Nadirah dari Belakang Panggung
Setelah dipentaskan di Singapura, Kuala Lumpur, dan Tokyo, lakon Nadirah hadir untuk pertama kalinya di Jakarta dalam rangkaian SIPFest 2026 pada tanggal 8 dan 9 Agustus 2026. Lakon karya Alfian Sa’at (Singapura) yang disutradarai Iedil Dzuhrie Alaudin (Malaysia) ini dimainkan oleh AKSARA (Alumni Kelas Akting Salihara) yang diproduksi oleh Komunitas Salihara.

Nadirah berkisah tentang seorang mahasiswi Muslim yang aktif menyuarakan toleransi dan dialog antaragama di kampusnya. Namun, keyakinannya diuji ketika sang Ibu memutuskan menikah dengan pria yang berbeda agama. Di tengah tekanan keluarga dan lingkungan, ia dihadapkan pada pertanyaan tentang iman, kasih sayang, dan kebebasan memilih.
Karakter Nadirah diperankan Runny Rudiyanti, Sahirah oleh Sita Nursanti, Maznah dimainkan Meidina Tahir, Robert Goh oleh Reisky Handika, dan Idham Shaffansyah sebagai Faraouk. Saya sendiri terlibat sebagai understudy yang mencatat proses latihan dan erat terlibat dalam kerja pemanggungan bersama Manajer Panggung Iskandar Muda.
Nadirah menjadi pengalaman produksi pertunjukan yang baru bagi saya. Di sini saya melihat dan mencatat seluruh proses latihan dari sudut belakang panggung. Saya menemukan keasyikan yang seru di seluruh proses Nadirah sejak April 2026 lalu.
Ada cara pandang baru bagi saya setelah menjalani proses latihan Nadirah yaitu siasat mendekati sebuah lakon yang tidak harus dimulai dengan memahami para tokohnya. Kadang, yang lebih dahulu harus dipahami adalah dunia tempat tokoh itu hidup. Ketika pertama kali membaca Nadirah, saya mengira proses ini akan seperti latihan-latihan teater yang pernah saya jalani sebelumnya. Membaca naskah, membangun karakter, lalu mencari bentuk permainan yang sesuai dengan visi sutradara.
Namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa produksi ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Bukan karena tingkat kesulitan pemeranan, ataupun metode latihan yang digunakan; melainkan karena saya diajak memasuki cara berpikir masyarakat yang selama ini hanya saya kenal dari kejauhan.

Teks, Konteks, dan Subteks
Sebagai pelakon teater, saya tumbuh dengan pengalaman sosial, budaya, dan keagamaan yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan di luar panggung tempat saya hidup. Tanpa disadari, pengalaman itu menjadi kacamata utama ketika membaca sebuah naskah. Hal itu juga terjadi saat saya pertama kali membaca teks lakon Nadirah. Saya mencoba memahami setiap konflik menggunakan pengalaman saya sendiri, mencari kesamaan, dan menganggap pendekatan itu sudah cukup untuk memahami sebuah teks lakon.
Melalui sesi pembacaan dekat bersama Alfian Sa’at, saya mulai memahami bahwa naskah ini lahir dari konteks sosial dan sejarah Singapura yang berbeda dengan Indonesia. Diskusi mengenai posisi agama dalam masyarakat, sejarah Maria Hertogh yang membawa banyak luka kolektif sebuah bangsa, hingga relasi antara identitas dan keyakinan di sana membuka perspektif baru bagi saya. Saya menyadari bahwa selama ini tidak sedang membaca sebuah teks cerita asing melainkan sedang meresapi sebuah pengalaman hidup dalam konteks sosiologis yang jelas-jelas berbeda.
Hal lain yang paling membekas bagi saya adalah bagaimana subteks dalam Nadirah tidak diletakkan dalam kontras tajam hitam putih yang sepenuhnya benar atau sebaliknya. Sebagai pembaca, saya beberapa kali ingin menentukan siapa yang layak dibela. Namun semakin dalam proses latihan berlangsung, makin saya paham bahwa subteks dari lakon ini memang tidak sedang meminta penontonnya memihak ataupun memilih. Ia justru mengajak mereka untuk memahami alasan di balik setiap pilihan.
Perubahan cara membaca inilah yang menurut saya menjadi salah satu pelajaran penting selama proses latihan. Saya belajar bahwa memahami tokoh bukan berarti serta merta menyetujui semua tindakannya. Memahami tokoh berikut peristiwa di sekitarnya berarti berusaha melihat dunia dari tempat ia berdiri.

Latihan Tak Mengejar Emosi
Selain itu, menarik pula mengikuti latihan oleh Iedil Dzuhrie bersama para pelakon Nadirah. Iedil memberi porsi latihan yang padat untuk bentuk-bentuk Practical Aesthetics dan Repetition Exercise ala Meisner.
Dalam Practical Aesthetics, pelakon diajak untuk tidak terburu-buru menemukan emosi, namun lebih dulu menjawab dan membedah adegan berikut dialog di dalamnya melalui empat pilar utama yaitu literal, wants, essential action, dan as if. Sedangkan Repetition Exercise merujuk pada pentingnya aksi reaksi yang wajar di atas panggung tak harus bertolak dari analisis melainkan dapat bertumpu pada respons natural atas impuls dari lawan main.
Latihan-latihan tersebut mengajak para pelakon untuk tidak mengejar emosi semata. Dalam hal ini, emosi akan muncul sebagai efek, bukan tujuan. Ia hadir sebagai akibat dari tindakan yang jelas. Seorang pelakon harus benar-benar hadir dan mendengar. Pendekatan ini pada akhirnya menunjukkan bahwa respons yang jujur hanya bisa muncul ketika fokus perhatian tidak lagi tertuju pada diri sendiri, melainkan kepada lawan main.

Dari proses itu saya membawa pulang satu kalimat sederhana dari sutradara bahwa sesungguhnya orang lain itu selalu punya hal menarik. Dan itu tidak hanya berlaku di atas panggung. Ia juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari.
Saya menemukan ada spirit yang sama antara metode latihan yang dipilih sutradara dengan jalinan subteks dalam pertunjukan Nadirah. Practical Aesthetics mengingatkan saya dan para pelakon untuk selalu bertanya tentang, apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan oleh orang di depanku? Practical Aesthetics terus mengembalikan kami kepada hubungan antarmanusia di dalam teks bahwa yang diperjuangkan bukanlah gagasan, namun seseorang.
Di saat yang sama, Repetition Exercise mengingatkan, apakah kita sudah benar-benar mendengar? Banyak konflik dalam naskah ini muncul bukan karena tokoh-tokohnya tidak saling mencintai namun lebih pada akibat dari terlalu sibuk mempertahankan keyakinan masing-masing hingga perlahan berhenti mendengarkan orang lain.
Dua pertanyaan itu bukan hanya penting bagi seorang pelakon di panggung namun juga bagi semua orang dalam hidup keseharian. Satu hal yang berubah dalam diri saya setelah menjalani proses Nadirah adalah cara memandang perbedaan. Sebelumnya saya berpikir bahwa memahami orang lain berarti mencari sebanyak mungkin kesamaan. Sekarang saya justru merasa sebaliknya. Memahami orang lain dimulai ketika kita terbuka dan menerima bahwa setiap orang memang niscaya berbeda.
Sebagai pelakon, saya tidak harus memiliki pengalaman serupa dengan tokoh yang saya perankan. Yang perlu saya lakukan adalah membuka ruang untuk memahami mengapa ia melihat dunia dengan cara berbeda dari saya.
Ketika proses latihan dimulai, saya datang dengan tujuan sederhana yaitu mempersiapkan sebuah pertunjukan. Namun ketika proses itu berakhir, saya membawa pulang sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pengalaman artistik. Saya belajar bahwa teater sesungguhnya dapat menjadi ruang untuk melatih empati, meluaskan cara pandang, dan belajar mendengarkan pengalaman hidup yang mungkin tidak pernah kita alami sendiri. Mungkin itulah yang paling akan saya ingat dari Nadirah setelah berproses empat bulan ini. Diam-diam, pertemuan dengan Nadirah mengubah cara saya melihat dunia.

- Nadirah dari Belakang Panggung - 17 Agustus 2026

