Jumat, Januari 30, 2026
BERITA & FEATUREDapur Pentas

Monolog Satir yang Menyentak Kesadaran Sosial Dipentaskan di Yogyakarta

Aku pernah jadi orang baik. Aku percaya negeri ini punya harapan. Aku percaya keadilan bukan cuma kata-kata. Aku percaya hukum tegak setegak-tegaknya. Aku percaya, suara kecil bisa didengar. Aku bekerja. Aku membayar pajak. Aku ikut pemilu. Aku bicara sopan. Aku percaya hukum. Sampai suatu hari aku bertanya, kenapa uang pajak kita hilang? Kenapa orang yang mencuri sandal dihukum lebih berat daripada yang mencuri miliaran? Kenapa berita yang kemarin ramai di koran-koran, tiba-tiba hilang tanpa jejak? Tahukah kalian apa yang terjadi?

Kalimat di atas merupakan penggalan dialog tokoh “orang gila” dalam repertoar yang dipentaska Ketika Teater Indonesia. Suara tokoh ini merepresentasi menghadirkan kegelisahan warga yang kerap terpinggirkan oleh narasi optimisme semu tentang kondisi negeri.

Repertoar monolog berjudul Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja tersebut akan digelar di Gedung Societeit Militaire Taman Budaya Yogyakarta. Pertunjukan ini dirancang sebagai ruang ekspresi kritik sosial yang disampaikan lewat satire dan ironi.

WhatsApp Image 2026 01 30 at 11.54.53 | Monolog Satir yang Menyentak Kesadaran Sosial Dipentaskan di Yogyakarta

Monolog ditulis dan disutradarai Abror Y. Prabowo, dengan Fian Khairil Mizan sebagai pimpinan produksi. Pementasan ini merupakan hasil kolaborasi Ketika Teater Indonesia, Family Merdeka Production, Kelompok Sastra Pendapa, serta UKM Teater Sentir Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Kolaborasi lintas komunitas ini menegaskan semangat kerja kolektif dalam merawat seni pertunjukan sebagai medium refleksi publik.

Judul pementasan yang tajam dipilih bukan tanpa alasan. Abror menyebut, frasa “orang gila” justru menjadi metafora bagi mereka yang masih berani bersuara, mempertanyakan, dan menolak diam di tengah realitas sosial yang kerap ditampilkan seolah baik-baik saja. Monolog ini menyinggung berbagai persoalan, mulai dari korupsi, ketimpangan sosial, hingga praktik kekuasaan yang menjauh dari kepentingan rakyat.

BACA JUGA:  A Story of Wounds : Catatan Kru Panggung

“Di negeri yang katanya baik-baik saja, justru suara kritis sering dianggap gangguan. Dalam konteks itu, ‘orang gila’ adalah mereka yang masih mau bertanya dan tidak berhenti merasa gelisah,” kata Abror.

Lebih lanjut Abror menjelaskan, bahwa naskah lahir dari kegelisahan sehari-hari sebagai warga negara. “Aku ingin membawa keresahan yang mungkin juga dirasakan banyak orang, tapi jarang mendapat ruang. Teater memberi kemungkinan untuk berkata jujur, tanpa harus berkhotbah,” ujarnya. Ia menambahkan, satir dipilih agar kritik tetap tajam, namun tidak jatuh menjadi slogan kosong.

Pementasan dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 4 Februari, dengan rangkaian acara pendukung sejak siang hari. Selain monolog utama pada malam hari, agenda juga diisi pameran seni rupa, instalasi artistik, live sablonase, cukil art printing, serta kehadiran stan UMKM. Rangkaian ini dirancang untuk membuka ruang perjumpaan antara seniman dan publik dalam suasana yang lebih cair.

Pimpinan produksi Fian Khairil Mizan menekankan bahwa produksi ini tidak berdiri sebagai kerja individual. “Kami percaya teater adalah kerja kolektif. Kolaborasi lintas komunitas ini penting agar gagasan tidak berhenti di panggung, tapi berlanjut menjadi percakapan di ruang publik,” kata Fian. Ia menyebut, keterlibatan berbagai komunitas seni merupakan upaya memperluas dampak pementasan.

Secara artistik, pertunjukan mengandalkan format monolog yang intens dan langsung. Aktor berdiri di panggung, membawa penonton masuk ke dalam alur batin tokoh yang resah, marah, sekaligus getir. Minimnya elemen dekoratif justru memberi ruang bagi kata, suara, dan gestur untuk bekerja secara maksimal.

Melalui pementasan ini, para penggagas berharap teater tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengalaman yang meninggalkan jejak pemikiran. Hanya Orang Gila yang Bilang Negeri Ini Baik-Baik Saja diharapkan mampu memantik diskusi, menggugah kesadaran, dan mengajak penonton membaca ulang realitas yang selama ini diterima begitu saja.

BACA JUGA:  Distorsi, Realisme dan Surealisme dalam Monolog "Prita Istri Kita" oleh Teater Nasional Medan