Rabu, Februari 4, 2026
ULASANPanggung Teater

Aku Hanya Seorang Laki-Laki Minang: Ulasan Pertunjukan Malin Kundang Lirih

Suara deburan ombak membangun latar tepi pantai. Sementara itu 3 aktor terlihat membeku dalam pose bersujud meminta ampunan. “Malin Kundang anak durhaka” playback audio terdengar memberi narasi pada pose-pose aktor tersebut. Tokoh Janang memainkan dendang dalam bahasa Minang yang kemudian diminta berhenti oleh 1 aktor yang terbaring di papan kayu. Dia adalah Malin Kundang, memohon untuk bercerita tentang kisah anak durhaka dari sudut pandangnya.

Ia besar tanpa sosok ayah dan harus menjadi seorang laki-laki Minang. ”Rantau adalah perjudian” menjadi kata kunci bagaimana kisah anak durhaka ini besar dan hidup sebagai seorang manusia yang memiliki kisah yang lirih. Dalam pandangannya, terjadi tarik ulur antara perasaan seorang ibu yang ditinggal anaknya dan nasibnya sebagai seorang laki-laki Minang. Ia harus bertahan hidup di rantau dan tidak memiliki kesempatan untuk membuktikan wanita tua yang mengaku sebagai ibunya. Sementara yang biasa kita ketahui dari mitos Malin Kundang ialah kisah anak durhaka kepada orang tua sebagai sebuah dogma.

Malin Kundang | Aku Hanya Seorang Laki-Laki Minang: Ulasan Pertunjukan Malin Kundang Lirih
Pertunjukan Malin Kundang Lirih di Aula Suyitno Universitas Bojonegoro. Sumber: Multimedia Arkamaya UKM Kesenian

Pertunjukan ini merupakan cerminan dari mitos sebagai kontrol sosial. Melalui demitifikasi, pertunjukan malam itu (Minggu, 14 Desember 2025) di Aula Suyitno Universitas Bojonegoro menjadi malam di mana Malin Kundang ialah seorang manusia yang tidak memiliki kesempatan untuk membela dirinya. Ia menjadi korban dogma patuh terhadap orang tua dan budaya Minang itu sendiri. Padahal banyak alasan masuk akal yang terjadi terhadap Malin Kundang.

Menurut Barthes, mitos dapat berfungsi sebagai struktur kekuasaan. Dalam hal ini cerita Malin Kundang merupakan kontrol atas norma dan nilai-nilai ideologis pada masyarakat. Seorang anak harus berbakti kepada orang tua padahal belum tentu orang tua tersebut baik. “Ibu mana yang tega mengutuk anaknya menjadi batu?” gugatan yang utarakan oleh Malin Kundang dalam pertunjukan ini merupakan salah satu pembongkaran relasi kuasa antara mitos dan norma sosial di masyarakat Minang. Kontrol sosial ini berakar dari adat istiadat, sistem kepercayaan, hingga sistem pemerintahan. Cerita Malin Kundang yang biasa dibawakan melanggengkan kontrol sosial berupa simplikasi label anak yang durhaka kepada orang tua.

BACA JUGA:  Simfoni Lintas Komponis: Memetakan Bunyi, Menarikan Suara

Pertunjukan ini menampilkan cerita dari sudut pandang Malin Kundang. Walaupun tokoh Malin Kundang dibawakan dengan bahasa-bahasa yang kritis dan cerdas. Terkesan bahwa tokoh ini melampaui latar zamannya. Apa yang diucapkan Malin Kundang terkesan seperti opini penulis naskah. Penulis naskah meminjam tokoh Malin Kundang sebagai pengantar kritiknya. Hal ini sah-sah saja karena Malin Kundang butuh diwakilkan sebagai subaltern. Karena bagi saya mustahil Malin Kundang dapat membela dirinya sendiri atau memiliki perangkat analisis antropologi yang canggih.

Penulis naskah memanfaatkan sisi antropologi humanisme yaitu menggunakan fakta budaya di Minang dan sudut pandang Malin Kundang sebagai pisau bedah untuk memperlihatkan plot hole pada mitos Malin Kundang. Cara ini menjadi cara untuk mengurai mitos atau demitifikasi. Mitos diurai dengan memperlihatkan pandangan-pandangan logis. Sehingga mitos tidak selalu hitam-putih atau bersifat dogmatis – makna tunggal, melainkan menjadi bersifat manusiawi dan kompleks. Hal ini menjadi bentuk kritik dan refleksi terhadap realitas yang terjadi dalam sebuah mitos. Demitifikasi menjadi langkah kritis dalam memahami mitos.

Alih-alih mengadu nasib, Malin Kundang bercerita tentang bagaimana kondisi sosial dan budaya Minang terhadap seorang laki-laki. Ia harus merantau dan berhasil atau menjadi aib keluarga. Namun, ketakutan itu tidak selesai sampai di sana. Di rantau ia mesti berjuang dari nol. Diceritakan ia merantau ke Makassar dan bekerja di penangkapan ikan. Hingga akhirnya ia dapat merubah nasib menjadi saudagar kaya. Ia sampai harus mengarang gelar ”Malin Kundang” untuk menikah dengan bangsawan dari Makassar. ”Pernahkan mereka memikirkan dan peduli betapa berat dan sakitnya di perantauan?” ucapan Malin Kundang menyimpulkan kekesalannya.

Rasanya keadaan ini berkaitan dengan bagaimana hukum sosial di kebanyakan masyarakat Indonesia. Ketika seseorang berhasil maka ia akan diterima oleh keluarga – materialistis. Keberhasilan menjadi tolak ukur bagaimana seseorang diterima oleh masyarakat. Hal ini diperkuat oleh klaim atau pengakuan masyarakat terhadap orang yang berhasil. Bahkan dalam pertunjukan ini Malin Kundang memaparkan di tempat kelahirannya banyak yang mengaku sebagai keluarga atau dekat dengannya ketika ia sudah berhasil. Termasuk wanita tua yang kemudian mengaku sebagai ibunya. Di sini seakan-akan Malin mesti tunduk pada dogma masyarakat. Ketika sudah berhasil, tidaklah lupa terhadap mereka yang disebut ”keluarga”. Padahal sebuah hubungan tidak serta merta menjadi hal yang transaksional. Malin Kundang tidak berhutang karena lupa kepada keluarga, barangkali ia adalah korban kepicikan masyarakat dalam memanfaatkan keadaan.

BACA JUGA:  Mengalami Ruang dan Bunyi: Laporan dari Menonton YesNoKlub #35

Pertunjukan Malin Kundang Lirih dari Actor Idea membangun simpati dan pandangan kritis terhadap Malin Kundang. Apakah benar ia anak durhaka? Atau ia terhimpit oleh keadaan sebagai laki-laki Minang? Demikian sebuah cerita atau mitos tidak dapat disimplifikasi menjadi sebuah dogma. Ada hal-hal logis yang tersembunyi di dalam cerita yang berhak untuk diketahui. “Berhenti menceritakan kisah tentangku Janang!” protes Malin Kundang kepada Janang. Kali ini biarkan Malin Kundang bercerita tentang dirinya sendiri sebagai seorang laki-laki Minang sebelum ia kembali menjadi batu.

Rizal Sofyan

Rizal Sofyan

Rizal Sofyan (l. 1996, Rangkasbitung) merupakan seorang performer, sutradara, dan peneliti seni & budaya dari Rangkasbitung, Banten. Ia merupakan lulusan Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta (lulus tahun 2023). Memulai karir seninya di seni teater. Ia kemudian aktif mengerjakan proyek multi-disiplin seperti light novel, komik, Electronic Dance Music (EDM), desain grafis, film, dan boardgame yang kemudian mempengaruhi kerja artistiknya. Karya seni dan penelitiannya mencakup topik seni partisipatoris dan poskolonial. Ia memilih gim sebagai konsep artistik. Sejak tahun 2022 ia bergabung dengan Tilik Sarira Creative Process menjadi peneliti dan seniman kolektif. Tahun 2024 ia mendirikan Taman Ludens, proyek penelitian artistik seni partisipatoris.