Kersik Duka Swarnadwipa
Tumbang pohon terakhir Berhenti sungai mengalir Baru kau sadar berpikir Surga yang indah berubah menjadi Lautan api.. (The Jeblog- Lautan Api)
Para pemuda Karang Taruna Galur Manggala, Desa Jeblog, sebelah selatan Kota Surakarta (Solo) bersuara lantang mengisahkan isu lingkungan yang menimpa desanya. The Jeblog, Band asal Klaten itu bergerak dari lingkup kecil. Peduli mengangkat isu lingkungan desa di pinggiran kota, tak canggung menyebut nama desanya, tanpa bersolek menyebut asal band meraka dari Kota Surakarta.
Mereka bangga dengan desanya, meski ada keprihatinan yang terukir dalam lirik lagunya. Tumbangnya pohon terakhir dan berhenti sungai mengalir sebagai noktah kegelisahan atas perubahan lingkungan Desa Jeblog. Lalu, disusul dengan lirik yang menghujam kesadaran, Surga yang indah berubah menjadi.. Lautan Api. The Jeblog peka mengolah isu lingkungan yang mengintai warga desa Jeblog dalam lagu agar kegelisahan itu terdengar sampai jauh, hingga pusat kota.
Di pusat Kota Surakarta sendiri, kegelisahan atas kerusakan lingkungan disuarakan dengan skala yang lebih besar. Beragam isu kerusakan alam yang tersingkap maupun terpendam citra media menghiasi layar LED setiap panggung helatan Rock In Solo (22-23 November 2025). Keras musik yang terdengar dilatari visual teks “Gunung dan Bukit Dikeruk”, “Banjir Semakin Sering”, “Balong Jenawi Alase Ojo Kelong Bumine Lestari Tolak Geothermal Gunung Lawu”, dan seterusnya, seolah menjadi rambu-rambu bagi kerumunan yang lalu-lalang.
Pasca helatan pesta pecinta musik keras Rock In Solo itu, ternyata kegelisahan nyata menimpa Indonesia. Banjir bandang dan tanah longsor menjadi duka teramat perih menyambut ujung tahun 2025. Luka menahun bumi yang tak diobati itu meluluhlantakkan bumi Swarnadwipa. Andalas yang konon pohon langka tak mampu lagi jadi simbol imajiner yang memantik empati. Tahun demi tahun pohon yang ditebang, akhirnya menelan ratusan korban.
Swarnadwipa sedang berduka.

Arsip Produksi Sosial
Tergelitik lirik lagu The Jeblog, seolah ada guru TK yang sedang mengajar bertanya kepada anak muridnya “ Surga yang indah berubah menjadi?”
Duka bumi Swarnadwipa itu deras membanjiri media sosial. Banyak orang yang membicarakan, bahkan menggalang dana hingga milyaran. Kebanyakan postingan menyerukan bentuk protes, mengapa tidak ditetapkan sebagai bencana nasional? Suaranya yang begitu bergemuruh, sebab banjir tak sekadar air bah dan lumpur, namun ada gelondongan kayu ikut larut menerjang apapun yang dilaluinya.
Cuaca ekstrem yang menurunkan 300 mm hujan per hari itu begitu dahsyat. Pemicunya adalah dinamika atmosfer yang memunculkan Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Sehingga air turun tak terbendung. Namun, hujan yang terjadi di Swarnadwipa tak sekadar faktor alam.
Curah hujan yang tinggi ternyata tak setara dengan kekuatan benteng alam di hulu DAS (Daerah Aliran Sungai). Kegundulan hutan tak mampu meredam air hujan. Hingga datang banjir bandang yang mengerikan. Serupa Tsunami, deras air dan gelondongan kayu itu merusak bangunan, jembatan, dan menimbulkan korban jiwa yang tak masuk akal.
Kepedulian untuk gotong royong, meringankan beban saudara setanah air pun tergalang. Banyak relawan yang datang, menggalang beragam bantuan kemanusiaan. Solidaritas rakyat Indonesia terbukti masih nampak kuat untuk bergotong royong menyembuhkan luka yang menimpa.
Dari Solo, pesan duka itu seolah membacakan urgensi keresahan The Jeblog dan suara lantang dalam helatan Rock In Solo, mempertegas bahwa bumi sedang nagih janji. Beberapa musisi itu mampu menangkap suara rintih bumi dalam event maupun karya mereka. Dengan optimisme, bahwa musik juga bisa berperan dalam menyuarakan janji yang sedang ditagih pulang oleh bumi.
Rintih bumi butuh amplifikasi yang lebih luas. Kala helatan Rock In Solo lalu, ternyata ada ruang amplifikasi yang potensial untuk menyuarakan rintih suara bumi. Acara yang diselenggarakan Maha Svara Nusantara berkolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Music Lab, Kementerian Kebudayaan, punya ruang eksplorasi yang lebih abadi. Acara pada tanggal 20-27 November 2025 bertajuk Electroacoustic itu bisa menjadi ruang pengarsipan isu yang sama-sama dirasakan.
Serupa laboratorium insidental, kegiatan yang fokus pada penciptaan komposisi musik dengan mengambil fenomena bebunyian bisa jadi alternatif reka-cipta mencekamnya sebuah bencana yang melanda Swarnadwipa. Electroacoustic itu sangat mampu berperan mengarsipkan duka yang tengah terjadi.
Lintasan tanya itu terpantik atas presentasi hasil komposisi yang diciptakan Raden Agung. Fenomena bebunyian di bantaran sungai dambaan Gesang, Bengawan Solo, jadi riset komposer untuk reka-cipta dari utas sosiologis masyarakat bantaran sungai. Lewat kreativitasnya, berbekal pantikan “Dulu tuh sungai bengawan solo terkenal bersih!” bebunyian mendapat pijakan imajiner mengenai keresahan apa yang ingin disampaikan komposer.
Para pendengar bisa menggapai cakrawala pandang karya, menginterpretasi, lalu melebarkan wacana yang sedang diperdengarkan. Susunan bebunyian yang disandingkan, menciptakan suasana yang bisa menambah argumentasi penguat atas amplifikasi isu yang telah diproduksi. Yangt turut menjawab tanya Erie Setiawan saat sesi diskusi karya:
“Bagaimana menghadapi sumber bunyi yang begitu banyak di sekitar kita dan kemudian menentukan apa yang ingin dipilih? Ketika campuran itu seolah seperti random, kesannya hanya kolase, atau montase, meskipun keduanya (adalah) sebuah estetika, tapi kadang-kadang terasa membosankan,….”
Peristiwa dialektika dalam presentasi karya MTN Mucis Lab di surakarta itu, memantik tanya perihal dampak apa yang bisa dilakukan. Seolah, ada jalan alternatif untuk mengarsipkan duka Swarnadwipa yang sedang hangat diperbincangkan. Dengan tanya penuh harap: Bisakah MTN Music Lab melalui electroacoustic mengarsipkan bebunyian duka Swarnadwipa?
Arsip bisa dikatakan memori yang mengabadikan jejak sebuah peristiwa yang diproyeksikan bagi generasi mendatang. Entah arsip apapun itu, kenangan akan suatu peristiwa akan tersibak, mengada, lalu berkemungkinan memantik kesadaran. Lewat arsip, teroka sebab-akibat sebuah peristiwa di masa lalu akan lebih dimudahkan.
Kerja pengarsipan yang saat ini terkadang dianggap tak berdampak, perlu gotong royong kerja lintas disiplin. Ruang amplifikasi lintas ruang untuk saling mengisi dan saling mewakili satu sama lain. Perlu kerja sosial agar duka Swarnadwipa bisa melintas banyak ruang.
Duka Swarnadwipa perlu mengersik, yang berarti mengusahakan evaporasi derau duka agar dapat selalu didengar. Yang lemah, yang samar, yang gemetar diterima sebagai tanda-tanda dan sekaligus pembatalan auditori. Sebab, arsip duka Swarnadwipa berkemungkinan mengalami representasi ulang dalam lapis imaji yang lain. Adanya kersik menandai pula bahwa sesuatu secara kolektif sedang bekerja dengan baik.

Kersik Duka Swarnadwipa
Roland Barthes (Kersik Bahasa: Dari Karya ke Teks; 2024) menyebut kersik itu sebuah utopia yang sering memandu penyelidikan di garda-depan. Disana ada berbagai momen, memuat apa yang dapat kita sebut sebagai eksperimen musikal. Seperti produksi musik post-serial tertentu yang menonjolkan timbre dan memunculkan suasana tegang-misterius.
Musik cukup signifikan memberikan imajinasi penguat lewat suasana yang dibangun. Bebunyian yang direkam, lalu direka-cipta, bisa men-denature makna yang termuat di dalamnya. Dengan porsi, kolaborasi, penempatan, dan kerincian tertentu, akan memantik kesadaran meskipun tanpa berkata-kata.
Roland Barthes menunjukkan sebuah ilustrasi kerumunan anak-anak bermata sipit tengah memegang buku, sedang bersadar di dinding pinggir jalan desa. Secara bersamaan mereka bergumam, membaca kata demi kata. Suara itu bagaikan gerombolan lebah, bagaikan nyala mesin yang bekerja dengan baik. Tak jelas, namun membawa imajinasi lain.
Intensi bebunyian itu seolah alunan musik, dengan napas, tensi, dan gerak tubuh yang membawa pada sebuah tujuan tertentu. Tujuan yang sepenuhnya akan didenotasi oleh kersik bebunyian itu sendiri, lalu membiaskan maknanya lagi. Mungkin, mereka adalah anak-anak yang sedang menunggu giliran ujian, sedang menghafal teks drama, mendapat hukuman massal, dan beragam terkanan lain.
Ada banyak persepsi makna yang akan muncul. Namun, ada pula yang sekadar menganggapnya sepintas lalu. Tak ada pantikan apapun yang menyulut tanya dalam ruang imajinya. Antara bermakna maupun nir-makna, sebenarnya sama-sama sebagai sebuah kelanjutan.
Music Lab Electroacoustic saat MTN bisa menjadi purwarupa yang bisa dilakukan untuk pengarsipan. Lewat reka-cipta bebunyian, bahasa musik yang universal dapat memantik kesadaran bagaimana dulu duka Swarnadwipa bisa terjadi. Dari reka-cipta itu dapat menjadi data dukung penelusuran atas segala hal yang tak bisa tersampaikan teks. Suara benturan gelondongan kayu yang terbawa air bah, keciplak lumpur banjir, rintihan, suara pengungsi memelas, dan seterusnya, jadi data dukung suasana tegang duka Swarnadwipa yang tak terwakilkan teks.
Kepedulian musisi dalam menyuarakan isu lingkungan bukan barang baru. IKLIM alias The Indonesian Climate Communications, Arts, and Music Lab, jadi salah satu wadah kolektif musisi lintas genre yang konsen menyuarakan isu lingkungan. Mulai dari Navicula, Nova Filastine, Tony Q Rastafara, Tuantigabelas, Reality Club, Sukatani, The Brandals, Chicco Jerikho, Majelis Lidah Berduri, Efek Rumah Kaca, hingga Kunto Aji, turut dalam IKLIM.
Sudah tiga album kompilasi yang mereka buat sedari tahun 2023. Lewat kelembutan musik dan seni, isu lingkungan dimampatkan dalam ruang simbol yang akan terbaca di setiap ruang. Entah trotoar, gang sempit, poskamling, ruang tamu, sekolah, ruang pameran, hingga panggung peringatan hari kemerdekaan. Bebas masuk (seharusnya) tanpa hambatan untuk memantik kesadaran.
Elektroakustik pun demikian, jadi penting untuk mengabadikan hal-hal yang tak mampu ditangkap kata. Memunculkan impresi atas duka agar timbul efek impresi yang keberlanjutan. Peluang terbuka genre elektroakustik yang kata Otto Sidharta memiliki keunggulan dalam kebebasan eksplorasi, manipulasi bunyi, serta perluasan makna musikal untuk berperan dalam menyuarakan isu lingkungan, seperti duka Swarnadwipa.
Serupa tangkapan karya komposisi In Memory salah karya Stevie J. Susanto, salah satu pembicara dalam sesi diskusi karya saat MTN di Surakarta, yang lahir dari tragedi bom Sarinah, Jakarta 2016 silam. Serangan bom di Sarinah menjadi pemicu, membawa kontemplasi dan respon emosional secara individual.
In Memory yang terinspirasi dari tragedi bom Sarinah yang memilukan bukan untuk mengagungkan tragedi, tetapi ditujukan untuk memberi ruang penyembuhan. Karya tersebut dibangun dari ruang ritual kecil yang dipersembahkan bagi korban terorisme. Tentu, ada kerja riset yang dilakukan oleh komposer.
Duka Swarnadwipa pun demikian. Kerja riset yang pasti dilakukan dalam proses penciptaan sekaligus menjadi Upaya tak langsung dalam pengarsipan sebuah peristiwa. Musik eksperimental Electroacoustic sangat mungkin menjadi ruang amplifikasi serta intervensi wacana mengenai kerusakan alam. Lalu, bisa dipertemukan dengan bidang ilmu lain untuk memantik kesadaran kolaboratif dan kolektif. Mungkin saja, menjadi pemandu penyelidikan di garda terdepan.
Dari keresahan The Jeblog, helatan Rock In Solo, hingga wadah kolektif musisi bernama IKLIM, ada upaya memantik kesadaran atas kerusakan alam Indonesia. Ada ruang kolektif kecil yang dengan santun berupaya memantik kesadaran kolektif lebih besar.
Duka Swarnadwipa semacam peringatan untuk mawas atas mengapa, kapan, siapa, bagaimana, apa yang selanjutnya harus dilakukan. Kersik adalah suara yang tak pernah berhenti. Selalu ada, selalu mengada. Serupa terbentuknya kolektivitas dari duka Swarnadwipa, agar duka tak lagi menghantui kehidupan. Sebelum datang penyesalan, sebab kerusakan alam tak mungkin pulih secepat membalik telapak tangan. Karena waktu tak bisa terulang.
Waktu takkan terulang
Berjalan ke depan
Tua yang kau tanam
Atas seluruh alam
– Kunto Aji, Manusia Terakhir di Bumi (album kompilasi Sonic/Panic Vol.3)-
Sudah baca yang ini?:
OPINION Bengkel Mime, Pantomim Varian Delta
Tumbuh dan Mekar dari Ceruk tak Berdasar : Catatan atas “Ra Hina” — Kinanti Sekar ...
Latihan Melakukan Perubahan : Forum Theatre di BTF 2017
Dibuka: Hibah Seni PSBK 2019
Narasi Tunggal dan Resistensi : Pertunjukan “Sst…ate” oleh Sanggar Prematur pada P...
KENAPA MEREKA BEREBUT PANGGUNG?: Catatan atas Pertunjukan “A New World Nova Genesis”
- Kersik Duka Swarnadwipa - 2 Januari 2026
- Siliwangi Monologue Event 2025: Menghidupkan Seni, Meresonansi Kehidupan - 31 Oktober 2025
- Memoar Lengger Narsih, Menjelajahi Laku Hidup Penari Tradisi - 10 Oktober 2025

