suatu pagi yang cerah. Awalnya mereka bertengkar karena berebut bangku taman dan mengganggu merpati kesayangan Laura. Namun, percakapan mereka berubah arah ketika secara tidak sengaja membahas kenangan tentang Villa Maricella di Valencia.
Melalui obrolan ringan yang diselingi puisi, mereka menyadari bahwa masing-masing adalah mantan kekasih dari masa laluโLaura adalah “Perawan Bagai Perak” yang terkenal itu, dan Gonzalo adalah pemuda yang dulu setiap pagi melemparkan bunga untuknya dari atas kuda. Tanpa mengungkap jati diri secara langsung, mereka justru saling bercerita tentang “kematian tragis” satu sama lain versi fiksi: Gonzalo mengaku bahwa dirinya (saudara sepupunya) tewas di Afrika, sementara Laura mengaku bahwa dirinya (temannya) tenggelam dilanda ombak karena patah hati.
Keduanya memilih untuk tidak membuka identitas asli mereka di usia senja, lebih memilih dikenang sebagai sosok muda yang romantis daripada sebagai orang tua renta di hadapan satu sama lain. Drama ini ditutup dengan kelembutan dan senyum penuh arti saat mereka berpamitan dan berjanji untuk bertemu kembali keesokan harinya.
Daftar Karakter
JUANITO: Pemuda pembantu Gonzalo. Ia membantu Gonzalo berjalan dan sesekali menjadi sasaran kekesalan majikannya.
DONNA LAURA: Wanita tua berusia sekitar 70 tahun. Meski telah lanjut usia, masih tampak sisa-sisa kecantikan masa mudanya. Bermental baik, sedikit cerewet, tetapi lembut hatinya. Ia adalah “Perawan Bagai Perak” yang legendaris dari Villa Maricella.
DON GONZALO: Lelaki tua berusia lebih dari 70 tahun. Agak congkak, tidak sabaran, tetapi sebenarnya sentimental. Ia adalah pemuda yang dulu jatuh cinta kepada Laura dan biasa melempar bunga untuknya.
PETRA: Gadis pembantu Laura yang setia. Masih muda dan lebih tertarik mengobrol dengan tukang kebun daripada menemani majikannya.
PESTA PARA PENCURI | Jean Anoulih ; Rahman Sabur (Penyadur)
Judul Asli: Le Bal des Voleurs
Penulis : Jean Anoulih
Tahun : 1938
Penyadur : Rahman Sabur
Bahasa Indonesia
Sinopsis Pendek
Drama komedi ini berkisah tentang tiga pencuri jalananโPetbun, Piktor, dan Gusdulโyang menyamar sebagai orang kaya dengan tujuan menguras harta kekayaan Nyonya Molen dan keluarganya di sebuah villa mewah. Mereka datang dengan berpura-pura sebagai keluarga bangsawan asing, lengkap dengan sopan santun palsu dan topeng-topeng kebohongan.
Namun, rencana mereka menjadi kacau ketika cinta ikut campur. Gusdul jatuh cinta pada Yeyet, keponakan Nyonya Molen, dan begitupun sebaliknya. Sementara itu, Piktor juga terlibat hubungan rumit dengan Lela, kakak Yeyet. Di tengah intrik pencurian yang gagal, muncul pula dua tokoh konyol, Togar Tua dan Togar Muda, yang juga berniat samaโmenguras harta keluarga tersebut.
Puncaknya terjadi ketika Tuan Bapau, seorang pensiunan militer yang curiga, membongkar identitas palsu para pencuri. Namun, drama berakhir dengan kejutan ketika Tuan Bapau tiba-tiba “mengakui” Gusdul sebagai anaknya yang hilangโsebuah kebohongan mulia yang ia ciptakan demi kebahagiaan Yeyet dan Gusdul yang saling mencinta.
Daftar Karakter
GADIS / PELAYAN / POLISI: Karakter-karakter pendukung yang melengkapi adegan.
PETBUN: Pemimpin kelompok pencuri yang menyamar sebagai “Ayah” (Tn. Ahmad Fernando Gomes). Licik, sok berwibawa, namun sering kewalahan menghadapi kekacauan.
PIKTOR: Anggota kelompok pencuri yang menyamar sebagai “Anak Pertama” (Ahmad Tommy). Genit, suka berganti-ganti topeng untuk menarik perhatian Lela.
GUSDUL: Anggota kelompok pencuri yang menyamar sebagai “Anak Kedua” (Ahmad Franky). Paling muda, mudah jatuh cinta pada Yeyet, dan memiliki konflik batin antara profesinya sebagai pencuri dan perasaannya yang tulus.
NYONYA MOLEN: Pemilik villa, kaya raya, dan bersemangat tinggi. Ia adalah pusat dari segala intrik yang terjadi di rumahnya.
YEYET: Keponakan Nyonya Molen yang cantik dan lugu. Jatuh cinta pada Gusdul meskipun tahu ia adalah pencuri.
LELA: Kakak Yeyet, juga keponakan Nyonya Molen. Lebih dewasa dan menjadi objek rayuan Piktor.
TUAN BAPAU: Pensiunan militer, kerabat keluarga. Ia awalnya curiga pada para pencuri dan bertindak sebagai “detektif amatir” yang selalu membawa pluit dan tumpukan kertas penyelidikan.
TOGAR TUA: Seorang bapak-bapak kaya yang juga mengincar Yeyet untuk anaknya. Konyol dan ambisius.
TOGAR MUDA: Anak Togar Tua. Bodoh, penurut, dan berusaha menjadi “Arjuna” demi merebut Yeyet.
PEREMPUAN PENJAJA TEH BOTOL (PPTB): Sebenarnya adalah komplotan pencuri juga. Muncul di awal sebagai penguji.
PINANGAN | Anton P. Chekhov ; Jim Lim dan Suyatna Anirun (Penyadur)
Penulis : Anton P. Chekhov
Judul Asli : ะัะตะดะปะพะถะตะฝะธะต (Predlozheniye / The Proposal)
Tahun : 1888
Penyadur : Jim Lim & Suyatna Anirun (1958)
Sinopsis Pendek
Drama komedi satu babak ini berkisah tentang Agus Tubagus, seorang bujangan berusia 30 tahun yang datang melamar putri tetangganya, Ratna Kholil (25 tahun), putri dari Rukmana Kholil. Namun, niat baiknya selalu gagal karena pertengkaran konyol yang terus-menerus terjadi.
Pertama, mereka bertengkar soal kepemilikan sebidang tanah bernama Lapangan “Sari Gading”. Agus mengklaim tanah itu miliknya, sementara Ratna dan ayahnya ngotot bahwa tanah itu milik keluarga mereka. Pertengkaran ini membuat Agus yang memiliki penyakit jantung merasa berdebar-debar dan hampir pingsan. Rukmana yang kesal akhirnya mengusir Agus.
Setelah mengetahui bahwa Agus sebenarnya datang untuk melamar, Ratna menyesal dan menyuruh ayahnya memanggil Agus kembali. Namun, pertengkaran kedua segera terjadiโkali ini soal anjing peliharaan: siapa yang lebih baik, si Belang milik Agus atau si Kliwon milik keluarga Ratna. Pertengkaran memanas hingga Agus jatuh pingsan karena serangan jantung. Saat ia sadar, Rukmana segera mempertemukan tangan mereka dan merestui pernikahan. Namun, begitu setuju, Agus dan Ratna langsung bertengkar lagi soal anjing, disaksikan Rukmana yang berkomentar, “Wahhhh, inilah permulaan hidup bahagia sepasang suami-istri!”
Daftar Karakter
AGUS TUBAGUS (30): Tetangga keluarga Kholil yang datang untuk melamar Ratna. Ia seorang pria yang baik tetapi memiliki penyakit jantung sehingga mudah pingsan jika emosi. Ia juga sangat posesif terhadap tanah dan anjingnya.
RUKMANA KHOLIL (60): Seorang pemilik tanah (tuan tanah), ayah dari Ratna. Ia mudah marah, cepat tersinggung, tetapi sebenarnya senang ketika Agus datang melamar.
RATNA KHOLIL (25): Putri Rukmana, gadis yang dilamar Agus. Ia cerdas tetapi juga cepat marah dan keras kepala, terutama jika menyangkut hak milik keluarganya atau soal anjing.
PRESIDEN KITA TERCINTA | Agus Noor
Penulis : Agus Noor
Tahun : 2009
Bahasa : Indonesia
Presiden Kita Tercinta adalah salah satu pemenang Sayembara Naskah Drama Federasi Teater Indonesia 2009.
Sinopsis Pendek
Drama ini berlatar di sebuah republik fiktif yang dilanda kudeta militer. Kolonel Kalawa Mepaki mengambil alih kekuasaan setelah Presiden sebelumnya tewas tertembak dalam situasi kacau. Dengan liciknya, ia memanipulasi Dewan Senator, membungkam oposisi (Senator Awuk dipaksa merangkak seperti anjing), dan menggandeng Tuan Pitaya Mentalaโseorang hakim konstitusi yang korupโuntuk melegitimasi setiap tindakannya.
Untuk meredam gejolak rakyat, Kalawa dan Pitaya menggelar “Pemilu” yang absurd, di mana setiap warga “diwajibkan” mencalonkan diri. Hasilnya, Antawis Maekani, seorang petani lugu dari dusun, terpilih secara tak terduga dan diangkat menjadi Presiden boneka. Antawis yang hanya ingin pulang kampung justru dipaksa duduk di kursi singgasana, diawasi ketat, dan mulai merasakan “kekuatan ajaib” kursi tersebutโbenda-benda bisa terbang atas perintahnya.
Di istana, intrik terus bergulir. Lalita Maningka, Ibu Negara yang cerdik dan penuh ambisi, ternyata adalah dalang di balik kudeta. Ia membiarkan suaminya (Presiden lama) terbunuh demi “menyelamatkan negara”. Sementara itu, anak-anak AntawisโKapilka dan Mulatiโjustru menjadi aktivis yang menentang keras rezim boneka ayahnya sendiri. Ketika demonstrasi rakyat makin membahana, kekacauan mencapai puncaknya: Kolonel Kalawa yang cemburu dan terburu nafsu menembak selubung singgasana, tanpa sadar telah membunuh Lalitaโsatu-satunya wanita yang ia ingini.
Drama ditutup dengan adegan surreal: setelah Lalita dan Antawis lenyap, Awukโmantan senator yang berubah menjadi anjingโnaik ke singgasana, mengenakan mahkota, dan melolong panjang ditemani bulan purnama. Sebuah metafora getir tentang kekuasaan yang pada akhirnya jatuh ke tangan “anjing”.
Daftar Karakter
Tokoh Utama:
- KOLONEL KALAWA MEPAKI: Pemimpin kudeta militer. Ambisius, manipulatif, dan percaya pada “koin keberuntungan”-nya. Ia mencintai Lalita, tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan.
- LALITA MANINGKA: Ibu Negara, janda Presiden yang tewas. Cantik, anggun, namun licik. Ia adalah dalang sebenarnya di balik kudeta dan memegang kendali atas bayang-bayang kekuasaan.
- ANTAWIS MAEKANI: Seorang petani lugu dari dusun yang terpilih menjadi Presiden boneka. Sering meludah di mana-mana. Ia terjebak dalam permainan politik yang tidak ia pahami.
- TUAN PITAYA MENTALA: Hakim Tinggi Konstitusi yang korup dan oportunis. Ia selalu membela setiap tindakan kudeta dengan dalih “sesuai konstitusi”.
- AWUK: Senator yang awalnya berani menentang kudeta, tetapi kemudian dihancurkan karakter dan martabatnya oleh Kolonel Kalawa. Ia berubah menjadi “anjing” yang merangkak dan menggonggong, simbol dari manusia yang direndahkan kekuasaan.
Tokoh Pendukung:
- SERDADU / PRAJURIT / ALGOJO: Figur-figur militer yang menjadi alat kekuasaan.
- MARANI ANTAWIS: Istri Antawis Maekani, mantan sinden. Ia setia menanti suaminya di dusun.
- KAPILKA: Putra Antawis dan Marani. Seorang pemuda aktivis yang menentang rezim ayahnya sendiri.
- MULATI: Putri Antawis dan Marani. Juga ikut dalam gerakan perlawanan mahasiswa.
- SERSAN SIWAKAN & KOPRAL KINEPAN: Dua serdadu yang bertugas mengawasi Antawis. Mereka akhirnya dieksekusi karena lalai.
- ANGGOTA DEWAN SENATOR: Para senator yang kebanyakan penakut dan mudah ditekan oleh militer.
- SUARA PENYIAR RADIO / PEMBAWA ACARA: Figur yang mewakili media massa yang dimanipulasi.
- RAKYAT / WARGA / PERONDA: Massa yang menjadi korban kebijakan dan eksekusi.
RARE ANGON | Ibed S. Yuga
Penulis : Ibed S. Yuga
Tahun : 2008
Bahasa : Indonesia
Rare Angon adalah Pemenang Sayembara Naskah Drama Federasi Teater Indonesia 2009.
Sinopsis Pendek
Drama ini adalah interpretasi kontemporer dari folklor Bali tentang tokoh Rare Angon, seorang anak gembala yang melukis sosok gadis imajinernya, Lubangkuri, di atas tanah gembala. Lukisan itu begitu hidup sehingga menjadi perbincangan banyak orang, hingga akhirnya terdengar oleh raja yang berkuasa. Raja menghendaki Lubangkuri untuk dijadikan selirnya, dan Rare Angon dipaksa menyerahkan gadis impiannya.
Di tengah tekanan kekuasaan, Rare Angon akhirnya menyerahkan Lubangkuri kepada raja. Sebagai imbalannya, ia diangkat menjadi raja dan menikahi Lubangkuri. Namun, kebahagiaan itu palsu. Rare Angon mulai digerogoti oleh “penyakit” misteriusโsebuah kegelisahan eksistensial yang perlahan mengubahnya menjadi Dewa Siwa. Di sini, mitos bertabrakan dengan realitas: Lubangkuri bermetamorfosis menjadi Dewi Durga yang marah karena dikhianati cintanya oleh Siwa.
Drama ini bergerak dalam lapisan-lapisan waktu dan ruang yang tumpang tindihโantara dongeng masa lalu dan realitas masa kini yang dikuasai televisi, gawai, dan budaya instan. Seorang nenek berusaha menjaga cucu-cucunya tetap tidur dengan dongeng, namun anak-anak lebih tertarik pada Doraemon dan SMS. Di akhir, semua tokoh melebur dalam pertanyaan tentang identitas, cinta, pengkhianatan, dan bagaimana dongeng perlahan kehilangan tempat di hati manusia modern.
Daftar Karakter
- AKU โ Narator sekaligus tokoh yang mencoba menjelaskan kisah Rare Angon kepada penonton. Ia adalah penggembala yang mengagumi Rare Angon, sekaligus representasi dari kesadaran modern yang gamang antara mitos dan realitas.
- RARE ANGON โ Anak gembala yang melukis Lubangkuri di atas tanah. Ia adalah tokoh sentral yang mencari cinta ideal, namun terjebak dalam kuasa dan pengkhianatan. Ia juga merupakan jelmaan Dewa Siwa.
- LUBANGKURI โ Gadis imajiner yang lahir dari lukisan Rare Angon di atas tanah. Cantik, misterius, dan pada akhirnya menjadi permaisuri raja. Ia bermetamorfosis menjadi Dewi Durga, simbol kemarahan karena cinta yang dikhianati.
- DEWA SIWA โ Dewa penguasa dalam mitologi Hindu. Dalam drama ini, ia hadir sebagai entitas yang mengutuk Uma menjadi Durga, dan kemudian menjelma dalam diri Rare Angon.
- DEWI DURGA โ Wujud kemarahan Dewi Uma setelah dikutuk Siwa. Ia adalah representasi dari Lubangkuri yang marah dan kecewa, yang vaginanya telah dipindahkan ke telapak kaki sebagai bentuk pengorbanan cintanya pada Siwa.
- RAJA โ Penguasa kerajaan yang berkuasa absolut. Ia menghendaki Lubangkuri dan memaksa Rare Angon menyerahkannya. Simbol dari kekuasaan yang menindas dan menelan apa pun yang indah.
- SEORANG NENEK โ Figur penjaga dongeng dan tradisi. Ia berusaha menidurkan cucu-cucunya dengan cerita, namun kewalahan menghadapi gempuran budaya populer.
- SEORANG ANAK โ Representasi generasi muda yang lebih akrab dengan televisi dan gawai daripada dongeng. Ia terus mencari tivi dan tidak bisa tidur tanpa hiburan instan.
- SEORANG IBU โ Figur yang mengarahkan anak-anaknya untuk pergi ke kota, tempat segala “aksesori kehidupan” bisa ditemukan. Simbol dari orangtua yang melepas anaknya ke arus modernitas.
- ANAK-ANAK KECIL โ Sekelompok anak yang bermain, memunguti uang receh, dan kadang terbangun dari mimpi buruk. Mereka adalah generasi yang hidup di antara dongeng dan layar kaca.
- PASUKAN KERAJAAN โ Para prajurit yang membawa gemuruh dan ketakutan. Mereka menjalankan titah raja dan mengejar Rare Angon.
- ORANG-ORANG โ Massa yang berbisik dan mengulang-ulang kata “mahakarya adalah malapetaka”. Representasi dari opini publik yang mudah diarahkan.
- BINATANG-BINATANG โ Makhluk-makhluk yang setia mengabdi kepada Dewa Siwa, menjaga pergumulan cinta dan kebencian antara Siwa dan Durga.
- SESEORANG โ Figur yang menembang di kejauhan, membawa kutipan dari Serat Cemporet tentang perempuan sebagai “hiasan” bagi para raja.
- DAN LAIN-LAIN โ Tokoh-tokoh tambahan yang muncul dalam adegan-adegan kolektif, seperti juru tulis, lurah, dan figuran lainnya.
RENUNGAN LUKISAN KOPI | Dimas Timus Setyo
Judul : Renungan Lukisan Kopi
Penulis : Dimas Timus Setyo
Bahasa : Indonesia
Tahun : <2008
Rekam Prestasi : Pemenang III Penulisan Naskah Teater – Pekan Seni Mahasiswa Nasional 2008
Panjang Naskah : 14 Halaman
Sinopsis:
Bram, seorang pelukis, sedang mengalami kebuntuan kreatif. Ia duduk di depan kanvas kosong dan berusaha menemukan gagasan untuk melukis, tetapi tidak mampu menghasilkan karya. Bunyi harmonika yang dimainkan Buyung mengganggu konsentrasinya. Bram kehilangan kesabaran dan melemparkan secangkir kopi ke arah kanvas. Kopi tumpah dan meninggalkan noda pada permukaan kain.
Ketika Buyung membersihkan pecahan cangkir bersama Sandra, Bram justru menuduh keduanya memiliki hubungan tersembunyi. Sandra berusaha menjelaskan bahwa mereka hanya membersihkan kekacauan yang dibuat Bram. Sandra kemudian mencoba menenangkan Bram. Ia mengingatkan bahwa Bram dahulu merupakan pribadi yang hangat dan mampu mengekspresikan perasaannya melalui lukisan. Namun, Bram merasa dirinya telah berubah dan tidak lagi memiliki kemampuan kreatif seperti sebelumnya.
Setelah Sandra meninggalkannya sendirian, Bram kembali menghadap kanvas. Ia terkejut melihat noda kopi yang terbentuk secara tidak sengaja. Semula menganggapnya sebagai kerusakan, Bram kemudian menemukan keindahan dalam bentuk abstrak yang tercipta.
Ia mulai berpikir untuk menggunakan kopi sebagai medium lukisan. Namun, upaya kreatif itu kembali terganggu ketika Rose datang mencari Buyung. Bram memarahinya, sehingga Rose menegur sikapnya yang semakin arogan dan tidak menghargai orang lain.
Percakapan mereka mengungkap bahwa Bram telah lama mengalami kebuntuan. Bahkan, menurut Joni, Bram berulang kali merusak kanvas yang hendak digunakannya untuk melukis. Rose mengajak Bram keluar untuk mencari udara segar dan membicarakan persoalannya. Joni mendukung gagasan tersebut dan menyebut Rose sebagai calon psikolog.
Ketika Bram dan Rose pergi, Joni memperhatikan kanvas bernoda kopi dan menganggapnya sebagai lukisan yang luar biasa. Sandra tidak sependapat. Baginya, noda kopi itu bukan karya seni karena terbentuk secara tidak sengaja. Perdebatan tentang lukisan kemudian berkembang menjadi persoalan hubungan pribadi.
Sandra mengetahui Bram pergi bersama Rose dan merasa cemburu. Buyung yang datang kemudian juga marah karena mengetahui Rose pergi bersama Bram.
Dari pertengkaran tersebut, perlahan terungkap sejarah hubungan mereka sejak SMA. Buyung ternyata pernah mencintai Sandra, tetapi memilih menyembunyikan perasaannya demi menjaga persahabatan dengan Bram yang juga menyukai Sandra.
Sandra mengaku bahwa dahulu ia sebenarnya lebih memilih Buyung. Namun, karena Buyung tidak pernah mengungkapkan perasaannya, Sandra akhirnya menjalin hubungan dengan Bram. Bahkan, ia mengakui bahwa Bram semula hanyalah pelarian dari kekecewaannya terhadap Buyung. Persoalan semakin rumit ketika Joni mengatakan bahwa Buyung kini menyukai Rose. Sandra mengaku masih memiliki perasaan terhadap Buyung.
Rose yang tanpa sengaja mendengar percakapan tersebut merasa kecewa. Baginya, hubungan persahabatan mereka selama ini ternyata menyimpan banyak perasaan yang tidak pernah diungkapkan secara jujur. Rose pergi dengan sedih, disusul Sandra yang berusaha mengejarnya.
Joni kemudian berhadapan dengan Bram dan menyalahkannya karena terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari pengorbanan Buyung.
Bram terkejut mengetahui bahwa Buyung sejak dahulu menyukai Sandra. Ia tidak ingin kehilangan Sandra, tetapi juga mulai menyadari kerumitan hubungan mereka.
Ketika Joni meninggalkannya, Bram kembali sendirian di depan kanvas. Ia memutuskan menyelesaikan lukisan kopi tersebut sebelum merenungkan seluruh persoalan yang dihadapinya.
Lampu perlahan meredup. Cerita berakhir tanpa memastikan bagaimana hubungan kelima sahabat itu akan diselesaikan.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Bram | Pelukis yang mengalami kebuntuan kreatif. Emosional, mudah marah, pencemburu, dan cenderung mengutamakan dirinya sendiri |
| Sandra / Kasandra | Kekasih Bram. Berusaha mendukung Bram, tetapi menyimpan kekecewaan dan perasaan lama terhadap Buyung |
| Buyung | Sahabat Bram yang memainkan harmonika. Menyimpan perasaan terhadap Sandra demi menjaga persahabatan; kemudian disebut menyukai Rose |
| Rose | Sahabat mereka yang disebut sebagai calon psikolog. Berusaha membantu Bram dan sangat menghargai ketulusan persahabatan |
| Joni / Jon | Sahabat yang berusaha menjadi penengah. Mengetahui sejarah hubungan mereka dan akhirnya mengungkap rahasia yang selama ini disimpan |
Naskah hanya memerlukan lima pemain. Nama Sandra dan Kasandra tampaknya merujuk kepada orang yang sama, tetapi perlu diseragamkan dalam naskah produks
RT NOL / RW NOL | Iwan Simatupang
Judul : RT NOL / RW NOL
Penulis : Iwan Simatupang
Bahasa : Indonesia
Tahun : 1966
Panjang Naskah : 28 Halaman
RT Nol/RW Nol mengangkat kehidupan sekelompok gelandangan yang menghuni kolong jembatan di sebuah kota besar. Melalui percakapan yang tajam, humor getir, dan pergulatan antartokohnya, naskah ini membicarakan kemiskinan, martabat manusia, diskriminasi sosial, serta keinginan untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak.
Sinopsis:
Di kolong sebuah jembatan, Kakek, Pincang, Bopeng, Ani, dan Ina menjalani kehidupan sebagai gelandangan. Di tengah kelaparan dan ketidakpastian, mereka masih mampu bercanda, berdebat, serta memelihara impian untuk keluar dari kemiskinan.
Suatu malam, Bopeng membawa Ati, perempuan muda yang ditinggalkan suaminya, sekaligus kabar bahwa dirinya diterima bekerja sebagai kelasi kapal. Tak lama kemudian, Ani memperoleh kesempatan menikah, sementara Ina memutuskan menerima lamaran seorang tukang becak demi mendapatkan kehidupan dan identitas kependudukan yang lebih pasti.
Kepergian mereka mengguncang Pincang, yang selama ini lebih banyak berbicara tentang cita-cita daripada bertindak. Ketika mendapat kesempatan mengantar Ati pulang ke kampung, ia akhirnya bertekad mencari pekerjaan dan membangun kembali martabatnya melalui usaha sendiri.
Di tengah harapan orang-orang yang akan meninggalkan kolong jembatan, Kakek menghadapi kenyataan bahwa tempat yang selama ini menjadi rumah bersama perlahan kehilangan penghuninya.
Inti cerita: perjuangan manusia yang tersisih untuk memperoleh pengakuan, pekerjaan, tempat berpijak, dan harga diri.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Kakek | Gelandangan lanjut usia, mantan kelasi. Filosofis, humoris, dan menjadi figur pengayom kelompok |
| Pincang | Gelandangan yang ingin bekerja, tetapi terhalang stigma sosial dan keraguannya sendiri. Memiliki hubungan emosional dengan Ina |
| Bopeng | Gelandangan yang akhirnya diterima bekerja sebagai kelasi. Tegas, mudah tersinggung, tetapi peduli terhadap sesamanya |
| Ani | Perempuan pekerja seks yang menginginkan kehidupan lebih baik. Mendapat kesempatan menikah dan meninggalkan kolong jembatan |
| Ina | Adik Ani, juga pekerja seks. Memilih menikah dengan tukang becak demi kepastian hidup dan pengakuan administratif |
| Ati | Perempuan muda yang ditinggalkan suaminya. Kehadirannya membuka kemungkinan hidup baru bagi Pincang |
Jumlah tokoh: 6 tokoh utama yang tampil di panggung. Tokoh lain, seperti suami Ati dan tukang becak, hanya disebutkan atau dihadirkan melalui bunyi.
SANG MANDOR | Rahman Arge
Judul : Sang Mandor
Penulis : Rahman Arge
Bahasa : Indonesia
Tahun : 1992
Panjang Naskah : 12 Halaman
Sang Mandor adalah drama satu babak yang mengangkat pergulatan seorang mantan mandor pelayaran menghadapi usia tua, penyakit, kehilangan kekuasaan, dan hubungan keluarga yang rapuh. Melalui dialog tajam, humor satiris, dan konflik antargenerasi, Rahman Arge mempertanyakan makna kejantanan, harga diri, kemandirian, serta warisan seorang ayah.
Sinopsis:
Sang Mandor, seorang lelaki tua yang dahulu dikenal sebagai pelaut tangguh, kini harus menghadapi tubuh yang melemah akibat penyakit. Ia kesulitan berjalan, bahkan untuk mencapai sebuah kursi di rumahnya sendiri. Namun, harga dirinya menolak kenyataan bahwa ia membutuhkan bantuan orang lain.
Istrinya, Mulli, berusaha merawatnya dengan sabar. Akan tetapi, perhatian itu justru dianggap sebagai penghinaan terhadap kejantanan dan kemandiriannya. Pertengkaran mereka membuka luka lama: Mulli merasa pengorbanan dan keberadaannya tidak pernah dihargai oleh suaminya.
Konflik semakin rumit ketika anak-anak mereka datang. Juki mengaku baru menikah untuk keempat kalinya dan telah menjual salah satu perahu ayahnya untuk membiayai perkawinan. Uduk, yang berambisi meneruskan kejayaan ayahnya sebagai pelaut, ternyata juga menjual perahu yang lain untuk modal pelayaran. Sementara Poke, yang tampaknya lebih berhasil sebagai pedagang, mengaku telah menjual sawah dan empang milik ayahnya.
Di tengah pertengkaran anak-anaknya, Sang Mandor mendadak mampu berdiri. Namun, kemenangan fisik itu beriringan dengan kenyataan pahit: seluruh kekayaan yang pernah dibangunnya telah lenyap.
Pada akhirnya, Sang Mandor berhasil mencapai kursinya. Ia mulai memahami bahwa kejayaan hidupnya tidak semata-mata terletak pada kapal, pelabuhan, atau kekuasaan masa lalu, melainkan juga pada hubungan dengan istri dan anak-anaknya.
Naskah berakhir dengan ucapan syukur kepada Tuhan.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Sang Mandor / Daeng Gassing | Mantan mandor pelayaran yang keras, angkuh, dan sulit menerima kelemahan tubuh serta kehilangan kekuasaan |
| Mulli / Istri Mandor | Istri yang setia merawat suaminya, tetapi menyimpan kekecewaan akibat perlakuan yang merendahkan |
| Juki | Anak pertama. Gemar menasihati, tetapi tindakannya justru merugikan keluarga; menikah untuk keempat kalinya |
| Poke | Anak kedua. Pedagang yang mengutamakan keuntungan dan menggunakan harta ayahnya sebagai modal |
| Uduk | Anak ketiga. Berambisi mewarisi kebesaran ayahnya sebagai pelaut |
| Rimba | Orang kepercayaan Sang Mandor yang mendampingi Uduk; banyak bicara tentang keberanian, tetapi tidak mampu bertindak ketika dibutuhkan |
Kebutuhan pemeran: 6 orang, terdiri atas 5 laki-laki dan 1 perempuan sesuai identitas tokoh dalam naskah.
SEMENTARA MENUNGGU GODOT | Samuel Becket ; B. Verry Handayani (Penerjemah)
Judul : Sementara Menunggu Godot
Judul Asli : En attendant Godot (Waiting for Godot)
Penulis Asli : Samuel Becket
Tahun Penulisan Asli : 1949
Penerjemah Indonesia : B. Verry Handayani
Tahun Penerjemahan: –
Sementara Menunggu Godot menghadirkan dua manusia yang menghabiskan waktu untuk menunggu seseorang yang tidak kunjung datang. Melalui percakapan berulang, humor ganjil, keheningan, dan tindakan yang tampaknya sia-sia, naskah ini mengeksplorasi harapan, ketidakpastian, kesepian, dan absurditas keberadaan manusia.
Sinopsis:
Vladimir (Didi) dan Estragon (Gogo) menunggu kedatangan seseorang bernama Godot di tepi jalan dekat sebatang pohon. Untuk mengisi waktu, mereka bercakap-cakap tentang berbagai hal, mulai dari sepatu, topi, kenangan, hingga persoalan hidup dan kematian. Mereka berulang kali ingin pergi, tetapi selalu mengurungkan niat karena harus menunggu Godot.
Dalam penantian itu, mereka bertemu Pozzo, seorang lelaki yang memperlakukan Lucky, pengikutnya, seperti budak. Setelah keduanya pergi, seorang anak datang membawa pesan bahwa Godot tidak dapat hadir hari itu, tetapi akan datang esok hari.
Keesokan harinya, penantian berulang. Pozzo dan Lucky kembali dalam keadaan yang berubah, sementara utusan Godot kembali menyampaikan janji serupa. Vladimir dan Estragon tetap menunggu, meskipun tidak mengetahui secara pasti siapa Godot, kapan ia datang, atau apa yang akan mereka peroleh darinya.
Drama berakhir tanpa kedatangan Godot. Kedua sahabat itu memutuskan untuk pergi, tetapi tetap tidak bergerak.
Inti cerita: manusia mempertahankan harapan di tengah ketidakpastian, bahkan ketika harapan itu tidak pernah memperoleh kepastian pemenuhan.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Vladimir (Didi) | Lebih reflektif dan berusaha mempertahankan ingatan, harapan, serta keyakinan bahwa Godot akan datang |
| Estragon (Gogo) | Lebih berorientasi pada kebutuhan fisik, mudah lupa, gelisah, dan sering mengusulkan untuk pergi |
| Pozzo | Sosok dominan dan otoriter yang memperlakukan Lucky sebagai bawahannya; kemudian muncul dalam keadaan buta |
| Lucky | Pengikut Pozzo yang menanggung beban dan menerima perlakuan merendahkan; mengalami perubahan dari mampu berbicara menjadi bisu |
| Anak / Utusan Godot | Pembawa pesan bahwa Godot tidak datang hari itu, tetapi dijanjikan datang esok hari |
Godot tidak pernah tampil di panggung. Ketidakhadirannya justru menjadi pusat seluruh peristiwa dramatik.
SEULANGA | Alimuddin
Judul : Seulanga
Penulis : Alimuddin
Tahun : <2009
Bahasa : Indonesia dengan dialek Aceh
Rekam Prestasi : Pemenang Sayembara Naskah Drama FTI 2009
Panjang Naskah : 60 Halaman
Seulanga merupakan drama tentang seorang perempuan Aceh yang kehilangan keluarganya akibat kekerasan bersenjata, mengalami kekerasan seksual, lalu berjuang menghadapi trauma, dendam, dan perubahan besar di tanah kelahirannya.
Naskah ini menghubungkan tiga pengalaman sejarah dan kemanusiaan: konflik bersenjata di Aceh, bencana tsunami 2004, serta perdamaian tahun 2005. Di tengah perubahan itu, Seulanga menghadapi pertanyaan yang lebih pribadi: apakah perdamaian bagi sebuah daerah juga berarti perdamaian bagi orang-orang yang terluka?
Sinopsis:
Seulanga, perempuan Aceh berusia 26 tahun, mengalami kehancuran hidup ketika sekelompok pasukan yang disebut orang-orang hijau menyerbu kampungnya. Suaminya, Suman, serta kedua orang tuanya dibunuh. Seulanga sendiri mengalami kekerasan seksual. Hanya Masyik, neneknya, yang tersisa sebagai keluarga terdekat.
Dalam keadaan putus asa, Seulanga mempertanyakan alasan dirinya harus tetap hidup. Masyik berusaha menguatkannya dengan nasihat agama, kasih sayang, dan kenangan akan ketangguhan perempuan Aceh.
Melalui kilas balik, penonton diperlihatkan kehidupan Seulanga sebelum tragedi: rumah tangga yang penuh kasih, anak-anak yang bermain di halaman, lagu-lagu tradisional Aceh, serta kehangatan kehidupan kampung. Gambaran itu kemudian dihancurkan oleh kedatangan pasukan bersenjata.
Sesudah tragedi, Seulanga bertemu dengan perempuan-perempuan lain yang juga kehilangan keluarga. Duka mereka perlahan berubah menjadi keinginan melawan dan membalas kekerasan. Seulanga pun terseret ke dalam pergolakan konflik.
Perjalanan hidupnya kemudian bersinggungan dengan bencana tsunami Aceh pada Desember 2004. Ia kembali menghadapi kehilangan, ketakutan, dan perjuangan untuk bertahan hidup. Ketika akhirnya bertemu kembali dengan Masyik, sang nenek memintanya meninggalkan dendam.
Pada 15 Agustus 2005, masyarakat Aceh menyambut perdamaian. Namun, Seulanga belum mampu merasakan kebahagiaan yang sama. Orang-orang yang dicintainya tidak kembali, sementara trauma kekerasan seksual masih membayangi harapannya untuk membangun keluarga baru.
Menjelang akhir cerita, Panglima Manan datang dengan harapan Seulanga bersedia menerimanya. Naskah berakhir sebelum pertemuan dan jawaban Seulanga diperlihatkan.
Inti dramatik: perdamaian politik tidak serta-merta menyembuhkan luka pribadi, terutama bagi perempuan yang mengalami kekerasan dalam konflik.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Keterangan |
|---|---|
| Seulanga | Tokoh utama, 26 tahun; penyintas kekerasan yang kemudian bergabung dalam perjuangan bersenjata |
| Masyik | Nenek Seulanga, 75 tahun; sumber kasih sayang, nasihat, dan dorongan untuk meninggalkan dendam |
| Suman | Suami Seulanga, 30 tahun; bekerja di sawah dan menggembala lembu |
| Abu | Ayah Seulanga; muncul dalam kilas balik dan pengalaman mimpi Seulanga |
| Mak | Ibu Seulanga |
| Mala | Sahabat Seulanga, sesama korban konflik, yang ikut mendorong perlawanan |
| Sakdiah | Sahabat Seulanga yang juga kehilangan orang terdekat |
| Panglima Manan | Pemimpin pasukan yang kemudian memiliki harapan membangun hubungan dengan Seulanga |
| Mualim Hasanah | Tokoh yang membimbing latihan bersenjata kelompok perempuan |
| Zakir, Meulue, Nyak Ubit | Anak-anak kampung yang menghadirkan suasana kehidupan sebelum tragedi |
| Orang-orang hijau | Kelompok bersenjata yang menyerbu kampung Seulanga |
| Orang-orang coklat | Kelompok bersenjata yang muncul dalam perkembangan konflik |
| Tokoh pendukung lain | Anak-anak kampung, anggota pasukan, warga, Raimah dan anaknya, serta beberapa tokoh dengan penamaan berdasarkan fungsi |
Kebutuhan pemain: tergolong besar. Naskah menggambarkan sepuluh anak pada satu adegan, kelompok warga, serta puluhan anggota pasukan dalam adegan lain. Pementasan dapat mempertimbangkan pemeran rangkap, ansambel, dan representasi simbolik.
SIDANG SUSILA | Ayu Utami, Agus Noor
Judul : Sidang Susila
Penulis : Ayu Utami & Agus Noor
Bahasa : Indonesia
Tahun : 2008
Panjang Naskah : 34 Halaman
Sidang Susila merupakan lakon satire yang mengkritik upaya negara memonopoli kebenaran moral melalui hukum, aparat keamanan, dan lembaga peradilan. Dengan humor vulgar, permainan bahasa, serta situasi yang semakin absurd, naskah ini memperlihatkan bagaimana penegakan moral justru dapat berubah menjadi praktik kekerasan dan penindasan.
Sinopsis:
Dalam sebuah negara yang baru memberlakukan Undang-undang Susila, aparat Polisi Moral melakukan razia untuk memberantas segala bentuk pornografi dan tindakan yang dianggap melanggar kesusilaan. Susila Parna, seorang pedagang mainan anak-anak yang gemar menari tayub, ditangkap karena tubuh dan perilakunya dianggap mengandung unsur pornografi. Ia kemudian diperlakukan sebagai penjahat moral yang sangat berbahaya, meskipun tidak memahami kesalahan yang dituduhkan kepadanya.
Kasus Susila berkembang menjadi tontonan politik. Jaksa, Hakim, dan aparat keamanan menggunakan tafsir moral yang serampangan untuk membenarkan penangkapan tersebut. Dalam persidangan, mainan anak-anak bahkan ditafsirkan sebagai benda pornografis. Sementara itu, masyarakat terbelah antara kelompok yang menuntut penghukuman Susila dan kelompok yang menjadikannya simbol perlawanan terhadap penindasan moral.
Ketika Susila melarikan diri dan menjadi buronan, kekacauan semakin meningkat. Persidangan akhirnya dilanjutkan tanpa kehadirannya, dengan sebuah kloset dijadikan pengganti terdakwa. Dalam situasi yang sepenuhnya absurd, pengadilan menjatuhkan hukuman berat sekaligus memerintahkan penghapusan berbagai bentuk ekspresi dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kelamin. Lakon berakhir sebagai gambaran mengerikan tentang kekuasaan yang kehilangan akal sehat atas nama moralitas.
Inti dramatik: ketika negara merasa berhak menentukan moralitas seluruh warga, hukum dapat berubah menjadi alat untuk mengendalikan bukan hanya tindakan manusia, melainkan juga pikiran, bahasa, dan kebebasannya.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Susila Parna | Pedagang mainan yang menjadi korban kriminalisasi moral. Polos, jenaka, dan kerap melontarkan ucapan ambigu |
| Hakim | Representasi lembaga peradilan yang tunduk pada kepentingan kekuasaan dan tekanan politik |
| Jaksa | Pembela fanatik Undang-undang Susila, gemar menggunakan retorika moral untuk membenarkan tuduhan |
| Pembela / Utami | Pengacara yang ternyata masih memiliki hubungan keluarga dengan Susila; memperlihatkan pertentangan antara integritas dan ketakutan |
| Mira | Penari tayub yang dekat dengan Susila, tetapi terlibat pula dalam jaringan aparat dan intrik politik |
| Petugas Kepala | Pemimpin aparat yang menjalankan pengawasan, penahanan, dan pengejaran |
| Petugas 1 dan 2 | Aparat pelaksana; menghadirkan komedi sekaligus memperlihatkan perubahan sikap terhadap Susila |
| Petugas Medis | Menghadirkan pembenaran pseudoilmiah dalam persidangan terakhir |
| Polisi Moral | Aparat represif yang menjalankan Undang-undang Susila |
| Penari tayub | Menghadirkan ruang kebudayaan rakyat yang menjadi sasaran pengawasan |
| Wartawan dan demonstran | Mewakili media, opini publik, dan pertarungan wacana politik |
Terdapat pula petugas sidang dan sejumlah figur pendukung lain. Peran-peran tersebut dapat dirangkap oleh pemain ansambel.
SOBRAT | Arthur S. Nalan
Judul : Sobrat
Penulis : Arthur S Nalan
Tahun : <2003
Bahasa : Indonesia dengan campuran kosakata Sunda dan Melayu
Rekam Prestasi : Pemenang I Sayembara Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta 2003
Panjang Naskah : 59 halaman
Sobrat adalah sebuah sandiwara gelap yang mempertemukan kehidupan buruh kontrak pada masa kolonial dengan dunia gaib, perjudian, keserakahan, dan pergulatan batin manusia. Kisah ini mengikuti perjalanan seorang pemuda kampung yang meninggalkan ibu dan tanah kelahirannya demi impian menjadi kaya. Namun, semakin dekat ia dengan kekayaan, semakin besar pula harga yang harus dibayarnya.
Dalam pengantar berjudul Catatan Gelap, penulis menjelaskan bahwa lakon ini terinspirasi oleh tragedi penambang emas liar di Gunung Pongkor, Jawa Barat, serta kisah seorang laki-laki yang memperoleh kekayaan setelah membuat perjanjian dengan jin perempuan.
Sinopsis:
Sobrat, pemuda dari Kampung Lisung, tergoda meninggalkan kehidupan sederhananya setelah Inang Honar menjanjikan kekayaan dari tambang emas Bukit Kemilau. Bersama sejumlah pemuda kampung, ia berangkat menjadi kuli kontrak. Namun, kehidupan di pertambangan jauh dari impiannya. Para pekerja menghadapi kekerasan mandor, perjudian, dan berbagai bentuk eksploitasi. Di tengah kehidupan itu, Sobrat berkenalan dengan Rasminah, perempuan yang turut menjadi korban perdagangan manusia.
Keinginan Sobrat untuk kaya semakin kuat, terlebih setelah ia mengenal perjudian melalui Surobromo. Ketika mengalami kecelakaan di lubang tambang, ia diselamatkan Silbi Gendruwi, penguasa gaib Bukit Kemilau. Sebagai imbalan atas keselamatan dan kekayaan yang dijanjikan, Sobrat bersedia menikahi Silbi serta menggadaikan umurnya. Perjanjian itu mengubah nasibnya, tetapi juga mengikat hidupnya pada kekuatan yang tidak dapat ia kendalikan.
Setelah melewati berbagai pengalaman, Sobrat akhirnya kembali ke kampung halaman bersama Rasminah. Ia mendapati ibunya telah meninggal dan mulai menyadari kesalahan hidupnya. Ketika kemudian menikahi Rasminah, Silbi menagih kesetiaan atas perjanjian mereka. Sobrat kehilangan kemampuan mendengar dan berbicara. Kekayaan yang dahulu dikejarnya berakhir sebagai tragedi penyesalan.
Daftar Karakter:
Naskah mencantumkan 14 tokoh dalam daftar Dramatic Personae, di luar sejumlah peran tambahan yang muncul dalam adegan.
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Sobrat | Tokoh utama; pemuda kuat dan pemberani, tetapi mudah tergoda kekayaan dan kesenangan |
| Mimi | Ibu Sobrat; mewakili kasih sayang, akar kehidupan, dan suara hati |
| Rasminah | Perempuan asal Caruban yang mengalami eksploitasi; kemudian menjadi istri Sobrat |
| Mongkleng | Personifikasi hawa nafsu Sobrat, selalu mendorong ambisi dan keinginannya |
| Silbi Gendruwi | Penguasa gaib Bukit Kemilau yang mengikat Sobrat melalui perjanjian |
| Surobromo | Kuli tua, bekas bromocorah, sekaligus guru judi Sobrat |
| Inang Honar | Perekrut tenaga kerja yang membujuk pemuda kampung dengan janji kekayaan |
| Samolo | Sahabat Sobrat dari Kampung Lisung |
| Doyong | Sahabat Sobrat yang ikut bekerja di pertambangan |
| Wak Lopen | Pemilik warung |
| Mandor Bokop | Mandor yang mempertahankan kekuasaan dengan ancaman |
| Mandor Burik | Mandor yang melakukan kekerasan terhadap para kuli |
| Mandor | Tokoh pelengkap dalam sistem pengawasan pekerja |
| Dongson | Bandar judi koplok di Tapakdara |
Terdapat pula peran tambahan seperti pekerja tambang, perempuan penghibur, kelasi, nakhoda, pemuda kampung, dan sejumlah tokoh dalam adegan fantasi.
SUWUNG | Keshia Sawitri
Judul : Suwung
Penulis : Keshia Sawitri
Bahasa : Indonesia
Tahun : –
Panjang Naskah : 17 Halaman
Suwung adalah lakon yang mengangkat pertentangan antara idealisme politik dan tanggung jawab keluarga. Melalui tokoh seorang aktivis yang hidup dalam kesepian, naskah ini menelusuri bagaimana keyakinan yang semula menjadi sumber kebanggaan dapat berubah menjadi keterasingan dan kehancuran pribadi.
Sinopsis:
Liem Tio Bie, yang juga dikenal sebagai Anton Liem, adalah seorang jurnalis, pengamat politik, dan aktivis yang tetap mempertahankan idealismenya meskipun kehidupan keluarganya semakin sulit. Dalam kesendiriannya, ia berbicara kepada sosok bayangan yang menyerupai dirinya sendiri. Kepada bayangan itu, ia menceritakan kebanggaannya sebagai aktivis, pengalaman demonstrasi, dan keyakinannya bahwa perjuangan membela keadilan harus terus berlangsung.
Percakapannya membawa ingatan pada pertengkaran dengan sang istri, yang menuntut agar ia memilih antara aktivitas politik dan keluarganya. Liem menolak meninggalkan perjuangannya. Ketika putri mereka, Jessy, tampak membelanya, ia merasa telah memenangkan perdebatan. Namun, malam itu justru menjadi pertemuan terakhir mereka. Istri dan anaknya pergi meninggalkannya.
Setahun kemudian, Liem hidup dalam kesepian yang semakin dalam. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa idealismenya masih memberi makna bagi hidupnya, tetapi akhirnya mengakui kerinduannya kepada keluarga. Dalam keputusasaan, ia meminta bantuan bayangannya untuk mengakhiri hidup. Ketika ia ragu melakukannya, justru bayangan itu yang menembaknya. Lakon berakhir dengan kematian Liem dan keluarnya sang bayangan dari ruang cermin.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Tuan Liem / Liem Tio Bie / Anton Liem | Tokoh sentral. Jurnalis, pengamat politik, dan aktivis yang keras kepala, idealistis, humoris, tetapi rapuh secara emosional |
| Bayangan | Sosok identik dengan Tuan Liem. Representasi diri kedua, teman bicara, sekaligus kekuatan yang pada akhirnya menghancurkannya |
| Nyonya Liem (Ni) | Istri Liem yang menuntut perhatian, kestabilan ekonomi, dan kehadiran suaminya dalam keluarga |
| Jessy | Putri remaja pasangan Liem. Tampak membela ayahnya, tetapi akhirnya pergi bersama ibunya |
Terdapat pula suara demonstran pada pembukaan. Suara-suara tersebut dapat direkam atau dimainkan oleh ansambel.
SYEKH SITI JENAR | Saini KM
Judul : Syekh Siti Jenar : Babad Geger Pengging
Penulis : Saini KM
Bahasa : Indonesia
Tahun : 1986
Panjang Naskah : 64 halaman
Naskah ini menarik karena Saini KM tidak sekadar menceritakan pertentangan ajaran Syekh Siti Jenar dengan otoritas keagamaan. Ia mengembangkan kisah tersebut menjadi tragedi tentang hubungan antara keyakinan, kebebasan berpikir, legitimasi kekuasaan, dan manipulasi kebenaran.
Satu hal penting bagi calon sutradara: penulis secara eksplisit menyatakan bahwa naskah ini bukan rekonstruksi sejarah, melainkan karya sastra-drama. Karena itu, tokoh, peristiwa, dan percakapannya perlu dibaca sebagai tafsir artistik, bukan sebagai fakta sejarah yang telah terbukti.
Sinopsis:
Bencana gempa bumi melanda Pengging dan menewaskan banyak penduduk. Di tengah penderitaan itu, Syekh Siti Jenar mengajarkan bahwa manusia tidak semestinya mengandalkan permohonan mukjizat untuk menghindari bencana, melainkan menerima kefanaannya serta menolong sesama. Ajarannya mengguncang kebiasaan keagamaan masyarakat. Sebagian penduduk mulai meninggalkan ritual dan bahkan merusak tempat ibadah. Perubahan ini menimbulkan keresahan bagi kekuasaan Demak.
Kebo Kenongo, penguasa Pengging, mempertahankan kebebasan rakyatnya dalam urusan keyakinan. Sementara itu, utusan Demak dan para wali berusaha menyelesaikan persoalan yang semakin berkembang menjadi konflik politik. Perbedaan pandangan mengenai Tuhan, syariat, kekuasaan, dan kebebasan manusia berubah menjadi pertentangan yang mengancam hubungan Pengging dengan Demak.
Pada akhirnya, Syekh Siti Jenar dihadapkan pada pengadilan dan dijatuhi hukuman mati. Ia menerima kematiannya tanpa meninggalkan keyakinannya. Namun tragedi tidak berhenti pada eksekusi: sesudahnya, Pangeran Darmacaraka mengusulkan rekayasa penggantian jenazah Syekh Siti Jenar dengan bangkai anjing agar masyarakat percaya bahwa kematian sang syekh merupakan kutukan Tuhan. Lakon ditutup dengan rencana manipulasi tersebut, menghadirkan kritik tajam terhadap kekuasaan yang berusaha mengendalikan kebenaran.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Fungsi dramatik |
|---|---|
| Syekh Siti Jenar | Tokoh utama, pengajar spiritual yang mempertahankan pemikirannya |
| Kebo Kenongo / Ki Ageng Pengging | Bupati Pengging, pembela otonomi dan kebebasan keyakinan rakyatnya |
| Pangeran Darmacaraka | Utusan Demak, representasi kepentingan politik kerajaan |
| Sultan Demak | Penguasa yang menghadapi ancaman terhadap legitimasi pemerintahannya |
| Sunan Giri | Wali yang terlibat dalam dialog teologis dan penyelesaian konflik |
| Sunan Kudus | Wali yang turut menangani persoalan keamanan dan militer |
| Sunan Kalijaga | Salah seorang wali dalam perdebatan dan pengadilan |
| Sunan Bonang | Anggota majelis wali |
| Sunan Ampel | Anggota majelis wali |
| Sunan Drajat | Anggota majelis wali |
| Sunan Muria | Anggota majelis wali |
| Sunan Gunung Jati | Wali sekaligus Sultan Cirebon, tuan rumah pengadilan |
| Malaikat Jibril | Sosok simbolik dalam perdebatan spiritual |
| Iblis | Sosok simbolik yang menguji pandangan Siti Jenar |
| Patih | Pembantu Kebo Kenongo |
| Santri 1, 2, 3 | Murid Siti Jenar; mewakili respons yang berbeda terhadap ajarannya |
| Kepala Kampung dan warga | Mewakili masyarakat Pengging |
| Penjaga, petugas, perwira, prajurit | Aparat kerajaan dan kebutuhan adegan keramaian |
TUMIRAH (Sang Mucikari) | Seno Gumira Ajidarma
Judul : Tumirah (Sang Mucikari)
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Tahun : 1998
Bahasa : Indonesia
Panjang naskah : 34 Halaman
Tumirah (Sang Mucikari) merupakan lakon yang menggunakan kehidupan para pekerja seks di tengah medan perang untuk membicarakan kekerasan politik, manipulasi massa, diskriminasi, dan hilangnya kemanusiaan.
Daya tarik utamanya terletak pada pembalikan moral: seorang mucikari yang dipandang rendah oleh masyarakat justru menjadi tokoh yang paling teguh mempertahankan martabat manusia, termasuk ketika berhadapan dengan orang yang dianggap sebagai musuhnya.
Sinopsis:
Tumirah mengelola rumah bordil sederhana di pinggir hutan, tepat di tengah wilayah pertempuran antara pasukan pemerintah dan gerilyawan. Para pekerja seks di tempat itu melayani kedua pihak yang bertikai. Meskipun hidup di tengah kekerasan, Tumirah dan perempuan-perempuan yang diasuhnya masih mempertahankan humor, persahabatan, dan harapan untuk dicintai. Kehidupan mereka hancur ketika sekelompok orang bertopeng ninja menyerbu, membakar rumah bordil, serta melakukan pembunuhan dan kekerasan seksual.
Serangan tersebut ternyata merupakan bagian dari operasi untuk menciptakan keresahan dan mengadu domba masyarakat. Ketika seorang ninja tertangkap, massa menggelar pengadilan sendiri dan menyiksanya. Tumirah, yang justru menjadi korban kekerasan kelompok itu, memilih menolong orang yang hampir mati tersebut. Ia menolak membalas kekejaman dengan kekejaman. Namun, setelah topeng orang itu dibuka, terungkap bahwa korban yang disiksa massa adalah Sukab, lelaki yang dekat dengannya dan sebelumnya diculik para ninja.
Tragedi Sukab memperlihatkan keberhasilan manipulasi politik: masyarakat yang ketakutan dapat digerakkan untuk menghancurkan orang yang tidak bersalah. Melalui Tumirah, lakon ini mempertanyakan apakah manusia masih sanggup mempertahankan belas kasih ketika kekerasan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Fungsi dramatik |
|---|---|
| Tumirah | Tokoh utama, mucikari berusia sekitar 40 tahun; kritis, jenaka, keibuan, dan memiliki prinsip kemanusiaan yang kuat |
| Minah | Pekerja seks, bagian dari kelompok perempuan yang diasuh Tumirah |
| Tumini | Pekerja seks yang ekspresif, turut mempertanyakan sikap Tumirah |
| Lastri | Pekerja seks, kekasih Mahmud; menghadirkan kisah cinta di tengah perang |
| Sukab | Penjual obat yang dekat dengan Tumirah; menjadi korban rekayasa kekerasan |
| Mahmud | Gerilyawan dan kekasih Lastri; menawarkan kemungkinan kehidupan melalui cinta |
| Para pelacur | Ansambel perempuan sekaligus korban kekerasan |
| Ninja-ninja | Kelompok pelaku teror, pemerkosaan, penculikan, dan pengadu dombaan |
| Para peronda dan orang-orang | Masyarakat yang terjebak dalam ketakutan dan kekerasan massa |
| Pengacara, wartawan, polisi | Tokoh yang menghadirkan kritik terhadap lembaga dan respons sosial atas tragedi |
| Hakim dan jaksa | Bagian dari pengadilan rakyat yang berubah menjadi penghukuman sewenang-wenang |
| Intel | Aparat intelijen; menjadi sasaran satire politik dalam babak terakhir |
| Rombongan penari dan dangdut | Unsur musikal dan koreografis yang membangun kontras antara kegembiraan dan kekerasan |
Naskah juga menyebut Jaksa Mahmud dalam daftar tokoh, sedangkan adegan percintaan menggunakan nama Mahmud. Hubungan antara penamaan ini perlu diperiksa dalam persiapan produksi agar tidak menimbulkan kekeliruan pembagian peran.
DRAMA REMAJA
AYAHKU STROKE TAPI NGGAK MATI | Joned Suryatmoko
Penulis : Joned Suryatmoko
Tahun : 2003
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Pendek
Drama ini berkisah tentang sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Mama, dan dua anak mereka, Bram (18 tahun) dan Ema (17 tahun). Kehidupan mereka yang normal dan penuh tawa berubah total ketika suatu pagi di bulan Januari, Ayah tiba-tiba jatuh pingsan dan mengalami stroke hingga lumpuh.
Naskah ini menyoroti perjuangan keluarga tersebut beradaptasi dengan kondisi baru yang penuh keterbatasan. Mama harus berjuang mencari biaya pengobatan, bahkan sampai menjual mobil tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Bram, sebagai anak sulung, merasa terpukul dan ingin berhenti kuliah untuk bekerja, namun merasa tidak dipercaya oleh Mama. Sementara Ema berusaha menjadi penengah, namun juga bergulat dengan perasaannya sendiri.
Konflik memuncak ketika rahasia-rahasia kecil (yang disebut “kotak rahasia”) antara Bram dan Ema terbuka, memicu pertengkaran sengit yang semakin merenggangkan hubungan keluarga. Di tengah kepedihan dan kekacauan, sebuah kejutan terjadi: Mama yang kelelahan akhirnya jatuh sakit dan kini harus duduk di kursi roda, menyusul Ayah.
Namun, drama ini tidak berakhir dengan kesedihan. Dalam adegan penutup, Bram dan Ema justru terlihat akrab dan tertawa bersama sambil membereskan rumah, mendorong kursi roda kedua orang tua mereka. Mereka telah menemukan cara baru untuk tetap tegar dan bahagia, menerima kenyataan pahit dengan keberanian dan humor yang menyentuh.
Daftar Karakter
- EMA โ Adik perempuan Bram, berusia 17 tahun, seorang pelajar. Ia bertindak sebagai narator yang mengantarkan cerita sekaligus tokoh yang mencoba memahami dinamika keluarganya. Ia memiliki kebiasaan “menawar Tuhan” dalam doanya.
- AYAH (Hadi Pranoto) โ Kepala keluarga yang humoris dan gemar meramal pertandingan bola dengan teori “kromosom dan zodiak”. Ia mengalami stroke di awal cerita dan lumpuh, menjadikannya tokoh yang diam namun kehadirannya sangat terasa sepanjang drama.
- MAMA โ Istri Ayah yang kuat, pekerja keras, dan penuh kasih. Ia berusaha menyembunyikan kesulitan ekonomi dari anak-anaknya, namun tekanan akhirnya membuatnya jatuh sakit.
- BRAM (Bramantyo) โ Anak sulung berusia 18 tahun, mahasiswa baru. Ia merasa bertanggung jawab menggantikan peran Ayah dan ingin bekerja, namun mudah tersulut emosi dan merasa tersisih.
CINTA IS NOT A GAME | H.J. Sriyanto
Penulis : H.J. Sriyanto
Tahun : 2005
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Pendek
Empat remajaโAnto, Bogi, Jony, dan Gatotโterlibat dalam taruhan untuk merebut hati Cinta, seorang gadis yang menjadi idaman banyak cowok di sekolah. Masing-masing dari mereka berusaha mendekati Cinta dengan cara yang licik dan penuh intrik. Persaingan memanas, bahkan berujung pada perkelahian dan pengkhianatan di antara mereka. Namun, rencana tersebut berbalik ketika Dina, pacar Gatot yang juga sepupu Cinta, ikut campur dan membongkar permainan kotor mereka. Drama ini mengkritik cara pandang remaja yang memperlakukan cinta sebagai ajang kompetisi dan permainan, serta menyoroti pentingnya ketulusan dalam hubungan.
Daftar Karakter
- Anto โ Remaja yang cerdas tetapi naif dalam urusan cinta. Jujur dan mudah terombang-ambing oleh pengaruh teman.
- Bogi โ Pemberani, agak kasar, dan mudah terpancing emosi. Sangat kompetitif dalam taruhan.
- Jony โ Kocak, licik, dan suka pamer. Sering menjadi otak di balik strategi pendekatan.
- Gatot โ Playboy, manipulatif, dan tidak setia. Pacar Dina yang kemudian ikut dalam taruhan.
- Cinta โ Gadis yang menjadi rebutan. Cerdas, cuek, dan tidak mudah terpengaruh rayuan.
- Dina โ Sepupu Cinta, cerdas dan penuh perhitungan. Memiliki peran penting dalam membongkar permainan.
- Dono โ Teman sekelas yang membantu Bogi, sedikit lugu.
- Guru Sastra โ Tokoh dewasa yang terus menerus mengajarkan kisah Sitti Nurbaya sebagai paralel dari kisah cinta remaja.
- Bapak Cinta โ Ayah Cinta yang protektif dan tegas.
- Bencong โ Karakter di lokalisasi yang mempermalukan Gatot.
HM1L | Puthut Buchori
Penulis : Puthut Buchori
Tahun : 2008
Bahasa : Indonesia
HM1L adalah Juara II Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2008
Sinopsis Pendek
Seorang gadis belia bernama Sisi harus menanggung aib karena hamil di luar nikah. Ia dikucilkan oleh orang tua, dikeluarkan dari sekolah, dan dijauhi oleh lingkungannya. Dalam keputusasaannya, ia bertemu dengan dua kelompok anak muda yang kontras: kaum Punk yang kasar tetapi ingin menolongnya, dan Kaum Mode yang hedonis namun juga tertarik padanya. Kedua kelompok itu bersaing dan bahkan terlibat perkelahian untuk “merebut” Sisi. Namun, Sisi justru menemukan ketenangan dan penerimaan di tengah Orang-Orang Lorongโkomunitas marginal yang sederhana namun penuh kasih. Melalui bimbingan mereka, Sisi menemukan kembali jalan spiritualnya. Namun, beban hidup yang terlalu berat akhirnya merenggut nyawanya. Drama ini menggambarkan ironi kehidupan remaja yang terasing, kritik terhadap kemunafikan sosial, dan pencarian cinta sejati yang hanya ditemukan dalam penerimaan ilahi.
Daftar Karakter
Tokoh Utama:
- Sisi โ Seorang gadis remaja yang hamil di luar nikah, terusir dari rumah dan sekolah, mencari penerimaan dan kedamaian.
Kelompok Punk:
- Bos Punk-reas โ Pemimpin kaum Punk yang bisu dan hanya berbicara dengan bahasa tak jelas, tetapi memiliki wibawa dan kekuatan spiritual.
- Punk Melankolis (P M) โ Anggota Punk yang lembut, mudah menangis, dan menjadi juru bicara kelompok.
- Ji-Punk (Punk Genter) โ Sekretaris kelompok Punk, suka berbicara formal dan sok intelek.
- Punk Jambu โ Anggota Punk yang pemberani dan siap berkelahi.
- PKBN (Punk Kosong Barbunyi Nyaring) โ Anggota Punk dengan julukan unik, ikut dalam perkelahian.
- Punk-Sit โ Anggota Punk yang aktif dalam dialog.
- PinkPunk โ Anggota Punk dengan gaya feminin, sedikit lebay.
Kelompok Kaum Mode:
- Modelia โ Pemimpin kelompok Kaum Mode, modis dan penuh gaya.
- Modelini โ Anggota Kaum Mode yang suka debat.
- Modena โ Anggota Kaum Mode, ekspresif.
- Modeni โ Anggota Kaum Mode, pendukung setia.
- Momod โ Anggota yang cukup vokal dan sering memberi ide.
- Mudil โ Anggota yang maju saat perkelahian.
- Modelo โ Anggota yang menyerukan persatuan.
- Kaumode โ Sebutan untuk anggota kelompok Mode secara kolektif.
Orang-Orang Lorong:
- Orang 1โ6 โ Komunitas marginal yang hidup di lorong, sederhana, religius, dan penuh kasih. Mereka merawat Sisi dan membimbingnya secara spiritual.
Keluarga Sisi:
18. Ibu โ Lebih emosional dan penuh penyesalan, akhirnya menyadari kesalahannya.
19. Ayah โ Sosok otoriter, marah dan kecewa pada Sisi.
KARTINI BERDARAH | Amanatia Junda S
Penulis : Amanatia Junda S.
Tahun : 2008
Bahasa : Indonesia
Kartini Berdarah adalah Juara I Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2008.
Sinopsis
Kartika, seorang gadis remaja pendiam dan kutu buku, mengidolakan RA Kartini. Ia sering membaca buku-buku tentang Kartini dan menjadikannya sahabat khayalan di tengah kesepian dan tekanan dari ibu yang overprotektif. Di sekolah, Kartika menjadi sasaran perundungan oleh Geng PerfumeโFriska, Lena, dan Windiโyang dipimpin oleh Friska, kekasih Malvin, idola sekolah yang juga diam-diam dikagumi Kartika. Suatu hari, sebuah cermin ukiran dari Jepara di kamarnya menjadi medium kemunculan sosok Kartini yang “hidup”. Kartini hadir sebagai sahabat sekaligus pelindung, namun lama-kelamaan kepribadian Kartini mulai mengambil alih diri Kartika. Ketika tekanan dan perundungan mencapai puncaknya, “Kartini Berdarah” muncul sebagai sosok penuntut balas yang membunuh para perunduk satu per satu. Puncaknya, Kartika (dalam kepribadian Kartini) hendak membunuh Friska, tetapi dicegah oleh Resnagaโsahabat setianyaโyang menyatakan cinta. Drama ini mengangkat tema kesehatan mental, kepribadian ganda (dissociative identity disorder), kritik sosial terhadap perundungan, serta distorsi nilai emansipasi.
Daftar Karakter
- Kartika โ Gadis 17 tahun, berkacamata besar, rambut dikepang dua, kutu buku, pendiam, dan tertekan. Mengidolakan Kartini hingga mengalami kepribadian ganda.
- Kartini โ Sahabat khayalan Kartina. Berwajah keibuan, berkebaya, rambut bersanggul. Sosok pelindung yang berubah menjadi “Kartini Berdarah” yang kejam.
- Friska โ Ketua Geng Perfume, 17 tahun, kaya, cantik, sombong, dan sewenang-wenang. Kekasih Malvin.
- Lena โ Anggota Geng Perfume, 16 tahun, jangkung, rambut pendek, tomboy, dan suka main tangan.
- Windi โ Anggota Geng Perfume, 17 tahun, centil, kurang pandai, dan playgirl.
- Resnaga โ Sahabat kecil Kartika, 17 tahun, sederhana, ramah, setia, dan diam-diam mencintai Kartika.
- Malvin โ Idola sekolah, 18 tahun, tampan, angkuh, kaya. Kekasih Friska yang menjadi objek cinta Kartika.
- Bu Sartika โ Ibu Kartika, 45 tahun, janda, wanita karier, overprotektif, dan memaksakan kehendaknya pada Kartika.
KEBO NYUSU GUDEL | Dheny Jatmiko
Penulis : Dheny Jatmiko
Tahun : 2006
Bahasa : Indonesia
Kebo Nyusu Gudel adalah nominator Lomba Penulisan Naskah Dram Remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2008.
Sinopsis Pendek
Seorang kakek berusia 80 tahun yang tinggal bersama anak dan menantunya sering mengalami flashback ke masa lalunya sebagai tentara. Di malam hari, ia terbangun dan mengira sedang menghadapi situasi darurat militerโdemonstrasi dan kerusuhanโlalu membangunkan seluruh keluarganya untuk bersiaga layaknya pasukan perang.
Anaknya (Bapak) yang lelah setelah bekerja, serta istrinya (Ibu), berusaha menghadapi tingkah kakek dengan sabar. Mereka memahami bahwa ini adalah efek usia tua dan ingatan yang kacau. Sang cucu (Anak) justru menikmati permainan perang-perangan ini.
Di sela-seda kekacauan, kakek juga teringat pada almarhum istrinya (Martha) yang sangat ia cintai. Ibu sering berperan sebagai “nenek” untuk menenangkan kakek dengan tembang-tembang Jawa. Konflik memuncak ketika kakek “terluka” dalam pertempuran imajinernya, dan keluarga harus merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Drama ini menggambarkan kerapuhan usia lanjut, ingatan yang berkelindan antara masa lalu dan kini, serta kesabaran keluarga dalam merawat orang tua yang pikun. Judul “Kebo Nyusu Gudel” (Kerbau Menyusu Anak Kerbau) mengandung ironi: orang tua yang seharusnya menjadi teladan, justru bergantung pada anaknya.
Daftar Karakter
- Anak (Dimas) โ Cucu kakek, berusia sekitar 10 tahun. Antusias mengikuti “permainan perang” bersama kakek, dan kadang menjadi penghubung antara dunia kakek dan realitas.
- Kakek โ Seorang veteran berusia 80 tahun. Ingatannya kacau antara masa lalu sebagai tentara dan masa kini. Kadang menjadi komandan yang galak, kadang menjadi dalang, kadang menjadi suami yang merindukan istrinya.
- Bapak โ Anak laki-laki kakek, pekerja kantoran. Lelah dengan rutinitas kerja dan tingkah kakek di malam hari. Ingin istirahat tetapi harus bersabar.
- Ibu โ Istri Bapak, menantu kakek. Sangat sabar dan pengertian. Sering berperan sebagai “almarhumah nenek” untuk menenangkan kakek dengan tembang Jawa.
KESURUPAN | Juma’ali
Judul : Kesurupan Atawa Inside! Insting! Intrance!
Penulis : Juma’ali
Bahasa : Indonesia
Tahun : <2008
Rekam Prestasi : Nominator Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2008
Panjang Naskah : 14 Halaman
Sinopsis:
Pada jam istirahat sekolah, sekelompok siswa berkumpul di kantin dan membicarakan Amalia, seorang siswi yang mengalami kesurupan sehari sebelumnya.
Percakapan berlangsung riuh, penuh ejekan, spekulasi, dan lelucon. Ada yang menganggap kesurupan sebagai fenomena mistis, ada yang menilainya sebagai cara mencari perhatian, dan ada pula yang menghubungkannya dengan persoalan cinta, popularitas, serta tekanan batin.
Alih-alih berusaha memahami keadaan Amalia, para siswa justru menjadikannya bahan gosip. Sebagian komentar bahkan merendahkan perempuan dan mengaitkan penampilan fisik dengan perhatian yang pantas diterima seseorang.
Adish, seorang siswi yang bertubuh gemuk, ikut menjadi sasaran ejekan. Ia memilih meninggalkan percakapan.
Suasana berubah ketika terdengar jeritan dari ruang kelas. Para siswa berlarian menuju sumber suara dan menemukan Adish sedang mengalami kesurupan.
Peristiwa itu tidak menghentikan kebiasaan mereka mengejek. Beberapa siswa masih melontarkan komentar tentang tubuh Adish dan mempertanyakan siapa yang bersedia menolongnya.
Seorang dukun kemudian datang untuk menangani Adish. Ketika ditanya siapa yang merasuki tubuhnya, Adish berbicara dengan suara dan perilaku menyerupai anak kecil. Sosok yang berbicara melalui dirinya mengaku dibuang oleh orang tuanya, tidak memiliki rumah, dan hidup dalam penderitaan.
Pengakuan tersebut mengubah kesurupan menjadi semacam ruang bagi suara anak yang terabaikan.
Setelah Adish ditolong, keadaan tampak mereda. Namun, tidak lama kemudian seorang siswa lain mengalami kesurupan. Peristiwa itu menyebar dengan cepat. Siswa yang berusaha menolong justru ikut mengalami keadaan serupa.
Sekolah berubah menjadi ruang yang kacau. Teriakan, rintihan, dan gerakan tubuh para siswa membentuk gambaran tentang orang-orang yang tertekan, terhimpit, dan kehilangan jati diri.
Seorang Gambuh muncul membawa cambuk dan mengendalikan gerakan mereka. Tubuh para siswa bergerak menyerupai binatang buas dalam koreografi yang semakin intens.
Setelah suasana mereda, persoalan lain muncul. Beberapa siswa terlibat dalam tuduhan mengenai hubungan pribadi, cinta, dan tindakan yang tidak pantas saat menangani orang yang kesurupan. Ketegangan hampir berkembang menjadi kekerasan antarsiswa.
Para guru datang untuk melerai. Namun, kehadiran mereka tidak serta-merta menyelesaikan masalah.
Guru-guru justru terlibat perdebatan tentang penyebab kesurupan, tekanan mental, pendidikan, kebebasan, tanggung jawab, pengaruh lingkungan, dan kegagalan sekolah memahami kebutuhan siswa.
Perdebatan semakin panas hingga dua guru terlibat perkelahian fisik, sementara guru lain berusaha memisahkan mereka.
Para siswa menyaksikan kejadian itu dengan kebingungan. Mereka terus mengulang pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya mengalami kesurupan.
Naskah berakhir tanpa jawaban tunggal. Pertanyaan para siswa terus bergema, seolah kesurupan tidak hanya terjadi pada mereka, tetapi juga pada orang-orang dewasa dan sistem pendidikan yang seharusnya membimbing mereka.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter atau fungsi dramatik |
|---|---|
| Amalia | Siswi yang mengalami kesurupan sebelum cerita dimulai; menjadi pusat gosip dan muncul kembali menjelang akhir |
| Adish | Siswi yang menjadi sasaran ejekan mengenai tubuhnya dan kemudian mengalami kesurupan |
| Aril | Siswa yang gemar mengejek dan melontarkan komentar provokatif |
| Andi | Siswa sinis yang kerap meremehkan fenomena kesurupan |
| Adang | Siswa yang terlibat dalam percakapan pembuka |
| Alim | Siswa yang ikut berspekulasi mengenai kesurupan |
| Anwar | Siswa yang banyak melontarkan humor dan komentar spontan |
| Bram | Siswa yang ikut membicarakan Amalia dan merespons kepanikan |
| Bing | Siswa yang mengemukakan dugaan mengenai kondisi orang yang kesurupan |
| Bara | Siswa yang ikut berspekulasi tentang Amalia |
| Bimbi | Siswi yang mempertanyakan pandangan teman-temannya mengenai perempuan |
| Bella | Siswi yang turut merespons peristiwa kesurupan |
| Cinta dan Citra | Dua siswi yang muncul dalam percakapan di kantin |
| Dita, Dina, Dara, Dila | Kelompok siswi yang memperbincangkan keadaan Amalia dan bereaksi terhadap kepanikan |
| Edy | Siswa yang berusaha menghentikan gosip dan muncul dalam konflik menjelang akhir |
| Dukun | Tokoh yang menangani kesurupan Adish |
| Gambuh | Tokoh yang mengendalikan koreografi kesurupan menggunakan cambuk |
| Guru 1, Guru 2, Guru 3 | Tiga guru yang memperdebatkan persoalan siswa dan pendidikan |
| Para penolong dan siswa lainnya | Kelompok ensemble untuk adegan kerumunan dan kesurupan massal |
Ada beberapa ketidakkonsistenan penamaan dalam naskah, antara lain Amalia/Amelia, Aril/Ariel, dan kemunculan nama Reza tanpa pengenalan yang jelas. Hal ini perlu diperiksa sebelum penyusunan naskah produksi.
Kebutuhan pemeran: naskah aslinya melibatkan banyak tokoh. Produksi dengan sekitar 18โ25 pemain cukup masuk akal, tetapi sejumlah peran dapat digabungkan untuk kelompok yang lebih kecil.
KONGGRES UNGGAS | Apris
Penulis: Apris
Jenis: Naskah teater remaja
Genre/Gaya: Komedi satir โ alegori sosial
Tahun: โค Publikasi 2006; tahun penulisan persis tidak tercantum
Struktur: 3 babak
Prestasi: Juara II Lomba Penulisan Naskah Teater Remaja Taman Budaya Jawa Timur 2006.
Hak Pementasan: Naskah mencantumkan ketentuan agar pihak yang hendak mementaskan menghubungi penulis.
Sinopsis :
Sekelompok unggas betina berkumpul dalam sebuah arisan di rumah Ny. Bangau. Obrolan mereka mengenai perilaku para pejantan berkembang menjadi perdebatan serius tentang kesetiaan, perkawinan, kesewenang-wenangan pejantan, dan posisi kaum betina. Perdebatan tersebut akhirnya melahirkan gagasan untuk mengadakan pertemuan besar para unggas betina.
Pertemuan berkembang menjadi kongres yang membicarakan kesetaraan jago dan betina, perkawinan, perceraian, poligami, kebebasan seksual, hingga perlakuan manusia terhadap unggas. Kongres menghasilkan sejumlah resolusi dan semangat untuk membangun tatanan yang lebih adil.
Namun idealisme tersebut segera berhadapan dengan kenyataan. Para tokohnya ternyata melakukan hal-hal yang bertentangan dengan resolusi yang baru saja mereka sepakati. Perselingkuhan terbongkar dan pertemuan moral yang begitu berapi-api berakhir dalam kekacauan. Pada akhirnya, unggas dan manusia digambarkan memiliki kelemahan yang sama: gemar membuat aturan, resolusi, dan kampanye moral, tetapi juga gemar melanggarnya.
Karakter & kebutuhan pemain:
Daftar pelaku dalam naskah mencantumkan 17 entri, yaitu Ny. Angsa, Ny. Babon, Nona Bebek, Ny. Kutilang, Ny. Kasuari, Ny. Bangau, Nona Itik, Nona Merpati, Nona Itik (tercantum dua kali), Gagak, Kakak Tua, Sawung Jago, Swan Song, Pelikan, Joko Perkutut, Nyi Cendrawasih, dan Nyi Kuntil.
Jumlah nama unik dalam daftar: 16 karakter.
Catatan: Nona Itik tercantum dua kali. Pada bagian akhir juga muncul Nagatumurun, meskipun nama ini tidak terdapat dalam daftar pelaku.
Karena itu, jumlah pemain aktual perlu ditentukan kembali melalui proses dramaturgi. Beberapa peran juga berpotensi dirangkap jika produksi menghendaki ensemble yang lebih kecil.
Tema utama:
Relasi gender โข kesetaraan โข perkawinan โข perselingkuhan โข moralitas publik โข kemunafikan sosial โข kekuasaan โข kebebasan individual โข budaya kongres/resolusi โข kontradiksi antara aturan dan perilaku.
KOTAK SURAT TERAKHIR | Mochammad Asrori
Judul: Kotak Surat Terakhir
Penulis: Mochammad Asrori
Bentuk: Naskah drama remaja
Tahun : < 2008
Juara Harapan I Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2008.
Sinopsis
Seno adalah ayah tiga anak yang telah beranjak dewasa: Ed, Yo, dan Re. Ketiganya memiliki kehidupan, pendidikan, dan karakter berbeda serta hubungan persaudaraan yang tidak harmonis. Suatu hari mereka masing-masing menerima surat terakhir dari ayah mereka. Isinya meminta mereka pulang bersama untuk membahagiakan ibu pada hari ulang tahunnya.
Di rumah, Seno justru sedang sibuk membuat sebuah kotak surat dari bahan sintetis temuannya. Kotak itu dirancang sangat kokoh, tahan air, tidak berkarat, dan seolah mampu bertahan hingga puluhan tahun. Di balik tingkahnya yang dianggap aneh oleh Gun, adiknya, perlahan terungkap bahwa Seno sedang memikirkan legasi yang akan ditinggalkannya.
Sementara itu, Ed, Yo, dan Re terpaksa melakukan perjalanan pulang bersama. Pada awalnya mereka masih saling mengejek dan menyimpan ketegangan lama. Namun perjalanan berubah menjadi pengalaman yang memaksa mereka saling membutuhkan. Ketika mobil mengalami kecelakaan dan Yo terluka dalam perkelahian, ketiganya mulai memperlihatkan kembali ikatan sebagai saudara.
Di rumah, alasan Seno mempertemukan mereka mulai terungkap. Kondisi kesehatannya memburuk. Ia sadar waktunya mungkin tidak panjang dan ingin ketiga anaknya kembali memiliki kenangan bersama serta mampu mendampingi ibu mereka kelak.
Ketika ketiga anak akhirnya tiba, mereka menemukan kotak surat baru buatan ayahnya. Kotak itu tampak sempurnaโtetapi ternyata tidak mempunyai lubang untuk memasukkan surat. Setelah menyadari keanehan itu, ketiganya bersama-sama memanggil, โAyah… Ibu… Kami pulangโฆ.โ Naskah berakhir di sana.
Daftar Karakter
| Tokoh | Identitas dalam Naskah | Fungsi Dramatis |
|---|---|---|
| Seno | 45 tahun, tampak jauh lebih tua | Ayah; pusat konflik dan penggerak rekonsiliasi keluarga |
| Gun | 42 tahun | Adik Seno; menjadi lawan dialog yang membantu membuka kondisi dan pemikiran Seno |
| Istri | 40 tahun | Istri Seno dan ibu ketiga anak; pusat emosional keluarga |
| Ed | 20 tahun, taruna polisi | Anak pertama; dominan, keras, protektif |
| Yo | 19 tahun, mahasiswa kedokteran | Anak kedua; intelektual dan relatif tenang |
| Re | 18 tahun, mahasiswa seni | Anak ketiga; artistik, ekspresif, dan konfrontatif |
Identitas keenam tokoh utama tersebut disebut secara eksplisit dalam daftar โPara Pelakuโ.
Selain mereka terdapat suara/narator pada pembukaan dan seseorang yang terlibat perkelahian dalam Babak V; keduanya tidak dicantumkan sebagai karakter utama dalam daftar pelaku.
KUDeTA | Joned Suryatmoko
Judul: KUDeTA
Penulis: Joned Suryatmoko
Bahasa : Indonesia
Tahun penulisan: April 2006, Yogyakarta.
Rekam prestasi: Juara III Lomba Penulisan Naskah Teater Remaja Taman Budaya Jawa Timur 2006.
Latar: SMA di Indonesia; terutama halaman sekolah, kamar Linda, dan ruang batin Linda. Penulis secara eksplisit membuka kemungkinan penyesuaian lokal.
Sinopsis
Tahun ajaran baru dimulai. Linda, Helen, Bunga, dan Ratna kini duduk di kelas II SMA. Bagi Linda, perubahan tingkat kelas bukan sekadar kenaikan akademis: inilah saatnya merebut posisi sebagai โjagoan sekolahโ dari Nungki, Meymey, dan Kandi, para siswi kelas III yang selama ini menguasai wilayah sosial sekolahโkantin, halaman, bahkan toilet.
Linda menyebut rencananya sebagai โkudetaโ. Kesempatan terbuka karena kelas III mulai disibukkan oleh ujian nasional dan bimbingan belajar. Namun satu demi satu kekuatan Linda justru berkurang. Bunga dan Ratna harus mengikuti bimbingan belajar. Persoalan menjadi lebih rumit ketika Brianโsiswa kelas III yang menjadi idola dan sebelumnya dekat dengan Nungkiโmendekati Linda.
Pada saat yang sama, sekolah justru melihat Linda sebagai calon pemimpin. Pak Iswadi menawarkan pencalonannya sebagai Ketua OSIS. Linda menolak karena baginya kekuasaan yang diperoleh melalui jabatan resmi sekolah hanyalah sesuatu yang diberikan, bukan direbut melalui perjuangannya sendiri.
Rencana kudeta terus mengalami kegagalan. Linda akhirnya semakin sendirian. Bahkan Helen, satu-satunya teman yang masih bersamanya, ternyata memiliki hubungan tersendiri dengan Brian. Tekanan dari ibu, sekolah, ujian, persahabatan, percintaan, dan ambisi Linda kemudian bertumpuk dalam sebuah adegan ruang batin yang kacau.
Menjelang akhir, Linda berhadapan dengan Nungki. Alih-alih sekadar mempertahankan kekuasaan, Nungki memberikan pemahaman yang lebih kompleks: ketika seseorang memutuskan bekerja bersama orang lain, ia sekaligus harus siap ditinggalkan dan melanjutkan perjuangan sendiri. Menurut Nungki, kemampuan itulah capaian tertinggi seorang โjagoanโ.
Linda akhirnya menyadari bahwa kemenangan bukan semata-mata berhasil menguasai kantin atau mengalahkan kelas III. Perjuangan justru terletak pada kemauan untuk terus melakukan sesuatu meskipun harus berjalan sendiri. Naskah berakhir dengan Linda sendirian menangkap lembaran-lembaran kertas yang berjatuhan, sementara ibunya seolah masih menyambut teman-teman Linda yang sebenarnya tidak datang.
Daftar Karakter
Naskah menetapkan 10 karakter bernama/peran utama, dengan kemungkinan tambahan figuran siswa-siswi untuk adegan keramaian.
| Tokoh | Identitas | Fungsi Dramatis |
|---|---|---|
| Linda | Siswi kelas II | Protagonis; penggagas โkudetaโ |
| Helen | Siswi kelas II | Sahabat Linda; kemudian menjadi salah satu sumber konflik |
| Bunga | Siswi kelas II | Anggota kelompok Linda; mundur karena bimbingan belajar |
| Ratna | Siswi kelas II | Anggota kelompok Linda; juga mundur karena bimbingan belajar |
| Nungki | Siswi kelas III, mantan jagoan | Rival utama sekaligus figur yang memberi Linda pemahaman baru tentang perjuangan |
| Meymey | Siswi kelas III, mantan jagoan | Kelompok senior |
| Kandi | Siswi kelas III, mantan jagoan | Kelompok senior |
| Brian | Siswa kelas III, idola kelas II dan III | Pemicu konflik relasi LindaโHelenโNungki |
| Pak Iswadi | Guru pendamping OSIS | Representasi struktur organisasi sekolah |
| Kepala Sekolah | Galak, hampir pensiun | Representasi otoritas sekolah; juga sumber komedi melalui motif โUJIAN!โ |
| Ibu | Ibu Linda | Suara keluarga, pendidikan dan realitas di luar ambisi Linda |
| Figuran | Siswa/siswi | Dapat ditambahkan untuk membangun hiruk-pikuk sekolah |
MALIN : The End Scene | M.S. Nugroho
Judul : Malin : The End Scene
Penulis : M.S. Nugroho
Tahun Penulisan : (<2008)
Bahasa : Indonesia
Rekam Prestasi : Nominator Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2008
Sinopsis:
Di tengah lautan yang bergemuruh, kisah Malin Kundang mencapai bagian yang selama ini dikenal sebagai akhir cerita: seorang ibu mengutuk anaknya menjadi batu setelah sang anak menolak mengakuinya.
Namun, dalam naskah ini, kutukan bukanlah penyelesaian. Ia justru menjadi awal tragedi baru.
Sesaat setelah Malin membatu, Bunda menyadari akibat dari kemarahannya. Ia mencari Malin, memanggil-manggil namanya, memohon agar anaknya kembali, dan menyesali kutukan yang telah diucapkannya. Penyesalan itu begitu dalam hingga ia berniat mengakhiri hidupnya sendiri.
Malin kemudian kembali bergerak dan berbicara. Pertemuan kembali ibu dan anak itu menghadirkan kerinduan, kenangan masa kecil, dan pengakuan kesalahan. Malin menyadari penderitaan ibunya selama ditinggalkan merantau. Sebaliknya, Bunda mengakui bahwa perubahan usia, kemiskinan, dan keadaanlah yang membuat anaknya tidak lagi mengenalinya.
Ketika Puteri Sabarini, istri Malin, hadir, cerita bergerak ke arah perdamaian. Puteri justru menghormati ibu mertuanya dan mendorong Malin meminta maaf. Sebuah perayaan pernikahan dan pemberkatan berlangsung, seolah legenda yang selama ini tragis memperoleh akhir bahagia.
Akan tetapi, kebahagiaan tersebut dipertanyakan oleh sekelompok orang yang mempertanyakan mengapa kisah Malin Kundang berubah. Dalang menjelaskan bahwa dirinya bukan penguasa mutlak cerita dan para tokoh tidak harus terus mengikuti pola yang telah diwariskan.
Pertanyaan kemudian berubah menjadi penghakiman. Bunda dipersoalkan atas kutukannya, sementara hubungan Malin dan Puteri kembali mengalami ketegangan. Upaya perdamaian ternyata tidak semudah mengganti akhir cerita.
Pada bagian penutup, Bunda kembali diliputi kesedihan dan mencoba menyakiti dirinya. Orang-orang berusaha mencegahnya. Mereka kemudian mengungkapkan diri sebagai anak-anak Malin, generasi masa depan yang meminta agar kekerasan dan kutukan tidak terus diwariskan.
Pertunjukan berakhir dengan seruan untuk menghentikan kekerasan dan menjadikan cinta sebagai pedoman kehidupan.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Malin | Anak yang dikutuk menjadi batu; mengalami penyesalan, kerinduan, dan konflik batin |
| Bunda | Ibu Malin; pusat tragedi, mengalami kemarahan, penyesalan, dan penderitaan |
| Puteri Sabarini | Istri Malin; mendorong rekonsiliasi sekaligus menghadapi persoalan kesetiaan dalam keluarga |
| Dalang | Pencerita, penghubung adegan, dan komentator yang mempertanyakan kekuasaan atas cerita |
| Penyanyi | Pembentuk suasana melalui nyanyian dan narasi puitik |
| Orang / Orang-orang | Kelompok yang mempertanyakan cerita, mengintervensi konflik, dan mewakili generasi berikutnya |
Kebutuhan pemain: sedikitnya empat pemeran karakter individual (Malin, Bunda, Puteri, Dalang), ditambah penyanyi dan kelompok Orang-orang. Jumlah pemain ensemble tidak ditetapkan secara pasti.
MELAWAN KUTUKAN | Harwes
Judul : Melawan Kutukan
Penulis : Harwes
Bahasa : Indonesia
Tahun Penulisan : <2008
Rekam Prestasi : Juara Harapan II Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2008
Panjang naskah : 20 halaman
Sinopsis :
Pertunjukan dibuka dengan adegan kematian Empu Gandring. Di balik selembar kain putih, tampak Ken Arok memegang keris sementara Empu Gandring yang terluka mengucapkan sumpahnya. Kutukan itu mengancam akan terus menuntut korban jiwa, bahkan hingga keturunan berikutnya. Suara-suara kemudian menyerukan agar dendam dan kutukan kejam dihentikan.
Adegan berpindah ke sebuah lapangan pada malam hari. Seorang pemuda bernama Gendon, yang sedang berkomunikasi melalui telepon genggam, bertemu dengan lelaki asing berpakaian sederhana. Lelaki itu mengaku sebagai seorang pembunuh yang tidak pernah menerima hukuman melalui pengadilan, tetapi sepanjang hidupnya dibebani penyesalan.
Gendon terkejut sekaligus marah. Baginya, tidak ada alasan yang dapat membenarkan pembunuhan. Ia kemudian mengungkapkan bahwa kakeknya sendiri pernah menjadi korban pembunuhan. Pengalaman tersebut membuatnya mempertanyakan mengapa sejarah negerinya terus dipenuhi kekerasan dan mengapa para penguasa sering terhindar dari hukuman.
Percakapan mereka berkembang menjadi perdebatan tentang kekuasaan, keadilan, sejarah, dan tanggung jawab generasi terdahulu terhadap generasi muda. Gendon menolak anggapan bahwa anak muda cukup menerima warisan sejarah tanpa mempertanyakannya. Ia menuntut hak generasinya untuk berpikir kritis dan menentukan masa depan yang berbeda.
Lelaki misterius itu kemudian mengungkapkan penyesalannya. Ia mengakui bahwa tindakannya pada masa lalu telah memicu rangkaian pembunuhan dan perebutan kekuasaan yang terus membayangi keturunannya. Ia meminta Gendon mendengarkan kisah hidupnya.
Melalui permainan layar putih dan adegan simbolik, diperlihatkan kembali rangkaian pembunuhan yang melibatkan Ken Arok, Tunggul Ametung, Anusapati, Tohjaya, dan Empu Gandring. Para remaja yang menyaksikannya menolak keras kekerasan tersebut. Mereka menyerukan bahwa masa depan seharusnya dibangun dengan cinta kasih dan perdamaian.
Setelah peristiwa itu, Gendon akhirnya mengetahui bahwa lelaki yang ditemuinya adalah Ken Arok sendiri.
Ken Arok merasa lega karena telah menemukan generasi yang berani mempertanyakan kesalahannya dan tidak bersedia meneruskan keyakinan terhadap kutukan Empu Gandring. Ia kemudian meninggalkan Gendon, seolah telah memperoleh kesempatan menuju tempat peristirahatan abadinya.
Pada akhir pertunjukan, Gendon bersama teman-temannya menyatakan penolakan terhadap pewarisan dendam dan kekerasan. Mereka menegaskan bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan. Pertunjukan ditutup dengan seruan bersama untuk memadamkan dendam dan kutukan kejam.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Identitas dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Gendon | Pemuda masa kini; protagonis yang kritis terhadap kekerasan dan pewarisan sejarah |
| Ken Arok | Tokoh sejarah yang hadir secara imajiner; mengakui kesalahan masa lalunya dan mencari pembebasan dari rasa bersalah |
| Empu Gandring | Pembuat keris yang mengucapkan kutukan; simbol dendam yang diwariskan |
| Tunggul Ametung | Tokoh dalam rangkaian pembunuhan sejarah |
| Ken Dedes | Tokoh pendukung yang tercantum dalam daftar karakter |
| Kebo Ijo | Tokoh pendukung yang tercantum dalam daftar karakter |
| Anusapati | Tokoh dalam adegan pembunuhan berantai |
| Tohjaya | Tokoh dalam adegan pembunuhan berantai |
| Teman-teman Gendon | Kelompok remaja laki-laki dan perempuan; mewakili suara generasi muda yang menolak kekerasan |
Daftar awal menyebut Gendon, Ken Arok, enam tokoh pembantu sejarah, dan beberapa teman Gendon. Petunjuk adegan kemudian menyebut lima remaja laki-laki dan perempuan. Ken Dedes dan Kebo Ijo tercantum dalam daftar tokoh, tetapi tidak memperoleh dialog individual yang jelas dalam teks.
Kebutuhan pemeran: sekitar 9โ14 orang apabila karakter sejarah dan lima remaja dimainkan terpisah. Jumlah tersebut dapat dikurangi melalui perangkapan peran.
SANDAL JEPIT | Herlina Syarifudin
Judul : Sandal Jepit
Penulis : Herlina Syarifudin
Bahasa : Indonesia
Tahun : < 2006
Penghargaan : Nominator Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2006
Panjang Naskah : 14 Halaman
Sinopsis:
Joko adalah mahasiswa sederhana yang selalu tampil percaya diri dengan sandal jepit kesayangannya. Ia menjalin hubungan dengan Peggy, mahasiswi dari keluarga berada yang terbiasa dengan kehidupan eksklusif. Peggy justru jatuh cinta pada kejujuran dan kesederhanaan Joko. Namun, perbedaan gaya hidup serta komunikasi yang kurang terbuka perlahan menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka.
Konflik memuncak ketika Peggy merasa Joko lebih mencintai prinsip hidup dan sandal jepitnya daripada dirinya. Pertengkaran membuat mereka berpisah, meskipun keduanya masih saling mencintai. Lala, sahabat lama Joko sekaligus teman Peggy, berusaha membantu mereka memahami bahwa hubungan tidak harus dibangun dengan mengubah identitas masing-masing.
Melalui sebuah kiriman berisi sebelah sandal jepit dan sebelah sepatu perempuan, Peggy mengajak Joko berdamai. Keduanya akhirnya mengakui kekeliruan masing-masing dan menerima bahwa perbedaan dapat saling melengkapi. Kisah mereka ditutup dengan tarian dan nyanyian yang merayakan cinta, kesederhanaan, dan kebebasan menjadi diri sendiri.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi |
|---|---|
| Joko | Mahasiswa sederhana, idealis, setia, tetapi kesulitan mengungkapkan perasaan secara terbuka. Tokoh utama laki-laki |
| Peggy | Kekasih Joko dari lingkungan keluarga berada. Romantis, ekspresif, posesif, dan mendambakan kebebasan dari gaya hidup eksklusif |
| Lala | Sahabat Joko sejak kecil dan teman Peggy. Kritis, blak-blakan, idealis, serta menjadi penengah konflik |
| Maskot | Tokoh tak berwujud yang hadir melalui suara. Berfungsi sebagai komentator, penyela, sekaligus pemberi humor |
| Emak Joko | Ibu Joko, muncul singkat dalam kehidupan rumah tangga Joko |
| Para penari/property man/hewan peliharaan | Ansambel yang membentuk properti panggung, menari, dan memerankan hewan melalui gerak tubuh |
TAK ADA BINTANG DI DADANYA | Hamdy Salad
Judul : Tak Ada Bintang di Dadanya
Penulis : Hamdy Salad
Bahasa : Indonesia
Tahun : 2007
Rekam Prestasi : Nominator Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2008
Panjang Naskah : 20 Halaman
Sinopsis:
Pak Hasan, seorang guru agama berusia sekitar 52 tahun, menghabiskan pagi di rumahnya dengan memeriksa pekerjaan rumah para murid. Meski baru pulang dari tugas luar kota, ia tetap bekerja dengan sungguh-sungguh. Baginya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan untuk memperoleh gaji, melainkan tanggung jawab moral terhadap masa depan generasi muda.
Istrinya meminta Pak Hasan beristirahat. Percakapan keduanya berlangsung hangat dan diselingi humor rumah tangga. Namun, di balik suasana akrab tersebut, Pak Hasan memperlihatkan kegelisahannya terhadap keadaan masyarakat, terutama kemerosotan moral, korupsi, dan perilaku generasi muda.
Ketika sedang memeriksa tugas, Pak Hasan tertidur.
Dalam tidurnya, ia bermimpi didatangi tiga mantan murid yang kini menjadi berandal. Ketiganya mengaku hidup miskin, tersingkir, dan tidak memperoleh kebahagiaan meskipun dahulu diajari untuk hidup jujur, sederhana, dan taat beragama.
Mereka menuduh ajaran Pak Hasan justru membuat kehidupan mereka semakin sulit. Menurut mereka, orang-orang yang curang dan korup malah menikmati kekayaan dan kekuasaan, sedangkan orang yang berusaha hidup baik justru mengalami penderitaan.
Kemarahan ketiga mantan murid itu memuncak. Mereka mengancam dan menyiksa Pak Hasan secara simbolik, kemudian menyeretnya keluar panggung.
Pak Hasan terbangun dengan ketakutan. Istrinya berusaha menenangkan, tetapi ia masih terguncang oleh mimpi tersebut.
Tidak lama kemudian, tiga murid kelas tiga SMA datang berkunjung. Mereka menyampaikan bahwa beberapa hari sebelumnya ada tiga orang yang mengaku sebagai alumni sekolah dan ingin bertemu Pak Hasan.
Mendengar cerita itu, Pak Hasan semakin gelisah. Ia khawatir bahwa mimpi buruknya akan menjadi kenyataan. Ketika para murid menyerahkan sebuah amplop, ia bahkan mencurigai benda tersebut mungkin berisi sesuatu yang berbahaya.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika terdengar suara letusan mendadak.
Namun, yang muncul justru sekelompok murid membawa balon, hiasan, dan hadiah. Mereka datang untuk memberikan kejutan ulang tahun kepada Pak Hasan.
Para murid menyanyikan lagu penghormatan kepada guru dan menyerahkan sebuah lukisan bergambar Pak Hasan mengenakan pakaian safari dengan lima bintang emas di dadanya.
Pak Hasan terharu, tetapi meminta agar bintang-bintang pada lukisan tersebut dilepaskan. Ia menjelaskan bahwa dirinya bukan jenderal atau pahlawan perang. Baginya, mengajar merupakan bentuk ibadah dan pengabdian yang tidak membutuhkan tanda jasa.
Pada akhir pertunjukan, Pak Hasan memasang lukisan itu di dinding rumahnya. Lampu panggung perlahan padam, menyisakan sorotan pada lukisan Pak Hasan yang kini tidak lagi memiliki bintang di dadanya.
Daftar Larakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Pak Hasan | Guru agama sekitar 52 tahun; sederhana, idealis, berdedikasi, dan menjadi pusat konflik |
| Istri Pak Hasan | Sekitar 45 tahun; perhatian, cerewet, humoris, dan menjadi penyeimbang karakter suaminya |
| Berandal 1 | Mantan murid yang kecewa karena kemiskinan dan kegagalan hidup |
| Berandal 2 | Mantan murid yang mempertanyakan manfaat ajaran moral |
| Berandal 3 | Mantan murid yang sinis terhadap ketidakadilan sosial |
| Murid 1 | Siswa kelas tiga SMA; perwakilan murid yang menyampaikan pesan kepada Pak Hasan |
| Murid 2 | Siswa kelas tiga SMA; membantu membangun ketegangan menjelang kejutan |
| Murid 3 | Siswa kelas tiga SMA; turut menyampaikan cerita mengenai para alumni |
| Murid-murid lainnya | Kelompok siswa yang menyiapkan perayaan ulang tahun |
| Pembawa kado | Siswa yang menyerahkan lukisan penghormatan; dapat dirangkap |
| Pengganti Pak Hasan | Peran opsional untuk pengolahan adegan mimpi |
| Penyanyi dan pemusik | Sesuai kebutuhan artistik |
Daftar karakter asli membedakan tiga berandal, tiga murid, kelompok murid tambahan, serta kemungkinan pemeran pengganti Pak Hasan.
Kebutuhan pemeran: delapan peran utama yang berdialog, ditambah kelompok siswa. Produksi minimal dapat menggunakan sekitar 9โ11 pemain dengan perangkapan peran; versi ensemble dapat melibatkan lebih banyak siswa.
TAPLAK MEJA | Herlina Syarifudin
Judul : Taplak Meja
Penulis : Herlina Syarifudin
Bahasa : Indonesia
Tahun : 2008
Rekam Prestasi : Nominator Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja Dewan Kesenian Jawa Timur 2008
Panjang Naskah : 30 Halaman
Sinopsis:
Pakde Kempul mengelola sebuah rumah singgah yang menampung lima remaja dari keluarga bermasalah: Kemprut, Wirid, Genting, Janthil, dan Sower. Kelima remaja ini memiliki karakter berbeda-beda, tetapi sama-sama menyimpan persoalan keluarga yang membuat mereka enggan pulang.
Kehidupan di rumah singgah berlangsung penuh kelucuan. Anak-anak gemar saling menggoda, membuat lelucon, dan menguji kesabaran Pakde Kempul. Meskipun demikian, Pakde menyayangi mereka seperti keluarganya sendiri.
Suatu hari, Pakde mengumumkan kedatangan seorang guru baru, Bude Kiranti, sahabat lamanya semasa SMA. Keduanya memiliki kepedulian yang sama terhadap remaja yang mengalami kesulitan keluarga maupun pendidikan.
Bude Kiranti memperkenalkan kegiatan belajar alternatif bagi kelima anak tersebut. Ia ingin membantu mereka kembali memperoleh kesempatan belajar dan membangun masa depan.
Setahun kemudian, Bude Kiranti memperkenalkan aturan yang tidak biasa: setiap meja belajar harus ditutupi taplak meja. Alasannya sederhana, yaitu untuk mengurangi kebiasaan menyontek melalui tulisan yang disembunyikan pada meja atau laci.
Namun, taplak meja kemudian menjadi bagian dari latihan kemandirian. Anak-anak diminta mencari atau memperoleh taplak meja masing-masing melalui usaha mereka sendiri.
Tugas yang tampaknya mudah itu justru menimbulkan kebingungan. Mereka tidak memiliki uang dan tidak ingin kembali mengamen. Kemprut bahkan mengusulkan tindakan mencuri, tetapi teman-temannya menolak.
Tanpa sengaja, kelima remaja mendengar percakapan Pakde Kempul dan Bude Kiranti. Dari pembicaraan tersebut, terungkap bahwa tugas mencari taplak meja juga merupakan bagian dari upaya mendorong anak-anak agar kembali menjalin hubungan dengan keluarga masing-masing.
Percakapan kemudian beralih kepada kisah pribadi Pakde dan Bude. Keduanya ternyata pernah memiliki hubungan asmara. Meskipun telah berpisah, perasaan mereka belum sepenuhnya hilang.
Anak-anak yang menguping segera menggoda keduanya dan berharap Pakde Kempul serta Bude Kiranti menikah.
Pada adegan terakhir, rumah singgah berubah menjadi tempat penyelenggaraan akad nikah mereka. Kelima remaja membantu mempersiapkan acara, sementara sejumlah orang tua mereka mulai kembali terlibat dalam kehidupan anak-anaknya.
Taplak meja yang sebelumnya menjadi alat pembelajaran kini berubah menjadi unsur penting dalam pernikahan: digunakan untuk hiasan, busana pengantin, bahkan perlengkapan mas kawin.
Pakde Kempul merasa bahagia, tetapi juga sedih karena membayangkan harus berpisah dengan anak-anak asuhnya. Kelima remaja justru meyakinkan bahwa hubungan mereka tidak akan terputus.
Pertunjukan berakhir dengan prosesi akad nikah dan lagu Taplak Meja, yang merangkum berbagai makna benda sederhana tersebut dalam kehidupan para tokohnya.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Pakde Kempul | Pengelola rumah singgah; humoris, penyayang, dan memiliki persoalan pribadi dari masa lalu |
| Bude Kiranti | Sahabat lama Pakde; pendidik yang peduli terhadap anak-anak bermasalah dan menjadi penggerak pendidikan alternatif |
| Kemprut | Remaja usil, spontan, gemar melontarkan humor, dan cenderung mencari jalan pintas |
| Wirid | Remaja yang kerap menggunakan ungkapan religius; masih menyimpan persoalan dengan keluarganya |
| Genting | Remaja percaya diri, cerdas, dan gemar berkomentar |
| Janthil | Remaja yang suka menyindir dan berdebat dengan teman-temannya |
| Sower | Remaja santai, gemar tidur, dan menjadi salah satu sumber komedi |
| Penghulu | Pemimpin prosesi akad nikah pada bagian akhir |
| Orang tua para remaja | Tokoh pendukung yang memperlihatkan kemungkinan pemulihan hubungan keluarga |
| Para undangan | Figuran untuk adegan pernikahan |
Daftar pemeran asli juga mencantumkan orang tua Genting, orang tua Kemprut, ibu Janthil, dan mama Wirid. Tidak seluruh tokoh tersebut memperoleh dialog langsung.
Kebutuhan pemain: tujuh tokoh sentral, ditambah penghulu, beberapa pemeran orang tua, dan figuran. Untuk produksi pelajar, sekitar 10โ15 pemain dapat digunakan dengan penyesuaian pemeran pendukung.
WEWE GOMBEL | M.S. Nugroho
Judul: Wewe Gombel
Penulis : M.S. Nugroho
Bahasa : Indonesia
Tahun : <2008
Rekam Prestasi : Juara III Lomba Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jawa Timur 2008
Panjang naskah : 19 halaman
Sinopsis:
Wewe Gombel hidup bersama Gondoruwo di sebuah pohon besar yang menyeramkan. Selama ratusan tahun, mereka menjalani kehidupan yang panjang dan sepi. Wewe Gombel sangat mendambakan kehadiran seorang anak, sementara Gondoruwo berusaha meyakinkannya bahwa mereka dapat hidup bahagia tanpa keturunan.
Di sebuah rumah di pinggiran kota, Bela tinggal bersama ibunya yang sibuk bekerja. Sang ibu mudah marah, kerap membentak, dan melakukan kekerasan fisik terhadap Bela. Ketika Bela menyanyikan lagu tentang kasih ibu, ibunya justru memarahinya karena dianggap mengganggu.
Bela juga dilarang bermain dengan anak-anak lain. Suatu malam, ia keluar rumah untuk bermain, tetapi kemudian terpisah dari teman-temannya dan tersesat.
Dalam keadaan ketakutan, Bela bertemu Wewe Gombel yang menawarkan sebuah boneka. Setelah mencium boneka itu, Bela pingsan dan dibawa pergi.
Mengetahui Bela hilang, sang ibu panik. Warga kampung kemudian melakukan pencarian dengan membunyikan berbagai peralatan dapur untuk memancing Wewe Gombel menari.
Sementara itu, Wewe Gombel memperkenalkan Bela kepada Gondoruwo sebagai anak mereka. Untuk pertama kalinya, pasangan makhluk gaib itu merasakan kebahagiaan memiliki seorang anak.
Warga akhirnya menemukan Bela. Ibunya berjanji akan berubah, tetapi ketika Bela hendak pulang, sang ibu kembali menjewernya. Wewe Gombel muncul dan mempertahankan Bela karena menganggap ibu kandungnya tidak mampu memberikan kasih sayang.
Pertengkaran terjadi. Warga menyerang Wewe Gombel dan Gondoruwo hingga keduanya terluka. Bela berhasil dibawa pulang.
Namun, kehidupan Bela tidak membaik. Ibunya kembali bersikap kasar dan lebih memperhatikan televisi daripada anaknya. Bela kemudian mendatangi Wewe Gombel dan memohon agar diperbolehkan tinggal bersamanya.
Wewe Gombel sebenarnya ingin menerima Bela. Akan tetapi, ia menyadari bahwa Bela adalah anak manusia yang seharusnya hidup bersama keluarganya. Untuk membuat Bela pergi, Wewe Gombel sengaja berubah menjadi sosok mengerikan dan memukulnya.
Bela meninggalkan Wewe Gombel dengan perasaan kecewa. Makhluk gaib itu menangis karena harus melepaskan anak yang sangat disayanginya.
Dalam kesedihannya, Wewe Gombel menyadari bahwa selama ini ia terlalu terobsesi memiliki anak hingga mengabaikan cinta Gondoruwo yang telah setia mendampinginya selama ratusan tahun. Keduanya akhirnya berdamai dan kembali menemukan kebahagiaan bersama.
Di rumah Bela, sang ibu mulai menyadari kesalahannya. Ia menghancurkan televisi yang dianggap telah merampas perhatiannya dari sang anak. Dalam kesendirian, ia menyesali perlakuannya dan berjanji akan lebih menyayangi Bela.
Bela mendengar janji tersebut dan kembali pulang. Ibu dan anak itu akhirnya berpelukan.
Pertunjukan ditutup dengan nyanyian dan tarian seluruh pemain yang menegaskan pentingnya menjaga dan menyayangi anak.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Wewe Gombel | Makhluk gaib yang kesepian dan sangat mendambakan seorang anak. Sosok yang tampak menakutkan, tetapi memiliki kebutuhan emosional yang kuat |
| Gondoruwo / Ruwo | Pasangan Wewe Gombel yang setia, penyabar, dan merasa terabaikan oleh keinginan Gombel untuk memiliki anak |
| Bela | Anak perempuan yang mengalami kekerasan dan pengabaian dari ibunya; menjadi pusat perebutan kasih sayang |
| Mama | Ibu kandung Bela; pekerja yang kelelahan, emosional, dan lebih memperhatikan televisi daripada kebutuhan anaknya |
| Pak Tua / Orang Tua | Tokoh masyarakat yang memimpin pencarian Bela dan memahami cara menghadapi Wewe Gombel |
| Orang-orang | Warga kampung yang membantu mencari Bela dan menyerang makhluk gaib |
| Anak-anak | Teman bermain Bela; juga menjadi kelompok yang mengejek dan menyerang Wewe Gombel |
Daftar karakter asli mencantumkan Wewe Gombel, Gondoruwo, Bela, Mama, orang-orang, dan anak-anak. Pak Tua muncul secara khusus dalam dialog sebagai bagian dari kelompok warga.
Kebutuhan pemeran: empat tokoh utama, satu tokoh pendukung penting, dan kelompok ensemble. Sekitar 10โ15 pemain cukup memungkinkan, tetapi jumlahnya fleksibel.
MONOLOG
ELEGI (kumpulan naskah monolog)| Muhammad Lutfi
Penuis : Muhammad Lutfi
Tahun : 2022-2023
Bahasa : Indonesia
Informasi Dasar:
File ini adalah kumpulan naskah monolog ELEGI karya Muhammad Lutfi yang merupakan kumpulan karya yang kaya, berani, dan eksperimental. Ia menawarkan 22โ23 judul monolog dengan durasi antara 5 menit hingga 35 menit. Cocok untuk pelajar SMA/SMK, mahasiswa, teater kampus, dan komunitas teater profesional. Keunggulannya terletak pada kekuatan tema, karakter, dan bahasa; tantangannya terletak pada tuntutan akting, interpretasi, dan keberanian menyajikan isu-isu sensitif. Naskah ini bukan untuk pementasan ringan, melainkan untuk teater yang menggugat, merenung, dan mengguncang.
MATINYA TUKANG KRITIK | Agus Noor
Penulis : Agus Noor
Tahun : 2005
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Pendek
Naskah ini berkisah tentang Raden Mas Suhikayatno, seorang “Tukang Kritik” yang merasa dirinya telah dilupakan oleh sejarah dan masyarakat. Ia hidup dalam kebingungan waktuโterjebak antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam monolognya yang kacau dan penuh ironi, ia mengenang peranannya sebagai pengritik sejak zaman purba hingga era modern, termasuk interaksinya dengan tokoh-tokoh sejarah seperti Gajah Mada, para pendiri bangsa, hingga presiden-presiden Indonesia.
Ditemani oleh Bambang, pembantunya yang setia (dan juga merupakan metafora dari “pelayan rakyat” atau presiden), Denmas Suhikayatno terus menanti sebuah “surat” yang tak kunjung tibaโsurat yang akan mengakui jasa dan keberadaannya dalam catatan sejarah. Ia gelisah karena kritiknya tak lagi didengar, perannya mulai dilupakan, dan zaman berubah tanpa membutuhkannya lagi.
Dalam perjalanan waktu yang melompat-lompat hingga tahun 3005, ia menyaksikan dunia yang serba tertib, terkomputerisasi, dan tanpa celah untuk dikritik. Bahkan pembantunya telah digantikan oleh robot. Pada akhirnya, sang Tukang Kritik mati dalam kesunyian, meskipun surat yang dinantinya akhirnya datangโterlambat.
Naskah ini adalah satire filosofis tentang matinya peran kritik dalam masyarakat, kegelisahan intelektual, serta kritik terhadap kekuasaan dan sejarah yang manipulatif.
RACUN TEMBAKAU | Anton P. Chekhov ; Jim Adhi Limas (penerjemah)
Judul asli : “ะ ะฒัะตะดะต ัะฐะฑะฐะบะฐ” (O vrede tabaka)
Penulis : Anton P. Ckhekhov
Tahun : 1905
Penerjemah : Jim Adhi Limas
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Pendek
Monolog ini menampilkan Ivan Ivanovich Nyukhin, seorang suami yang tertindas dan dipingit oleh istrinya yang memiliki sekolah musik partikelir serta rumah indekos untuk anak-anak perempuan. Ia tampil di depan audiens untuk memberikan ceramah tentang “bahaya tembakau”, tetapi ceramahnya segera berubah menjadi curhat panjang yang kacau dan menyedihkan.
Di tengah upayanya tampil ilmiah dan berwibawa, Nyukhin terus-menerus terpeleset ke dalam keluhan pribadi: tentang pernikahannya yang menyiksa selama 33 tahun, tentang istrinya yang kejam dan pelit, tentang tujuh anak perempuannya yang belum menikah, tentang kemiskinannya, dan tentang hidupnya yang dihabiskan untuk mengurus rumah tangga, sekolah musik, serta berbagai pekerjaan rendahan.
Ia mengungkapkan bahwa ia pernah muda, punya cita-cita, dan belajar di universitas, tetapi kini ia hanya menjadi “Begong” atau “Cacing” โ panggilan istrinya saat marah. Di akhir monolog, ketika sadar istrinya telah datang, ia buru-buru kembali ke topik tembakau dan menutup ceramah dengan sopan, meskipun jiwanya hancur.
Monolog ini adalah satire tragikomik tentang penindasan dalam rumah tangga, kehilangan harga diri, dan kemunafilan sosial.
SARIMIN | Agus Noor
Penulis : Agus Noor
Tahun : 2007
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Pendek
Seorang tukang cerita muncul di atas panggung, memperkenalkan seorang tokoh bernama Sariminโseorang tukang topeng monyet keliling yang sudah 47 tahun menekuni profesi warisan bapaknya. Suatu hari, Sarimin menemukan sebuah KTP di pinggir jalan. Dengan niat tulus, ia pergi ke kantor polisi untuk menitipkan KTP tersebut agar bisa dikembalikan kepada pemiliknya.
Namun, di kantor polisi, Sarimin diabaikan dan disuruh menunggu terus-menerus. Polisi jaga lebih sibuk pura-pura mengetik dan tidur daripada melayaninya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan hingga bertahun-tahun, Sarimin tetap menunggu tanpa pernah dipanggil.
Ketika akhirnya seorang petugas menyadari keberadaannya, KTP itu diketahui milik seorang Hakim Agung. Sarimin pun dituduh mencuri dan berniat memeras. Meskipun ia tidak bisa membaca dan hanya berniat baik, ia diinterogasi, diancam dengan berbagai pasal hukum, dan akhirnya ditahan. Seorang pengacara Bensar yang datang membelanya justru lebih sibuk dengan penampilan dan kariernya sendiri, serta membujuk Sarimin untuk mengaku salah demi “kebaikan bersama”.
Monolog ini adalah satire tajam tentang birokrasi yang tak berpihak pada rakyat kecil, hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas, serta ironi “keadilan” di negeri ini. Sarimin menjadi simbol orang kecil yang terjebak dalam sistem yang tak pernah memihaknyaโbahkan ketika ia hanya ingin berbuat baik.
WANCI | Imas Sobariah
Penulis : Imas Sobariah
Tahun : 1996
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Pendek
Seorang perempuan bernama Icih Prihatini, yang kini hidup sebagai gelandangan setengah gila di jalanan, bercerita tentang hidupnya yang hancur. Ia lahir dan besar di kampung lokalisasiโsebuah lingkaran setan yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya: neneknya pelacur, kakeknya germo, ibunya juga pelacur, dan bapaknya germo.
Icih berusaha mati-matian keluar dari lingkaran itu. Ia menikah dengan Kang Usup, seorang pria yang mengaku bekerja sebagai satpam, dan mereka pindah ke kota. Hidup Icih mulai bahagia. Ia punya tiga anak: Endang, Eti, dan Aep. Namun kebahagiaan itu runtuh ketika Icih tahu bahwa Kang Usup ternyata juga seorang germo. Usup ditangkap polisi dan masuk penjara.
Icih berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya dengan berjualan kue keliling. Namun lingkaran itu kembali datang: Eti diperkosa dan hamil oleh pegawai personalia yang membantunya mendapat kerja, lalu terpaksa menjadi pekerja malam. Endang masuk penjara karena menghajar pemerkosa adiknya, dan setelah bebas ia hidup bersama seorang banci tua dan bersikap kasar. Icih yang putus asa mencoba bunuh diri bersama anak bungsunya, Aep, di rel kereta, tetapi gagal. Sejak itu ia dianggap gila dan kehilangan Aep.
Monolog ini adalah ratapan panjang seorang ibu yang hancur oleh kemiskinan, kekerasan, dan lingkaran kemalangan yang tak terputus. Icih menjadi simbol perempuan kecil yang terus-menerus ditindas oleh sistem, laki-laki, dan takdir yang kejam.
MUSIKAL
CANGKANG #1: MAYAT-MAYAT CINTA | Agung Wijaya
Penulis: Agung Wijaya
Tahun: 2008
Bahasa: Indonesia
“Cangkang #1: Mayat-Mayat Cinta” karya Agung Wijaya adalah naskah teater yang mengisahkan tentang cinta, kehilangan, dan rahasia yang terpendam. Cerita ini berfokus pada beberapa karakter yang terjebak dalam hubungan yang rumit dan penuh intrik. Melalui dialog yang mendalam dan emosional, penonton diajak untuk merenungkan arti cinta dan konsekuensi dari pilihan yang diambil. Dengan latar yang dramatis dan intens, teater ini menciptakan suasana yang memikat, menggugah emosi, dan mengajak penonton untuk menyelami kompleksitas hubungan antar manusia. Meski tidak bisa sepenuhnya dianggap drama musikal, naskah ini menyertakan lirik-lirik untuk dijadikan lagu pada bagian-bagian opening dan pergantian babak.
DOWNLOAD
SAMPEK & ENGTAY | N. Riantiarno
Judul : Sampek & Engtay
Penulis : N. Riantiarno
Bahasa: Indonesia
Tahun : –
Panjang Naskah : 69 Halaman
Sampek & Engtay merupakan pengolahan legenda percintaan Tiongkok ke dalam lingkungan sosial dan budaya Betawi. Naskah ini memadukan tragedi cinta, komedi, nyanyian, kritik sosial, dan permainan teater yang secara sadar memperlihatkan proses pementasannya kepada penonton.
Sinopsis:
Engtay, gadis asal Serang, menyamar sebagai laki-laki agar dapat bersekolah di Betawi, sesuatu yang dilarang bagi perempuan pada zamannya. Dalam perjalanan, ia bertemu Sampek, pemuda lugu asal Pandeglang. Keduanya menjadi saudara angkat, belajar di sekolah yang sama, dan tinggal sekamar tanpa Sampek mengetahui identitas Engtay yang sebenarnya.
Kedekatan mereka berkembang menjadi cinta. Namun, ketika Engtay dipanggil pulang, Sampek baru menyadari bahwa sahabatnya adalah perempuan. Ia datang untuk melamar, tetapi terlambat memahami pesan Engtay dan mendapati gadis itu telah dijodohkan dengan Macun, putra Kapten Liong.
Patah hati membuat Sampek jatuh sakit hingga meninggal dunia. Ketika rombongan pengantin Engtay melewati makamnya, Engtay berhenti untuk bersembahyang. Makam itu secara ajaib terbuka, dan Engtay masuk ke dalamnya untuk bersatu dengan Sampek. Kisah mereka kemudian berlanjut dalam simbol-simbol penjelmaan dan keabadian cinta.
Inti cerita: perjuangan cinta dan kebebasan menentukan nasib di tengah kekuasaan keluarga, tradisi, serta keterbatasan manusia menghadapi takdir.
Daftar Karakter:
| Tokoh | Karakter dan fungsi dramatik |
|---|---|
| Sampek | Pemuda 20 tahun asal Pandeglang. Jujur, lugu, tekun belajar, tetapi kurang mampu membaca isyarat perasaan |
| Engtay | Gadis 17 tahun asal Serang. Cerdas, berani, mandiri, dan memperjuangkan hak memperoleh pendidikan |
| Macun | Tunangan Engtay, putra Kapten Liong. Mewakili perjodohan dan kepentingan keluarga |
| Dalang | Narator sekaligus penghubung antara dunia cerita, pemain, dan penonton |
| Juragan Ciok | Ayah Engtay. Penyayang, tetapi terikat adat dan kewajiban sosial |
| Nyonya Ciok | Ibu Engtay. Memahami keinginan putrinya, tetapi tetap mempertahankan norma perkawinan |
| Nio | Ayah Sampek |
| Nyonya Nio | Ibu Sampek, dominan dan ekspresif |
| Sukiu | Pelayan Sampek. Komikal, cerewet, dan menjadi penggerak sejumlah peristiwa |
| Suhiang | Pelayan Engtay yang cerdik dan mendukung keinginannya bersekolah |
| Jinsim | Pengasuh Engtay, lebih konservatif dalam memandang kedudukan perempuan |
| Antong | Suami Jinsim, pelayan keluarga Ciok |
| Kapten Liong | Ayah Macun, tokoh berpengaruh yang memiliki hubungan utang budi dengan keluarga Ciok |
| Guru | Pengajar di Sekolah Putra Bangsa |
| Murid-1 | Murid sekolah, mendukung adegan pendidikan dan komedi |
Peran lain yang tercantum adalah Orang/Penggali Kubur, Romeo, Juliet, Roro Mendut, Pronocitro, dan Adipati Wiraguna. Naskah juga membutuhkan kelompok murid, rombongan arak-arakan, pengangkat dan pengawal tandu, pengiring pengantin, penggali kubur, serta pemain tanpa dialog.
Jumlah pemain dapat dikurangi melalui perangkapan peran, terutama untuk tokoh-tokoh episodik.
