fbpx

Joko adalah (bukan) saya : Catatan sebelum pertunjukan Ngono ya Ngono

[Ahmad Jalidu]. Hebohnya kasus KDRT yang masuk berita TV akhir-akhir ini membuat perhatian publik meningkat terhadap kasus perselingkuhan dan kekerasan domestik. Banyak lembaga, juga perorangan di media sosial, ramai membincangkan perihal KDRT. Dan ternyata, demikian pula tema pertunjukan yang akan kami suguhkan pada 23 Oktober 2022 nanti di Taman Budaya Yogyakarta. Adakah momen itu yang memicu karya kami? Mmm… tidak juga. Sebab karya ini sesungguhnya adalah karya lama, yang diproduksi pertama pada 2015 lalu.

Berawal dari sebuah lagu berjudul “Balada Si Eni” yang saya tulis bersama Taufik Prasetyo dan dirilis dalam album Rannisakustik and Friends bertajuk “Bertanya Apa Itu Cinta” pada 2015. Album itu merupakan proyek yang difasilitasi Rifka Annisa Women Crisis Center untuk memproduksi media kampanye penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Lagu Balada Si Eni mengisahkan alur hidup seorang Eni, bersama kekasih mesum dan temperamen, Joko, yang bertahan hingga mereka berkeluarga. Kekerasan demi kekerasan baik fisik dan mental dialami Eni. Kisah Eni dan Joko, bukanlah kisah yang 100% fiktif, sebab alur percintaan macam itu agaknya cukup banyak kita temukan.

Pasca rilis album tersebut, kemudian saya, bersama komunitas GMT Jogjadrama mengembangkan alur dalam lagu Balada Si Eni, menjadi sebuah teks drama/Sandiwara berjudul NGONO YA NGONO yang kami pentaskan perdana pada bulan Mei 2015. Dalam pertunjukan tersebut Lagu Balada Si Eni dinyanyikan, juga beberapa lagu lain di album tersebut. Kini, dalam kesempatan Parade Teater Linimasa #5 yang diselenggarakan Taman Budaya Yogyakarta, karya itu akan dipentaskan kembali, untuk menemukan penonton baru, untuk menemukan teman belajar berikutnya, untuk menemukan manfaat berikutnya.

Bagi saya, membangun kisah ini, yang mempertunjukkan tokoh laki-laki dengan “fragile masculinity”nya, tidaklah sederhana seperti membuat sebuah jargon kampanye. Sebab di situ saya (dan mungkin beberapa personel cowok Rannisakustik dan GMT Jogjadrama) sungguh tengah menunjuk muka atau membincangkan “aib” kami sendiri.  Kekerasan terhadap perempuan, seringkali merupakan akibat dari kegagalan laki-laki dalam mengendalikan maskulinitasnya sendiri. Dan itu, sejujurnya sangat sering saya alami, bahkan hingga kini (meski dalam tingkatan yang berbeda).

BACA JUGA:  Amanat World Dance Day 2021

Ego sebagai laki-laki, yang dalam konstruksi hari ini masih harus menjadi pemimpin keluarga, penuntun istri menuju sorga (atau neraka), membuat laki-laki seringkali merasa lebih berkuasa, lebih berwenang, baik dalam menetapkan cita-cita keluarga maupun dalam mengendalikan pilihan-pilihan dalam hidup keluarga sehari-hari. Padahal saya juga seringkali merasakan betapa dalam banyak hal, pasangan saya lebih paham dari saya, dalam banyak urusan pekerjaan saya lebih buruk dari pasangan saya. Tetapi budaya maskulin yang mengakar dalam diri, seringkali membuat saya tetap merasa bahwa karena saya adalah laki-laki, sayalah pemimpin keluarga, saya yang menentukan, saya bisa menjelaskan alasan dan pembelaan untuk kesalahan saya agar dimaklumi, tetapi saya juga memutuskan bahwa kesalahan pasangan saya adalah tetap kesalahan yang harus ditegur, bahkan “dihukum”. Belum lagi sikap-sikap kita terhadap kasus pasangan lain: bagaimana sikap kita terhadap gadis yang hamil di masa pacaran, bagaimana sikap kita terhadap kerabat yang memutuskan ingin bercerai? Bagaimana sikap kita soal penanggungjawab ekonomi keluarga, dan banyak lagi.

Memproduksi karya dengan tema kesetaraan gender, adalah sebuah jalan untuk belajar, berproses, dan memasang alarm pada diri agar dapat terus terjaga, agar terpicu untuk terus mengoreksi sikap sehari-hari. Menjalankan visi seperti itu saja beratnya bukan main, apa lagi berani mengambil posisi sebagai influencer atau penganjur, oh, tidaak.. saya tidak berani. Intinya, tentu saya (dan kawan-kawan) setuju bahwa  kekerasan dan perundungan tidak selayaknya terjadi, tetapi detail lakunya masih terus menjadi pertanyaan setiap hari.

Lalu untuk apa karya ini diluncurkan dan dipertontonkan? Ya untuk mengajak Anda semua turut memikirkannya, merenungkannya, dan menemukan jalan bijak Anda sendiri jika belum. Jika Anda yang menemukannya duluan, dan ternyata kami masih belum, maka Anda bisa gantian menyebarkan kisah dan pertumbuhan Anda kepada teman dan kerabat Anda.

BACA JUGA:  Pooh Pooh Somatic : Rasa Yang Pernah Ada

Ngono ya Ngono, akan kami pentaskan pada 23 Oktober 2022 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta jam 20.30 (sesi kedua setelah penampilan Teater Amarta di jam 19.00). Pertunjukan ini gratis dengan syarat penonton dewasa sebab mengandung beberapa adegan kata-kata kasar dan perundungan. Jika ada remaja/anak-anak menonton, diperbolehkan asal berada dalam dampingan orang tua atau keluarganya.

Data Pertunjukan :

Ngono ya Ngono : Rekonstruksi Balada Si Eni (+/- 70 menit)
Naskah dan Sutradara: Ahmad Jalidu
Musik Ilustrasi dan Aransemen : Jenar Kidjing
Tata Artistik : Habib Syaefullah
Tata Lampu : Bocah Angon
Video Lirik : Syaeful Uyun
Manajer Panggung : Dian Setyawan
Manajer Produksi dan Publikasi : Ferry C Nugroho

Aktor:

Wijil Rachmadhani
Arief Gogon
Sapta Sutrisno
Ira Mayasari
Ajeng Jovanditya
Odon Saridon

Host :
Ahmad Jalidu
Febrinawan Prestianto

16835812 10154454029058182 3215667238764263663 o e1546319766849 | Joko adalah (bukan) saya : Catatan sebelum pertunjukan Ngono ya Ngono
ikuti:

Ahmad Jalidu

Aktor, penulis drama dan sutradara. Produser Paradance Festival dan Folkamartani Yogyakarta. founder-editor-administrator gelaran.id