Selasa, September 8, 2026
ULASANPanggung Teater

The Ego and His Loss : Antara McD, Seragam Loreng dan Musim Semi Yang Mati

Musim semi yang tak ada gunanya, nggak butuh kan?

Apalagi yang dapat menjadi pegangan seseorang ketika sudah kehilangan kendali atas apa yang terjadi di hidupnya, ketika apapun yang dilakukan tidak dapat mengubah keadaan? Harapan? Lalu, ketika harapan sudah dirasa tidak berguna, apa lagi yang dapat membantu kita melanjutkan  hari?

The Ego and His Loss by Dracom Japan

Dibunuhnya musim semi berulang kali.

Namun, apakah harapan itu salah? Tentu tidak. Tapi kenapa ia yang harus dibunuh berulang kali? Siapa yang membunuhnya?

Malam itu, 31 Juli 2026, pertunjukan The Ego and His Loss karya Jun Tsutsui (dracom, Jepang) hadir dalam rangkaian Asian Playwright Meeting 2027 di Pendopo Diponegoro Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul, Yogyakarta. Kursi penonton penuh, pertunjukan itu dimulai dengan sederhana, sutradara sekaligus tokoh Mickey, Jun Tsutsui, masuk ke atas panggung dan menyampaikan ringkasan cerita.

“Karya ini adalah fiksi. Terinspirasi dari sebuah kasus yang pernah terjadi di Osaka, Jepang. Namun, semua tokoh, perusahaan, dan unsur lain dalam cerita ini sepenuhnya fiktif. Seorang pria Jepang yang tinggal di lantai dua, merampas uang seorang perempuan Vietnam yang bekerja di Kedai Bento di lantai satu gedung yang sama. Pria itu membunuh perempuan tersebut dan akhirnya ditangkap, begitu garis besar ceritanya.”

Jun Tsutsui, director of The Ego and His Loss

Sebagai penonton, ringkasan sederhana yang dipaparkan di awal, membuat saya santai, karena merasa dapat menebak  apa yang akan terjadi di atas panggung. Namun, menariknya rasa santai ini bertahan hanya sesaat. Dalam tenggat waktu beberapa menit kemudian, dengan tegang saya harus benar-benar menyimak apa yang terjadi di atas panggung. Apakah kontras antara kesederhanaan alur cerita yang telah dibuka di awal dengan kompleksitas  adegan yang disusun di atas panggung memang disengaja? Karena bagi saya ini membawa pada imaji bahwa kejadian yang diberitakan, diceritakan, dituliskan melalui—media apapun, sedetail apapun, kenyataannya selalu lebih kompleks. Ketika kejadian itu diberitakan, diceritakan, dituliskan, tentu selalu akan ada reduksi. Begitupun mungkin kisah kasus pembunuhan yang menjadi inspirasi karya ini. Ia tidak sesederhana soal pembunuhan karena masalah keuangan seperti yang diberitakan. Dan yang paling tahu apa yang terjadi adalah orang-orang yang mengalaminya, termasuk si pembunuh itu sendiri.

Di titik ini, pembukaan pertunjukan yang tampak sederhana justru terasa seperti sebuah jebakan. Kita diberi cerita seolah-olah kita sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Namun, ketika pertunjukan berlangsung, kita dihadapkan pada kesadaran bahwa mengetahui alur sebuah peristiwa tidak sama dengan memahami peristiwa itu sendiri. Ini kemudian bagi saya menjadi dasar pertanyaan terhadap semua peristiwa yang perlahan dihantarkan oleh karya ini.

Dari kisah pembunuhan itu sendiri, hingga cerita yang menyinggung sejarah pendudukan kekaisaran Jepang di Vietnam, dan secara general di wilayah Indochina yang dimulai sekitar tahun 1940. Tahun 1940 pula, kekuatan kolonial Eropa di Indochina melemah karena Eropa Barat berada di bawah invasi pasukan Nazi. Jauh dari sana, di San Bernardino, California, pada tahun yang sama, kakak beradik Richard dan Maurice McDonald membuka sebuah restoran barbeque.

Apa hubungan peristiwa-peristiwa di atas dengan kisah  Mickey dan Musim Semi–si Pegawai Toko Bento? Mickey seorang laki-laki paruh baya yang tinggal di apato lantai 2 sebuah toko bento. Dalam percakapan-percakapan yang terjadi dalam pertunjukan itu, mereka menggambarkan Mickey adalah seseorang yang lulus dari universitas “Mickey Mouse”. Istilah ini digunakan untuk menyebut gelar universitas tertentu yang tidak mempersiapkan lulusannya untuk pasar kerja dan dianggap tidak bernilai oleh calon pemberi kerja. Mickey digambarkan sebagai bagian dari generasi yang terdampak oleh runtuhnya gelembung ekonomi Jepang pada awal 1990-an.

Situasi tersebut membuat Mickey seperti anak muda lain pada masa itu, kesulitan memperoleh pekerjaan tetap, sebuah kondisi yang kemudian membentuk ketidakpastian ekonomi mereka dalam jangka panjang, hingga mereka memasuki usia yang semakin sulit untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak.

Salah satu referensi menyebutkan bahwa runtuhnya gelembung ekonomi dan stagnasi ekonomi Jepang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi juga oleh faktor internasional yang memiliki peran sama pentingnya. Salah satunya adalah Kesepakatan Plaza (Plaza Accord), yang turut mengubah arah pergerakan nilai tukar Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara lain dalam kelompok G-5 (yang kemudian berkembang menjadi G-7).

The Ego and His Loss by Dracom Japan

Jika analisis ini benar adanya, maka apa yang dihadapi Mickey tidak hanya dipengaruhi oleh persoalan struktural di dalam negeri, tetapi juga oleh struktur ekonomi global. Struktur ekonomi global tersebut pun tidak berdiri sendiri, keputusan-keputusan yang membentuknya tentu bergerak mengikuti dinamika politik di antara negara-negara yang terlibat. Dinamika tersebut bahkan lebih jauh lagi bisa jadi memiliki keterhubungan dengan konsekuensi dari ekses Perang Dunia II, atau lebih jauh lagi…

Dengan demikian, Mickey, seorang individu biasa yang tidak mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, tidak serta-merta dapat dipahami sebagai seseorang yang gagal karena tidak mampu secara akademis atau kurang berusaha. Ada struktur dan rangkaian keputusan ekonomi-politik yang bekerja di luar kendali dan jangkauannya.

Pegawai Toko Bento yang dikisahkan dibunuh oleh Mickey adalah seorang perempuan Vietnam berusia 30 tahunan. Seperti yang dideskripsikan dalam nama penokohannya, ia bekerja di toko bento lantai bawah apato yang ditinggali Mickey. Sesuai yang disampaikan di awal pertunjukan, karya ini terinspirasi dari kisah nyata sebuah kasus pembunuhan di Osaka. Dalam kasus pembunuhan tersebut, nama perempuan yang menjadi korban memiliki nama khas Vietnam yang salah satu unsur katanya jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti burung kedasih (dalam bahasa inggris: cuckoo bird).

Burung ini di belahan negara Eropa dan Asia timur menandai datangnya musim semi, karena mereka meletakkan telurnya di sarang burung lain. Agar strategi ini berhasil, burung kedasih harus tiba tepat waktu saat burung-burung inang tersebut mulai bertelur di musim semi. Jika burung kedasih datang terlalu cepat atau terlalu lambat, siklus reproduksi mereka akan gagal. Oleh karena itu, kehadiran mereka adalah indikator bahwa ekosistem musim semi setempat sudah aktif. Apakah ini yang menjadi dasar tokoh Pegawai Toko Bento ini dinamai Musim Semi?

Bagi saya, yang menarik dalam pertunjukan ini adalah Musim Semi yang menandai harapan, berhadapan dengan Mickey yang seakan menandai harapan yang runtuh. Mickey dan Musim Semi bukanlah sekedar tokoh, namun keterhubungan yang menjadi penanda penting dalam pembacaan terhadap karya ini. Dalam karya ini, adegan Mickey membunuh Musim Semi diulang beberapa kali. Hingga yang terakhir kali, Mickey mengenakan seragam loreng ketika melakukan adegan pembunuhan. Pertanyaannya, mengapa adegan pembunuhan tidak diulang lagi setelah Musim Semi dibunuh Mickey yang “berseragam loreng”? Di titik ini, saya menelan ludah. Apakah kuasa seragam loreng ini benar-benar mampu membunuh Musim Semi? Membunuh harapan, dan memastikan ia tak pernah dapat tumbuh kembali?

Ekses sejarah kolonialisasi, dinamika politik, dan ekonomi global menjadi kerangka bagaimana kedua tokoh ini terbentuk. Ini membawa pada pertanyaan, sebagai manusia di titik apa kita merdeka? Dalam karya ini bahkan digambarkan soal gaya hidup yang berkaitan soal makanan–hal yang paling sehari-hari. Seberapa kita merdeka memilih makanan yang hadir di meja makan? Karena makanan sangat mempengaruhi secara langsung tubuh kita. Tidak hanya fisik belaka, tapi dialah yang menyimpan spiritualitas diri. Maka makanan, sangat mungkin membentuk manusianya.

Persoalannya kemudian bukan sesederhana soal memiliki atau tidak memiliki uang, melainkan soal akses, siapa yang memiliki akses terhadap makanan, siapa yang menguasai produksinya, dan siapa yang menentukan bagaimana makanan beredar. Kalimat “uang selalu berputar, tapi berputar di mana?” bagi saya menjadi penting di sini. Kita mungkin merasa memiliki banyak pilihan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi pilihan itu sendiri berlangsung di dalam sistem yang telah menentukan apa yang tersedia, bagaimana kita mendapatkannya, dan siapa yang memperoleh keuntungan darinya.

The Ego and His Loss by Dracom

Maka, di sinilah logika kolonial bisa jadi tidak berhenti meski secara geografis “kehilangan wilayah jajahan”, dia hanya terus berubah bentuk, bahkan mungkin masuk dalam kehidupan sehari-hari kita, hingga wilayah yang sangat privat. Maka, seberapa jauh kita masih dapat mengendalikan hidup kita jika “para hantu” masih bergentayangan, atau jangan-jangan kita juga bagian dari hantu-hantu ini? Hantu ini mungkin juga hidup dalam sepotong Happy Meal dari McD.

Saya menghargai bagaimana set panggung dalam karya ini tidak dihadirkan secara realis. Saya sendiri tidak cukup memiliki pengetahuan untuk membaca secara spesifik alasan di balik pilihan set maupun lighting-nya. Namun, bagi saya sebagai penonton, bentuk tersebut justru memberi tanda pengingat bahwa apa yang sedang saya saksikan adalah fiksi.

Jarak ini membuat saya tidak sepenuhnya terjebak untuk membaca peristiwa di atas panggung sebagai realitas, bahkan memberi ruang untuk mempertanyakan, dan merefleksikan nya. Secara bahasa, saya pribadi cukup penasaran bagaimana kalau saya dapat memahaminya lewat bahasa Jepang langsung, karena tentu saja penerjemahan bahasa bisa jadi mempengaruhi kadar kepuitisan yang ingin dicapai oleh penulis naskah, padahal salah satu kekuatan dari karya ini adalah cara penulisan teksnya.

Ketika karya ini dipentaskan di Yogyakarta, saya mula-mula bertanya-tanya: apa yang relevan bagi kami di sini? Indonesia dan Jepang memiliki hubungan yang panjang dan kompleks, dari pengalaman pendudukan hingga hubungan ekonomi dan budaya pascakolonial. Pada 1977, misalnya, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Toyota Motor Corporation melalui program Kendaraan Bermotor Niaga Serbaguna (KBNS/KNBS), yang kemudian melahirkan Toyota Kijang sebagai kendaraan yang diproduksi secara lokal. Pada dekade yang sama, budaya populer Jepang juga mulai masuk ke rumah kita melalui televisi. Wanpaku Omukashi Kumu Kumu menjadi salah satu anime awal yang ditayangkan di TVRI, disusul kemudian oleh Doraemon, Sailor Moon, Dragon Ball, dan berbagai serial lainnya yang menjadi bagian dari ingatan beberapa generasi orang Indonesia.

Jepang, dengan demikian, hadir di Indonesia dalam bentuk yang sangat beragam: pernah sebagai kekuatan pendudukan yang penuh kekerasan, kemudian beralih menjadi  mitra ekonomi, sekaligus bagian dari imajinasi budaya sehari-hari. Karena itu, hubungan emosional kedua negara tentu tidak sederhana. Semua terus dinegosiasikan, tidak hanya dalam ranah negara, tapi hubungan antar manusianya. Mungkin inilah yang kemudian membuat karya ini relevan. Ketika menonton karya ini, seperti ada pertanyaan dalam diri, sebenarnya apa yang kita sadari sebagai manusia yang mau tidak mau, memiliki latar belakang kebangsaan ini, supaya tidak abai ketika berhubungan satu sama lain.

The Ego and HIs Loss by Dracom Japan

Bagaimanapun, tindakan dan keputusan orang-orang sebelum kita turut membentuk kondisi kehidupan yang kita jalani hari ini. Gagasan kelahiran kembali dalam Buddhisme yang sempat disebut di satu bagian pertunjukan, bagi saya menarik untuk dibaca lebih luas. Ia tidak harus berhenti pada persoalan apakah kita percaya bahwa kita pernah hidup sebelumnya atau akan terlahir kembali. Ia mungkin saja dapat dipahami sebagai kesadaran bahwa setiap tindakan meninggalkan konsekuensi, dan bahwa kehidupan yang kita jalani hari ini merupakan bagian dari rangkaian sebab-akibat yang panjang dari apa yang dilakukan oleh pendahulu kita sebelumnya.

Mungkin kesadaran semacam inilah yang penting ketika kita saling berinteraksi: menyadari bahwa kita tidak pernah hadir sebagai individu yang sepenuhnya terlepas dari keputusan dan struktur yang dibentuk jauh sebelum kita lahir. Mickey dan Musim Semi pun tidak hadir sebagai sesuatu atau seseorang yang netral, begitupun saya sebagai penonton!

Bagaimana Mickey mengendalikan egonya akan mempengaruhi apakah kita masih dapat menikmati hadirnya Musim Semi berikutnya, atau justru kembali kehilangannya. Sementara itu, Musim Semi sendiri tidak pernah hadir sendirian, ia membawa jejak dari Musim Gugur, dari Dewi Bulan. Lalu kita sebagai penonton, apakah kita akan selalu menjadi penonton saja? Atau kita akan mulai membaca posisi kita di dalam carut marut rangkaian sebab-akibat ini?

Maka, saya mengakhiri tulisan ini dengan sebuah pertanyaan untuk diri sendiri, kesadaran seperti apa yang sesungguhnya perlu kita miliki agar dapat sepenuhnya berdaulat atas diri dan hidup kita?


Keterangan Pertunjukan:

The Ego and His Loss

Pemeran
Yukio Okamura
Minori Sumiyoshiyama
Reiko Takayama
Jun Tsutsui

Kredit
Penulis naskah dan sutradara : Jun Tsutsui
Manajer Panggung : Kodachi Kitagata
Desainer Panggung : Kanako Takekoshi
Asisten Desainer Panggung : Mao Sakai
Penata Lampu : Yuriya Shiomi
Penata Suara : Takenori Sato
Penata Kostum : Saho Matsuda
Manajer Pentas Keliling : Takafumi Sakiyama
Bekerjasama dengan orangcosong
Didukung oleh Japan Creator Support Fund
Diproduksi oleh dracom & precog Co., Ltd.


Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Nia Agustina

Nia Agustina

Berbasis di Yogyakarta, Indonesia, Nia Agustina (Agustin Pandhuniawati Heryani) telah terlibat dalam kerja-kerja bersama praktisi tari muda Indonesia melalui menulis, kuratorial, dan dramaturgi sejak mendirikan Paradance Platform pada tahun 2014.Sejak tahun 2017, bersama suaminya, Ahmad Jalidu, ia turut menumbuhkan gelaran.id, sebuah ruang digital untuk tulisan-tulisan tentang seni pertunjukan. Praktiknya bertumbuh dan terbentuk melalui kerja-kerja dekat dengan koreografer yang bekerja bersamanya.