Monolog Bungkirit dan Isu di Dalamnya : Catatan Reflektif Sutradara
Sejak semula sampai akhirnya memilih untuk berkuliah di Prodi Seni Teater. Saya telah meyakini bahwa teater dapat menjadi sebuah medium dalam menyampaikan beberapa persoalan dalam lingkup sosial dengan pendekatan yang lebih vareatif. Selain dari pada memberikan hiburan, teater pun dapat menjadi medan dalam mendiseminasi persoalan ke ruang publik. Namun di sini bukan berarti saya mengatakan bahwa teater dapat hadir sebagai penyelamat dari segala luka sosial, akan tetapi mungkinkah teater dapat menjadi sebuah ruang refleksi kritis yang memantik masyarakat untuk turut serta mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi hari ini.
Beberapa pekan yang lalu pada Minggu, 30 Agustus 2026. Saya dan rekan-rekan Komunitas Manusia-Manusia Tanah Subur (MMTS) berkolaborasi dengan UKM Cendekia Literasi melakukan sebuah pementasan monolog yang berjudul Bungkirit. Pementasan dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Kuningan (UMK). Selepas pertunjukan kami melakukan diskusi yang di dalamnya membahas isu yang coba diusung dari pertunjukan tersebut. Maka dalam tulisan ini, sedikitnya saya akan membahas mengenai dari mana karya ini berangkat dan apa yang coba saya usung dalam pertunjukan Monolog Bungkirit.

Sebuah Awal dari Bungkirit
Monolog Bungkirit berkisah soal Sundari, seorang pemudi asal Nagrak. Sejak kecil ia diajarkan untuk menjaga alam yang keluarga dan orang-orang desanya yakini sebagai perwujudan dari Dewi Sri Pohaci. Dewi Sri Pohaci sendiri dalam cerita rakyat sunda Dewi Sri Pohaci sering disimbolkan sebagai dewi kesuburan atau penghidupan. Sundari hidup dengan tenang dan nyaman di Desanya. Bapaknya selalu mengajarkan bahwa jika alam terjaga tentu manusia dapat mampu hidup bersamanya.
Namun ketenangan itu hancur begitu saja, ketika Hutan Bungkirit yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Desa Nagrak direnggut oleh negara melalu perpanjangan tangannya; aparatur negara. Seketika konflik terjadi, hutan Bungkirit dirusak dengan dalih kemajuan, tanpa mempertimbangkan hak-hak manusia di dalamnya. Pertentangan terjadi, ayah Sundari memimpin penolakan akan upaya perebutan tersebut. Namun nahas Ayahnya meinggal karena tertembak oleh aparatur negara yang begitu represif. Sundari hanya mampu menatap dari kejauhan, dan kisah tentang kemakmuran Hutan Bungkirit hanya menyisa tangis dan debu.
Itulah sekilas alur cerita dari Monolog Bungkirit. Monolog Bungkirit ini merupakan respon saya terhadap semakin maraknya konflik agraria yang terjadi di Indonesia. Pun terlebih di Jawa Barat, Provinsi yang saya tempati. Konflik agraria hari ini seperti kita ketahui tidak hanya muncul di kalangan masyarakat adat, akan tetapi di masyarakat kampung kota sekali pun. Di Bandung kita dapat melihat sendiri fenomena dan nafas perlawanan atas hak akan tanah yang terjadi di Dago Elos dan Sukahaji. Ditambah belakangan ini di Bogor tepatnya di Sukajaya, potret semacam ini kembali mencuat. Seolah koflik agraria adalah hal yang tak asing di tengah masyarakat kita.
Namun bukan hanya itu saja beredarnya sebuah kabar mengenai Gunung Ciremai yang resmi dimasukkan sebagai Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), oleh Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kian mendorong saya untuk merampungkan karya ini. Memang pementasan ini dilakukan sebelum akhirnya Kementrian ESDM mengeluarkan pernyataan resmi. Namun pembaca saya terhadap potensi tersebut pulalah yang semakin membuat diri ini agak geram. Sebagai anak yang turut pernah tinggal di bawah sejuknya kaki Gunung Ciremai, mendengar kabar ini kembali, seolah memantik gairah untuk membawa isu ini ke muka publik. Ini saya maknai sebagai upaya kampanye publik dengan pendekatan kesenian. Demarkasi yang coba dituju adalah untuk turut serta dapat memantik keresahan publik akan hal yang mungkin terjadi di Kuningan.
Menurut Polanyi memperlakukan tanah (alam) sebagai barang dagang dengan memisahkan ikatan hubungan-hubungan sosial yang melekat padanya, secara tidak langsung akan memantik guncangan-guncangan yang menghancurkan pondasi keberlanjutan hidup masyarakat itu. Lalu selepas itu akan ada gerakan tandingan untuk melindungi masyarakat dari kerusakan yang lebih fatal. Maka mungkinkah teater dapat menjadi sebuah pemantik dari lahirnya hal tersebut? Menurut saya mungkin sekali. Sudah sejak lama tokoh-tokoh seperti Brecht, Augusto Boal, bahkan Rendra; menjadikan teater sebagai medium kritik dan upaya konstruksi kesadaran publik. Terlepas dari berhasil atau tidaknya teater punya ruang secara histroris dan pengaplikasian.
Mengutip yang disampaikan Muhamad Aryan Firdaus dalam “Dampak Sosial Konflik Agraria”, Hanya dengan kerja sama yang adil dan inklusif, serta peningkatan kesadaran pun partisipasi masyarakat, konflik agraria dapat diselesaikan secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi seluruh masyarakat. Maka sejak kala itu saya memberangkatkan pertunjukan Monolog Bungkirit sebagai ruang mitigasi dan upaya refleksi kritis untuk menumbuhkan persepsi publik terhadap bahanya bayang-bayang konflik agraria yang mungkin akan segera menggerayang di hadapan kita.
Perjalanan Mengolah Isu Konflik Agraria
Monolog Bungkirit tidak lahir seketika saja, ia muncul dari proses pemetaan konflik agraria dan riset kecil-kecilan yang saya lakukan selama kurang lebih 3 minggu. Sebab karya ini memang diharapkan mampu menjadi karya yang kontekstual dengan persoalan yang ada, bukan sekedar lahir dari imaji semata. Sedikitnya dalam membuat karya ini saya terpengaruh oleh teori proyeksi Feurbach yang diringkas menjadi sebuah gagasan kunci oleh Chernyshevsky. Ia menyampaikan bahwa setiap karya seni pada ujungnya bersumber dari kenyataan, seorang seniman menghidupkan kembali pengalaman langsung tentang kenyataan melalui karya seni yang dibuatnya. Namun perlu diingat bukan berarti hanya mereplikasi realitas semata, fungsi seniman di dalamnya adalah untuk turut juga merevitalisasi sebuah realitas menjadi sebuah karya yang lebih holistik.
Kurang lebihnya gamabaran sederhana proses pembutan monolog Bungkirit adalah sebagai berikut.

Berdasarkan hasil riset dan sedikit paparan teoritis dari Feuerbach yang diringkas sebagai gagasan kunci Seni sebagai Proyeksi Kenyataan oleh Chernyshevsky, saya mulai membuat naskah dengan gagasan yang telah ditentukan yakni konflik agraria. Selepasnya saya melakukan laithan bersama aktor pemeran Sundari (Icha Kartikaningsih), karakter dari monolog Bungkirit, yang saya gambarkan sebagai seorang remaja yang mencintai alam di Desanya karena sejak kecil telah diberi pemahaman secara simbolis bahwa alam adalah Ibu dari kehidupan. Setelah selesai dengan segala proses latihan barulah pertunjukan hadir sebagai media proyeksi atas isu yang telah diriset dan dibangun menjadi sebuah naskah dan pertunjukan. Alur semacam ini biasa ditemui dalam beberapa proses teater. Namun yang menjadi cukup penting dalam alur ini adalah pandangan dan teori yang turut menjadi pondasi karya.
Teater dan Relasinya dengan Realitas Sosial
Pertunjukan yang saya usung bersama rekan-rekan Manusia-Manusia Tanah Subur (MMTS), memang tidak dapat dikatakan sebagai pertunjukan teater yang utuh. Ia hanyalah sebuah pertunjukan monolog, yang sudah tentu sesuai namanya hanya dimainkan oleh satu orang. Akan tetapi meski demikian bukan berarti monolog lepas dari kerangka terbentuknya teater. Pada awal mulanya justru monolog jadi salah satu cikal bakal lahirnya teater. Maka saya pikir akan sah-sah saja jika dalam sub tulisan ini saya memberi sub-judul, “Teater dan Relasinnya dengan Realitas Sosial”. Pada bagian ini saya akan sedikit mengurai pandangan saya akan posisi teater dalam sosial.
Saya cukup tertarik dengan estetika realis yang kelak turut serta membentuk kerangka umum estetika Marxis. Secara sederhana hal tersebut turut juga membahas menyoal suatu penekanan pada hubungan antara seni dan kenyataan, serta antara seni dan masyarakat. Hal inilah yang menurut Martin Suryajaya dalam bukunya yang berjudul Sejarah Estetika, disampaikan bahwa tradisi estetika realis turut membentuk sebuah wacana lahirnya estetika Marxis. Ditambah pada saat itu dengan segala rentetan revolusi sosial-politik. Maka karena itu tak heran muncul pertanyaan soal posisi karya seni dalam kontruksi sosial. Jika ditarik pada kondisi sosial hari ini, khususnya di Indonesia, paling tidak berdasarkan beberapa pernyataan di atas saya dapat sedikit menarik sebuah konsepsi soal posisi teater dalam masyarakat melalui gambaran di bawah ini.

Dalam pertunjukan monolog Bungkirit saya memposisikan karya sebagai jembatan mengenai isu sosial kepada masyarakat. Hal ini tentu erat kaitannya dengan fungsi karya seni itu sendiri. Sejak era Yunani Klasik hingga detik ini, teater selalu punya fungsi yang berkelindanan dengan kondisi sosio-politik. Pada abad pertengahan atau yang biasa juga dinamai sebagai abad kegelapan misalnya. Teater hadir sebagai medium untuk menyebarkan ajaran gereja. Yang mana teater menjadi alat bagi penciptaan kepatuhan terhadap posisi hierarkis Gereja sebagai lembaga keagamaan. Itu menunjukan bahwa teater telah memiliki posisi yang lama dalam kampanye publik dalam menyampaikan beberapa persoalan.
Pertunjukan monolog Bungkirit pun saya tempatkan sebagai sebuah jembatan antara isu sosial (konflik agraria) kepada masyarakat. Ini tidak semata-mata menjadikan sebuah kesenian sebagai medium ceramah politik, namun di satu sisi sebagai media penyadaran akan situasi sosio-politik bahkan sosio-kultur yang tengah atau akan terjadi. Jembatan di sini bukan hanya dimaknai sebagai penghubung saja, akan tetapi dapat dimaknai juga sebagai wahana kritik terhadap segala gejolak sosial yang berpotensi mereduksi hak-hak masyarakat. Maka dengan ini, setidak-tidaknya teater dapat mampu menentukan posisinya dalam tatanan sosial.
Menutup Kisah
Dengan segala daya dan upaya dalam menggarap pertunjukan monolog Bungkirit. Rasanya, saya semakin tergugah untuk terus-terusan membawa isu sosial ke dalam panggung pertunjukan, terlebih yang kadang terpendam dan kehilangan ruang untuk bicara. Bukan tanpa sebab, namun karena akhirnya saya selalu menyadari bahwa sebuah karya seni apalagi teater, tentu akan selalu membutuhkan masyarakat sebagai apresiator. Maka ketika itu terjadi, penting juga bagi saya selaku yang bergiat di dalamnya, untuk memberi tontonan yang juga punya mutu sosial. Bukan untuk menjadikan teater superior sebagai medium kritik atau proyeksi sosial. Akan tetapi untuk turut serta membangun kesadaraan, tentang beberapa hal yang mungkin nampak remeh-temeh, namun berdampak bagi yang mengalaminya.


