GODOT, KEKERASAN DAN YANG PERGI
Apa yang Tersisa dari Godot?
Sejak ditulis oleh Samuel Beckett pada rentang Oktober 1948 dan Januari 1949, naskah Waiting for Godot telah ribuan kali dipentaskan. Bahkan di pentas perdananya di Théâtre de Babylone, Paris pada tahun 1953 terhitung telah disajikan kepada penonton sebanyak 400 kali. Belum lagi di gedung teater yang lainnya. Persebaran yang begitu masif terjadi pasca naskah ini diterjemahkan ke dalam lebih dari 20 bahasa dari seluruh dunia. Naskah legendaris ini telah digelar dalam berbagai format, berbagai bentuk gedung mulai dari gedung penjara, gedung sekolah, Teater Victoria hingga black box. Hal ini membuktikan bahwa naskah ini memiliki fleksibilitas yang luar biasa.
Tak terhitung penulis, aktor, sutradara bahkan naskah yang terinspirasi oleh naskah ini. Sebagai sebuah gelombang besar, Waiting for Godot membawa serta popularitas aliran absurditas dalam budaya panggung teater. Meski bukan yang pertama, tapi naskah inilah yang memberikan gempita ke seluruh dunia.

Saya menganalisis naskah Waiting for Godot menggunakan website Open Knowledge Maps (https://openknowledgemaps.org/) yang mencarikan isu-isu yang menjadi pijakan dalam publikasi terkait dengan naskah ini. Isu-isu paling populer seputar pembahasan naskah Waiting for Godot adalah Samuel Beckett, absurditas, tokoh-tokoh di dalamnya hingga nama-nama seniman setelahnya yang terpengaruh oleh naskah ini dan penulisnya. Isu-isu inilah yang selama hampir 80 tahun terus diulang-ulang. Sebuah kajian yang membosankan. Maka kali ini saya akan lebih memberikan spotlight kepada isu kekerasan.
Isu kekerasan dalam naskah Waiting for Godot nampak menjadi refleksi (dan mungkin gugatan Beckett) pada kondisi pasca perang dimana orang-orang yang diburu memori atas kekerasan yang terjadi selama Perang Dunia II. Perang ini selain membawa pergi nyawa-nyawa, juga memuntahkan mereka yang tersisa di dunia dengan membawa bekas-bekas kekerasan. Membawanya seumur hidup. Rasanya Samuel Beckett ingin juga memotret fenomena ini, selain suasana absurd yang menjadi dominan.

Pentas Sagaloka dengan judul Godot: Theatre Reimagined by Sagaloka. Tentu saja judul ini hendak memberikan batasan bahwa pertunjukan ini merupakan milik sekaligus menjadi hasil dari proses pribadi personil di dalam Sagaloka. Sekaligus ingin mengatakan bahwa kami berbeda dengan yang lain. Klaim ini tentu saja boleh saja dilakukan, meskipun perlu ditilik lagi lebih dalam kebenarannya.
Isu kekerasan menjadi lebih tebal dalam pertunjukan Sagaloka. Sepasang tokoh yang menunggu Godot tampak bukan menjadi sepenuhnya sentral cerita. Porsi tokoh yang dalam naskah disebut Pozzo dan Lucky menjadi cukup banyak menyita perhatian. Merekalah yang merepresentasikan kekerasan.
Kekerasan yang dilakukan Pozzo terhadap Lucky tidak hanya berlangsung secara fisik dengan mencambuk dan memukul, tapi yang lebih menyakitkan adalah verbal. Kekerasan dua arah ini secara eksploitatif tampak mengambil porsi perhatian dan adegan yang cukup banyak. Kekerasan sosial antar keduanya juga tercermin dalam perbedaan kelas yang begitu jauh yang melahirkan kesewenang-wenangan itu.
Kekerasan yang lebih subtil muncul dari keharusan tokoh yang tertulis dalam naskah sebagai Vladimir dan Estragon untuk menunggu Godot, yang entah apa dan kapan akan datang. Meskipun telah ada satu tokoh yang terus mengabarkan bahwa Godot tidak datang hari itu, tapi rasa penasaran mereka berdua memaksanya tetap di tempat. Ketidakpastian, penundaan dan harapan yang tak pernah terpenuhi adalah kekerasan eksistensial yang menyakitkan.
Belum lagi, akibat kekerasan ini juga mendera jauh lebih dalam, yaitu diri. Keinginan bunuh diri akibat kekerasan ini tampak dalam beberapa dialog. Kekerasan inilah yang jauh lebih dahsyat daripada cambukan dan pukulan Pozzo kepada Lucky. Kesepian dan keputusasaan memang adalah monster paling jahat yang menggerogoti dari dalam, sebuah kekerasan simbolik.

Godot dan Kekerasan di antara Kita
Godot menjadi cermin begitu besar bagi kita untuk bercermin. Tanpa terlalu bersusah payah, kita bisa menyaksikan kekerasan-kekerasan serupa di sekitar kita. Semua itu juga begitu gamblang di semua media sosial dan YouTube.
Kekerasan verbal muncul di banyak statemen pejabat yang membakar kemarahan publik. Mereka seenaknya mengeluarkan komentar yang secara mudah membakar kekecewaan masyarakat yang telah menumpuk sekian waktu terakhir. Itulah rasanya yang memicu demo rusuh bulan Agustus lalu.
Hinaan sebagaimana dilakukan Pozzo mereka lakukan di depan kamera media. Yang lebih menyakitkan daripada itu adalah bagaimana mereka mencontohkan hedonisme di tengah kesulitan rakyat menghadapi tekanan ekonomi dan PHK. Posisi tidak setara ini juga sekaligus memicu kekerasan sosial, gap ekonomi, wewenang dan relasi kuasa.
Bentuk kekerasan eksistensial lebih dominan dialami oleh generasi muda kita. Generasi Z kita yang rapuh banyak menunjukkan gejala itu. Mereka yang mengalami krisis identitas dan kaget terhadap dunia nyata yang tidak seideal dunia rumah yang diciptakan orang tuanya, dengan penuh pagar tinggi yang memanjakan. Generasi yang dibentak dan dihukum karena melanggar aturan di sekolah justru dibela habis-habisan oleh orang tuanya. Hal ini menimbulkan kebingungan standar yang memperparah krisis yang mereka alami.

Maka tidak jarang, semua kekerasan yang mereka alami dari dunia nyata hingga dunia maya ini menimbulkan trauma, putus asa hingga keinginan untuk mengakhiri hidup. Kekerasan simbolik ini rasanya semakin banyak saja di masa sekarang.
Godot Datang Juga?
Naskah Waiting for Godot sejatinya bentuk keputusasaan masyarakat pasca perang. Sialnya isu itu terus relevan hingga abad ini, puluhan tahun setelahnya. Godot-lah isu utamanya.
Siapa dia?
Berpuluh kajian ilmiah telah mencoba mencari tahu, tapi makin banyak juga tafsir yang muncul. Maka kesimpulan paling masuk akal adalah Godot sejatinya apapun yang kita tunggu, bisa berupa seseorang, sesuatu, atau bahkan waktu. Dan pada pentas Sagaloka, Godot rasanya adalah maut.
Godot Membawanya?
Saya perlu waktu dua bulan untuk mampu menuliskan ulasan ini. Yang paling berat rasanya bukanlah substansi pertunjukan yang harus dibedah secara hati-hati (bahkan kali ini saya sepertinya harus rela mengesampingkannya). Yang paling berat adalah saya harus menuliskan seorang sahabat dan guru, sekaligus.
Estragon
Ayo pergi
Vladimir
Tidak bisa
Estragon
Kenapa tidak?
Vladimir
Kita sedang menunggu Godot

Pada tanggal 12 Oktober 2025, kedua tokoh ini menunggu Godot yang tak pernah datang hingga pentas diakhiri. Sebagai penonton, saya pun berkesimpulan bahwa Godot tak akan datang, hingga pertunjukannya harus dipentaskan lagi di lain waktu, mungkin juga di lain tempat. Sehingga mendapatkan tepuk tangan yang jauh lebih sepadan.
Begitulah yang saya sampaikan kepada Pak Donikus Indarto pada malam pasca pertunjukan. Mengingat bahwa proses pertunjukan ini sangatlah panjang dan menghabiskan begitu banyak waktu dan tenaga. Bahkan pentas ini sempat mundur dan berubah tempat akibat demo besar-besaran yang lalu.
Yang mengagetkan semua orang, ternyata 10 hari berikutnya Pak Doni pergi dalam tidurnya yang tenang. Entah apakah Godot telah datang malam itu dan mengajaknya pergi. Entah Pak Doni telah mendatangi Godot yang sedang duduk santai sambil nyeruput kopi. Entah.
Sosok pengayom generasi Teater Malang, sekaligus teman ngopi dan diskusi, kini telah pergi. Begitu dramatis sebab telah menuntaskan pentasnya paling pamungkas, menghidupkan kembali sosok legendaris dari naskah legendaris pula.
Saya perlu dua bulan untuk mampu menuliskan ini semua. Dengan sisa kesedihan yang sesekali menusuk ulu hati.

Selamat jalan, kawan, guru, dan seniman teater panutan kami. Sosok yang mampu berbicara dalam semua lapisan usia. Sosok yang tentu saja tak tergantikan.
Pak Don, salam untuk Godot ya.
Sudah baca yang ini?:
Catatan untuk Diskusi dan Pertunjukan Dramatic Reading "Orde Tabung" Mengenang karya Heru Kesawa Mur...
Nusantara Sebagai Wacana Dialog Keberagaman, Catatan dari FMN 2017
Bermain Eksplorasi Bebunyian dengan Resah
Absurditas “Amanat Galunggung” dalam Pertunjukan “Leu Low”
Perburuan Pramoedya dengan Piranti Brecht
OPINION, Kepuasan Pekarya Yang Sulit Dicerna
- Pocong Menggugat: Eksperimen Cine-Theatre Teater Hampa Indonesia yang Berani tapi Keruh - 18 Januari 2026
- GODOT, KEKERASAN DAN YANG PERGI - 14 Desember 2025
- KENAPA MEREKA BEREBUT PANGGUNG?: Catatan atas Pertunjukan “A New World Nova Genesis” - 16 Juni 2025

