Selasa, September 22, 2026
BERITA & FEATUREDapur Pentas

Teater Tilik Sarira Hadirkan Adaptasi Novel Goenawan Mohamad dalam Pertunjukan Teater Lintas Media

[Siaran Pers]

Surakarta, 21 September 2026, Teater Tilik Sarira akan menggelar pertunjukan Teater lintas media adaptasi novel Goenawan Mohamad berjudul Surti + Tiga Sawunggaling. Pertunjukan ini memadukan permainan aktor, seni rupa panggung, musik, animasi, dan teknologi projection mapping sebagai upaya menghadirkan pengalaman teatrikal yang mempertemukan realitas panggung dengan dunia visual.

Pertunjukan ini menghadirkan dua aktor utama, tiga aktor pendukung, serta tiga sosok burung sawunggaling yang diwujudkan melalui animasi. Kehadiran sawunggaling menjadi salah satu elemen visual sekaligus dramatik yang berkelindan dengan ingatan, mitos, trauma, dan pengalaman batin tokoh Surti. Dalam pertunjukan ini, kisah tersebut juga berangkat dari riset Tilik Sarira pada kultur Batik Pekalongan dan cerita penciptaan motif Sawunggaling oleh Go Tik Swan, yang menjadi pijakan artistik dalam pengolahan dunia visual pertunjukan.

Surti + Tiga  Sawunggaling berkisah tentang  masa revolusi. Jen,—yang  diperankan  oleh Haekal—seorang  pemimpin  gerilya,  terjebak  dalam  dunia  gelap  peperangan.  Di  tengah situasi  yang  semakin  kacau,  ia  lebih  sibuk  dengan  kemenyan,  siasat,  dan  kepercayaan terhadap kekuatan klenik daripada menjalankan perjuangan gerilyanya melawan Belanda. Situasi tersebut membuat kelompoknya semakin rapuh dan akhirnya terjebak dalam hasutan serta sejumlah siasat licik yang dimainkan oleh serdadu Belanda.

Dan Surti—yang diperankan Palupi—istri Jen, harus menanggung luka dan kehilangan berlapis. Setelah Niken, satu-satunya anak perempuan mereka, mati hanyut dibawa ombak, ia terus menghadapi kehilangan dengan caranya sendiri. Dunia realitas dan mimpi terus terhubung pada Surti sejak awal dan akhir pertunjukan. Ia membatik, menjalani keseharian dalam penantian panjang dan suara dentuman kekacauan dari luar. Dalam situasi tersebut,

Surti justru memperlihatkan keteguhan dan kesiapan mental yang berbeda dari Jen, seorang komandan gerilya yang secara fisik berada di tengah peperangan.

Dengan pendekatan pertunjukan realis, adaptasi ini diolah oleh Sophiyah, sutradara pertunjukan ini, melalui berbagai lapisan pendekatan sinematik. Penonton akan merasakan fungsi panggung sebagai ruang yang dapat berubah melalui cahaya, proyeksi visual, musik, dan animasi. Sejumlah dialog dan adegan akan berinteraksi dengan unsur arsitektur musik yang digarap oleh Rahmat Hidayat yang sekaligus juga vokalis Tropical Bloom.

Pertunjukan ini berkolaborasi dengan Dzaariq sebagai animator yang mengolah tiga sosok burung sawunggaling dalam bentuk animasi dan menempatkannya sebagai aktor dalam pertunjukan. Kehadiran ketiga burung tersebut juga turut menopang jalannya cerita serta membangun dunia dramatik yang bergerak di antara realitas dan alam mimpi Surti.

Sebagai sutradara, Sophiyah menawarkan pengemasan visual artistik yang mengambil kedekatan  dengan  atmosfer Indonesia pada dekade 1950-an. Pendekatan artistik tersebut dikembangkan bersama Eko Pethel,  yang memiliki ketekunan dalam dunia batik. Pengetahuan dan pengalamannya terhadap batik menjadi salah satu fondasi visual pertunjukan, sekaligus menghadirkan keterhubungan antara pengalaman sejarah dan pengalaman personal para tokoh melalui bahasa estetika yang berangkat dari kebudayaan Indonesia

Meskipun pertunjukan  ini menawarkan beragam lapisan eksplorasi visual dan sinematik, unsur-unsur pertunjukan realis tetap dipertahankan sebagai fondasi utama. Aktivitas membatik, misalnya, menjadi bagian dari keseharian Surti sekaligus elemen dramatik yang membawa  penonton  kembali  pada  tubuh,  pekerjaan,  dan  kehidupan  domestik. Aktivitas tersebut juga menjadi bagian penting dalam memperlihatkan bagaimana pengalaman personal dan sejarah dapat hadir melalui tindakan-tindakan sederhana di dalam kehidupan sehari-hari.

Lapisan visual pertunjukan juga dibangun melalui tata cahaya yang bekerja bersama Rohmad Yuwono dan Fajar Okto. Mereka berdua akan membentuk atmosfer panggung dan permainan intensitas, arah, dan karakter cahaya menjadi bagian dari dramaturgi visual yang memperkuat perubahan suasana dan pengalaman psikologis tokoh. Sehingga penonton dapat meraskan sekaligus masuk dalam dunia Surti + Tiga Sawunggaling.

Pertunjukan ini merupakan pengembangan lanjutan dari garapan yang sebelumnya dipentaskan di Kota Palu dalam agenda Festival Teater Indonesia (FTI). Pada pengembangannya kali ini, Surti + Tiga Sawunggaling akan dipentaskan di tiga kota, yaitu Surakarta, Pekalongan, dan Kudus, yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation. Di Surakarta, pertunjukan akan digelar pada 27 September 2026 di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah. Selanjutnya, pertunjukan akan hadir di Pekalongan pada 2 Oktober 2026 di Gedung Olahraga dan Seni Universitas Pekalongan, dan berlanjut ke Kudus pada 4 Oktober 2026 di Studio Teater Djarum.

Teater Tilik Sarira merupakan kelompok teater yang berbasis di Surakarta dan memiliki perhatian pada pengembangan seni pertunjukan melalui eksplorasi tubuh, teks, visual, serta berbagai kemungkinan lintas disiplin. Melalui Surti + Tiga Sawunggaling, Teater Tilik Sarira kembali mengembangkan praktik pertunjukan yang mempertemukan kerja aktor dengan teknologi visual dan pendekatan sinematik.

Surti + Tiga Sawunggaling diharapkan tidak hanya menjadi pertunjukan yang menghidupkan kembali sebuah kisah tentang masa revolusi, tetapi juga membuka ruang bagi penonton untuk melihat bagaimana sejarah bekerja di dalam kehidupan manusia: melalui kehilangan, ingatan, keluarga, tubuh, dan kehidupan sehari-hari hingga kekacauan yang rumit dalam balutan kisah cinta.