BETAPA HIDUP MEMANGLAH PANGGUNG PEPERANGAN: Sebuah Catatan Menjelang Pementasan Teater Sandilara Di Surakarta
“Kami sudah lelah dengan kekerasan,” adalah kalimat yang sering diucapkan Munir Said Thalib sebelum tahun 2004 ia meninggalkan kita dengan warisan kenangan dan harapan. Kalimat tersebut selalu menggema dalam semangat perjuangan masyarakat setiap kabar duka di September Hitam tiba. Sebagai masyarakat yang dihantui segunung kekerasan tanpa proses penyelesaian, kita berhak lelah. Namun, bentuk kelelahan apa yang akan kita pilih? Apakah kita memilih lelah dengan cara menutup mata sembari berharap bahwa waktu akan menyembuhkan kita? Apakah kita memilih lelah dengan cara meminjam api dari kawan dan berharap bahwa api ini akan menyebar dan membesar? Atau kita memilih cara lelah seperti Munir yang justru dengan kelelahannya dapat melipatgandakan semangatnya? Apa pun jawabannya, kita tetap membawa lelah itu bersama-sama, sambil berharap ia berubah menjadi alasan untuk tidak putus asa.
Suara gema kelelahan terhadap kekerasan tersebut akhirnya hinggap dalam sebuah kelompok bernama Teater Sandilara. Teater Sandilara baru saja melangsungkan pementasannya dengan judul Sandiwara Gelap: Erang di RKBBR Kudus pada tanggal 21 September 2025. Berbekal hulu ledak dari Kudus, mereka pun bersiap memperpanjang usia pementasan ini di Solo yang akan diselenggarakan pada 5 Oktober 2025 nanti. Pertunjukan teater yang ditulis dan disutradarai oleh Idham Ardi Nurcahyo ini menceritakan Mijah dan Tarjo yang lelah dengan kekerasan dalam bentuk peperangan. Mereka adalah sepasang suami-istri miskin yang menanti kelahiran anaknya di tengah negara dengan kondisi “darurat perang”. Sudah jatuh tertimpa tangga, mereka kembali sial; negara mengeluarkan peraturan yang melarang rakyat miskin untuk memiliki anak. Mereka terus menyibak perang untuk membesarkan anaknya di negara yang damai, di mana keamanan dan kebahagiaan tidak mahal harganya. Dengan tangan gemetar akibat lapar, akhirnya mereka pun tetap bertekad untuk memerangi perang.
Kendatipun mengangkat isu peperangan, pementasan ini tidak diposisikan sebagai ilusi kepahlawanan. Pementasan ini bukanlah epos yang mengutopiakan kekuatan manusia untuk mengalahkan manusia lain. Pementasan Erang justru menunjukkan sisi kerapuhan manusia di hadapan perang dan kekerasan. Adagium lama yang berbunyi, “Kalah jadi abu, menang jadi arang,” agaknya akurat menggambarkan pementasan ini. Selain itu, pementasan ini juga menggambarkan betapa rakyat miskin selalu menjelma pion di hadapan medan penghidupan yang seperti peperangan: mudah dikorbankan, bergerak dengan langkah paling pendek, melangkah dengan paling sedikit pilihan, terpaksa di garda terdepan kehancuran, dan sering hanya dijadikan tameng bagi kepentingan yang lebih besar.
Pementasan ini menunjukkan ketertindasan berlipat yang mendera rakyat miskin. Lebih lanjutnya, penulis dan sutradara juga menampilkan berbagai sisi kemiskinan yang kompleks. Agaknya, sutradara dan penulis naskah memiliki interteks dari dialog Gunawan Maryanto dalam fragmen film Setan Jawa bahwa, “Kemiskinan bisa menjelma menjadi apa saja.”
Spektrum eksplorasi kemiskinan dalam naskah Erang dapat ditinjau dari berbagai sisi: material hingga spiritual, eksistensial hingga sosial, gender hingga kelas, bahkan kultural hingga politis. Eksplorasi kemiskinan dalam naskah ini mengingatkan kita pada periode sastra dan drama di Indonesia pada kurun waktu tahun 1971—1998 ketika Orde Baru yang didominasi isu sosial, kemiskinan, dan pengangguran (Erawati dan Bahtiar: 2011). Di tahun ini, per Maret 2025 angka kemiskinan memang turun sebesar 0,41 persen dari tahun lalu; tetapi nyatanya kita masih tidak sulit untuk melihat gelombang PHK yang kian meluas, pendapatan yang tak kunjung naik, daya beli yang melemah, biaya hidup yang terus menanjak, kelas menengah yang makin menyempit, hingga semangat hidup yang kian berat dirasakan masyarakat (Kompas.id: 2025). Puluhan tahun dari tahun-tahun Orde Baru, kita masih bisa sepakat bahwa kemiskinan masih sedekat urat leher dengan kita. Ini menunjukkan bahwa kemiskinan masih aktual.
Pementasan Erang dari Teater Sandilara dapat menjadi sarana memperpanjang suara tentang kemiskinan. Dalam disiplin teater, kita tidak asing dengan naskah-naskah Arifin C. Noer dengan judul Mega-Mega, Kapai-Kapai, hingga Orkes Madun dari seri satu hingga tiga yang membahas kemiskinan dengan cara absurd tetapi dapat dirasakan realitasnya. Dari Putu Wijaya, kita tahu naskah-naskahnya dengan judul seperti Aduh, Anu, hingga Kursi yang membahas kemiskinan dengan humor serta cara estetiknya yang hemat dan padat. Kembali lagi soal Erang, naskah ini membingkai kemiskinan lalu mengkristalkannya dalam bentuk perang sebagai sebuah pengingat. Ini menjadi alarm bagi kita yang sedang dihadapkan dengan pemerintahan dengan corak militeristik.
Tidak hanya dari segi isian naskah yang menyoal kemiskinan dalam perang, pementasan ini juga memilih kemiskinan dalam bentuk penggarapannya. Idham, sutradara sekaligus penulis naskah, memilih bentuk ini sebagai lanjutan dari konsep form follow function (bentuk mengikuti fungsinya). Konsep garap seperti ini memiliki keterkaitan erat dengan konsep gagah dengan kemiskinan dari W.S. Rendra dan konsep berangkat dari apa yang ada dari Putu Wijaya. Hal tersebut tampak dalam model artistik pementasan Erang yang hemat tetapi multifungsional. Lebih lanjutnya, para aktor dalam pementasan ini juga multifungsional. Setiap aktor memainkan dua, tiga, hingga lima peran.
Walaupun mempertimbangkan kehematan dalam aspek isi dan bentuk, pementasan Erang masih memiliki ketergodaan pada jamaknya aspek isu yang ia pinjam dari realitas kemiskinan dan perang. Hal tersebut tampak dalam konsep garap berupa kolase yang masing-masing kolasenya menampilkan isu aktual tertentu berupa kerentanan-kerentanan rakyat miskin. Misalnya, ada spektrum kemiskinan yang ditinjau dari aspek spiritualitas di mana rakyat miskin hanya memiliki harta berbentuk doa. Kemudian, pementasan ini juga menampilkan kemiskinan yang mengakibatkan figur perempuan mengalami kerentanan ganda. Dalam serentetan kerentanan yang dialami Mijah dan Tarjo, mereka pun masih harus menghadapi badai PHK, represi ormas, genosida, hingga kepungan tentara. Hidup personal yang ringkih berulang kali dipaksa berhadapan dengan realitas sosial yang keras. Dari sinilah kita diingatkan bahwa batas antara yang pribadi dan yang kolektif sering kali kabur; luka rumah tangga bisa menjelma luka bersama, dan sebaliknya.
Mijah dan Tarjo, dengan segala luka yang disiasati ketegaran, menunjukkan kepada kita bahwa hidup memanglah panggung peperangan. Di hadapan kekuasaan yang gigantik, setiap hari kita dipaksa memilih: hilang ditelan nasib atau terus mengejar harapan, entah sekecil apa pun cahayanya. Bersama penonton, Teater Sandilara akan berbagi cahaya kecilnya di Surakarta. Semoga itu bukanlah satu-satunya cahaya. Mari, menjadi bagian cahaya itu.
Informasi Pementasan
Hari/Tanggal : Minggu, 05 Oktober 2025
Waktu : 20:00 WIB
Tempat : Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Narahubung : 0821-7908-8664

Sudah baca yang ini?:
- Monolog Satir yang Menyentak Kesadaran Sosial Dipentaskan di Yogyakarta - 30 Januari 2026
- Siliwangi Monologue Event 2025: Menghidupkan Seni, Meresonansi Kehidupan - 31 Oktober 2025
- Memoar Lengger Narsih, Menjelajahi Laku Hidup Penari Tradisi - 10 Oktober 2025

