Jumat, Januari 9, 2026
ULASANPanggung Teater

Teater Kubur yang Melukis Panggung di Pentas Rintrik

Saat lampu Graha Bhakti Budaya meredup malam itu, panggung pertunjukan langsung menyergap penonton dengan aura mistis yang dingin dan menyepi. Sebelum sepatah kata terucap atau satu gerak tubuh tercipta, panggung lebih dahulu berbicara. Dominasi cahaya biru keunguan membalut seluruh ruang, menciptakan kesan angker sebuah wilayah yang terisolasi dari dunia luar. Persis seperti imaji lembah pembuangan bayi dalam cerpen Danarto yang diadaptasi menjadi lakon teater ini.

Di sanalah, di ruang hampa antara mimpi dan kematian, batang-batang kayu tipis menjuntai dari langit-langit bagai akar-akar dunia bawah, atau nisan-nisan yang tumbuh dari kubur masal moral manusia. Mereka berjejal dalam formasi rapat membentuk menara surealis, atau menyendiri bagai rintihan yang tertinggal. Di bawahnya, gundukan batu dan platform bertingkat hadir laksana makam-makam kecil, kuburan tak bernama yang tanpa henti digali oleh Rintrik, sang perempuan buta yang agung.

YOSE0915 | Teater Kubur yang Melukis Panggung di Pentas Rintrik
Rintik, Teater Kubur. Dokumentasi FTI 2025 / Jose Riandi
YOSE0797 | Teater Kubur yang Melukis Panggung di Pentas Rintrik
Rintik, Teater Kubur. Dokumentasi FTI 2025 / Jose Riandi

Desain panggung ini—kemungkinan besar buah tangan Dindon W.S., pendiri dan sutradara Teater Kubur—hadir bagai lukisan hidup. Ia “melukiskan” suasana batin Rintrik yang mengubur bayi-bayi tak berdosa di tengah kegelapan moral. Latar belakang putih polos menjadi kanvas bagi permainan cahaya; gradasi dari biru es hingga ungu magenta menciptakan fajar yang tak pernah terang dan senja yang tak kunjung malam.

Suasana batin itu terasa secara fisik: dingin, muram, spiritual, sekaligus tragis. Desain minimalis ini adalah bahasa pertama pertunjukan. Ia adalah karakter itu sendiri, semacam perwujudan visual dari kegelapan, kesendirian, dan pencarian. Dia mengajak kita menyelam ke dalam mikrokosmos mistis Danarto yang penuh tanya tentang hidup, mati, dan kebenaran. Semua jawaban, atau justru pertanyaan yang lebih dalam, telah terlebih dahulu terpampang di atas panggung proscenium, sebelum ceritanya bahkan dimulai.

Lakon “Rintrik” dibawakan oleh Teater Kubur sebagai persembahan penutup rangkaian Festival Teater Indonesia (FTI) 2025 titik temu Jakarta, yang digelar pada 14-16 Desember di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Festival ini, yang mengusung tema “Sirkulasi Ilusi”, secara khusus mensyaratkan adaptasi dari karya sastra Indonesia. Dan Teater Kubur memilih cerpen ikonik Danarto dari kumpulan Godlob (1975) dengan menjadikan nama tokoh protagonisnya sebagai judul lakon.

Namun, jejak “Rintrik” dalam sejarah Teater Kubur bukanlah yang pertama. Menurut Dindon, naskah dewasa Danarto ini pernah dipentaskan dengan berani pada era 1980-an oleh para anggota Teater Kubur yang kala itu masih remaja (bocah-bocah SMA). Dalam sebuah festival bergengsi Festival Teater Lima Kota di Bulungan yang diisi kelompok-kelompok senior seperti Teater Dinasti Yogyakarta dan Bengkel Muda Surabaya, Teater Kubur yang paling muda justru mencuri perhatian.

Pola pemanggungannya pun tak lazim untuk masa itu. Penonton disusun melingkar dengan cahaya terpusat di tengah, menempatkan Rintrik sebagai center of universe. Pendekatannya adalah teater rakyat dengan nyanyian-nyanyian dan formasi peran yang digandakan, menciptakan sebuah komposisi choral yang magis. Kekaguman Widji Thukul dan komentar Teguh Karya yang menyebut Dindon “kenal betul hal-hal yang sifatnya tradisi” menjadi bukti kesuksesan eksperimen masa muda mereka itu. Kini, puluhan tahun kemudian, “Rintrik” dihidupkan kembali dengan kedewasaan dan kompleksitas visual yang berbeda, namun dengan semangat eksplorasi yang sama.

YOSE0956 | Teater Kubur yang Melukis Panggung di Pentas Rintrik
Rintik, Teater Kubur. Dokumentasi FTI 2025 / Jose Riandi

Saya belum pernah sekalipun membaca cerpen asli Danarto yang pertama kali dimuat di majalah Horison dan meraih penghargaan pada 1968 itu, juga melihat dokumentasi pementasan Teater Kubur di Bulungan. Pembayangan saya sebelum pementasan hanya bersumber dari riset daring, termasuk tulisan Ahmad Suyudi di Harian Jayakarta, 2 Maret 1989, berjudul “Kebenaran yang Kalah dalam ‘Rintrik'”. Di sana, Suyudi menggambarkan bahwa judul asli cerpen ini bukanlah kata atau frasa gramatikal, melainkan gambar simbolis: sebuah jantung tertusuk anak panah dan meneteskan darah.

BACA JUGA:  "Blendrang" Poem Bengsing: Dari Belakang Layar ke Panggung Rasa

Tokoh Rintrik dalam cerpen adalah seorang perempuan tua, buta, kurus, dan hitam legam yang hidup di limbo antara hidup dan mati. Setting-nya unik, tak terikat waktu atau tempat realistis: Sebuah lembah mistis pembuangan bayi, di mana peristiwa-peristiwa mengalir di luar logika rasional, khas gaya Danarto yang surealis dan spiritualis. Oleh karena itu, adaptasi Teater Kubur kali ini menjadi makin menarik untuk disimak.

Jelas terlihat di atas panggung bahwa mereka tidak hanya berusaha memindahkan teks linear cerpen ke dialog teater, tapi benar-benar menyerap realitas spasialnya yang absurd dan mistis. Transformasi ini bukan sekadar translasi, melainkan perluasan esensi dari narasi tertulis ke ruang hidup yang bernapas, di mana panggung menjadi perpanjangan langsung imajinasi Danarto.

YOSE0963 | Teater Kubur yang Melukis Panggung di Pentas Rintrik
Rintik, Teater Kubur. Dokumentasi FTI 2025 / Jose Riandi

Dalam pementasan, Teater Kubur menjadikan panggung sebagai entitas hidup yang berdialog dengan aktor. Rintrik muncul di awal pertunjukan dalam gambaran siluet bergerak lambat dan repetitif: menggali, merintih, mengubur. Gerak itu menyatu organik dengan elemen panggung, menciptakan ritme hipnotis yang menenggelamkan penonton ke dalam limbo cerpen. Suara minimalis mempertegas spasialitas itu, membuat kita merasakan secara fisik “ruang hampa” yang digambarkan Danarto.

Begitu para aktor muncul, panggung semakin bernapas. Tubuh para aktor menjadi ekstensi panggung. Mereka bergerak berjejal atau menyendiri. Pendekatan ini khas Teater Kubur, yang sejak era 1980-an dikenal dengan improvisasi dan eksplorasi tubuh, membuat adaptasi ini terasa anti-linear. Setia pada semangat cerpen yang menolak plot konvensional.

Yang juga mencolok adalah bagaimana pementasan ini menangkap dimensi sufistik dan kritik sosial Danarto. Rintrik, sebagai simbol keagungan di tengah kebobrokan moral, bukan hanya tokoh pasif. Melalui akting dan spasial panggung, ia menjadi “nabi” yang memaksa penonton menghadapi bawah sadar kolektif tentang pembuangan bayi sebagai metafora pengabaian nilai kemanusiaan. Di saat aktor lain muncul sebagai bayangan masyarakat (para pembuang, pengintip, atau petani yang datang dengan rasa ngeri bercampur kagum) panggung semakin terasa sebagai arena konfrontasi batin.

YOSE0965 | Teater Kubur yang Melukis Panggung di Pentas Rintrik
Rintik, Teater Kubur. Dokumentasi FTI 2025 / Jose Riandi

Piano, Badai, dan Pengakuan Sebuah Benda Mati

Di panggung itu, seorang aktor sebagai karakter warga, memandang kagum pada bayangan hitam di belakangnya. Asap memenuhi panggung menciptakan suasana lereng dan lembah penuh kabut. Aktor-aktor lain berhamburan masuk, berlari ketakutan dari satu sisi panggung ke sisi lain, seakan dikejar oleh hantu rasa bersalah mereka sendiri. Beberapa di antaranya tampak seperti wanita hamil yang gelisah, yang lain menggendong bundel kain menyerupai bayi, simbol pembuangan yang menjadi inti cerpen. “Lihat seorang perempuan yang tua dan buta. Di tengah badai dia masih bekerja,” ucap salah satu dari mereka.

Kemudian, suara seorang wanita bernyanyi lirih menggema, menggambarkan lembah itu dengan nada yang ambigu antara keindahan dan kegelapan: “Ada sebuah lembah yang indah di lereng gunung. Bagaikan tempat impian, laksana ranjang pengantin.” Konon, dalam cerpennya dikatakan bahwa para pelancong banyak yang berlibur ke sana, berpasang-pasangan, cantik-cantik dan gagah-gagah. Lembah itu memang benar-benar indah, ada sesuatu yang kuat menarik hingga hampir tiap saat orang berbondong-bondong ke sana.

YOSE1006 | Teater Kubur yang Melukis Panggung di Pentas Rintrik
Rintik, Teater Kubur. Dokumentasi FTI 2025 / Jose Riandi

Kata orang, lembah itu merupakan perpaduan keindahan dan kegaiban, sehingga sukar orang mengatakan isi hatinya yang tepat mengenai kekagumannya atas pemandangan itu. Dan kadang-kadang lembah itu berbolak-balik rasanya. Pernah orang mengutarakan pendapatnya mengenainya dan tiba-tiba lembah itu berbalik lain sekali. Orang mengatakan begini dan lembah itu menunjukkan dirinya begitu. Lama-lama orang insaf, rupanya tidaklah perlu mengatakan pendapatnya.

BACA JUGA:  Tubuh yang Membaca Sejarah: Pembacaan Reflektif atas “Unjuk Ara” sebagai Aksi Koreografi dan Performatif

Kalau pagi hari matahari menyinarinya dan lembah itu ditutup oleh segumpal kabut di atasnya, hingga sinar-sinar lembut yang menerobosinya, merupakan sutra-sutra lembut dengan warna biru-hijau-putih, merupakan pagar-pagar ranjang pengantin yang menggairahkan, demikian kata orang yang habis pergi ke sana. Sedang sore hari lembah itu kena pantulan merah langit, hingga menjadilah beledu ungu yang redup dan samar-samar membentang luas adalah taman surga tempat pasangan-pasangan asmara berkejar-kejaran dengan manjanya.

Gambaran idilis dalam cerpen Danarto ini—yang sebenarnya menyembunyikan kegelapan moral—ditampilkan oleh Teater Kubur di atas panggung dalam kegelapan yang suram. Pasangan-pasangan berkejaran, namun dalam gestur yang gelisah dan terdistorsi, seolah kebahagiaan mereka rapuh dan semu. Panggung penuh dengan orang yang berlalu lalang di atas platform bertingkat yang tetap suram, di mana cahaya biru keunguan tak pernah benar-benar menerangi.

Teater Kubur sepertinya memang tidak ingin menampilkan keindahan dalam setting panggung yang warna-warni dan penuh keceriaan. Sebaliknya, kegelapan terus ada, mengelilingi mereka-mereka yang seharusnya sedang berbahagia, mengingatkan bahwa lembah impian itu telah berubah menjadi tempat pembuangan dosa.

Badai pun menghantam. Panggung diselimuti kabut asap tebal yang menyapu segala batas. Ranting-ranting bergoyang liar, beberapa batang roboh bagai tulang patah. Di tengah kekacauan alam ini, gundukan tanah tempat Rintrik berjongkok menggali tiba-tiba bermetamorfosis, menyembul dari bumi menjadi sebuah piano berwarna putih pucat. Rintrik, dengan tenang yang menakutkan, beralih dari menggali kubur ke duduk di belakang piano. Jari-jarinya menari di atas tuts, memetik melodi liris dan menyendiri yang justru terdengar lebih menyayat daripada teriakan badai.

Warga-warga yang panik berkerumun, tertarik sekaligus tercekam oleh permainannya. Dari kekaguman yang bercampur ngeri, lahirlah pertanyaan yang mendesak: “Wahai lagu yang mengiris-iris, siapakah gerangan perempuan, engkau yang gagah berani di lembah yang seram ini, kalau kami boleh bertanya?”

“Aku bukan manusia,” sahut Rintrik.

“Genderuwo kah?” tanya mereka, mencoba menangkap esensinya dalam kategori dunia mereka.

“Juga bukan….”

YOSE1086 | Teater Kubur yang Melukis Panggung di Pentas Rintrik
Rintik, Teater Kubur. Dokumentasi FTI 2025 / Jose Riandi

Ia kembali memainkan piano, tapi kali ini dengan jari menyentuh udara. Setelah alunan berhenti, desakan warga memuncak: “Manusia bukan dan hantu juga bukan, apakah gerangan kalau begitu?” Dan dari mulutnya mengalir pengakuan yang mematikan segala kategori: “Aku ini sebuah benda mati!”

Pengakuan itu memicu kegelisahan. Para petani yang diperankan oleh ensembel aktor kemudian menyalahkan Sang Pencipta atas musibah yang hadir. Mereka mendekati Rintrik, si “benda mati”, meminta pertanda. Di tengah hiruk-pikuk itu, Rintrik justru menjadi pusat ketenangan. Suaranya yang rendah menasihati penerimaan dan kesabaran, merangkum konsep ketuhanan, kemanusiaan, dan penyerahan diri dalam filsafat yang mistis.

Gerakannya yang repetitif, kini berwujud dalam permainan piano, terus berlangsung, menciptakan ritme konstan yang berseberangan dengan kekacauan di sekelilingnya. Ritme itu adalah simbol ketabahan jasmani dan kedalaman spiritualnya. Untuk mempertegas atmosfer, dari langit-langit panggung turunlah boneka-boneka bayi yang menggantung, menjadi orkestra visual yang mengerikan.

Kemudian, masuklah tokoh-tokoh yang memperuncing konflik: sepasang Pemuda dan Pemudi yang tragis, membawa ‘bundle’ bayi yang hendak dibuang. Performa mereka dipenuhi intensitas dendam dan penolakan diri. Sebuah kutukan terhadap manusia, alam, dan Tuhan itu sendiri. Mereka menentang habis-habisan wejangan Rintrik. Gerak Pemuda kaku dan penuh amarah, ia mondar-mandir di antara batang-batang kayu bagai binatang terjebak dalam sangkar batinnya sendiri.

BACA JUGA:  Itu Perputaran Siklus, Bukan Rotasi : Catatan atas “Tatengghun Nemor” — Kamateatra di BWCF ke-12
YOSE1149 | Teater Kubur yang Melukis Panggung di Pentas Rintrik
Rintik, Teater Kubur. Dokumentasi FTI 2025 / Jose Riandi

Sang Gadis, anak dari Sang Pemburu, dengan gestur lembut yang mencoba menjadi penengah namun pada akhirnya tak berdaya. Puncak dari semua antagonisme itu adalah Sang Pemburu sendiri. Ia memasuki panggung dengan aura penguasa korup yang otoriter, bersenjata, dan melihat Rintrik sebagai ancaman terhadap tatanan busuk yang dipertahankannya. Ditangannyalah kekuasaan yang sewenang-wenang dan kesewenang-wenangan yang berkuasa berpadu.

Kehadiran Rintrik di lembah najis ini ibarat sebongkah kebenaran telanjang yang terjatuh ke tengah pesta topeng. Lembah yang dulu dipuja sebagai destinasi pelarian dan kesenangan, telah bertransformasi menjadi lubang sampah moral, tempat manusia membuang bukti dosa-dosa mereka. Nilai-nilai kebatilan ini diwujudkan secara gamblang oleh tokoh Sang Pemburu, dan secara implisit oleh kehadiran massa yang mudah panik dan haus tumbal.

Puncak tragedi tiba. Rintrik yang dianggap perusak ketentraman—atau lebih tepatnya, pengganggu ketenangan hati nurani yang berdosa—ditangkap dan diikat pada sebuah tiang, siap untuk dieksekusi. Dalam saat-saat terakhirnya, ia menyebarkan gagasan terakhir yang paling subversif bahwa sesama manusia seharusnya menjadi ‘Tuhan’ satu sama lain melalui kasih sayang dan kemakmuran yang setara. Gagasan ini langsung dihadang oleh tembok tebal kesewenangan, arogansi, dan korupsi spiritual yang diwakili Sang Pemburu.

Panggung, yang sejak awal adalah lukisan batin Rintrik, berubah menjadi gelanggang pertarungan kosmis antara kebenaran dan kebatilan. Kegelapan pun mengental, menyergap setiap sudut, secara visual mewujudkan tema “kebenaran yang kalah” yang diusung cerpen aslinya. Sang Kebenaran yang buta, yang sejak awal termanifestasi dalam desain panggung yang dingin dan menyepi, akhirnya dikuburkan di dalam kuburan yang selama ini ia gali dengan setia.

Kekalahan itu terasa lengkap, menusuk, dan meninggalkan ruang hampa yang jauh lebih pekat daripada cahaya biru keunguan yang menyambut kita di awal pertunjukan. Dengan sebuah tembakan Rintrik pun gugur.

Hidayat Adhiningrat

Hidayat Adhiningrat

Lahir di Bandung dan kini memutuskan tinggal sambil bekerja di Jakarta. Memiliki minat terhadap kesenian dalam kapasitas sebagai penulis dan penonton. Kadang datang ke pameran, kadang menonton seni pertunjukan, kadang ikut diskusi kesenian, kadang ikut workshop penulisan ulasan kesenian.