Teater “Sekar Murka”, Bunga dan Refleksi Tentangnya

Nia Agustina*

Sabtu, 16 Desember 2017 lalu, Jagongan Wagen menutup tahun 2017 dengan pertunjukan teater Sekar Murka. Sekar Murka merupakan karya teater dari teman-teman yang tergabung dalam Jaring Project, salah satu penerima hibah Jagongan Wagen 2017. Malam itu, meskipun banyak sekali pilihan acara kesenian di Yogyakarta, ternyata tidak menyurutkan jumlah penonton Jagongan Wagen kali ini.

Sekitar pukul 20.00 pertunjukan dimulai. Panggung mula-mula gelap, kemudian terang perlahan dan terlihat dua instalasi berbentuk setangkai bunga besar berwarna merah di kanan kiri panggung disertai instalasi bunga-bunga kecil yang lain di bawahnya. Annisa Hertami yang memerankan Nis–perempuan dari keluarga ningrat yang memilih keluar dari benteng–duduk sendiri di kursi kayu panjang. Sesaat kemudian turunlah instalasi beberapa tangkai bunga yang tergantung dengan senar dari para-para.

Nis mengajak ngobrol bunga-bunga itu dengan menggerakkan tangkai-tangkai bunga seperti dalang menghidupkan wayang. Obrolan tersebut seakan salah satu bunga adalah anaknya dan bunga yang lain seakan teman-temannya yang mengajak bermain bola di saat seharusnya jadwal mengaji. Di tengah keriangan Nis bersama bunga-bunganya, diam-diam ada pria dengan penampilan preman mengamatinya dari belakang. Man, pacar Nis. Panggilan Man menghentikan keasyikan Nis bersenda gurau dengan bunga-bunganya. Mereka kemudian ngobrol layaknya dua sejoli yang berpacaran, sampai akhirnya keluar ucapan Nis yang menginginkan menikah dan punya anak. Awalnya Man menjelaskan dengan baik-baik soal dirinya yang tetap tidak ingin menikah karena trauma melihat bapak ibunya sendiri justru tidak bahagia dalam pernikahan. Nis diam, tapi kemudian kembali mengkhayalkan hal-hal tentang pernikahan hingga akhirnya Man muntab dan meninggalkan Nis.

Nis (Annisa Hertami) terus membicarakan perihal pernikahan dan membesarkan anak, yang membuat Man (Jamaludin Latif) kesal karena ia tak mau hubungan berkomitmen. Foto : instagram @sitoadhianom

Nis kembali bersama bunga-bunganya, sampai tiba-tiba terdengar suara seseorang menyanyikan lagu dangdut hip hop (maaf saya lupa judulnya). Dia adalah Hin. Nis duduk diikuti Hin. Hin merayu Nis untuk mau menikah dengannya. Dari adegan tersebut terlihat bahwa rayuan dan ajakan menikah itu sudah dilakukan Hin berkali-kali diikuti penolakan Nis yang berkali-kali pula. Kali ini sepertinya agak berbeda, Nis terlihat bimbang membanding-bandingkan Hin dengan Man. Hin yang seorang guru ngaji mau langsung serius dengannya tapi dia tidak cinta, atau Man yang seorang preman, tidak mau berkomitmen tapi sangat dicintainya.

Dilema inilah yang kemudian menimbulkan rasa penasaran bagi saya. Sayapun menebak-nebak, pastilah Nis akan tetap berada di pelukan si preman. Andai ini adalah FTV, terbayang judulnya di layar kaca, “Gadis Ningrat Kepentok Cinta Preman Pasar”. Tapi para pembaca, kisahnya tidak se-klise dan se-naif itu, alirannya tidak selurus itu. Tampaknya penulis naskah dan sutradara memikirkan dramaturginya dengan baik dengan tetap memegang logis atau tidaknya alur cerita.

Cerita berlanjut, ternyata Hin adalah mantan preman yang tobat, sebelumnya dia pernah punya dendam dengan Man, karena tunangan Hin dihamili oleh Man dan Man tidak mau bertanggung jawab dan akhirnya si gadis memilih mengakhiri hidupnya. Dengan menikahi Nis, dia bisa memiliki gadis yang dicintainya sekaligus membalaskan dendamnya. Puncaknya, suatu hari taman bunga milik Nis rusak. Hin dan Man saling menuduh atas kerusakan tersebut. Terjadilah pertengkaran hebat di depan mata Nis, dan akhirnya keluarlah semua cerita tentang dendam masa lalu Hin dan Man. Di tengah pertengkaran yang seperti tidak ada ujungnya itu, Nis pun berteriak, “Aku, akulah yang merusak taman bunga ini.”

Perkelahian dua musuh bebuyutan, Man (Jamaludin Latif) dengan Hin (Dinu Imansyah). Foto : instagram @sitoadhianom

Perkelahian Hin dan Man seketika berhenti, mereka terheran mengapa Nis merusak sendiri taman bunga yang sangat dicintainya. Seperti sudah tidak tahan lagi, Nis melanjutkan teriakannya dengan mengungkap rahasianya dengan emosional. Bahwa sebenarnya Nis tidak menggugurkan kandungannya dari hubungannya dengan Man 6 tahun lalu. Meskipun pada saat itu Man sudah memaksa karena tidak siap berkomitmen apalagi punya anak, Nis menyembunyikan kelahiran anaknya dari Man dengan alasan mengerjakan skripsi selama 4 bulan. Anak mereka kini sudah 6 tahun dan dititipkan ke orang lain, dan ini saatnya Nis mengambil anaknya kembali.

Nis pun bertanya dengan setengah meremehkan Hin, apakah Hin mau menikahi seorang perempuan yang sudah memiliki anak dari musuhnya sendiri. Hin pun mundur teratur mendengar pertanyaan tersebut, begitupun Man, seperti sebelumnya, dia tidak siap berkomitmen apalagi punya anak.

Nis pun tertawa dan tiba-tiba muncul kekuatannya untuk merdeka dari kedua laki-laki tersebut. Dia menyatakan tidak ada yang berhak mengatur hidupnya, “akulah yang memiliki hidupku dan berhak menentukan pilihan atas hidupku.”

Lampu redup, dan tiba-tiba kain putih yang sejatinya saya pikir hanya sebagai background panggung tiba-tiba turun dan lampu menyala di bagian belakang panggung. Instalasi bunga-bunga besarpun muncul di sana, bersamaan dengan seorang anak laki-laki usia sekitar 6 tahun yang berlari ke pelukan Nisa.

Nis memilih merdeka dan merengkuh hidupnya sendiri. Foto : instagram @sitoadhianom

Desi Puspitasari (penulis naskah) menjelaskan di akhir acara, bahwa pertunjukan ini ingin mengangkat realitas yang ada di lingkungan kita secara sederhana tetapi tetap logis dan ada konflik yang jelas. Memang seperti gambaran di atas, cerita yang disuguhkan tidak jauh dari kejadian di lingkungan sehari-hari kita, soal cinta, komitmen, rebutan perempuan, menghamili pacar teman, kehidupan preman, preman tobat, perempuan ningrat yang mencintai laki-laki biasa dan sebagainya. Penonton bisa dengan mudah merefleksikan diri ke dalamnya karena jarak kehidupan penonton dengan apa yang disuguhkan di atas panggung agaknya tidak terlalu jauh.

Penokohan yang tepat

Agaknya, sutradara, Ibed Surgana Yuga paham betul potensi masing-masing aktor. Penokohan dari masing-masing aktor terasa pas. Jamaludin Latif sebagai Man, adalah aktor yang banyak bekerja di karya-karya teater berbasis tubuh. Memang Jamal terlihat powerfull, energinya tepat untuk tokoh preman kodo (keras kepala). Hanya saja memang ada beberapa dialog yang saya kurang jelas menangkap kata-katanya, karena diucapkan terlalu cepat, tetapi cukup terbantu dengan takaran emosi yang pas baik pada gestur maupun mimik.

Dinu Imansyah sebagai Hin. Dinu berhasil membawakan sosok Hin dalam dua karakter yang asik. Kocak, menyenangkan di awal, terutama pada adegan merayu Nis, kemudian muncul kembali layaknya preman yang kejam di klimaks hingga akhir. Gestur maupun ekspresinya terlihat luwes tanpa kendala yang berarti. Hin ditokohkan sebagai preman yang sudah bertobat dan menjadi guru ngaji.

Annisa sebagai Nis adalah tokoh sentral dalam Sekar Murka ini. Sebelum masuk ke urusan karakter, Annisa memang cukup baik memainkan peran ini, hanya saja, kebalikan dari Jamal, Annisa cukup jelas soal artikulasi dalam berdialog, tetapi di beberapa titik powernya masih kurang “greget“. Terlihat sebenarnya Annisa sudah sangat berusaha memaksimalkan energinya tetapi tubuhnya seperti tidak menampung energi itu dengan cukup baik, namun tepat dalam soal ekpresi dan mimik. Annisa sebagai Nis muncul sebagai sosok perempuan ningrat yang memperlihatkan dua sisi karakternya. Sisi feminin sebagai perempuan yang penurut, mencintai keindahan, penuh kasih sayang, tetapi juga sisi maskulin, tegas terhadap keputusannya sendiri tidak ingin dikuasai siapapun, terlihat dari akhir cerita.

Ngomong-ngomong soal karakter Nis yang diperankan Annisa, saya jadi teringat, dua sisi dalam diri Nis agaknya sering muncul di karakter-karakter Annisa dalam film-filmya yang ia mainkan. Dalam film terbarunya, Nyai (sutradara Garin Nugroho), Annisa sebagai Nyai memiliki karakter maskulin-feminin yang kuat, sebagai perempuan Jawa yang penurut, penuh cinta kasih, kemudian muncul sisi maskulinnya ketika masalah demi masalah menerpanya. Dalam film Soegija (juga Sutradara Garin Nugroho), dengan peran Mariyem, Annisa hadir dengan sisi feminin sebagai perawat yang tentu kasih sayangnya luar biasa. Dia adalah ibu yang merawat para gerilyawan, anak-anak, dan warga sipil lain yang menjadi korban perang. Tapi maskulinitasnya juga tidak tertutupi, dia menjadi sosok yang memiliki ketegasan, kekuatan melawan terhadap yang dia rasa tidak benar. Di film lain, Aaahh…Aku Jatuh Cinta (Sutrarada Garin Nugroho lagi) sebagai sosok ibu, Annisa kembali menjadi sosok yang lemah lembut sekaligus kuat bagi anaknya. Dan dari semua film tersebut, seperti juga penokohannya dalam Sekar Murka, Nisa hadir sebagai perempuan Jawa.

Pertanyaan yang menggelitik saya kemudian, apakah memang sosok perempuan Jawa sebenarnya lekat dengan dua sisi feminin-maskulin yang berimbang seperti dalam tokoh-tokoh yang diperankan Annisa? Lalu, mengapa seringnya justru perempuan Jawa dikesankan hanya sebagai sosok penurut, tidak bisa mengambil keputusan bagi hidupnya, lemah lembut, pemalu, dan hanya berkualitas kanca wingking?

Pesan Kesetaraan dalam Sekar Murka

Dalam ending cerita Sekar Murka, Nis memutuskan hidup dengan pilihannya karena tersadar bahwa tubuh dan jiwanya adalah miliknya, yang berhak menentukan ke mana mereka berjalan adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Begitulah sejatinya, pandangan akan kesetaraan bukan melulu soal terbukanya ruang publik bagi perempuan, tetapi termasuk juga kemerdekaan bagi baik perempuan maupun laki-laki menentukan yang terbaik bagi dirinya tanpa tekanan.

Saya kutipkan pendapat Dewi Soekarno, salah satu istri presiden Soekarno terkait pendapatnya tentang perempuan dan kesetaraan:

“I am againts women being manly… Real emancipation is not for woman to in equal position to a man or to have an equal salary. That is nothing to do with it. The aim of emancipation is to be completely independent and free spiritually. It has nothing to do with power.”  (Permanadeli, 2015: 259)

Kira-kira secara mudah, kita dapat memahami seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, bahwa persoalan kesetaraan lebih kepada tujuan untuk merdeka dan bebas jiwanya. Bukan sekedar menyamakan tempat, apalagi menukar tempat. Ini hanya akan menukar kuasa yang timpang, dan kesetaraan tetap tidak akan tercapai.

Mungkin bagi beberapa perempuan mandiri, merdeka itu mudah, tapi bagi sebagian yang lain, itu tidak mudah. Bukan karena tidak mampu atau bodoh, tetapi karena budaya membatasi perempuan yang sudah hidup sekian lama, sehingga menjadi suatu kebiasaan yang tidak mudah diubah. Dalam ajaran Manu misalnya ada keharusan istri harus mengabdi kepada suaminya seperti mengabdi kepada Tuhan. Ia harus berjalan di belakangnya, tidak boleh berbicara dan tidak juga makan bersamanya, tetapi makan sisa milik suami. Sampai abad ke-17 seorang istri harus dibakar hidup-hidup ketika suaminya meninggal, atau istri mencukur rambutnya, atau memperburuk wajahnya supaya ada jaminan bahwa dia tidak diminati laki-laki lain (Shihab, 2014:113-114). Dapat dilihat, kebudayaan semacam ini sudah mengakar jauh sebelum hari ini. Maka terkikisnya tradisi-tradisi pembatasan perempuan tentu disambut bahagia, namun apakah para perempuan kemudian serta merta bisa berani bicara, menyatakan pendapat?

Tidak sedikit perempuan pada masa Nabi Muhammad SAW, yang cukup kritis dan berani berdiskusi bahkan menolak pendapat suaminya yang dikiranya kurang tepat (Shihab, 2014: 122). Perempuan sebagai makhluk yang memiliki akal pikiran dan hati, tentu pantas-pantas saja memiliki harapannya sendiri, pertimbangannya sendiri, keputusannya sendiri, pendapatnya sendiri.

Dari Nis kita harusnya belajar hal yang sama dengan apa yang kita pelajari dari perempuan pada masa Nabi Muhammad SAW di atas. Soal keberanian berbicara atas apa yang menjadi pilihan dan hak bagi diri masing-masing, tentu harus disadari pula kewajiban bertanggung jawab atas segala resikonya.

Nis, memeluk putra tercintanya, sekaligus memeluk kemerdekaan dirinya. Foto : instagram @sitoadhianom

Rasa-rasanya, tidak hanya dari Nis refleksi itu muncul, judul yang menggunakan kata Sekar yang berarti bunga, kemudian juga bunga yang diwujudkan dalam bentuk artistik panggung sendiri bagi saya menginterpretasikan “bunga” di luar sana. Mendengar kata bunga sendiri, ingatan saya tertaut berita-berita di media massa dengan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan. “Bunga” yang mengalami perkosaan harus menikah dengan pemerkosanya untuk menghilangkan rasa malu keluarga besar, tanpa keluarga menanyakan terlebih dahulu, mau tidaknya “Bunga” menikah dengan orang yang telah melukainya? (tanpa tekanan). “Bunga” yang mengalami KDRT (kekerasan dalam ruamah tangga) tidak bisa berpisah dengan pelaku karena merasa tergantung, merasa takut mempermalukan keluarga, merasa takut diolok masyarakat, di tengah itu, “Bunga” tetap mengalami KDRT dan masyarakat maupun keluarganya mungkin tidak tahu atau kalaupun tahu hanya memintanya untuk sabar. “Bunga” yang lain tidak bisa menentukan jodohnya sendiri karena jodohnya bukan dari kalangan yang dianggap setara dengannya. Dan akhirnya, “Nis” si “Sekar”, si “Bunga” murka, dia hanya ingin memperjuangkan kemerdekaan menentukan pilihan untuk dirinya, kemerdekaan “Sekar”, kemerdekaan “Bunga”.

Bacaan:

Permanadeli, Risa. 2015. Dadi Wong Wadon: Representasi Sosial Perempuan Jawa di Era Modern. Sleman: Pustaka Ifada.

Shihab. M. Quraish. 2014. Perempuan: dari Cinta sampai Seks dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah dari Bias Lama sampai Bias Baru. Tangerang: Penerbit Lentera Hati

 

*Nia Agustina. Pegiat seni pertunjukan tari, pengelola Paradance Festival, relawan dan aktivis untuk isu-isu kesetaraan gender.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *