Senin, Agustus 3, 2026
ULASANPanggung Teater

Biografi Bahasa dan Upaya Mementaskan Pepak yang Terbuka : Catatan Pertunjukan “Janua Linguarum”

1

Sore, dan kau sedikit takut terlambat, takut tertinggal pertunjukan; sebab mesti mengembalikan sesuatu dulu sebelum ke tempat pertunjukan, sebelum ke Sakatoya. Namun, untunglah, kau tak terlambat dan masih sempat kecil bercengkrama dengan kawan-kenalan, bercengkrama dengan penonton lainnya. Dan seperti biasanya, setelah suatu arahan pembuka, sekalian penonton pun dipersilakan untuk masuk ke ruang pertunjukan, ke ruang black box dari sisi lainnya… Setelah menaiki tangga dengan perlahan, di ruang putih, kau mendapati Rio yang membunyi-bersuara. Sambil melepas sepatu, dan meletakkannya rapi di tepi, kau menerka: Apa yang dilakunya, apa yang akan dikerjakannya pada nanti di pertunjukan, ya? Dan kau masuk, memilih posisi duduk: di sisi sebelah kiri tepi. Di area panggung, ada Galuh: duduk dengan rapi dan menatap ke depan. Penonton lain masuk; dan mula-mula mengisi depan. Sepasang matamu pun memandang depan dan sekeliling: Ada pengeras suara yang melingkupi. Di depan, di area panggung, ada dua buah kursi lipat, sebuah meja kecil, dua gelas plastik (merah dan kuning), dan setumpuk Pepak Basa Jawa dalam berbagai varian terbitan: yang isinya mencoba betah menempati pengertian sama.

lampu tergantung di atap panggung Janua Linguarum
lampu tergantung di atap panggung Janua Linguarum

Suara Rio, dari ruang putih, dapat terdengar dari dalam ruang hitam; keluar dari pengeras suara yang ada. Ada suatu atmosfer yang tercipta; dan sepasang telingamu, betah saja menerka: Ini suara apa? Di satu sisi, terdengar seperti nyamuk; di sisi lain, terdengar seperti suatu bahasa. Bunyi, suara, bahasa, musik… Kepalamu menerka. Sambil hanyut, kau menyadari, sudah agak lama tak menonton-hadir ke sebuah pertunjukan. Tubuhmu kau rasa kembali kikuk; dan kau pun malah terbawa pada tanya yang hendak kau simpan-renungkan nanti: Pemanasan apa yang harus dilaku penonton sebelum menonton, pun yang mau menulis sebuah catatan pertunjukan?

Meja kecil dengan dua kursi lipat, tumpukan berbagai edisi Pepak Basa Jawa di atas panggung ruang hitam pertunjukan Janua Linguarum.
Meja kecil dengan dua kursi lipat, serta tumpukan berbagai edisi Pepak Basa Jawa di atas panggung ruang hitam pertunjukan Janua Linguarum.

Terdengar suara bola, bola pingpong, beserta sejenis gema pantulan. Dan, setelah beberapa kali bunyi, Rio masuk. Dia masuk sambil memainkan bola imajiner, bola pingpong imajiner. Suara dari mulutnya memunculkan imaji atas bola itu, memunculkan imaji atas bola pingpong yang memantul. Namun, tak lama, kau sadar pula, tangan Rio dan gerak yang diperbuatnya juga kuat membangun imaji atas bola pingpong itu. Dan Rio pun duduk di kursi satunya, kursi yang tak dipakai oleh Galuh. Dengan gerak kecil, Rio pun masih memainkan bola imajiner itu. Lalu, keduanya berhadapan: bermain pingpong! Permainan itu begitu asik; dan kau tenggelam dalam aksi demikian—yang tentu ditambah suatu teaterikal penghiperbolaan. Namun, semakin lama, permainan pingpong itu semakin absurd, semakin ganjil. Sepasang matamu yang menonton, dan telingamu yang menyimak, seperti dibawa kepada sejenis ragu usil: Itu pingpong atau bulu tangkis, atau malah tenis, atau malah padel. Namun, bagimu, imaji yang ditunjang tangan Rio, cukup membuatmu yakin itu pingpong. Ah, sesekali kau lirik penata bunyi; gema dan pantulan terasa kian membangun sesuatu: membangun lanskap perasaan…

Setelah permainan bola pingpong itu, Galuh pun bangkit sambil mengambil mik merah. Ah, pelantang berganda: pelantang yang menempel dan dilekatkan di pipi, dan juga yang dipegang. Lalu, Galuh membuat suara angin, embus yang membawa pada sejenis ngeri. Dan Rio bangkit sambil membawa pengeras suara pula. Dibuatnya suara lain, seperti guntur, petir, dan lainnya, suara yang bagimu membawa kepada imaji mendung, badai, dan juga hujan. Dan kau tergoda memejam sejenak, lalu memuka, memejam lagi; dan dapat kau rasai atmosfer itu—

Rio dan Galuh memainkan suara-suara membantuk atmosfer ngeri
Rio dan Galuh memainkan suara-suara membantuk atmosfer ngeri

Kemudian, keduanya duduk kembali. Keduanya membangun imaji sesuatu dari gerak tangan-tubuh dan bebunyi: alat-alat musik. Rio membuat alat-alat mussik berbasis senar seperti violin, bass betot, sebelum akhirnya agak betah di sitar—setelah sebelumnya juga memunculkan imaji alat berbasis tiup, seperti suling dan klarinet. Adapun, Galuh lebih memunculkan alat tetabuh: kendang-ketipung yang disusun meningkat-beragam. Di adegan itu, kepalamu terbawa kepada, bahwa bunyi kendang tak bisa genap diwadahi aksara, terlebih aksara yang tak dari budaya itu sendiri. Jarak antara alfabet latin dan aksara Jawa, misalnya; meski kau tahu ada simbol-simbol fonetis yang dibuat menggelobal itu… Dan kepalamu tergoda saja, terlebih saat nanti hendak menulis catatan: “Galuh berbunyi-membunyikan tak…” Tentu kau bingung: Itu mesti ditulis tak, thak, dak, dhak, atau apa… Ya—kau ingat saat awal SD, kau menulis ganteng dengan gandeng; karena merasa /th/ itu lebih dekat ke “d” dibanding “t”, pun merasa lidahmu membuat bunyi dan bentuk bunyi yang lebih dekat ke “d” dibanding “t”. Dan tentu kau teringat pelajaran fonologi, di SMA atau kuliah di tahun awal. Di momen demikian, di hadapan Rio dan Galuh yang sedang menyetem alat musik imajiner, kau pun teringat pelajaran musik dari ayahmu; dan akhirnya cukup mantap berkata: Bunyi berkenaan dengan pengalaman. “Seperti apakah telinga pun tubuh penonton lain saat berhadapan dengan bebunyi dan suara, ya? Bagaimana tubuh dan telinga manusia saat bersentuhan dengan bahasa dari suatu budaya lain, dari budaya yang dekat tapi tak lagi terasa mudah terakses?”

BACA JUGA:  Teater "Sekar Murka", Bunga dan Refleksi Tentangnya
Rio duduk masih menggerakkan tangan seperti bermain pingpong
Rio duduk masih menggerakkan tangan seperti bermain pingpong

Kemudian, masing-masing mengambil pepak dari tumpukan di atas meja. Rio membunyi suara satwa; dan Galuh membunyikan tiruan benda pun kerja—yang di telingamu terdengar sebagai sejenis variasi dari kata kerja jatuh. Sambil menyimak-menonton, kepalamu iseng saja untuk bertanya, bagaimana cara manusia di kurun silam membangun sebuah bahasa dan bebunyi? Bagaimana bunyi gubrak hadir untuk terjungkal, dan grusuk untuk terjerumus-terjerembab? Dan tentu, kau juga iseng bertanya suara ayam itu “sama”, tapi kenapa tiap budaya dapat lain mendengar, lantas membuat lain onomatope atau tiruswara-nya—pun dalam hal penulisan kata atas bunyi itu? Ya, kau ingat, salah satu pengajar linguistikmu pernah saja berkata: Di bahasa Jawa, umumnya, bunyi a/o untuk besar, sedang i/e untuk kecil. Dua suara, Rio dan Galuh, yang bersahutan, bagimu, seperti menunjukkan alam benda yang ramai, tapi tak riuh—

Galuh duduk sambil membaca dan merapal Pepak Basa Jawa di atas meja, menciptakan suasana rapalan tembung yang mengiringi aksi Galuh yang berkeliling membawa mikrofon.
Galuh duduk sambil membaca dan merapal Pepak Basa Jawa di atas meja.

Galuh bangkit dari duduknya, meletakkan pepak yang diambil, lantas berganti membawa mik merah. Dia mulai memunculkan kata ulang, mulai memunculkan dwilingga. Galuh menyebut bagian depan, dan Rio diminta melengkapi belakang, dengan todongan mik: “mloya… mlayu, tura… turu…” Dramaturgi permainan pun muncul. Aturan main seketika seperti terpahami penonton, meski masih menyedia ruang tapi. Galuh pun berkeliling: menanyai dan menyuguh mik dengan wajah datar. Dwilingga menjelma dramaturgi permainan, yang mengasyikkan tapi juga mencekam-membingungkan. “Nguyah… nguyuh, morat… marit…, mobat… mabit…” Ada yang dapat menjawab, ada pula yang tidak. Atmosfer demikian membawamu kepada imaji silam tentang bagaimana masyarakatmu mengajarimu tentang bahasa Jawa, malu-rikuh, tetapi tetap menawarkan keasyikan ganjil keterhubungan. Ya, kau masih betah untuk berkata: bahasa Indonesia adalah bahasa Ibu, dan bahasa Jawa adalah bahasa yang diajarkan oleh Ayah supaya dapatlah bermasyarakat, terhubung dengan kolektif-komunitas…

Di sisi depan, saat Galuh berkeliling menodong mik dan bertanya, Rio sibuk membaca pepak: sibuk pula membunyikan dwilingga. Dan itu, bagimu, terasa seperti sebuah rapalan. Ya—Rio tengah merapal tembung… dan bila ditata lagi akan menjelma tembang. Di akhir, Galuh pun ke posisi mula, menatap ke arah penonton dan merapal pula dwilingga. Dan setelahnya, Galuh duduk kembali: minum dari gelas kuning, seperti Rio tadi meminum air putih dari gelas merah. Kemudian, keduanya memunculkan suara-suara seperti desah, seperti rintih, seperti orang yang kepadasan; dan kepalamu pun seperti dibawa pada seperti-seperti lain—sembari mencocokkan dengan ekspresi. Rio di satu titik, sebelum kembali ke bebunyi, seperti melantun…Tempo pun makin naik, dan naik, dan naik, lalu turun, dan turun, dan turun sebab lelah, lantas senyap. Dan, dalam senyap itu, pertunjukan selesai, pertunjukan menyatakan cukup dulu. Sekalian penonton pun bertepuk tangan…

BACA JUGA:  Jarak Sebagai Medium dalam "Cerita Anak" Pappermoon - Polygot
Rio duduk sambil membaca dan merapal Pepak Basa Jawa di atas meja, menciptakan suasana rapalan tembung
Rio duduk sambil membaca dan merapal Pepak Basa Jawa di atas meja, menciptakan suasana rapalan tembung

2.

Saat menonton dan menyimak pertunjukan itu, kau teringat pada kuliah-kuliah pengantar Ilmu Bahasamu dulu. Suatu waktu, dosenmu menjelaskan, satuan terkecil bahasa yang sudah punya arti adalah morfem. Namun, dosenmu tetaplah memberi contoh dan catatan: “Bunyi /a/ belum punya arti, selain huruf pertama dalam alfabet. Namun, saat seorang terjatuh dan mengeluarkan bunyi /a/, maka huruf-bunyi itu jadi punya arti: rasa sakit. Namun, hal itu tidak ajeg pula: sebab bisa berarti kaget, mengerti, dan lainnya, sesuai konteks ekspresi penutur…” Dan menyaksikan pertunjukan itu, kau terbawa lagi ke pengalaman itu, pengalaman saat melihat garapan Fioretti lainnya, seperti “Sinsigus in 4#”. Dan kau, yang juga dipaksa nasib menjafi guru bahasa, mesti mengakui sukar saja membeda bunyi dan suara—meski saat menilik kamus bahasa akan terang juga. Namun, bagimu, menyaksi pertunjukan itu, kau terbawa pada beberapa kata kunci seperti bunyi, suara, bahasa, pun musik. Dan, kata kunci itu jadi seperti membawamu kepada makna, sejarah, budaya, gerak, tubuh, bahkan citra dari bebenda. Dan, saar menyimak sesi diskusi, di mana aktor maupun sutradara, pun para penonton bersuara, kau tergoda pula untuk membuat simpulan ganjil: pengalaman bebunyi maupun bahasa adalah juga pengalaman yang terganda: sangat individual, tapi sekaligus komunal. Kau cukup betah bercuriga, para penonton dipaksa atau dibujuk membocorkan biografi bahasanya dan tergelitik guna berkata bahasa adalah tubuh saya juga.

Rio duduk sambil membaca dan merapal Pepak Basa Jawa di atas meja, menciptakan suasana rapalan tembung yang mengiringi aksi Galuh yang berkeliling membawa mikrofon.
Rio duduk sambil membaca dan merapal Pepak Basa Jawa di atas meja, menciptakan suasana rapalan tembung yang mengiringi aksi Galuh yang berkeliling membawa mikrofon.

Sebagai sebuah pertunjukan, “Janua Linguarum” tentu kau akan mantap berkata, pertunjukan itu menarik. Namun, sebagai penonton, kau betah juga berkata dan bertanya-tanya, pun setelah menyaksi hingga semacam akhir: Akan dibawa ke mana pertunjukan ini sebenarnya? Amatlah betah kau amini, bahasa bukan hanya alat komunikasi; bahkan kau sampai membuat esai yang betah kau banggakan seganjil apa pun esai itu, esai berjudul “Bahasa dan Apa-Apa yang Tak Sekadar Hanya”. Dan kau, meski tetap memiliki sejenis kesebalan tersendiri pada bahasa, tetap bertanya-tanya, bagaimana bahasa bisa ada dan langgeng, tapi juga hilang-sirna; atau bertahan tapi seperti setengah hidup setengah mati. Sebuah konsep dimasukkan ke dalam bebunyi, yang disepakati-disepemahami, guna jadi bahasa: pun diwariskan! Dan, bebunyi tadi dimasuk-catat dalam aksara. Dan kau tertarik pula bagaimana bahasa yang tak punya aksara meminjam aksara budaya lain dan disesuaikan dengan berbagai timbangan. Ah, kau bayang itu menarik pula bila dikerja garap di kerangka “Janua Linguarum” itu—

Momen diskusi antara aktor, sutradara, dan penonton setelah pertunjukan, membahas pengalaman bahasa, bunyi, serta biografi personal yang tergoda untuk dibocorkan selama pertunjukan berlangsung.
Momen diskusi antara aktor, sutradara, dan penonton setelah pertunjukan, membahas pengalaman bahasa, bunyi, serta biografi personal yang tergoda untuk dibocorkan selama pertunjukan berlangsung.

Sebagai suatu pertunjukan yang bertolak dari Pepak Basa Jawa, kau rasa pertunjukan itu begitu mengasyikkan. Namun, apakah pembunyian kembali dengan dan melalui pertunjukan itu juga dapat berarti menghidupkan lagi? Dan sebagai pertunjukkan, kau pun membayang-timbang properti, kostum tubuh, dan panggung dapat pula hidup dan memberi denyut. Amat masih kau raba, meski bisa mencari dan asal menerka, tentang alasan-alasan artistik yang bisa dipertebal: tentang kenapa memilih pentuk panggung demikian, kenapa pakaian yang dipakai oleh aktor memakai setelan dan gaun hitam, dan kenapa pula properti yang dipilih seperti itu… Amatlah kau bayangkan, meski memijak pada bebunyi, pada suatu teks bahasa, sebagai pertunjukan, soalan itu bisa dimaksimalkan; dan tak disia-siakan dan hanya menjadi sekadar hanya. Dan bila boleh meminta, sebab mungkin nanti ada versi lengkap pula, sebagai suatu proyek tumbuh, kau bayangkan ada sejenis alur naratif atau tangga dramatik yang lebih lugas: bukan hanya ilustrasi, tapi sekuens narasi, aksi, pun perasaan itu sendiri. Ah, betapa kau banyak meminta…

Semakin ke sini, kau semakin paham, meskipun disebut pepak, tapi tak genap pepak, tak genap lengkap; dan lebih hadir sebagai suatu pemadatan—untuk tidak mengatakan penyederhanaan. Ya, dulu, saat sekolah, kau betah membayangkan, Pepak Basa Jawa adalah sejenis rangkuman pelajaran bahasa. Betapa, kau bayangkan, pertunjukan itu dapatlah pula menilik relasi antara tubuh dan bahasa, antara bahasa dengan sesuatu lainnya. Tubuh saat terkena api akanlah panas, tubuh saat terkena air akanlah basah, lalu apa yang terjadi saat tubuh terkena bahasa? Dan kau bayangkan itu lebih luas lagi: “Bagaimana tubuh terkena dan bersentuhan bahasa A dan bahasa B? Atau, bagaimanakah tubuh bahasa A kala berhadapan dengan bahasa B.” Ah, kau ingat hal ganjil kekasihmu… Kamus, pepak, ataupun lainnya, dapat pula dibaca sebagai pembekuan, pun pembakuan. Namun, kau cukup betah mengamini pernyataan novel Merakit Kapal karya Shion Miura: Sebuah kamus adalah sebuah kapal. Dan karenanya, suatu batas menjadi perlu. Dan kau bayangkan menghidupkan bahasa, bahasa apa pun itu, bukan hanya membunyikam, tetapi juga menyuarakan, menggerakkan agar sampai ke Seberang… Dan kau teringat unggahan di media sosial itu! Amat mungkin, yang dibutuhkan bukanlah hanya kamus tertulis, tetapi lebih kepada “kamus manusia”. Perpustakaan Manusia! Pertunjukan itu malah menggodamu untuk mantap berkata: Kita membutuhkan kamus manusia: bahasa yang hidup, tumbuh-menubuh, bahkan memanusia! Dan seperti novel itu, membuat kamus adalah kerja panjang, tapi menghubungkan. Kau membayang, seganjil apa pun itu, meski ada serangkaian perubahan, kau dapat terhubung dengan seorang di masa lalu dan masa depan, pun kini yang lain, dengan dan melalui bahasa… Apa nenek buyutku juga membunyikan /wus/ saat mendengar embus angin? Dan, seperti apa bebunyi bebenda dan kerja di masa depan, di masa yang nanti datang?

3.

Sudah akhir Juli, dan catatanmu tentang “Janua Linguarum” masihlah di kertas buram, masih menjelma sketsa lembaran. Dan kau dapati tubuhmu, yang dibebani kerja formal kantoran dan pengajaran bahasa untuk keperluan praktis lanjutan, terasa lelah menata catatan agar jadi rapi… Dengan tubuh lelah, dan jarak pengalaman yang mulai entah, kau pindah catatan pengalaman itu: seganjil apa pun. Dan, setelah rampung, kau ingin saja bergurau pada seorang tukang bunga yang berkata berhasil mencuri bahasamu: Apa bahasa yang keseleo bisa diurut simbahku?[]

BACA JUGA:  Catatan untuk Diskusi dan Pertunjukan Dramatic Reading "Orde Tabung" Mengenang karya Heru Kesawa Murti Oleh Teater Gandrik
Polanco S Achri

Polanco S Achri

Polanco S. Achri lahir di Yogyakarta, Juli 1998; dan menetap pula di kota tersebut. Seorang pengajar bahasa di sebuah SMK di Sleman. Menulis puisi, prosa-fiksi, dan esai-esai pendek; serta sesekali menulis naskah pertunjukan dan memproduksi film. Mengelola Pendjadjaboekoe dan juga Majalah Astro. Bergiat di Komunitas Utusan Negeri Dongeng, sebagai penulis naskah dan pemusik; dan memimpin Sindikat Muda Liar Ngantukan. Sempat menjadi penulis untuk pameran Black Symptoms #2: Aksi/Re/Aksi (2023) dan pameran Jogja Ceramic Fest: Clayboration (2023). Beberapa tulisannya tersiar di beberapa media, baik cetak maupun daring. Dapat dihubungi di FB: Polanco Surya Achri dan/atau Instagram: polanco_achri.