Aksi Nyata Penyelamatan Hutan Habitat Hewan dalam Bentuk Drama Musikal.

Drama Musikal Kargo SD Tumbuh

Setiap hari area hutan habitat asli hewan yang hilang adalah kurang lebih seluas 21 hektar atau seluas area Gembiraloka Zoo. Kebakaran hutan, penebangan liar yang dilanjutkan dengan konversi hutan sebagai area perkebunan industri dan pertambangan memaksa hewan-hewan untuk keluar dari habitatnya dan masuk ke pemukiman warga. Konflik antara hewan dengan warga seringkali berakhir dengan perburuan hewan yang dianggap mengganggu warga.

Penemuan Orangutan yang dikurung warga dalam kondisi luka parah akibat dianiyaya warga di Sumatera dan Kalimantan merupakan dampak dari ketidaktahuan warga sehingga dengan dalih mempertahankan diri, penganiyaan hewan tetap berlangsung.

Komodo di Pulau Padar pun telah punah, padahal Pulau Padar adalah salah satu dari Kawasan Taman Nasional Komodo. Komodo di Pulau Padar mati kelaparan karena rusa buruan mereka diburu secara massif oleh pemburu. Habitat komodo yang tersisa saat ini adalah di Pulau Komodo, Pulau Rinca serta Pulau Gili Motang.

Dalam waktu tujuh tahun hingga 2012 jumlah Cenderawasih menurun drastis tinggal seperlima yaitu 7.500 burung yang tersebar di seluruh hutan Papua. Sarang yang rusak dengan cenderawasih mati dan telur-telur pecah sering ditemukan di area penebangan hutan serta area pembukaan hutan untuk kebutuhan konversi lahan menjadi pemukiman penduduk dan kebun kelapa sawit.

Berkurangnya hutan habitat hewan ini menambah ancaman yang dialami hewan-hewan Indonesia selain perburuan, perdagangan hewan ilegal dan penyelundupan hewan yang mengancam orang utan sejak 1869, cenderawasih tahun sejak 1930 dan perburuan rusa pakan komodo 2018.

Langkah-langkah penyelamatan saat ini telah berlangsung melalui kolaborasi pemerintah, kelompok masyarakat pecinta lingkungan dan lembaga swadaya masyarakat nasional dan internasional. Hasilnya adalah jumlah populasi komodo selama lima tahun terakhir dapat stabil sejumlah 5.673 ekor, orangutan 60.000 ekor dan cenderawasih 7.500 ekor dalam habitatnya yang terus berkurang. Konversi lahan terus mendesak mengurangi hutan habitat hewan setiap hari,  sehingga populasi binatang-binatang langka ini terus terancam.

BACA JUGA:  Sayembara Naskah Kethoprak TBY 2017

21 hektar hutan habitat hewan terus dikonversi setiap harinya, semakin banyak orang yang harus disadarkan dan diberitahu. Untuk tumbuhkan inisiatif penyelamatan dan menggalang kolaborasi lebih luas. Sehingga keseimbangan alam dapat dipertahankan dan lingkungan dapat terus lestari.

Siswa-siswi SD Tumbuh 2 tergerak untuk mensosialisasikan masalah ini agar lebih banyak lagi masyarakat yang sadar bahwa setiap hari hutan habitat hewan semakin berkurang melalui Drama Musikal Kargo.

Drama musikal Kargo mempresentasikan habitat-habitat hewan saat ini yang terus berkurang dan penuh ancaman melalui cerita perjalanan satu keluarga yang berniat mengembalikan orangutan, komodo dan cenderawasih ke habitatnya masing-masing.

Aksi nyata penyelamatan hutan habitat hewan dalam bentuk drama musikal Kargo ini diselenggarakan oleh SD Tumbuh 2 – Jogja Educational Spirit yang beralamat di Jl. Amri Yahya No. 1, Gampingan, Yogyakarta. Sebagai bagian dari Jogja Educational Spirit yang mengedepankan pengembangan nilai-nilai budaya lokal untuk bersaing dalam kancah internasional, SD Tumbuh 2 perlu memiliki keistimewaan dalam menjalankan perannya tersebut. Seni sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan menjadi dasar yang membangun karakter dari pembelajaran di SD Tumbuh 2. Seni yang juga mengandung nilai budaya, sejarah, dan ilmu pengetahuan bergabung menjadi satu menumbuhkan keistimewaan SD Tumbuh 2 Yogyakarta.

SD Tumbuh 2 merupakan salah satu sekolah di Yogyakarta yang mengusung inklusivitas, kearifan lokal dan berwawasan global dengan berusaha menanamkan nilai-nilai menghargai dan menerima setiap karakteristik dari individu dengan segala dinamikanya. Dengan menggunakan pendekatan pembelajaran inquiry project, SD Tumbuh 2 mendorong anak-anak untuk memaknai setiap proses belajar anak secara berkesinambungan. Selain itu, SD Tumbuh 2 juga memiliki keunikan dalam menjalankan kegiatan pembelajaran di sekolah salah satunya mengaitkan dengan isu yang sedang berkembang saat ini. Pada semester pertama ini, SD Tumbuh 2 mengambil tema Animals sebagai suatu langkah nyata dalam merespon isu kepunahan hewan yang ada di Indonesia.

BACA JUGA:  A Story of Wounds : Catatan Kru Panggung

Langkah nyata selanjutnya yang kami ambil untuk merespon isu kepunahan hewan adalah bekerja sama dengan Centre for Orangutan Protection  (COP), salah satu organisasi nirlaba yang konsentrasinya untuk menyelamatkan Orangutan di berbagai daerah di Indonesia. Kerja sama yang kami lakukan antara lain:

  • Edukasi dan sosialisasi tentang Orangutan
  • Penyaluran donasi untuk Orangutan pada kegiatan Tumbuh Fair.

 Tumbuh Fair merupakan kegiatan yang memfasilitasi anak-anak untuk mempresentasikan hasil belajar selama satu semester. Tumbuh Fair juga menjadi salah satu bahan penilaian keberhasilan pembelajaran anak-anak. Dengan mendasarkan setiap proses pembelajaran pada tiga topik utama yaitu who we are, Indonesia, dan our earth. Tumbuh Fair kali ini akan membuat sebuah aksi nyata penyelamatan hutan habitat hewan dalam bentuk Drama Musikal Kargo yang didalamnya mempresentasikan habitat-habitat hewan yang saat ini terus berkurang dan penuh ancaman melalui cerita perjalanan satu keluarga yang berniat mengembalikan orangutan, komodo dan cenderawasih ke habitatnya masing-masing. Serta penggalangan dana/donasi yang disalurkan kepada Centre for Orangutan Protection  (COP). Rangkaian acara drama musikal Kargo akan dilaksanakan pada:

Hari/tanggal   : Rabu, 11 Desember 2019

Pukul               : 19.00 – 21.00 WIB

Tempat            : Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *