Seni Menegosiasikan Ruang : Catatan dari Kaba Festival 4

Oleh: Fariq Alfaruqi*

“Pencarian ingatan tubuh Asia-Eropa” merupakan wacana yang dibawa oleh Gerard Mosterd ke atas panggung Kaba Festival 4. Festival seni pertunjukan ini berlangsung dari tanggal 2 sampai 5 Agustus 2017 lalu di teater utama Taman Budaya Sumatera Barat. Pertunjukan berjudul Unfolding tersebut menampilkan gabungan antara gerak tubuh yang menghadirkan bentuk-bentuk tak terpernamai, visual abstrak yang berubah-ubah secara evolusioner, dan suara-suara noise. Kehadiran berbagai unsur yang terkesan bergerak sendiri-sendiri dan tampak tumpang tindih itu bisa dipahami sebagai representasi dari kegalauan identitas Gerard Mosterd sebagai seniman berdarah campuran Indonesia-Belanda.

Gerard Mosterd
Gerard Mosterd dalam Unfolding di Kaba Festival 4. Foto oleh : Ramadhani.
HIbrid, Pascakolonial dan Modernisme

Namun, Identitas hibrid yang disandang Mosterd dan yang menjadi dasar pijakan karyanya ternyata bukanlah sekadar identitas biologis dan personal. Jika dilihat lebih jauh, hibriditas tersebut membawa serta sejarah panjang pertemuan Belanda dengan Indonesia dalam konteks kolonialisme serta jejak-jejaknya yang masih membekas sampai sekarang, pada masing-masing negara. Pertunjukan selama dua puluh menit itu, menyitir pernyataan Homi K Bhabha, bisa diposisikan sebagai ‘ruang antara’ di mana oposisi biner antara kultur timur dengan barat, hubungan hierarkis antara bekas penjajah dengan bekas terjajah, dinegosiasikan.

Kondisi yang dialami Gerard Mosterd serta usaha-usahanya menghadirkan ruang antara tersebut, sejatinya juga melingkupi masyarakat di Indonesia dan berbagai negara lain di Asia. Meskipun telah memerdekakan diri secara politik, pengalaman kolonialisasi yang berlangsung lama dan sistematis masih meninggalkan jejaknya di berbagai ruang dan situasi. Bagaimana masyarakat hari ini mengidentifikasi identitas personal dan komunal, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari hubungan penjajah-terjajah di masa lampau.

Oleh karena itu, karya-karya yang ditampilkan di Kaba Festival 4 oleh beberapa seniman dan kelompok seni lain yang berasal dari negara-negara Asia, yang notabene juga pernah bersentuhan dengan kolonialisme, sama-sama memperlihatkan apa yang disebut sebagai gejala pascakolonial itu. Baik disadari ataupun tidak, karya yang mereka pertunjukkan pun juga menawarkan bentuk-bentuk negosiasi yang berbeda dalam merespon gejala yang khas pada masing-masing negara. Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan Annia Loomba dalam bukunya yang berjudul Kolonialisme & Pascakolonialisme, bahwa karya seni merupakan medium yang paling ampuh untuk menanamkan ideologi kolonial sekaligus sarana yang jitu pula untuk melawannya.

Apa yang dihadirkan Delphin Mei & Artist Dadadaiii dari Taiwan melalui pertunjukan berjudul Sincerly Yours, menggambarkan dengan tepat gejala yang demikian. Bentuk-bentuk pop culture dan seni tradisi dihadirkan untuk kemudian dibenturkan secara kontradiktif dan paradoks. Masing-masing entitas muncul terpisah secara kronologis. Pada bagian awal, panggung diisi oleh seorang penari yang tampil layaknya penyanyi idola sedang konser. Sambil komat-kamit (lipsing) mengikuti alunan lagu pop berbahasa Inggris, ia berlari-lari mengitari panggung. Melalui gerakan-gerakan yang terkesan parodikal, keartifisalan budaya pop disadari sekaligus dirayakan.

Suasana yang semula meriah tiba-tiba berubah menjadi hening dan dingin ketika seorang perempuan masuk menenteng sebuah alat musik bernama pipe, jenis instrumen musik tradisional dari Taiwan. Dengan perlahan dan ragu, ia mulai mencari berbagai kemungkinan bunyi. Bermula dengan memukul-mukulnya, memetiknya satu-persatu, sampai memainkannya dengan sempurna. Seorang penari pun datang, bergerak mengikuti alunan musik. Adakalanya antara kolaborasi musik dan gerak tubuh tersebut menghasilkan perpaduan yang harmonis, namun kadangkala juga disharmonis. Dalam adegan yang berlangsung dari tengah sampai akhir pertunjukan ini, seni tradisi digambarkan dengan asing, berjarak, dan dingin.

Pop culture dengan seni tradisi memang senantiasa berada pada dua kutub yang saling bertentangan. Yang pertama diidentikkan sebagai budaya rendahan dan artifisial sementara yang disebut terakhir dianggap sebagai budaya luhur dan sakral. Namun, penghadiran unsur pop culture dan seni tradisi dalam pertunjukan Sincerly Yours, meskipun tampak terpisah dan kontradiktif, bukan berarti keduanya hadir secara hitam-putih dan saling menegasikan. Keterpisahan tersebut lebih tampak berfungsi untuk mendedahkan paradoksal yang dihadapi oleh masing-masing unsur.

Bagaimana pop culture–ekses dari modernitas dan industrialisasi besar-besaran yang dihadapi oleh hampir seluruh negara Asia pasca memerdekakan diri dari kolonialisme–pada satu sisi dianggap sebagai gejala yang merusak namun pada sisi lain terlanjur mewabah dalam segala lini kehidupan. Produk-produknya dicap murahan namun tetap dikonsumsi, bahkan digandrungi dengan gegap gempita. Sementara seni tradisi dengan segenap hikmat kebijaksanaannya, ternyata kesulitan untuk keluar dari bentuk dan format masa lalunya yang baku, gagap untuk mendekatkan diri pada berbagai persoalan masyarakat hari ini.

Sebagaimana yang ditampilkan Delphin Mei & Artist Dadadaiii, kedua unsur tersebut hadir sekaligus dalam ruang-waktu yang sama dan salah satunya tidak bisa begitu saja dilenyapkan. Sebab, keduanya merupakan konsekwensi dari hubungan tidak setara antar produsen masing-masing produk semenjak dahulu dan berlangsung sampai hari ini, dalam berbagai bentuk. Salah satu cara untuk mengendorkan tegangan antar unsur adalah dengan menciptakan ruang-ruang yang menegosiasikan atau meleburkan batas oposisinya.

Cara yang unik dan menggelitik dipertunjukkan oleh Natural Dance Theater dari Jepang. Kelompok seni yang dipimpin oleh Shinji Nakamura, koreografer yang mengasah pengetahuan dan kemampuan seni modernnya langsung di Eropa barat, menampilkan tiga fragmen yang mereka sebut sebagai teater-tari. Meskipun ketiga babakan tersebut menceritakan narasi yang berbeda-beda, masing-masing diikat oleh satu persamaan, yaitu, sama-sama mengambil berbagai bentuk seni dari negara-negara penghasil modernisme. Salah satunya, yang berjudul Sleeping Beauty, mengadopsi tarian balet untuk mengkonstruksi dongeng tentang putri tidur yang populer itu.

Namun, dari gerak tubuh dan perubahan-perubahan mimik para performer bisa dipahami bahwa segala hal yang mereka pinjam dari dunia barat tersebut sedang diselewengkan dan dipermainkan. Teknik yang mereka gunakan dalam menghadirkan balet yang tidak sempurna atau narasi putri tidur yang tak taat aturan tersebut, mirip dengan istilah mockery dalam pertautan barat-timur sebagai relasi antara yang superior dengan yang inferior. Merujuk pada usaha si inferior meniru sang superior demi mencapai kesetaraan. Akan tetapi, peniruan tersebut juga dibarengi dengan sikap bermain-main dan mengolok-olok. Sehingga, apa yang dianggap mapan dan adiluhung dalam dunia barat menjadi sekadar imitasi yang bisa dibongkar-bongkar bagi masyarakat timur.

Ranah PAC
Mite Kudeta oleh Ranah Performing Art Company. Foto oleh Ramadhani.
Mencari Tradisi (baru)

Apabila Natural Dance Theater mengaburkan batas hierarkis antara kedua kultur tersebut dengan cara mengobrak-abrik status quo kesenian barat, lain halnya dengan seluruh penampil dari Indonesia yang justru menggali berbagai khazanah tradisi lokal dan mengembangkannya menjadi bentu-bentuk baru. Dalam konteks ini, penghadiran bentuk tradisi tersebut bisa diposisikan sebagai alternatif dari model-model seni arus utama yang dibawa dari dunia barat. Namun seperti yang telah disinggung sebelumnya, penghadiran unsur tradisi tersebut juga problematis. Apakah berbagai bentuk seni tradisi tersebut masih bisa merepresentasikan kondisi atau persoalan-persoalan hari ini.

Tantangan tersebut dijawab, salah satunya oleh Ranah PAC melalui pertunjukan berjudul Mite Kudeta. Mereka secara sadar mengusung konsep seni pertunjukan yang disebut dengan postradisi. Istilah tersebut lebih kurang bermakana, bagaimana tradisi dilanjutkan dan dikembangkan dengan ketat, tidak hanya dibongkar-pasang secara ekletik belaka. Bagaimana pengembangan tradisi tersebut bukan sebatas bentuk, tapi juga penyesuaian nilai-nilainya. Berbagai rupa tradisi yang eksis di masa lampau itu dipahami sebagai sebuah produk sosio-historis untuk kemudian berdialektika dengan kondisi-situasi hari ini.

Implementasinya, mereka menghadirkan berbagai elemen seni pertunjukan, yaitu, gerak tubuh, ragam bunyi, dan bahasa verbal yang diolah kemudian dimanfaatkan sedemikian rupa sebagai bentuk estetis serta alat untuk memproduksi makna. Masing-masing elemen diposisikan setara dan saling mengisi, dan dengan kaidah-kaidah simbolisnya mengkonstruksi sebuah versi lain dari kisah epik Cindua Mato. Penghadiran ketiga elemen tersebut sekaligus, berakar dari berbagai bentuk seni tradisi dari Minangkabau, seperti randai atau indang, yang tidak mengenal batas-batas antar disiplin seni sebagaimana seni modern membatasi antara tari, musik, atau teater.

Adapun narasi Cindua Mato yang diusung dalam pertunjukan tersebut, ditempatkan dalam latar sejarah masuknya kolonialis Belanda ke daratan Minangkabau. Cindua Mato tidak lagi merujuk pada tokoh legenda dalam kaba (sastra tradisional Minangkabau) semata, posisinya diperluas menjadi tokoh alegoris yang mewakili sifat atau sikap keminangkabauan dalam berbagai peristiwa. Menyusupnya sifat atau sikap keminangkabauan yang diwakili oleh tokoh Cindua Mato ini ke dalam peristiwa-peristiwa sejarah yang dikonstruksi oleh pengetahuan dan metodologi barat, juga merupakan bagian dari usaha untuk menjadikan tradisi bukan hanya sebagai artefak masa lalu saja, akan tetapi mampu menjadi subjek yang menentukan bagi perkembangan zaman.

Miroto, Mugiyono, Eri
Tiga Maestro tari Indonesia, Martinus Miroto (Yogyakarta), Mugiyono Kasido (Sukoharjo), dan Eri Mefri (Padang) berkolaborasi di Kaba Festival 4. Foto oleh Ramadhani.

Apa yang ditampilkan oleh para seniman di Kaba Festival 4 tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara barat dengan timur masih menjadi wacana utama yang melingkupi dunia kesenian dan kebudayaan di wilayah-wilayah Asia.  Khusus di Indonesia, perdebatan-perdebatan mengenai apakah kebudayaan Indonesia mesti melihat ke barat yang progresif atau mencari timur yang luhur atau malah berada di antaranya, telah dimulai oleh para intelektual negri ini bahkan semenjak masa pan-nasionalisme dan berlanjut sampai hari ini dengan pengartikulasian yang berbeda-beda.

Namun, bagaimana mereka menghadirkan berbagai unsur yang merujuk pada masing-masing kultur tersebut tidak lagi tampak stereotipkal. Dunia tidak lagi dikonstruksi sebagaimana stigma hitam-putih yang senantiasa hadir di tengah masyarakat. Barat tidak lagi dihadirkan sebagai bekas penjajah dengan wajah yang garang dan angkuh, selalu ada yang bisa dicuri dan diselewengkan darinya. Sementara timur juga bukan lagi sebatas objek-objek eksotik yang mengandung nostalgia masa lalu dengan segala hal tentang keterbelakangan atau kemandekan yang dilekatkan padanya. Ia juga bisa berperan sebagai subjek yang progresif.

 

*) Fariq Alfaruqi, Lahir di Padang 30 Mei 1991. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Menulis esai mengenai sastra dan seni pertunjukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *