Sabtu, Maret 28, 2026
ULASANPanggung Teater

Menonton Taskhir, Mengalami Tadarus Puisi, Membaca Teater Eska

Sabtu malam, 7 Maret 2026, selepas salat tarawih, Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta perlahan-lahan dipenuhi oleh kurang lebih 380-an orang penonton. Mereka semua datang bukan sekadar untuk menyaksikan sebuah pertunjukan teater, tetapi menghadiri sebuah tradisi artistik yang telah berlangsung hampir tiga dekade, yakni Tadarus Puisi Teater Eska.

Tahun ini, Tadarus Puisi yang ke-26 menghadirkan pertunjukan berjudul Taskhir, yang disusun oleh Rimbun Rahmadhani Emgiek berdasarkan puisi โ€œPenaklukan Alamโ€ karya Muhammad Iqbal. Pertunjukan Taskhir ini disutradarai oleh Angelita Puspa Rachmawati dengan asisten sutradara Wildan Mushoffa dan pimpinan produksi Nafis Alfa Dzikri.

Gambar1 | Menonton Taskhir, Mengalami Tadarus Puisi, Membaca Teater Eska
Curtain call pertunjukan Taskhir, Tadarus Puisi XXVI Teater Eska
[ Pemain: Daffa, Surya, Atha, Ipan, & Angel | Penata Artistik: Surya & Ipan | Penata Musik: Fauzan, Sayosa, & Dzul | Vokalis: Kariza & Putri | Penata Cahaya: Fiqhan | Penata Busana: Dina & Angel | Penata Rias: Dina, Angel, & Alya | Manajer Panggung: Surya | Konsumsi: Dina, Thariq, & Ucul | Penjaga Tiket: Nauroh | Pendanaan: Thariq | Multimedia: Daffa, Irgi, & Ilyas | Dokumentasi: Daffa, dzul, Subas | Humas: Surya | Administrasi: Atha ]

Sejak awal, Taskhir tampak ingin menempatkan puisi tidak hanya sebagai teks yang dibacakan, tetapi sebagai pengalaman yang dialami bersama. Dalam tradisi Tadarus Puisi yang telah lama dijalankan Teater Eska, puisi tidak pernah berhenti pada pembacaan verbal. Ia selalu dicoba untuk dihidupkan kembali melalui tubuh para pemain, komposisi ruang, suara, dan ritme pertunjukan. Puisi menjadi semacam medan pengalaman yang memungkinkan penonton tidak hanya memahami kata-kata, tetapi juga merasakan atmosfer makna yang dikandungnya. Pertunjukan ini bahkan sudah membangun suasana tersebut sejak detik-detik pertamanya. Sebelum tubuh-tubuh pemain benar-benar membentuk komposisi panggung, sebuah kalimat dilafalkan berulang-ulang seperti gema: โ€œInilah dia yang hatinya terluka… Inilah dia yang hatinya terlukaโ€ฆ Inilah dia yang hatinya terlukaโ€ฆโ€

Gambar2 | Menonton Taskhir, Mengalami Tadarus Puisi, Membaca Teater Eska
Opening pertunjukan Taskhir, Tadarus Puisi XXVI Teater Eska

Kalimat itu diucapkan berkali-kali dengan intonasi yang hampir menyerupai mantra. Repetisi tersebut segera menciptakan atmosfer yang ganjil sekaligus kontemplatif. Ia tidak hanya berfungsi sebagai pembuka adegan, tetapi juga sebagai penanda awal bahwa perjalanan yang akan disaksikan penonton bukan semata tentang manusia yang ingin menaklukkan alam, melainkan tentang manusia yang sejak awal telah membawa luka di dalam dirinya.

Pilihan pembukaan semacam ini menarik jika dibaca dalam konteks puisi โ€œPenaklukan Alamโ€ karya Muhammad Iqbal. Dalam pemikiran Iqbal, manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang kreatif, makhluk yang memiliki dorongan untuk mengolah alam dan mengembangkan potensi semesta. Laut diolah menjadi garam, cahaya mentari ditangkap menjadi lentera, dan dunia terus diubah oleh tangan manusia.

BACA JUGA:  Seni Menegosiasikan Ruang : Catatan dari Kaba Festival 4

Namun bagi Iqbal, penaklukan alam bukanlah dominasi yang eksploitatif. Ia lebih merupakan proses di mana manusia belajar membaca semesta dan menemukan kembali potensi dirinya sebagai makhluk yang kreatif.

Sinopsis pertunjukan Taskhir tampaknya berangkat dari gagasan tersebut. Manusia digambarkan sebagai makhluk yang terus mencipta, tetapi segala yang diciptakannya bukanlah sesuatu yang sebermula. Di hadapan manusia tetap berdiri semesta yang lebih luas, alam yang selalu lebih besar dari kemampuan manusia untuk memahaminya. Manusia, sebagaimana disebut dalam sinopsis itu, hanyalah titik kecil yang suatu saat bisa menjelma mutiara.

Alih-alih menghadirkan gagasan tersebut melalui cerita dramatik yang linear, Taskhir memilih bentuk pertunjukan yang lebih bersifat fragmentaris dan kontemplatif. Puisi dipecah menjadi berbagai lapisan peristiwa panggung, mulai dari pembacaan teks, nyanyian, gerak tubuh, hingga komposisi visual yang saling bertaut membangun atmosfer reflektif.

Tubuh para pemain memainkan peran penting dalam membangun atmosfer tersebut. Gerak mereka tidak selalu mencoba menggambarkan isi puisi secara literal. Dalam beberapa momen, tubuh justru tampak bergerak seperti sedang meraba ruang, seolah mencari orientasi di tengah semesta yang luas.

Gerak yang kadang menyerupai ritual ini memberi kesan bahwa manusia dalam pertunjukan Taskhir tidak sepenuhnya tampil sebagai penakluk alam, tetapi juga sebagai makhluk yang sedang mencari posisinya di dalam semesta.

Gambar3 | Menonton Taskhir, Mengalami Tadarus Puisi, Membaca Teater Eska
Komposisi panggung pertunjukan Taskhir, Tadarus Puisi XXVI Teater Eska

Komposisi ruang panggung turut memperkuat kesan tersebut. Sebuah struktur gerbang yang ditempatkan di tengah panggung menjadi titik orientasi visual yang cukup kuat. Sementara beberapa panel pintu di sisi kanan dan kiri menciptakan kesan bahwa panggung adalah ruang ambang, ruang perlintasan antara berbagai kemungkinan makna. Dalam komposisi seperti ini, panggung terasa bukan sekadar tempat adegan berlangsung, tetapi semacam ruang simbolik tempat manusia berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang dirinya sendiri.

Tata cahaya bekerja cukup efektif dalam membangun atmosfer pertunjukan. Perubahan intensitas cahaya membantu membentuk ritme visual yang mendukung suasana kontemplatif. Pada beberapa bagian, cahaya menciptakan ruang yang hening dan reflektif, pada bagian lain ia memberi tekanan dramatik pada gerak tubuh para pemain.

BACA JUGA:  Param Kotjak: Suara-Suara yang Mendarat, Suara-Suara yang Melesat
Gambar4 | Menonton Taskhir, Mengalami Tadarus Puisi, Membaca Teater Eska
Adegan menjelang penyadaran pertunjukan Taskhir, Tadarus Puisi XXVI Teater Eska

Namun di tengah kekuatan atmosferiknya, Taskhir juga memperlihatkan tantangan yang sering muncul dalam pertunjukan berbasis puisi. Struktur dramaturginya cenderung bergerak dalam ritme yang relatif stabil. Fragmen-fragmen visual yang kontemplatif memang memberi ruang bagi penonton untuk tenggelam dalam suasana reflektif, tetapi pada saat yang sama membuat dinamika dramatik pertunjukan tidak selalu berkembang secara intens.

Kondisi ini sebenarnya bukan persoalan yang sederhana. Teatrikalisasi puisi memang sering menghadapi dilema antara mempertahankan kualitas puitik teks dan membangun dinamika dramatik panggung. Jika terlalu setia pada atmosfer puisi, pertunjukan berisiko kehilangan ketegangan dramatik. Sebaliknya, jika terlalu mengejar dramatika panggung, puisi bisa kehilangan nuansa reflektifnya. Taskhir tampaknya memilih untuk tetap berada pada wilayah kontemplatif tersebut.

Meskipun demikian, kekuatan utama pertunjukan ini tidak hanya terletak pada bentuk panggungnya, tetapi juga pada konteks tradisi yang melahirkannya. Tadarus Puisi telah dijalankan Teater Eska sejak 1987 dan menjadi salah satu tradisi artistik yang cukup konsisten dalam lanskap teater kampus di Yogyakarta. Setiap Ramadan, puisi-puisi religius dan sufistik dari berbagai tradisi dihadirkan kembali melalui pembacaan, musikalisasi, atau teatrikalisasi. Melalui tradisi ini, Teater Eska tidak hanya mempertahankan praktik artistik, tetapi juga membangun ruang refleksi spiritual melalui seni pertunjukan. Dalam konteks teater kampus yang sering kali didominasi oleh eksperimen bentuk atau dramatika sosial, pendekatan yang menggabungkan puisi dan spiritualitas seperti ini memberi warna yang berbeda.

Gambar5 1 | Menonton Taskhir, Mengalami Tadarus Puisi, Membaca Teater Eska
Adegan penyadaran pertunjukan Taskhir, Tadarus Puisi XXVI Teater Eska

Menjelang akhir pertunjukan, para pemain menyanyikan sebuah pertanyaan yang terus diulang: โ€œMasih adakah jalan pulang?โ€ Pertanyaan itu bergema cukup lama di ruang pertunjukan, seperti gema yang tidak segera menemukan jawabannya.

Jika pada awal pertunjukan penonton dihadapkan pada kalimat โ€œInilah dia yang hatinya terluka,โ€ maka di bagian akhir pertanyaan tentang jalan pulang terasa seperti kelanjutan dari luka tersebut. Di antara dorongan manusia untuk menaklukkan alam dan mencipta dunia, selalu ada kerinduan yang lebih sunyi, yakni keinginan untuk menemukan kembali arah perjalanan manusia itu sendiri.

BACA JUGA:  Tradisi โ€œDibuangโ€ Kemana? : Kegelisahan Yang Dibawa Penari Ke Atas Panggung

Barangkali di situlah Taskhir menemukan maknanya sebagai pengalaman teater. Ia mungkin belum sepenuhnya berhasil menerjemahkan kompleksitas gagasan Muhammad Iqbal ke dalam bahasa panggung yang utuh. Namun pertunjukan ini setidaknya telah berhasil membuka ruang refleksi yang cukup jernih tentang manusia yang mencipta, manusia yang terluka, dan manusia yang terus mencari kemungkinan arah jalan pulangnya. []


Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Donasi untuk gelaran.id dan program Adisukma Inisiatif lainnya
Khuluqul Karim
Latest posts by Khuluqul Karim (see all)

Khuluqul Karim

Khuluqul Karim lahir di Gresik dan mukim di Yogyakarta. Seorang pelaku seni pertunjukan yang menempatkan sastra sebagai lokus utama penciptaan artistiknya. Salah satu ko-inisiator Ruang Makmal, fasilitator Kelas Minat Teater di SALAM Yogyakarta, dan inisiator zine Seberang Kali di Teater Eska. Instagram: @khuluqnwa