The Ego and His Loss : Membaca Pengulangan, Menerka Hantu
Ada bentuk-bentuk teater yang rasanya tak mudah dipahami hanya dalam sekali tontonan. Dengan kata lain, keadaan dan kondisi ketika kita menyaksikannya sangat memengaruhi cara kita menangkap apa yang berlangsung di atas panggung. The Ego and His Loss karya Dracom (ditulis dan disutradarai oleh Jun Tsutsui), barangkali, adalah salah satu jenis teater semacam itu. Setidaknya itulah yang saya rasakan setelah menyaksikannya dalam dua kesempatan berbeda, di tempat dan suasana yang tak sama.
Pada pengalaman pertama di Pendopo Diponegoro, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), Yogyakarta (31 Juli 2026), saya nyaris hanya merasakan sedikit afeksi. Pementasan ini ditempatkan di ujung perhelatan Asian Playwright Meeting (APM) 2026. Setelah hampir sepekan mengikuti rangkaian kegiatan dan menyaksikan beragam pertunjukan yang cukup menguras energi, penampilan Dracom terasa sulit untuk dicerna. Ritmenya yang lambat, pengulangan yang masif, gerak-gerik yang halus, serta dialog-dialog puitisnya nyaris tak banyak meninggalkan bekas di benak. Pertunjukan ini jelas menuntut kadar konsentrasi yang tinggi. Sepulang menonton, yang tersisa hanya rasa tragis dan kesedihan yang mengendap.
Barulah pada kesempatan kedua, di Djakarta International Theatre Platform (6 Agustus 2026), saya menemukan banyak hal yang sebelumnya luput dari pemahaman. Mungkin karena pada kesempatan ini saya datang dengan kesiapan yang lebih baik. Meski begitu, satu kesimpulan tetap tak berubah, pertunjukan ini memang bukan jenis tontonan yang bisa langsung dipahami hanya dalam satu kali kegiatan menonton. Maka, tulisan setelah ini sebagian besarnya didasarkan pada pengalaman menonton kedua saya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
The Ego and His Loss dibuka dengan suasana mencekam. Dalam keheningan dan kegelapan, setelah Jun Tsutsui—yang juga memerankan Mickey, sang pembunuh—menjelaskan bahwa ini adalah cerita fiksi tentang pembunuhan seorang perempuan Vietnam di Jepang, terdengar jeritan dari panggung yang sepi, jeritan seorang wanita yang ketakutan. Saat lampu kembali menyala, Mickey muncul dan dengan gestur datar melontarkan sebaris kalimat tajam:
Ada dua jenis revolusi yang bisa dilakukan untuk membasmi hantu Satu, jangan punya anak Dua, bunuh diri Tak satu pun dapat tercapai tanpa menggunakan kehendak bebas yang sesungguhnya
Siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan “hantu” ini? Hantu sebagai makhluk halus dalam cerita rakyat? Masa lalu yang tak terselesaikan? Penyesalan atas kesalahan? Atau ketakutan akan masa depan? Di awal, kita bisa menduganya sebagai apa saja, termasuk menduga bahwa jeritan pembuka tadi berasal dari arwah penasaran wanita yang mati terbunuh.
Namun, setelah menyaksikan keseluruhan pertunjukan, kita akan menyadari bahwa “hantu” itu merangkum semua yang saya sebutkan diatas sekaligus. Dialog-dialognya yang berlapis memungkinkan kita untuk menafsirkan hantu sebagai satu entitas tertentu, sekaligus sebagai kumpulan entitas lain yang sama-sama berpotensi menghantui.

Karya ini, meskipun diawali dengan klaim sebagai fiksi, ternyata berpijak pada peristiwa nyata yang terjadi di Osaka pada tahun 2022. Peristiwa yang dimaksud adalah kasus pembunuhan pada April 2022. Korbannya adalah Võ Thị Lệ Quyên, seorang perempuan Vietnam berusia 31 tahun. Ia datang ke Jepang sekitar lima setengah tahun sebelumnya setelah menikah. Di Vietnam, ia pernah belajar bahasa Jepang di universitas, dan bercita-cita untuk melanjutkan studi pascasarjana di Jepang, lalu pulang ke tanah airnya untuk mengajar bahasa Jepang. Untuk membiayai hidup dan pendidikannya, ia bekerja paruh waktu di sebuah kedai bento (makanan kotak) di lantai dasar sebuah bangunan di kawasan Yodogawa, Osaka.
Pelaku adalah tetangga di lantai atasnya, Yamaguchi Toshiie, seorang sopir truk berusia 59 tahun. Pada pagi hari tanggal 3 April 2022, sekitar pukul 08.35, rekaman kamera pengawas di kedai bento memperlihatkan Quyên keluar bersama Yamaguchi, pria yang tinggal di lantai dua bangunan yang sama. Yamaguchi membujuk Quyên untuk naik ke kamarnya dengan alasan ingin meminjam uang. Di dalam kamar, ketika Quyên berteriak, Yamaguchi membunuhnya dengan cara mencekik lehernya dari belakang. Ia lalu merampas tas tangan Quyên.
Setelah membunuh, Yamaguchi menyembunyikan jasad Quyên di dalam kantong kasur bertekanan, mengikatnya dengan lakban, dan menyembunyikannya di balik lemari televisi dengan mesin pembersih udara diletakkan di atasnya. Ia kemudian melukai lehernya sendiri dengan pisau dapur karena takut kejahatannya terbongkar.
Sore harinya, pemilik kedai bento melapor ke polisi karena Quyên tidak kembali dari istirahatnya. Polisi tiba di lokasi dan menemukan Yamaguchi dalam keadaan pingsan dengan luka di leher, lalu membawanya ke rumah sakit. Namun, saat itu jasad Quyên belum ditemukan. Barulah keesokan harinya, 4 April 2022, polisi menemukan mayat Quyên yang tersembunyi di kamar Yamaguchi. Otopsi memastikan bahwa ia dibunuh sekitar pukul 09.00 pagi pada 3 April.
Yamaguchi ditangkap pada 6 April 2022 dengan tuduhan pembunuhan berencana disertai perampokan dan pembuangan mayat. Dalam pengakuannya, ia menyatakan: “Karena hidup semakin sulit, saya pikir akan merampok uang karyawan toko itu, tetapi karena dia melawan, saya membunuhnya”.
Pada 3 Februari 2023, Pengadilan Negeri Osaka menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada Yamaguchi. Hakim Ketua Nakagawa Ayako menyatakan bahwa tindakan Yamaguchi adalah “tindakan egois demi uang yang sangat keji” dan “tidak terlihat adanya penyesalan yang tulus”.
Dari peristiwa inilah Dracom dan Jun Tsutsui menggali bahan untuk The Ego and His Loss. Namun, apa yang dihadirkan di atas panggung malam itu bukanlah proses untuk merekonstruksi fakta, melainkan lebih kepada rangsangan untuk bertanya, apa yang menyebabkan seorang manusia kehilangan “dirinya” hingga tega membunuh musim semi orang lain?

Pengulangan, Musik, dan Cermin
Pementasan dijalankan dengan set panggung yang sederhana. Kedai bento dan kamar pelaku tidak ditata secara vertikal, melainkan disandingkan dan hampir menyatu. Seolah-olah hendak mengatakan bahwa jarak antara yang membunuh dan yang dibunuh, antara yang terdesak dan yang bermimpi, sebenarnya amat tipis. Pelaku diberi nama Mickey, tetapi dengan latar belakang yang tetap sama dengan pelaku aslinya: sopir truk paruh baya dari generasi yang kehilangan pegangan, yang bahkan tak mampu lagi membeli sekotak bento. Wanita Vietnam di panggung itu tidak disebut namanya dan ia digambarkan sebagai seseorang yang bisu. Suaranya tak pernah terdengar sepanjang pertunjukan, kecuali setelah ia mati, ketika suaranya justru muncul sebagai hantu yang menghantui Mickey.
Sepanjang pertunjukan, apa yang dialami penonton sebenarnya adalah suasana hati yang dirasakan Mickey belaka. Kata-kata yang dibingkai secara puitis dan gerakan-gerakan yang dikarikaturkan seperti koreografi—yang terkadang diulang—meningkatkan tensi akan rasa tekanan hidup yang tak terelakkan. Pengulangan ini bagaikan putaran yang tak bisa dihindari. Tak peduli seberapa keras kita berusaha melarikan diri, ia tetap berulang dalam ingatan.
Pengulangan yang paling terasa adalah soal keberadaan musim semi. Kadang-kadang, musik klasik yang lazim digunakan untuk upacara masuk dan kelulusan di sekolah bergema di atas panggung, sementara TV di kamar Mickey terus menayangkan gambar bunga sakura. Namun, bagi Mickey, musik samar yang terbawa angin hanya terdengar seperti kutukan yang diputar berulang-ulang. Barangkali karena musim semi dan musik menandai datangnya hari-hari baru, dan di sisi lain, Mickey sendiri tetap terperangkap dalam siklus kehidupan sehari-harinya yang tak terelakkan dan membosankan.
Berbeda dengan Mickey, tokoh yang disebut sebagai Pewaris menyebut musik yang sama sebagai “perasaan haru karena lahir di negara ini yang diulang-ulang.” Namun, alih-alih merayakan kehidupan setiap individu, perasaan ini hanyalah sikap pasrah untuk menundukkan kehidupan individu ke dalam prinsip kapitalisme. Dalam pengertian itu, semua tokoh di atas panggung menjadi terlihat sebagai manusia yang terbenam dalam struktur yang sama dan dalam pengertian ini, sebenarnya tidak ada perbedaan di antara mereka.
Ada satu keputusan dramaturgis yang menarik pada pementasan ini. Dalam peristiwa nyata, Yamaguchi tertangkap dan divonis penjara seumur hidup. Namun di atas panggung kali ini, Mickey diceritakan lolos dari penangkapan. Polisi yang datang tidak menemukan mayat wanita Vietnam itu. Di akhir pertunjukan, wanita Vietnam yang bisu itu akhirnya bangkit dan berbicara:
“Karena kau tak lagi mampu membeli bento-mu, ini satu-satunya cara aku bisa berbicara denganmu. Tetapi jika kau masih mampu membeli bento-mu, apakah kau pikir kau akan mendengarkanku seperti ini?”
Kata-katanya kemudian mengubah warna lampu di latar panggung menjadi merah dan kuning, warna bendera nasional Vietnam. Ia lalu mengungkapkan kisah-kisah tentang kehidupan yang mengarah pada kehidupannya dan kisah-kisah tentang Vietnam yang dilalui oleh nenek buyut, nenek, dan ibunya. Setelah itu, ia membuka semua jendela ruangan yang tertutup. Namun yang tampak di balik jendela bukanlah pemandangan luar, melainkan cermin yang memantulkan wajah penonton.

Di titik inilah pertunjukan menarik benang merah antara fakta dan pemaknaan. Nama Quyên, dalam permainan simbolik di atas panggung, ditafsirkan sebagai “musim semi.” Maka pembunuhan terhadapnya bisa ditafsirkan sebagai “pembunuhan atas musim semi”, atau, dengan kata lain, metafora untuk mematikan harapan, masa depan, dan awal yang baru.
Tetapi pertunjukan ini, seperti saya katakan sebelumnya, sebenarnya sedang bertanya lebih jauh tentang siapakah yang sesungguhnya telah membunuh musim semi itu? Mickey toh hanyalah pelaku eksekusi. Namun “hantu” yang sesungguhnya—tekanan sistem, kapitalisme yang tak pernah puas, dan siklus hidup yang berulang tanpa henti—adalah yang telah lama mencekik Mickey jauh sebelum ia mencekik leher Quyên.
Revolusi yang ditawarkan di awal pertunjukan (tidak punya anak atau bunuh diri) pada akhirnya adalah jalan buntu, karena keduanya membutuhkan kehendak bebas, sedangkan Mickey, seperti banyak dari kita, telah kehilangan kehendak bebasnya sejak lama. Maka sebaris kalimat yang diucapkan Mickey setelah percobaan bunuh dirinya gagal itu menjadi terasa lebih bermakna:
Revolusiku telah gagal Masih terdengar di telingaku Tangisan pertama bayi yang baru lahir itu
Dan cermin di akhir pertunjukan itu pun diam-diam mengajak kita untuk memberikan pengakuan bahwa kita semua adalah bagian dari dunia yang menciptakan tragedi ini. Kita mungkin berpaling ketika berita itu (pembunuhan di Osaka atau pembunuhan-pembunuhan lain di sekitar kita) muncul di layar televisi. Kita mungkin menganggapnya sebagai kasus kriminal biasa. Namun dengan duduk di kursi penonton dan menyaksikan pertunjukan ini sampai tuntas, mau tidak mau kita disodori suara yang selama ini terbungkam oleh sistem.
Kita tahu bahwa ada vonis penjara seumur hidup bagi pelakunya, dan di saat yang sama kita juga tahu ada pertanyaan yang tak pernah terungkap di ruang sidang tentang apa sebenarnya yang menyebabkan seorang manusia kehilangan “dirinya” hingga tega membunuh musim semi orang lain? Meski pertunjukan ini tidak secara eksplisit memberikan jawaban, mereka memberikan kita petunjuk dengan menyodorkan cermin yang memperlihatkan wajah-wajah penonton di sana, yang tidak lain adalah wajah-wajah kita sendiri.

- The Ego and His Loss : Membaca Pengulangan, Menerka Hantu - 12 Agustus 2026
- Seabad Dardanella dan Hal-hal yang Tersisa Setelahnya - 14 Juli 2026
- Dokumen Minor : Ketika Pesta Kampung Membongkar Narasi Resmi - 17 Juni 2026

