Teater di Pusaran Perang: Refleksi, Kritik, dan Perlawanan
Sampai bulan Maret 2026 telah pecah beberapa konflik global yang melibatkan kekuatan besar dan sialnya berubah menjadi perang yang melelahkan. Titik api paling berbahaya saat ini berada di Timur Tengah, menyusul serangan udara masif oleh Amerika Serikat dan Israel ke fasilitas nuklir dan militer Iran pada akhir Februari. Dan dilanjutkan serangan balasan bertubi-tubi. Di belahan dunia lain, ketegangan di Amerika Latin mencapai puncaknya setelah intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro pada Januari 2026. Penyerbuan ini memperuncing konflik AS dengan aliansi Rusia dan China. Sementara perang di Ukraina masih terus panas tanpa tanda-tanda akan segera usai.
Belum lagi di Asia Selatan, hubungan antara Pakistan dan Afghanistan memburuk setelah baku tembak di sepanjang garis perbatasan. Konflik perbatasan juga memanas antara Thailand dan Kamboja. Sementara di Afrika, Ethiopia dan Eritrea semakin dekat dengan konfrontasi militer terkait akses pelabuhan di Laut Merah.
Lalu dimana teater di tengah pusaran-pusaran perang itu?

Teater lahir dari rahim perang
Sejak awal perkembangan teater, perang merupakan peristiwa penting, baik sebagai refleksi sosial, alat propaganda politik, maupun sarana kritik terhadap kekerasan. Dalam sejarah teater Barat, hubungan ini dapat ditelusuri hingga teater Yunani Kuno pada abad ke-5 SM. Pada masa itu, warga Athena sering terlibat dalam konflik militer seperti Persian Wars dan Peloponnesian War, sehingga pengalaman perang menjadi tema penting dalam tragedi Yunani. Pentas seperti The Persians karya Aeschylus menggambarkan kekalahan Persia dalam Battle of Salamis dari sudut pandang pihak musuh. Teater bukan hanya merayakan kemenangan perang tetapi juga mengeksplorasi penderitaan dan trauma yang ditimbulkannya. Menurut Goldhill (2004), tragedi Yunani berfungsi sebagai ruang sosial untuk memproses konflik politik dan militer yang dialami masyarakat Athena, sekaligus menciptakan bentuk refleksi moral kolektif terhadap kekerasan perang.
Kekaisaran Romawi sering menggunakan pertunjukan publik untuk merayakan kemenangan perang untuk menguatkan legitimasi kekuasaan kaisar dan propaganda negara. Penelitian Beacham (1991) menunjukkan bahwa drama Romawi tidak hanya bertujuan menghibur masyarakat, tetapi juga memperkuat ideologi kekuasaan dan dominasi militer.
Pada Abad Pertengahan, teater berkembang dalam bentuk drama religius seperti mystery plays, morality plays, dan passion plays yang dipentaskan oleh komunitas gereja. Walaupun tema utamanya bersifat teologis, banyak cerita yang memuat simbol konflik antara kebaikan dan kejahatan yang secara ideologis paralel dengan konflik religius seperti perang salib. Dalam konteks ini, teater berfungsi sebagai media pendidikan moral sekaligus sarana untuk membangun legitimasi religius terhadap konflik yang terjadi di masyarakat (Fischer-Lichte, 2014).

Hubungan paling erat antara teater dan perang terjadi pada abad ke-20 setelah dua perang dunia. Banyak dramawan mulai menggunakan teater sebagai sarana kritik terhadap militerisme dan dampak sosial perang. Salah satu contoh terkenal adalah drama Mother Courage and Her Children karya Bertolt Brecht, yang menggambarkan bagaimana perang menciptakan siklus penderitaan dan eksploitasi ekonomi. Melalui konsep epic theatre, penonton diajak berpikir kritis terhadap struktur sosial yang memungkinkan perang terjadi (Brecht, 1964). Demikian pula, teater dokumenter dan teater politik pada abad ke-20 sering mengangkat pengalaman nyata dari perang untuk mengungkap trauma kolektif masyarakat. Hal ini menunjukkan teater sebagai ruang diskusi untuk memahami dampak psikologis dan sosial dari konflik bersenjata (Kershaw, 2007).
Teater sebagai cermin perang
Dalam teater Yunani kuno, tragedi sering menggambarkan dampak sosial dan moral dari konflik bersenjata. Salah satu contoh paling terkenal adalah The Trojan Women karya Euripides, yang menceritakan penderitaan perempuan Troya setelah kota mereka dihancurkan dalam Perang Troya. Drama ini menyoroti trauma korban sipil dan kehilangan kemanusiaan akibat perang, sehingga sering dipandang sebagai salah satu karya anti-perang paling awal dalam sejarah teater.
Karya-karya William Shakespeare seperti Henry V menggambarkan kepemimpinan militer Raja Henry dalam kemenangan Inggris atas Perancis pada Battle of Agincourt. Selain itu, karya Shakespeare lainnya seperti Coriolanus juga menggambarkan konflik antara militerisme dan politik sipil dalam masyarakat Romawi. Drama-drama Shakespeare sering dianggap sebagai representasi kompleks tentang kekuasaan, perang, dan identitas nasional pada masa awal pembentukan negara modern (Greenblatt, 2010).
Musikal teater Oh! What a Lovely War yang dipopulerkan oleh Joan Littlewood menyajikan satire tajam terhadap absurditas World War I dengan menggunakan lagu-lagu populer dan arsip sejarah. Drama Journey’s End karya R. C. Sherriff menggambarkan kehidupan tentara Inggris di parit selama Perang Dunia I, sementara produksi teater modern seperti Black Watch karya Gregory Burke menampilkan pengalaman tentara Skotlandia dalam Perang Irak.
Naskah Damai karya Putu Wijaya menyajikan paradoks perang melalui kisah seorang orator yang berdebat dengan anak kecil, menyuarakan gagasan tentang “perang adalah damai” dan secara ironis menekankan bahwa perang sebagai benteng perdamaian. Perang secara mitologis juga tercermin, misalnya naskah Jagapati Puputan karya Sandi yang terinspirasi dari Perang Puputan Bayu, mengusung tema perjuangan dengan irama tragis, mengisahkan perlawanan Pangeran Jagapati dan menonjolkan nilai-nilai nasionalisme serta pengorbanan. Dari masa revolusi fisik Indonesia, naskah Domba-domba Revolusi karya Bambang Soelarto menjadi salah satu yang paling banyak dipentaskan karena memiliki kisah lengkap antara asmara, siasat perang, dan pengkhianatan di tengah pergolakan.
Teater Koma menyadur naskah klasik Rusia Inspektur Jendral karya Nikolai Gogol, yang dibalut dengan konsep pewayangan untuk mengisahkan “peperangan” melawan korupsi di negeri fiksi. Bahkan naskah saduran lain seperti Pakaian dan Kepalsuan oleh Achdiat K. Mihardja, meskipun bukan murni cerita perang, memuat dialog-dialog nostalgia dan cerita heroik dari masa revolusi yang diceritakan para tokohnya, menunjukkan bagaimana pengalaman perang tetap membekas dan diperdebatkan dalam interaksi sosial pasca-konflik.
Saya sendiri menulis beberapa naskah tentang perang, salah satunya diproduksi oleh Malang Study-Club for Theatre (MASTER) dengan judul 1944 atau Lubang Gelap yang Menelan Segalanya pada tahun 2021. Naskah ini bukan menyoroti mereka yang berjuang di medan perang, tetapi mereka yang terimbas oleh kekerasan perang. Bagaimana seorang pelaku perang yang merasa bersalah pada keluarga korban yang dibunuhnya.


Teater di medan perang
Dalam sejarah militer modern, pertunjukan teater, musik, dan komedi sering dipentaskan di garis belakang atau kamp militer sebagai bagian dari strategi menjaga kondisi mental tentara selama perang. Pada World War I, misalnya, banyak tentara Inggris dan Prancis mengadakan pertunjukan teater improvisasi di parit atau kamp militer. Pertunjukan ini biasanya berupa komedi, parodi, atau musik yang dimainkan oleh tentara sendiri untuk mengurangi tekanan psikologis akibat kondisi perang yang ekstrem. Aktivitas seni semacam ini berfungsi sebagai coping mechanism kolektif (upaya menjaga kewarasan) yang membantu tentara menghadapi trauma, ketakutan, dan isolasi selama konflik bersenjata (Winter, 1995).
Praktik serupa juga berkembang pada World War II, ketika berbagai negara secara sistematis mengorganisasi pertunjukan hiburan untuk pasukan. Di Amerika Serikat, organisasi seperti United Service Organizations (USO) mengirim aktor, penyanyi, dan komedian untuk tampil di pangkalan militer di Eropa dan Pasifik. Pertunjukan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai alat propaganda yang memperkuat semangat nasionalisme dan solidaritas di antara prajurit. Ini merupakan strategi psikologis militer untuk menjaga motivasi pasukan dan memperkuat identitas kolektif mereka (Fussell, 1975). Studi dalam bidang psikologi budaya menunjukkan bahwa aktivitas artistik seperti teater dapat membantu individu memproses pengalaman traumatis melalui narasi simbolik dan interaksi sosial (Thompson, 2009).

Bisakah teater menghentikan perang?
Pertanyaan “apakah teater dapat menghentikan perang?” sering muncul dalam diskusi tentang fungsi sosial seni teater. Secara realistis, teater tidak memiliki kekuatan institusional untuk menghentikan konflik bersenjata secara langsung, tidak pula secara instrumental mampu membuat musuh bertekuk-lutut seperti bom atom. Namun dalam studi seni pertunjukan dan ilmu sosial, teater dapat memainkan peran penting dalam membentuk kesadaran politik masyarakat, membangun empati terhadap korban, serta mengkritik legitimasi kekerasan (Kershaw, 2007; Thompson, 2009).
Salah satu pendekatan yang secara eksplisit menghubungkan teater dengan perjuangan melawan penindasan adalah metode Theatre of the Oppressed yang dikembangkan oleh Augusto Boal pada akhir 1960-an di Brasil. Metode ini lahir dalam konteks rezim militer dan ketimpangan sosial yang tinggi di Amerika Latin. Boal memandang teater bukan sekadar pertunjukan estetis, melainkan alat politik yang dapat membantu masyarakat memahami dan melawan struktur penindasan (Boal, 1979).
Salah satu teknik utama dalam metode ini adalah Forum Theatre. Dalam teknik ini, sebuah adegan yang menggambarkan situasi penindasan—misalnya kekerasan negara, diskriminasi sosial, atau konflik politik—dipentaskan terlebih dahulu. Setelah itu penonton dapat menghentikan adegan dan menggantikan tokoh tertentu untuk mencoba berbagai strategi dalam menghadapi penindasan tersebut. Proses ini menciptakan ruang simulasi sosial di mana masyarakat dapat menguji kemungkinan tindakan kolektif tanpa kekerasan (Boal, 1979).
Dalam perspektif ini, teater tidak menghentikan perang secara langsung, tetapi bekerja pada tingkat kesadaran sosial dan imajinasi politik. Boal berpendapat bahwa konflik dan kekerasan seringkali bertahan karena masyarakat menerima struktur kekuasaan yang menindas sebagai sesuatu yang normal. Dengan melibatkan masyarakat dalam proses teater partisipatif, individu dapat melihat kembali hubungan kekuasaan tersebut dan membayangkan alternatif tindakan yang lebih adil (Boal, 1979; Prentki & Preston, 2009).
Dalam perkembangan teater kontemporer, perang tidak hanya dipandang sebagai tema dramatik, tetapi juga sebagai objek eksperimen artistik dan metodologis dalam berbagai pendekatan teater modern. Salah satu pendekatan yang berkembang adalah Documentary Theatre, yaitu bentuk teater yang menggunakan dokumen nyata seperti arsip sejarah, laporan militer, wawancara tentara, atau kesaksian korban perang sebagai bahan dramaturgi. Pendekatan ini bertujuan menghadirkan konflik bersenjata secara faktual dan kritis di atas panggung. Dramawan seperti Peter Weiss menggunakan metode ini dalam karya-karya yang memanfaatkan transkrip pengadilan atau dokumen sejarah untuk merekonstruksi pengalaman kekerasan dan perang. Menurut Paget (1987), teknik dokumenter memungkinkan teater menjadi ruang kritik terhadap narasi resmi negara mengenai konflik bersenjata karena materi dramatiknya berasal dari kesaksian nyata masyarakat yang mengalami perang secara langsung.
Selain itu, bidang Applied Theatre juga berkembang sebagai pendekatan eksperimental yang menggunakan teater dalam konteks sosial nyata, terutama di wilayah yang mengalami konflik atau pascaperang. Dalam praktik ini, pertunjukan tidak selalu dilakukan di gedung teater, tetapi di komunitas korban konflik, kamp pengungsi, atau masyarakat yang mengalami trauma akibat perang. Tujuannya adalah menggunakan proses teater sebagai alat dialog sosial, rekonsiliasi, dan pemulihan trauma kolektif. Penelitian dalam bidang ini menunjukkan bahwa partisipasi dalam aktivitas teater dapat membantu masyarakat memproses pengalaman kekerasan melalui narasi simbolik serta membangun empati antar kelompok yang sebelumnya berkonflik (Thompson, 2009; Prentki & Preston, 2009).
Pendekatan lain yang juga sering menggunakan perang sebagai objek eksperimen dramaturgi adalah Postdramatic Theatre yang diperkenalkan oleh Hans-Thies Lehmann. Dalam teater post-dramatis, konflik dan kekerasan tidak lagi disajikan melalui cerita linear seperti drama klasik/dramatik, tetapi melalui fragmentasi narasi, eksplorasi tubuh aktor, visual ekstrem, serta penggunaan multimedia yang intens. Pendekatan ini mencerminkan realitas perang modern yang kompleks dan sering kali sulit dijelaskan melalui struktur cerita tradisional. Lehmann (2006) berpendapat bahwa teater kontemporer menggunakan tubuh, ruang, dan pengalaman sensorik sebagai medium untuk menghadirkan trauma perang secara lebih langsung kepada penonton.
Selain itu, praktik Immersive Theatre juga mulai digunakan untuk mengeksplorasi pengalaman perang secara eksperimental. Dalam bentuk ini, penonton tidak lagi duduk sebagai pengamat pasif, tetapi ditempatkan di dalam ruang pertunjukan yang dirancang menyerupai situasi konflik, seperti bunker militer, ruang pengungsian, atau lingkungan pascaperang. Pendekatan ini bertujuan menciptakan pengalaman sensorik yang membuat penonton merasakan secara langsung atmosfer ketegangan, ketakutan, dan ketidakpastian yang sering dialami dalam situasi perang (Machon, 2013).
Menjelang Hatedu, kita masih acuh?
Akhir maret ini para penghayat teater akan merayakan Hari Teater Dunia. Beberapa tahun terakhir tema perang dan kemanusiaan menjadi isu hangat di International Theatre Institute ITI (https://www.world-theatre-day.org/). Sialnya tahun ini Message for World Theatre Day 2026 ditulis oleh Willem Dafoe yang justru bicara tentang karirnya alih-alih bicara tentang keprihatinan semakin meluasnya perang. Berkaca dari beberapa puluh tahun terakhir, perayaan Hatedu di Indonesia juga sangat jarang menyentuh isu terkini. Panggung-panggung teater kita masih diisi cerita-cerita kuno, self-portrait dan isu sepele lain yang membuat kita lupa sedang berada di tengah segala persoalan lokal, regional dan global. Kita masih terus bernostalgia dengan mementaskan naskah-naskah lama yang usang dan semakin menjauhkan dengan realitas hari ini. Selain bicara perang, kita mesti membawa masuk segala perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, media sosial dan segala yang dekat dengan kita. Sehingga, teater kembali menjadi ruang “akrab” bukan utopis dan nostalgis yang memuakkan.
Referensi
Beacham, R. (1991). The Roman theatre and its audience. Harvard University Press.
Boal, A. (1979). Theatre of the oppressed. Pluto Press.
Brecht, B. (1964). Brecht on theatre: The development of an aesthetic. Hill and Wang.
Fischer-Lichte, E. (2014). The Routledge introduction to theatre and performance studies. Routledge.
Fussell, P. (1975). The Great War and modern memory. Oxford University Press.
Goldhill, S. (2004). Love, sex and tragedy: How the ancient world shapes our lives. University of Chicago Press.
Greenblatt, S. (2010). Shakespeare’s freedom. University of Chicago Press.
IWM (2025). https://www.iwm.org.uk/collections/item/object/205246323
Kershaw, B. (2007). The politics of performance: Radical theatre as cultural intervention. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203412282
Lehmann, H.-T. (2006). Postdramatic theatre. Routledge.
Machon, J. (2013). Immersive theatres: Intimacy and immediacy in contemporary performance. Palgrave Macmillan.
MASTER (2021). https://www.instagram.com/p/CM9uTZBhF7e/
Natalie Haynes (2020). The Persians review – a triumph of empathy for a time of Covid-19. https://www.theguardian.com/stage/2020/jul/26/the-persians-review-a-triumph-of-empathy-for-a-time-of-covid
Paget, D. (1987). Verbatim theatre: Oral history and documentary techniques. New Theatre Quarterly, 3(12), 317–336. https://doi.org/10.1017/S0266464X00002463
philosophie (2009). Theatre Review: Mother Courage & Her Children @ NT. https://londonist.com/2009/10/theatre_review_mother_courage_her_c
Prentki, T., & Preston, S. (2009). The applied theatre reader. Routledge.
Thompson, J. (2009). Performance affects: Applied theatre and the end of effect. Palgrave Macmillan.
Winter, J. (1995). Sites of memory, sites of mourning: The Great War in European cultural history. Cambridge University Press.
Sudah baca yang ini?:
Jejak Arifin C Noer di Festival Teater Cirebon ke-5, 25-29 April 2019
Surat Cinta Untuk Dik Yogix dan Layer yang Terbengkalai: Catatan Atas Pertunjukan Julius Caesar R...
Mother Earth, Ekspresi Keluhuran Ibu
Semoga Tak hanya Satu Kali : Catatan untuk pentas “Hanya Satu Kali” – Sasmita Teat...
Berani Tua Setelah Menonton Pertunjukan Teater Lansia
Seberapakah Kita Memberi Ruang Pada Ekspresi Tubuh, Gerak, dan Penciptaan Tari?
- Teater di Pusaran Perang: Refleksi, Kritik, dan Perlawanan - 16 Maret 2026
- Pocong Menggugat: Eksperimen Cine-Theatre Teater Hampa Indonesia yang Berani tapi Keruh - 18 Januari 2026
- GODOT, KEKERASAN DAN YANG PERGI - 14 Desember 2025
