Pocong Menggugat: Eksperimen Cine-Theatre Teater Hampa Indonesia yang Berani tapi Keruh
POCONG DI DUNIA HAMPA
Sosok hantu Pocong menjadi suatu fenomena tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Bersamaan dengan berbagai hantu lain, Pocong menjadi sosok yang berkembang seiring dengan budaya Islam tersublim dalam masyarakat. Betapa tidak, pocong memang identik dengan upacara penguburan jenazah dalam budaya dan ajaran Islam.
Kurang lebih terdapat 18 film Indonesia yang menggunakan sosok Pocong sebagai tokoh di dalam ceritanya, beberapa bahkan menjadikan Pocong sebagai tokoh utama cerita. Hal ini menunjukkan bahwa sosok Pocong merupakan salah satu sosok hantu yang sangat penting dalam masyarakat Indonesia. Era modern yang semakin massive tentu saja mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap Pocong. Hal ini mencapai puncaknya pada penggunaan benda yang diserupakan Pocong untuk meningkatkan awareness pada Pandemi COVID-19. Kampanye ini sekaligus mengakibatkan terjadi proses demitosisasi yang memberikan kesan pocong yang lucu dan fungsional (Murwonugroho, 2021). Upaya serupa juga nampak dilakukan oleh Teater Hampa Indonesia melalui pertunjukannya yang berjudul Pocong Menggugat. Sosok Pocong dalam pertunjukan ini mencoba di-dekomposisi, diuraikan unsur-unsurnya sehingga tersisa kesan lucu, sial, dan di sisi lain punya keresahan. Saya rasa untuk tujuan ini, Teater Hampa Indonesia telah berhasil melakukannya di malam 6 dan 7 Desember 2025 lalu. Tanpa usaha seperti ini, saya rasa penonton akan kocar-kacir bila disajikan Pocong versi lampau yang menyeramkan dan identik dengan balas dendam, kematian dan terror.


CINE-THEATRE YANG KERUH
Pentas ini menyediakan layar videotron yang cukup besar tepat di tengah panggung. Meskipun letakkan di paling belakang, tetapi layar ini cukup mencolok. Layar ini sejak awal difungsikan untuk penayangan logo-logo sponsor. Fungsinya serupa papan reklame digital di area ramai kota. Dalam konteks ini, rasanya para sponsor sangat bergembira sebab tujuan utamanya untuk dilihat penonton menjadi tercapai optimal, meskipun mengorbankan pertunjukan.
Adegan-adegan disusun secara normal dengan berbagai tokoh yang jumlahnya cukup banyak. Sayangnya kehadiran mereka seringkali teralihkan pada videotron yang cenderung memiliki kecerahan yang berlebihan. Distraksi ini tentu sangat mengganggu. Keberadaan logo sponsor tidak diatur sedemikian rupa hingga bisa menyatu dengan setting pertunjukan. Logo-logo itu serupa jarum yang menusuk-nusuk mata penonton sepanjang pertunjukan.
Videotron ini untungnya sesekali menyajikan adegan yang terjadi di luar setting yang tersedia, seperti sekitar ruang kuliah, jalanan atau yang lain. Penggunaan ini rasanya jauh lebih tepat dari sekedar papan logo. Pemanfaatan layar sebagai media pemutaran video ini sangat akrab kita kenal sebagai aplikasi cine-theatre.


Secara singkat cine-theatre dapat dimaknai sebagai upaya menyajikan keutuhan cerita melalui perpaduan media panggung teater dan teknik sinematografi. Teknik ini sudah sangat lama dikembangkan di beberapa negara. Sejak tahun 1920-an teknik ini dikenalkan oleh beberapa tokoh teater seperti Erwin Piscator, Vsevolod Meyerhold dan Bertolt Brecht yang menggunakan film dokumenter, foto, koran atau elemen lain sebagai bagian dari penguatan cerita (Brecht, 1964; Innes, 1972; Piscator, 1929). Konsep cine-theatre umumnya dilakukan dengan proyeksi ke panggung atau menggunakan mata kamera sebagai perantara mewakili mata penonton.
Sayangnya di Indonesia teknik ini masih belum banyak dieksplorasi. Pemanfaatan media video atau film justru akan sangat berguna membangun jembatan bagi sinema–yang lebih populer–dan teater. Perpaduan keduanya akan memberikan kedekatan yang menguntungkan untuk cerita dan pesan yang ingin disampaikan pada penonton. Teater Hampa Indonesia telah melakukannya dengan meyakinkan.
Hanya saja pentas Pocong Menggugat ini terkesan keruh, tidak jernih. Betapa tidak keruh, mereka menggunakan video dengan teknik sinematografi, tapi juga sekaligus menggunakan kamera HP untuk mewakili mata penonton di dunia maya. Dua aktor mencoba menggunakan kamera HP yang terkoneksi ke videotron, tetapi entah sinyal atau alat yang kurang mumpuni malah delay, putus-putus, bahkan beberapa kali mati. Kesalahan teknis inilah yang sangat mengganggu pertunjukan. Sebuah kecerobohan akibat tidak matangnya persiapan teknis. Belum lagi operator video yang menayangkan tayangan live panggung di layar yang letaknya di panggung ini rasanya kurang kerjaan. Diperburuk dengan penggunaan berbagai efek video yang tidak relevan dengan suasana pertunjukan, seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru. Meski demikian, jika semua masalah teknis ini diselesaikan, saya rasa efeknya akan sangat menarik.
Meski masih keruh, tetapi potensi pemanfaatan media non-panggung ini rasanya perlu diapresiasi. Banyak sekali media lain yang menunggu untuk dieksplorasi lebih lanjut sebagai bagian dari pertunjukan teater. Selain itu, keberadaan internet, media sosial, fasilitas streaming dan perkembangan teknologi lain seharusnya tidak hanya berhenti di HP anggota teater, tapi juga bisa menjadi kekuatan luar biasa untuk memotong jarak zaman antara teater dan teknologi.
B-STORY YANG NYURI PANGGUNG
Sebagai sebuah cerita tentu pertunjukan Pocong Menggugat sangat tepat diposisikan sebagai hiburan. Humor dan celetukan ringannya mampu ditangkap penonton dengan cukup mudah. Beberapa penonton juga terlihat sangat terlibat dalam cerita dengan rasa gemas yang diekspresikannya.

Kisah tentang Pocong yang jatuh cinta, tapi diabaikan oleh sang perempuan. Pocong yang akhirnya dikhianati oleh temannya. Kisah masa remaja yang renyah, sekaligus mudah dinikmati oleh penonton remaja. Pertunjukan yang digelar lebih dari 1 jam ini menjadi hiburan tersendiri di tengah dinginnya Malang sehabis hujan.
Sayangnya, cerita ini bukan satu-satunya yang tersaji. Di dalam cerita inti (A-story) ternyata terselip cerita percintaan tukang sol sepatu dan pemilik warung. Cerita sampingan atau B-story ini cukup banyak mengambil peran. Percintaan mereka bahkan juga dibalut nyanyian dan tarian. B-Story ini tentu saja mudah dipahami sebagai upaya penulis untuk menghidupkan semua karakter di dalam naskah. Tapi pada level ini menjadi berlebihan Dengan begitu banyaknya porsi B-story, maka ini mengurangi konflik yang mungkin dibangun oleh tokoh utama cerita. Inilah mengapa saya sebutkan dalam sub-bab ini sebagai “nyuri panggung.”

Sementara di sisi lain, banyak tokoh di dalam cerita ini yang anonim, tidak jelas fungsinya apa. Beberapa memiliki persoalan, tapi sekilas saja. Inilah kesulitan bagi naskah yang melibatkan begitu banyak tokoh. Durasi yang terbatas kemudian membatasi pula kedalaman penceritaan. Belum lagi sosok-sosok pocong–asumsi saya sebagai pasukan atau anak buat Pocong Utama–yang kemunculan dan gerakannya tidak jelas maknanya apa. Sosok-sosok pocong ini serupa anggota tim yang tidak tahu harus diberi tugas apa, lalu sutradara mengusulkan bahwa mereka jadi pocong-pocong aja, daripada nganggur. Dan pertunjukan ini ditutup dengan adegan pocong utama yang dibungkus kain putih dan ditutup matanya, yang entah apa maksudnya, rasanya cuma pengen main-main saja.
MASIH JEBAKAN ORASI
Pertunjukan ini jelas berjudul Pocong Menggugat, tetapi gugatan itu serupa pidato yang kasar dan belum dipoles. Beberapa gugatan pocong disampaikan dalam momen statis serupa orang pidato di atas panggung, bentuk ini harusnya dapat divariasikan dengan bentuk lain misalnya perdebatan intens, respon fisik pada perdebatan dan teknik lain yang jauh lebih menarik. Kalau hanya berpidato, rasanya tidak perlu pertunjukan teater, cukup sediakan mimbar dan sound system. Maka terjadilah.
Upaya verbalisasi cerita dan pesan memang jamak kita temui. Teknik ini merupakan teknik paling dasar dalam menyampaikan pesan dan cerita. Satu level di atasnya adalah menggunakan dialog dan konflik. Teknik tertinggi adalah kesimpulan tentang pesan dan cerita diperoleh penonton tanpa harus terucap di panggung. Setidaknya begitulah hirarki penulisan cerita yang saya pahami.


Terlepas dari semua itu, saya melihat 2 hal penting; bahwa pertunjukan ini telah sukses menyapa penontonnya. Keberhasilan mereka menyajikan cerita yang sesuai dengan pangsa pasar remaja perlu mendapat pujian, di tengah banyak kelompok teater yang gagal berkomunikasi dengan penonton lalu menyalahkan penonton sebagai insan yang bodoh. Kedua, upaya Teater Hampa Indonesia untuk mencoba konsep cine-theatre harusnya memberikan gambaran bahwa hal ini patut dicoba oleh banyak kelompok yang ingin mencapai sensasi artistik tertentu. Upaya Teater Hampa Indonesia belum sempurna, tetapi juga patut mendapat jempol, dua biji.
Tuban, 26 Desember 2025
Referensi:
Brecht, B. (1964). Brecht on theatre: The development of an aesthetic (J. Willett, Ed. & Trans.). Hill and Wang.
Innes, C. (1972). Erwin Piscator’s political theatre: The development of modern German drama. Cambridge University Press.
Murwonugroho, W. (2021). Demitosisasi pocong sebagai media sosialisasi kampanye stay at home. Panggung, 31(3), 389–403. https://doi.org/10.26742/panggung.v31i3.1615
Piscator, E. (1929). The political theatre (H. Rorrison, Trans.). Methuen.
Sudah baca yang ini?:
Postpartum: Institusi Keibuan dalam Perut Negara
Catatan Seorang Penonton "Sulamin Bibir Saya Dong"
Dangdut Gerobak Dorong: Ketika Penguasa Bergoyang Sewenang-wenang
Benda-Benda yang Menggerakkan Tubuh: Pertemuan Dua Migrasi
Tradisi “Dibuang” Kemana? : Kegelisahan Yang Dibawa Penari Ke Atas Panggung
Turangga (Perjalanan, Tunggangan, dan Pecahan Gagasan) : Catatan atas “Turonggo Nggo Tur” oleh Citru...
- Pocong Menggugat: Eksperimen Cine-Theatre Teater Hampa Indonesia yang Berani tapi Keruh - 18 Januari 2026
- GODOT, KEKERASAN DAN YANG PERGI - 14 Desember 2025
- KENAPA MEREKA BEREBUT PANGGUNG?: Catatan atas Pertunjukan “A New World Nova Genesis” - 16 Juni 2025

