Jumat, Januari 23, 2026
ULASANPanggung TariPanggung Teater

Menelusuri Thalib Itu: Performativitas Maritim Sebagai Metode Koreografi Tak Terduga

Selalu Ada Thalib awalnya hadir kepadaku sebagai hantu, kilasan yang hanya nyaris dan tak pernah utuh, dalam sebuah potongan video reels Instagram yang memadatkan angin, laut, dan tubuh seorang laki-laki yang berusaha tetap seimbang di atas perahu yang terlalu kecil untuk disebut panggung. Pengalaman pertamaku atas karya maritim yang dipentaskan pada Jatim Biennale 2025 tersebut, seperti banyak pengalaman estetika masa kini, memang datang terbawa ombak algoritma, dan karenanya juga melekat lebih lama. Di dalam video itu, performer melompat-lompat di atas perahu motor kecil yang goyang, membungkus dirinya dengan tikar dan jala sambil bermain-main seperti monster, sementara di sampingnya berkibar jolly roger (ikon perlawanan yang juga menjadi hiasan pop di banyak pantat truk Jawa Timur pada periode itu). Ada sesuatu yang ngotot tinggal: visual puitis-konyol yang terasa labil, sulit ditambatkan pada kerangka baca apa pun.

Pertunjukan “Selalu Ada Thalib” (Biennale Jatim), karya Kendati Chaos, tanggal 14 September 2025 di sekitar Teluk Lamong (dok: Kendati Chaos)
Pertunjukan “Selalu Ada Thalib” (Biennale Jatim), karya Kendati Chaos, tanggal 14 September 2025 di sekitar Teluk Lamong (dok: Kendati Chaos)

Beberapa bulan kemudian, aku bertemu Achmad Choiruzzaman (Iroz), kreatornya, di sebuah program di Bandung. Setelah satu jam saling mengenal, aku langsung meminta dokumentasi lengkap karya itu. Jawabannya, yang dalam dunia seni pertunjukan sama sekali tidak mengejutkan, hanya: “nggak ada”. Videografer yang dibawa ke laut ketakutan karena angin terlalu kencang; di atas perahu yang terus oleng, kamera tak pernah sempat keluar dari pangkuannya. Akhirnya, pertunjukan itu tak pernah terekam secara utuh. Dari sudut tertentu, ketiadaan ini menjadi pengingat bahwa pertunjukan, seberapapun kita berusaha merawatnya, hanya benar-benar hidup di sela antara sesuatu yang hadir dan sesuatu yang terlepas.

Justru absensi arsip itulah yang memantikku untuk menuliskannya, walaupun hanya berbekal fragmen potongan-potongan video yang selamat, foto-foto kamera ponsel, cerita dari kreator, dan situs Teluk Lamong yang kusigi lewat Google Maps. Bila biasanya ulasan pertunjukan dimulai dari apa yang terlihat, tulisan ini dimulai dari apa yang luput – dari ruang yang terpotong angin, performer yang hanya tertangkap separuh, dan peristiwa yang berlangsung di luar jangkauan dokumentasi. Tapi dari celah itulah, pertunjukan ini perlahan menampakkan dirinya bagiku sebagai sesuatu yang bergerak di antara fragmentasi, ketersebaran, dan relasi langsung subjek dengan ruang pesisir-industrial yang menjadi panggung sekaligus lawannya.

Di Pesisir, Semua Pengetahuan Basah

Poster pertunjukan adalah salah satu pintu masuk paling terang untuk memahami orientasi karya ini. Ia menyebut ajakan untuk “menelusuri jalur nelayan, ruang cerita malam, dan laut”, yang bagiku langsung mengisyaratkan sebuah gagasan penting dalam diskursus ruang pesisir: bahwa jalur perahu nelayan – thalib (atau talud, ‘jalur’) air itu – adalah arsip tak tertulis yang hidup dalam keseharian para nelayan, dalam hafalan otot, dalam kebiasaan sensorik membaca angin dan arus, dan dalam pengetahuan praksis tentang bagaimana menavigasi laut pada jam-jam yang liar. Dari sini, pelan-pelan tampak apa yang bisa disebut sebagai ‘performativitas maritim’: rangkaian tindakan tubuh yang, berulang dari generasi ke generasi, menjadi cara ruang pesisir diproduksi, dipahami, dan diwariskan. Untuk mulai memahami konteks ruang ini, aku membuka Google Maps dan mencari “Bale Celek”, titik kumpul penonton sebelum dibawa ke laut. Dari citra satelit dan foto pengguna, tampak sebuah geladak kayu yang memanjang ke perairan, terhubung lewat sebuah jalan bernama (secara nyaris ironis) Jl. Petrokimia Gresik. Nama jalan itu menjadi tesisnya sendiri: tubuh-tubuh nelayan harus bergerak di bawah bayang-bayang industri kimia, logistik, dan kapal-kapal besar yang memonopoli imajinasi tentang siapa yang berhak menguasai laut. Dari sana, ruang pertunjukan mulai terbentuk dalam bayanganku: pesisir dengan riwayat limbah, tumpahan solar, plastik yang hanyut, sisa-sisa operasi industri yang bekerja 24 jam, ruang yang tidak steril, tidak indah, dan jauh dari tenang.

BACA JUGA:  Absurditas “Amanat Galunggung” dalam Pertunjukan “Leu Low”
koreografi maritim Indonesia
Penelusuran daring atas situs pertunjukan “Selalu Ada Thalib”. Bale Celek sebagai titik kumpul penonton, dan dermaga Petrokimia Gresik menjadi titik awal pertunjukan. (Sumber: Google Maps)

Dan imajinasi itu semakin mendapatkan wujudnya ketika Iroz bercerita (dan ini cerita yang paling sering ia ulang ketika aku mendorongnya untuk menceritakan karyanya kepada teman-teman yang lain) tentang seorang nelayan yang, ketika merapat ke kapal besar, terciprat limbah satu muka penuh, sebuah pengalaman yang diceritakan kepadanya sambil tertawa, seolah bukan peristiwa yang layak keterkejutan. Ia pun, sama denganku, membayangkannya saja bergidik. Namun justru dari reaksi itu terbaca bagaimana tubuh nelayan telah lama bernegosiasi dengan kekerasan struktural yang paling banal. Dan dari sanalah ‘performativitas maritim’ juga menemukan konteksnya, sebagai cara bertahan, membaca risiko, dan terus memproduksi pengetahuan ruang yang tidak pernah netral.

Dan Ia Berangkat

Dengan potongan dokumentasi yang berhasil kukumpulkan, struktur pertunjukan ini mulai terbayang. Penonton pertama-tama dikumpulkan di Bale Celek, diberi pelampung, kopi, dan makanan kecil: gestur yang tampak sederhana, namun secara perlahan menggeser posisi mereka dari pengamat menjadi subjek yang harus turut memasuki medan yang sama dengan para nelayan. Pada banyak pertunjukan, penonton tetap terlindungi oleh jarak estetis; di sini, jarak itu runtuh begitu mereka harus naik ke perahu yang rapuh, perahu yang sekaligus menjadi ‘panggung’. Begitu perahu bergerak, kehadiran penonton ikut tersusun menjadi bagian dari topografi peristiwa yang ikut berubah bersama malam dan air.

Performer kemudian muncul membawa keranjang yang ditumpuk tiga seperti ransel. Dalam video yang aku tonton, juga ada satu gestur kecil yang langsung menarik perhatianku: seorang awak menggayung air keluar dari perahu dengan gerak cepat dan cekatan, sama sekali tidak teatrikal. Rupanya itu memang bukan bagian dari komposisi pertunjukan, tetapi aku melihatnya sebagai sebuah kerja dalam arti paling literal. Dan justru karena dilakukan oleh tubuh lain, tubuh yang tidak “tampil”, kebocoran itu membuka caraku membaca Selalu Ada Thalib: dimana estetika dan logistik berdempetan tanpa jarak; bahwa apa pun yang tampak sebagai “aksi” performer selalu ditopang oleh kerja lain yang tidak diberi tepuk tangan – kerja yang tak bisa dipisahkan dari ruang pesisir itu sendiri.

Perahu performer mulai berlayar, membawa performer (Iroz), pemusik (Widya Prastyo Wicaksono), dua pelampu yang hanya bermodal senter, dan dikemudikan oleh Cak Barok. Dari penuturan Iroz, aku tahu bahwa Cak Barok pernah memiliki anak seumuran dirinya, tetapi sudah meninggal. Mungkin karena itu pula, ada semacam relasi afeksi yang samar antara seniman dan pengemudi. Di malam ketika perahu bergerak pelan di Teluk Lamong, duka personal itu terasa berjalan sejajar dengan duka ekologis yang telah lama memenuhi perairan: dua bentuk kehilangan yang berbeda, namun berada dalam atmosfer yang sama. Keduanya ikut menumpang perjalanan itu dan luruh menuju malam. Perahu penonton mengikuti di belakang, dan dari salah satu dokumentasi foto, ada momen yang bagiku salah satu visual paling kuat dari pertunjukan ini: pengemudi perahu kecil berdiri tegak di bibir perahu, menghadap lurus ke kapal-kapal petrokimia besar. Siluet itu seakan menggambar garis batas antara manusia dan mesin, antara perahu dengan satu motor kecil dan kapal raksasa yang memindahkan ribuan ton material. Tanpa slogan atau ajakan eksplisit, gambar itu sudah cukup menyodorkan politik ruangnya sendiri.

BACA JUGA:  BEASTLY : Ruang, Isu, Tema dan Dramaturgi
metode koreografi tak terduga
Dengan keranjang yang di tumpuk, Iroz berdiri di bibir perahu sambil membawa penonton mengelilingi Teluk Lamong (dok: Kendati Chaos)

Setelah berkeliling teluk, perahu performer berhenti di tengah. Performer muncul di balik tikar yang digantung seperti jemuran, lalu mengambil jala dan menutup tubuhnya dengannya. Ketika tikar dilepas dan jala dibiarkan berantakan di lantai perahu, tubuh performer bergerak mengikuti kondisi yang berubah-ubah: melompat kecil, merangkak, menahan diri agar tidak jatuh ketika perahu oleng. Tikar digulung dan dipakai seperti sarung, kemudian dijadikan tempat bersembunyi, lalu diletakkan di kepala hingga membentuk siluet ganjil, sebelum akhirnya diposisikan seperti bazooka. Tidak ada urutan dramatik yang pasti; materialnya bergerak dari satu fungsi ke fungsi lain seiring tubuh merespons permukaan yang terus mengombang-ambing.

Negosiasi Kinestetik di Laut yang Bergerak

Di titik ini, laku gerak performer tampak sebagai sebuah negosiasi kinestetik yang bergerak jauh melampaui urusan menjaga keseimbangan; ia bekerja sebagai kecerdasan tubuh yang berhadapan dengan ruang yang menolak dipetakan, ruang yang tidak pernah menawarkan koordinat yang sama dua kali. Gerak performer – melompat kecil, menahan kaki, meraih pegangan, merespons oleng – lahir dari ketakterdugaan permukaan laut yang memaksa tubuh bekerja dengan temporalitas laut dan bukan temporalitas pikiran. Laut tidak memberi jeda untuk menimbang; ia hanya memberi sinyal-sinyal singkat yang harus segera diterjemahkan. Dalam keadaan semacam ini, tubuh menyesuaikan diri pada dunia yang memiliki kecepatan sendiri. Negosiasi inilah yang membuat tubuh bekerja sebagai alat navigasi; sebuah sensorium yang terus merumuskan keputusan mikro demi keberlanjutan gerak itu sendiri.

Selalu Ada Thalib, metode koreografi tak terduga
Performa selama 45 menit di atas perahu (dok: Kendati Chaos)

Laut tidak pernah memberi informasi yang koheren; ia hanya menyodorkan serpihan sinyal yang harus dirakit seketika. Navigasi, dalam pengertian ini, bukan kegiatan memindahkan tubuh dari satu titik ke titik lain, melainkan bentuk pengetahuan yang muncul dari hubungan intens antara tubuh dan kondisi yang selalu berubah. Pengetahuan ini tidak bisa disimpan dalam peta, tidak bisa diajarkan melalui teori, dan tidak bisa dipraktikkan tanpa terjun langsung ke dalam ketakterdugaan ruang. Di titik inilah ‘performativitas maritim’ mewujudkan dirinya: sebagai metode knowing yang dibangun oleh keputusan-keputusan mikro di tengah dunia yang bergerak lebih cepat daripada koreografi apa pun.

Dari video-video yang kutemukan, hampir tidak ada audio yang bisa diselamatkan karena angin dan mesin kapal menelan semua frekuensi rendah. Namun dari cerita Pras, aku tahu bahwa bunyi yang mengiringi performans itu berasal dari pipa, PVC, dirigen, dan kayu yang digesek – material yang menghasilkan dengung didgeridoo, tiupan serak, dan getaran rendah. Karena tidak terdengar jelas di dokumentasi, suara-suara itu hanya bisa kubayangkan melalui sifat materialnya. Dalam bayanganku, musik itu menyatu dengan perahu dan lanskap laut, membentuk satu logika akustik yang kasar, tidak harmonis, dan setia pada kondisi ruang yang melahirkannya.

Selalu Ada Thalib, koreografi maritim
Alat bunyi yang digunakan untuk mengiringi pertunjukan dibuat dengan materialitas lanskap (dok: Kendati Chaos)

Apa yang Tersisa dari Sebuah Thalib

Ketika aku memikirkan kembali percakapanku dengan Iroz – yang selalu berlangsung sambil melompat dari satu topik ke topik lain – aku mulai membaca bahwa karya ini bekerja dengan logika yang jauh dari pertunjukan yang disusun dari tesis. Selalu Ada Thalib tidak sedang menyusun argumen empiris tentang kerusakan ekologis, dan tidak pula membingkai nelayan sebagai figur politis yang harus direpresentasikan. Arah geraknya lebih halus: ia membuka celah kehidupan nelayan yang jarang diberi tempat, yakni lapisan permainan, absurditas, humor kering, momen-momen tanpa makna (karena sudah menjadi laku sehari-hari) yang justru menopang ketahanan mereka. Dalam banyak wacana, nelayan terjebak antara dua kutub: korban atau pahlawan. Karya ini menolak keduanya. Yang kita lihat adalah tubuh yang berlaku bukan untuk sebuah spektakel, melainkan tubuh yang harus terus bergerak karena perahu, angin, dan air tidak memberi kesempatan untuk diam.

BACA JUGA:  Teater Kubur yang Melukis Panggung di Pentas Rintrik

Judul pertunjukan ini, Selalu Ada Thalib, akhirnya mengandung ironinya sendiri. Thalib memang selalu ada, tetapi jarang dicatat. Ia tidak pernah masuk peta resmi, tetapi tubuh-tubuh nelayan menghafalnya. Pertunjukan ini pun, dalam cara yang intuitif, menjadi semacam thalib itu sendiri (berikut dengan nasibnya): jalur yang hadir sebentar, tidak terekam, tidak dirawat oleh dokumentasi resmi, tetapi dikenang oleh mereka yang sempat melihatnya.

Dan pada akhirnya, Selalu Ada Thalib menghadirkan sesuatu yang sulit dicapai oleh pertunjukan yang terikat ruang konvensional: ia mengembalikan tubuh nelayan ke dalam kompleksitasnya. Bukan persoalan heroik-tragis, tetapi hanya tubuh yang memikul pekerjaan sehari-hari – yang kadang bercanda ketika terkena limbah, yang kadang menantang kapal raksasa hanya dengan berdiri tegap di bibir perahu kecil, yang kadang tampak seperti monster dengan tikar gulung hanya karena angin sedang kencang dan malam terlalu dingin. Dalam kesederhanaannya, karya ini membuka pertanyaan filosofis yang lebih luas tentang tubuh minor di ruang mayor, tentang bagaimana performativitas muncul bukan dari koreografi tetapi dari kebutuhan bertahan hidup, dan tentang bagaimana ruang industri dapat dibaca diluar pengaruhnya terhadap ekonomi, tapi juga laku dan estetika tubuh – melalui yang nyaris, yang tak pernah utuh, yang tak terduga; yang hantu.

Tara Mecca Luna

Tara Mecca Luna

Lahir di Surabaya dan besar di Jakarta, Luna aktif berkarya di teater dan tari, baik di depan maupun di balik panggung. Ia terlibat dalam berbagai produksi independen, kerap bekerja sama dengan Titimangsa dan komunitas-komunitas teater di lingkaran Festival Teater Jakarta. Perspektif artistiknya terasah melalui pengalaman panjang mengulas pertunjukan, yang memperkuat fondasi pemikirannya dalam seni panggung. Dalam beberapa tahun terakhir, Luna kerap mengikuti laboratorium penulisan seni, serta program-program tari dan eksplorasi ketubuhan