Rabu, September 2, 2026
ULASANPanggung Teater

WETWARE<3 Merpati Performance Laboratory : Wedang Uwuh dan Tuhan Yang Batu

Ruangan itu merah muda, dominasi warna yang mengingatkan pada daging, bukan pada permen kapas. Redup. Remang. Saya duduk di kursi penonton dan di depan mata, panggung menjelma semacam gua atau rongga organik, dipenuhi benda-benda yang tampak akrab tetapi dipaksa menjadi asing. Di bagian tengah-depan, ada sebuah batu besar mengkilap di bawah cahaya temaram. Saya menatapnya, lalu tersadar bahwa belum cukup imajinasi di kepala saya untuk menebak isinya, apalagi memahami maksud keberadaannya.

sebuah batu besar mengkilap di bawah cahaya temaram di tengah panggung Wetware<3. Foto : Hidayat
sebuah batu besar mengkilap di bawah cahaya temaram di tengah panggung Wetware<3. Foto : Hidayat Adhiningrat.

Di sisi kanan, terlihat meja dan kursi makan yang tersusun rapi. Di sisi kiri, benda-benda lain berserakan dalam kabut pencahayaan. Proyektor menampilkan seorang perempuan sedang memoles wajahnya dengan tekun. Bibirnya bergerak, berbicara, berbicara, berbicara. Tentang apa? Saya tidak bisa menangkap kalimat utuhnya. Suaranya terdengar samar, datang dari arah yang tak jelas, seperti siaran radio yang terganggu sinyal. Sesekali kata “cinta” atau “komputer” atau “tubuh” lolos dari kekacauan itu, tetapi saya tidak yakin apakah saya benar-benar mendengarnya atau hanya menginginkannya terdengar.

Lampu-lampu di atas panggung mulai meredup mengikuti denyut yang tak kasatmata. Lalu keheningan pecah. Dari kanan dan kiri panggung, muncul dua sosok berpakaian serba putih. Mereka berjalan kaku, angkuh, seperti prajurit paramiliter yang sedang menjalankan patroli di zona terlarang.

Tanpa sepatah kata, mereka mengeluarkan senter dan mulai menyorotkan cahaya ke sekujur panggung. Dengan cahaya yang terbatas mereka membidik satu per satu benda yang terbungkus plastik itu, seolah sedang mencari sesuatu di antara lipatan-lipatan plastik yang rapat. Atau menjaga sesuatu agar tidak ditemukan. Barulah setelahnya, pertunjukan benar-benar dimulai.

Penggambaran ini adalah bagian awal dari pementasan WETWARE<3 oleh Merpati Performance Laboratory dalam ajang Festival Teater Jakarta Selatan 2026 di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta. Di balik pertunjukan ini, sutradara Tara Mecca Luna dan dramaturg Darryl Haryanto mengolah bahan-bahan yang sebagian besar berasal dari arsip-arsip hidup para performernya. Dengan judul yang meminjam istilah dari dunia sibernetika—wetware, perangkat biologis yang membedakannya dari hardware dan software—pertunjukan ini ingin mengajak penonton untuk memandang tubuh manusia bukan sebagai entitas yang tetap, melainkan sebagai komputer biologis yang lentur, terus dibentuk oleh pengalaman, budaya, dan konstruksi sosial.

Dari awal, WETWARE<3 sudah menunjukkan bahwa ia tidak ingin terlihat nyaman. Mulai dari penonton yang disambut oleh ruang merah muda yang redup seperti berada “dalam jaringan tubuh manusia” hingga struktur pertunjukan yang terbagi dalam fragmen-fragmen. Alih-alih memilih narasi linear, kita dihadapkan pada pengalaman yang terpotong-potong, kacau, dan berlapis-lapis.

Dalam Fragmen II, penonton mendengar “Nasihat Ibu” yang diulang-ulang seperti mantra. “Kamu kalau pake baju tuh yang serius, yang baik dan bener, anjing.” Diulang. Diulang lagi. Hingga kata “anjing” kehilangan bobot kasarnya dan berubah menjadi gema, seperti perintah yang diprogramkan ke dalam tubuh sejak lahir: pakailah baju yang baik, belajarlah yang benar, nikahlah yang semestinya, percayalah pada Tuhan yang satu.

Nasihat-nasihat ini di atas panggung tidak disampaikan oleh seorang ibu dalam adegan realistis, melainkan hadir dari “Orang-orang yang Ibu”. Mereka adalah entitas-entitas yang menggurui dan memaksa, yang pada akhirnya berubah menjadi anjing-anjingan yang menggonggong di atas panggung. Di sini, pertunjukan mengolah ulang nasihat-nasihat yang akrab menjadi sesuatu yang aneh. Apa yang kita kenal sebagai “wejangan ibu”, ketika muncul dalam bentuk yang berulang dan berlebihan, pada titik tertentu kehilangan makna aslinya.

Di sisi lain, pertunjukan ini juga menghadirkan sosok yang dalam catatan naskah disebut “Seseorang yang Kagok”. Seorang tokoh yang terus-menerus gagap, terbata-bata, dan salah tingkah saat mencoba berbicara tentang cinta. Ia mengucapkan kata-kata yang tidak nyambung, tentang mi instan rasa ayam, tukang servis AC yang membawa freon bocor, empang ikan bawal milik neneknya.

Di tengah kekacauan panggung, kegagapan ini menjadi salah satu cara pertunjukan memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang rapuh dan tidak bisa diandalkan sepenuhnya. Toh, cinta tidak selalu hadir dalam kalimat yang indah atau utuh, bukan? Bahkan ia kadang muncul dalam bentuk yang putus-putus atau metafora yang tidak masuk akal.

Objek-objek sehari-hari diperlakukan dengan cara yang tidak biasa. Semua naik ke atas panggung dan bergerak bersama para performer seperti aktor yang setara. Mereka disusun, dihancurkan, digotong, dan disusun ulang lagi. Seperti penginstalan kode tubuh yang terus diciptakan, diubah, lagi dan lagi, lagi dan lagi. Tak pernah jelas, tak pernah tamat membentuk tetanda.

Wetware<3 by Merpati Performance Laboratory
Performer memainkan barang-barang dari keseharian mereka. Foto : dok. Merpati Performance Laboratory/Muhamad Ridwan Nawawi

Para performer memindahkan objek-objek biografis mereka itu ke sana kemari, seolah sedang mencoba memahami diri sendiri melalui barang-barang yang pernah disentuh, dicintai, atau ditinggalkannya. Pertunjukan tidak menjelaskan secara gamblang makna setiap objek dan hanya membiarkan objek-objek itu hadir, bergerak, dan berubah posisi.

Fragmen III, yang bertajuk “Kode Cinta”, menjadi salah satu bagian yang paling padat dalam pertunjukan. Di sini, para performer menghadirkan objek-objek biografis mereka—yang dalam naskah disebut sebagai Tangga yang Rak, Bayabuy si Boneka, Moppy si Boneka—yang disusun dan dihancurkan terus-menerus. Setiap objek hadir sebagai pembawa makna, tetapi makna itu tak pernah ajeg. Ia bergeser setiap kali objek dipindahkan, digotong, atau ditempatkan berdampingan dengan objek lain.

Di tengah proses yang terus berubah ini, muncul tokoh “Seseorang yang Kaya Raya” dengan sikap super sombong, tetapi kekayaan yang ia sebut-sebut bukanlah harta benda. Ia menyatakan: “Seluruh Vespa di dunia ini kalah dengan Vespa yang ayahku jual demi membiayai sekolahku.” Pernyataan-pernyataannya terus berlanjut: “Super car, bugatti, rolls royce gak akan bermakna dibanding mobil apapun yang stuck di traffic bersama Mohammad Belmiro Hasballah.”

Kali ini, pertunjukan sedang memainkan pembalikan. Di dunia yang mengukur segalanya dengan uang, tokoh ini justru merasa kaya karena orang-orang yang dicintainya. Kesombongannya bukanlah kesombongan atas harta, melainkan kesombongan atas cinta yang ia miliki. Bersamaan dengan itu, “Seseorang yang Kagok” terus berusaha berbicara tentang cinta, tetapi kata-katanya selalu tersendat, kontras dengan si kaya raya: “Sebenernya, um… Aku tuh… Um… Ya… Um… Bukan sebongkah batu…”

Fragmen IV, “Roblox Darah Daging”, barangkali menjadi bagian yang paling mengganggu sekaligus paling menggembirakan dalam pertunjukan ini. Para performer tiba-tiba berubah menjadi karakter Roblox. Tubuh mereka bergerak kaku, patah-patah, seperti avatar dalam permainan digital. Mereka melakukan aktivitas “server Indo Hangout”, lengkap dengan obrolan dua bocil yang berbincang tentang trade hewan peliharaan virtual.

Sementara di latar belakang, suara Mama terus menggema dengan nasihat-nasihatnya yang “baik dan bener”. Pertukaran dialog antara kedua bocil ini terasa menarik dalam kesederhanaannya:

“Aku pengen bikin. Teater.”

“Teater?”

“Iya. Ya berkarya.”

“Tunggu. Mamaku punya nasihat.”

“Berkarya yang baik dan benar ya, anjing. Stop teater-teateran.”

 

Di sini, WETWARE<3 terasa sedang menertawakan dirinya sendiri lewat penampilannya. Bagaimana tidak, ini adalah sebuah pertunjukan teater yang di dalamnya ada karakter yang dilarang ibunya untuk berteater. Ironi ini jadi semacam pengakuan bahwa seni, di mata sistem yang menginginkan kepastian, sering dianggap tidak penting dan tidak “bener.” Namun, dengan tetap berteater, pertunjukan ini menempatkan dirinya dalam posisi perlawanan dengan mempercayai bahwa seni akan tetap hidup meskipun dianggap sia-sia.

Wetware<3 Merpati Performance Laboratory

Wetware<3 Merpati Performance Laboratory

Tubuh para performer kemudian mulai mengalami distorsi. Gerakan mereka menjadi glitchy, tersendat-sendat, seperti program yang sedang error. Proyeksi menampilkan kode pemrograman GLSL yang berkelebat. Ayam berkokok, dinosaurus tiba, mereka berantem. Semua elemen bercampur dalam satu kekacauan yang sulit dipisahkan. Di tengah semua kekacauan metafora dan fragmen yang bertebaran, ada satu elemen yang kembali yaitu “Tuhan yang Batu”.

Objek berbentuk batu yang dibungkus plastik bening itu sempat menghilang dan kembali lagi di akhir dengan keadaan masih terbungkus dan belum terungkap. Di akhir pertunjukan pun, sama seperti di awal, “Tuhan yang Batu” tetap menjadi batu yang tidak berbicara dan tidak memberi jawaban apa-apa sehingga tidak ada pengungkapan besar yang terjadi.

Batu itu tetap di sana dan penonton dibiarkan menatapnya tanpa penjelasan tambahan. Tidak ada klimaks yang menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sepanjang pertunjukan. Yang ada hanyalah batu yang tetap membisu.

Sebagai sebuah pertunjukan teater, WETWARE<3 jelas tidak dirancang untuk dinikmati dengan cara konvensional. Ia sengaja mengabaikan keutuhan narasi dan membiarkan penontonnya tersesat dalam fragmen-fragmen yang berhamburan. Keputusan ini tentu memiliki konsekuensi. Bagi sebagian penonton, pengalaman yang terpotong-potong dan kacau bisa terasa membebaskan. Namun bagi sebagian lainnya, kekacauan ini barangkali justru terasa mengasingkan, karena pertunjukan tidak pernah memberi pegangan yang cukup untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di atas panggung.

Penggunaan objek sebagai medium utama dalam pertunjukan menjadi salah satu pilihan yang menarik sekaligus problematis. Di satu sisi, cara Merpati Performance Laboratory memperlakukan benda-benda sehari-hari sebagai aktor yang setara dengan manusia, membuka kemungkinan baru dalam membaca hubungan antara tubuh dan lingkungannya. Objek-objek itu bisa menjadi perpanjangan ingatan, cinta, dan luka yang tak terucapkan.

Namun di sisi lain, pertunjukan tidak pernah cukup jelas dalam membangun logika relasional antara objek-objek tersebut. Penonton dibiarkan menebak-nebak apakah Rak memiliki hubungan dengan Bayabuy si Boneka, atau apakah meja makan di sisi kanan adalah bagian dari dunia yang sama dengan “Tuhan yang Batu” di tengah. Pertunjukan barangkali memang sengaja menghindari kejelasan dengan risiko penonton bisa kehilangan minat untuk menebak.

Metode intermedial yang digunakan (perpaduan antara teks, gerak, video, proyeksi, dan musik) bekerja dengan baik dalam menciptakan atmosfer yang kaya dan multidimensi. Khususnya pada Fragmen IV ketika para performer berubah menjadi karakter Roblox dan proyeksi menampilkan kode pemrograman GLSL yang berkelebat, pertunjukan berhasil menghadirkan pengalaman yang terasa sangat dekat dengan kehidupan digital kontemporer.

Wetware<3 Merpati Performance Laboratory Wetware<3 Merpati Performance Laboratory

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, sejauh mana ketidakjelasan ini adalah pilihan estetis yang disengaja, dan sejauh mana ia adalah kegagalan dalam menyampaikan? Saya tidak yakin bisa menjawab pertanyaan itu dengan pasti. Tetapi ada satu hal yang saya rasakan usai meninggalkan Gelanggang Remaja Bulungan malam itu. Menonton WETWARE<3 terasa seperti meminum wedang uwuh yang saya teguk di depan gedung pertunjukan.

Wedang uwuh, kita tahu, adalah minuman tradisional dari Jawa yang dibuat dari berbagai macam rempah dan daun yang direbus bersama (serai, jahe, kayu secang, daun pandan, dan kadang cabai). Saat pertama kali diminum, rasanya aneh, tidak biasa, bahkan sedikit pahit. Aneka rasa beradu di lidah tanpa bisa dipisahkan satu sama lain. Tetapi setelah beberapa tegukan, ada kehangatan yang merambat dari tenggorokan ke seluruh tubuh.

Wedang uwuh tidak pernah memberi rasa yang jelas dan tunggal. Ia justru membiarkan semua rasa itu hadir bersamaan, bercampur dalam satu cairan yang sulit diurai. Sama seperti pertunjukan ini. Di tengah teater-teater yang terus berusaha memberi kita jawaban yang rapi dan memuaskan, WETWARE<3 memilih untuk tetap menjadi pertanyaan. Ia seolah tak peduli jika Anda bingung, marah, atau frustrasi. Dan justru bagian inilah yang paling menarik dari keseluruhan pertunjukan.

Maka, pada akhirnya, biarkanlah potongan-potongan fragmen itu merangkai dirinya sendiri di dalam ingatan kita meski tanpa disadari. Seperti yang tertulis dalam pengantar pertunjukan: “apa yang tersisa dalam tubuhmu mungkinlah menjadi cinta yang baru. Dunia kecil yang sedikit saja baru dalam dirimu. Mudah-mudahan. Maksudku, kau tahu.”


Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Hidayat Adhiningrat

Hidayat Adhiningrat

Lahir di Bandung dan kini memutuskan tinggal sambil bekerja di Jakarta. Memiliki minat terhadap kesenian dalam kapasitas sebagai penulis dan penonton. Kadang datang ke pameran, kadang menonton seni pertunjukan, kadang ikut diskusi kesenian, kadang ikut workshop penulisan ulasan kesenian.