Menari di Air, Mengingat Cara Bernapas Melalui “Levitating: Under the Surface” karya Sekar Tri Kusuma
Ketika pandangan ini dibuat, lagu Count the Wave sengaja diputar demi menilik pengalaman menyaksikan pertunjukan Under the Surface. Seraya menggugah pertanyaan yang selalu datang di kepala: bagaimana sebenarnya kita bernapas?
โ… One, two, three. Count the wave
Butterflies slip away
Kupu kuwi tak encupe mung abure ngewuhake
Ngalor, ngidul, ngetan bali ngulon
Mrana, mrene, mung sak paran-paranโ
Lagu Count the Waves (Kupu Kuwi) gubahan Elena Moon Park berakar dari tembang dolanan, seperti menawarkan layang-melayang sebuah makhluk bernama kupu-kupu. Apabila dibayangkan, hewan bersayap aneka warna tersebut senantiasa terbang ke sana kemari sebagai caranya untuk tetap bertahan hidup. Konon, jumlahnya menjadi indikator kesehatan lingkungan. Tak ubahnya proses si kupu-kupu, Sekar Tri Kusuma juga bermetamorfosisโmengganti pakaianโdari hitam ke gradasi merah muda.

Gambar 1. Sekar menganti kostum
(Pangastuti, 2025)
Jika Elena terasa khidmat di antara interaksi khas permukaan air, seperti mengamati gelombang, menatap pantulan cahaya, hingga mencari fokus pada kupu-kupu yang menyelinap pergi. Sekar justru melengkapi interaksi terhadap eksplorasi bawah air. Bagai merasai gerak kupu-kupu yang melayang di udara, air juga turut membuka kemungkinan setiap perpindahan terlampaui. Melalui alirannya, air terus menguasai tubuh. Lantas, peristiwa menarik-lepaskan napas adalah keputusan penting sekaligus terorganisir. Bagaimana tidak? Ingatkah seberapa lama kita dapat menahan napas di dalam air? Levitating: Under the Surface memungkinkan diri untuk mengenali keputusan-keputusan penting, demi memaksimalkan kapasitas.
Karya berdurasi tiga jam yang melibatkan partisipan aktif ini, mengajak untuk mengambil jeda atas relasi kekacauan. Melalui gerak dalam air pula, Sekar membuka adanya kenyataan arogansi keputusan yang serba egosentris, khususnya menyasar pada isu ekologi dan sosial. Alih-alih seketika menyerang, Sekar menawarkan ruang untuk menunda, demi menguji dan mempertanyakan kembali sebagai bentuk pengumpulan amunisi. Ruang tunda adalah proses melayang-layang demi menimbang, menata, hingga menentukan. Mengarah pada pertanyaan seputar hakikat keberadaan, sebagai pintu masuk perantara kritis lainnya. Menyinggung hal-hal yang tengah mendistraksi hingga menghegemoni, tanpa didasari. Apa yang sedang terjadi?
Menyoal Kemungkinan: Sebuah Tawaran
Ulasan pada poin pertama menawarkan relasi antara narasi dengan simbol-simbol yang mengarah pada bahasa kontekstual. Capaiannya adalah menghubungkan antara keselarasan internal karyaโmeliputi narasi dan propertiโdengan keadaan eksternal sebagai pencarian makna atas internalisasi karya itu sendiri. Saya menetapkan masing-masing satu: narasi ruang menunda dan properti serat nanas. Selebihnya, pembahasan berkaitan satu sama lain. Diulas berdasarkan telaah yang saling terhubung, sebagai bentuk keterbacaan atau alternatif pandangan, perihal bagaimana karya dan narasi bekerja.

(Pangastuti, 2025)
Melalui persiapan yang diwujudkan dalam bentuk pemanasan, secara praktis Sekar mengomando partisipan untuk meregangkan tubuh. Hitungan yang tampak taktis dan disiplin, Sekar sematkan. Metafora atas piranti yang lebih mirip satire turut dilontarkan, โbentuk tanganmu seperti pistol!โ, serunya. Lalu, diakhiri aba-aba untuk melayangkan suara lantang, setelah tertahan dalam-dalam. Berikutnya, tangan siaga menggenggam satu sama lain.
Sekar yang memantaskan diri sebagai Onggo-Inggiโmakhluk mitologi penunggu sungaiโmembawa partisipan masuk ke dalam sendang. Lingkaran yang dikondisikan agar tak pernah putus lewat genggaman, senyatanya kian terurai. Masing-masing partisipan menyapa air dan melakukan kemungkinan produksi gerak. Sekian lama tubuh menyelam, akhirnya dilanjutkan dengan membentuk transisi, gestur demi gestur. Napas yang tersengal adalah hal yang luput untuk diperhatikan.
Tanpa komando yang mendominasi sejak awal, Sekar membiarkan partisipan mengetuk pintu ruang jeda mereka yang pribadi. Di satu sisi, bagian ini menjadi peluang eksplorasi, jika partisipan peka dan kaya referensi gerak. Di sisi lain, bagi yang terbiasa pada hal-hal struktural, Sekar luput untuk melanjutkan arahan yang sempat dibangun. Terlepas dari keterbatasan suaraโyang secara alami gelombangnya sulit terhantar oleh aliran airโmelalui komando, Sekar perlu menegaskan dan membuat sikap lebih tegas. Misalnya, perihal langkah-langkah praktis tentang anjuran sepintas, yang dapat dibayangkan partisipan sebagai bentuk imajinatif dari genggam tangan seperti di sesi pemanasan.
Tujuannya memudahkan partisipan mengingat dan mengenal pokok utama yang menjadi spirit karya, yang senantiasa dapat terus dibawa ke dalam sendang. Sebagai contoh, analogi lingkaran dapat mewakili hasil tuju ruang tunda: keseimbangan dalam siklus. Melalui kerangka imajinatif, Sekar berpeluang memberi ruang interpretasi bagi partisipan, tanpa membatasi ragam gerak dari bayang-bayang โapa itu lingkaran?โ. Hal ini dapat menjadi pertimbangan apabila ingin menghadirkan keterwakilan rasa saling terhubung, yang lebih erat satu dan lain.
Keputusan menyertakan partisipan aktif perlulah keberanian sekaligus arah yang jelas, demi mengikat hubungan antar penampil agar tetap menjadi satu kesatuan. Pandangan demikian terkesan konstruktif, mengingat setiap gerak dalam karya performatif tak ubahnya dapat dimaknai sebagai bagian dari koreografi. Namun, bukankah Sekar tengah menawarkan ruang tunda, yang syarat akan uji strategis?
Dalam keputusan tersebut, antara partisipan dan penampil rentan dihampiri situasi gamang. Dihadapkan pada kondisi ambang, perlunya menata ulang daya pikat penampil yang masih lekat dengan narasi keindahan. Bahwa โtundaโ bukan ruang tunggu yang gabut. Ia (baca: ruang tunda) adalah penghampiran ruang dan waktu yang akrab pada realitas mengalami, hubungannya pada kerelaan serta kesediaan. Mengarah pada kemauan mengerti adanya sebuah kondisi yang dinamakan non ideal, yang ditunjukkan lewat mengambang, menyelam, bahkan menggulung. Namun, ruang tunda yang dihadirkan Sekar masih cenderung romantis dan eksotis, bukan harap-harap cemas yang identik pada upaya refleksi.

(Kusuma, 2025)
Selebihnya, Sekar mendongeng tentang Onggo-Inggi sebagai makhluk penunggu sungai secara tersirat. Serat nanas yang menjadi bagian menjuntai di rambut dan pundak Sekar-lah yang membuatnya representatif. Liak-liuk utas tali memungkinkan Sekar menjelajah gerak demi gerak. Kehadiran tali sangat menyatu dengan dinamika air. Pertimbangan artistik atas pilihan warna dan bahan terasa sangat dipikirkan, untuk tujuan adaptasi tempat. Namun, Onggo-Inggi menyeramkan yang menantang belum tampak. Karenanya, titik-titik kesan elok masih dapat ditemukan dalam pertunjukan sedari awal hingga akhir.
Persepsi โcinta alam dan kasih sayang sesama manusiaโ, terbangun oleh ingatan pribadi atas keberadaan penghuni sungai, pohon, hingga gunung. Relasi intersubjektivitas turut dibangun oleh penampil, meski kesan misterius yang menjadi kekuatan mitos justru tanggal. Seterangnya, audiens umum sebagai pengunjung di Umbul Ngabean, menangkap pertunjukan sebagai bagian dari ritus. Terlepas narasi yang mencoba dibangun, opini adalah tatapan jujur, apa adanya. Senyatanya, Sekar senantiasaโdisadari atau tidakโtengah membuka memori kultural, akan keberadaan aktivitas memelihara, berhubungan dengan sosok penjaga yang lekat akan andil dalam menjaga kelangsungan alam.
Ruang tunda yang Sekar maksud, kiranya ikut membangkitkan kesadaran pada kekuatan diri yang sangat berdampak. Bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kehadiran serat nanas menambah dampak tersebut. Perihal kedirian sebagai kesertaan, memungkinkan hubungan makhluk penjaga sebagai pertalian kausalitas. Onggo-Inggi yang otonom sadar betul akan keberadaannya untuk hadir penuh sebagai pribadi. Lekat kaitannya dengan kesan-kesan terbangun, bahwa ia (baca: Onggo-Inggi) perempuan, penjaga, dan penghubung kepentingan antara alam dan penghuninya. Syarat akan kesiapan transmisi indikator idealitas, yang dipertahankan lewat anjuran bahkan larangan. Relasinya adalah mengupayakan keberlangsungan hidup. Sikap demikian tak ubahnya seperti cara mempraktekkan pemberian napas buatan, dalam konteks yang lebih umum. Artinya, diri yang terbentuk seperti Onggo-Inggi akan terasa berpengaruh kuat pada sekitar, apabila secara personal telah terdefinisi. Setidaknya Sekar ingin mulai mengarah padanya.

(Pangastuti, 2025)
Irama demi irama menjadi bagian penting, menyerupai tantangan yang terus hadir, baik dalam lingkup keseharian maupun narasi besar. Berirama adalah pilihan kata yang penuh pertimbangan saya tentukan, atas pencarian di sinopsis karya. Kata tersebut yang dirasa cocok, untuk mewakili fleksibilitas dari timbul-tenggelamnya arus perubahan. Terkadang, โberiramaโ cenderung mempersempit, jika mengarah pada kesan terombang-ambing. Senyatanya, berirama lebih mengajak untuk tetap menjadi subjek yang kukuh. Lebih dekat pada proses mengamati tubuh yang berada di luar diri secara utuh.
Berirama memungkinkan kata ganti aku sebagai pengamat penuh, atas relasi yang aktif antara hubungan terluar dan terdalam. Subjek tentulah memiliki kendali untuk bersikap pada apa-apa saja yang tengah terjadi. Napas menjadi bagian penting yang sekaligus menentukan seberapa luas dan kompleks irama dijangkau. Capaiannya bukanlah ketenangan. Bahkan kata โcapaiโ perlulah cepat-cepat ditanggalkan. Menjemput kehadiran irama, melalui kesempatan gerak yang terjadi, tujuannya menunjukkan sebagai bagian dari proses pengamatan aktif, terhadap ragam transisi: berjalan, berenang hingga bergulung. Ketiganya adalah tentang memperhatikan napas. Perlahan-lahan.
Tatapan Balik Ragam Bentuk Performativitas
Perihal levitating yang berarti melayang, erat kaitannya dengan kondisi yang tidak menentu. Arah yang selalu saja sulit dilacak, senantiasa membutuhkan dukungan. Bayangan arah yang terasa rambang, kian menghadirkan kemungkinan atas respons lain sebagai bentuk bantuan misalnya solidaritas dan konsistensi. Kesadaran terhadap kemungkinan ini, mengambil peran bagi partisipan untuk ikut menentukan jalannya pergelaran.
Kehendak penampil dalam menyambut kehadiran keduanyaโsolidaritas dan konsistensiโterbangun lewat cengkrama. Melalui tawa dan dialog sekilas, Sekar menghapus batas. Bahwa satu sama lain adalah bagian yang saling terhubung. Distraksi pertunjukan yang terdengar dari cakap-cakap antara penampil, partisipan, dan pengunjung menambah rasa hadir yang penuh. Menandai sikap saling dukung, bagai analogi lingkaran yang Sekar anjurkan. Menggenggam tangan satu sama lain.
Realisasi terlihat lewat gerak, bahwa partisipan betul-betul mengusahakan kehadiran. Mereka adalah bagian dari ruang tunda, yang memiliki keinginan yang sama yaitu mengubahnya menjadi kemungkinan ruang lain. Dalam tahap ini, pergelaran menghadirkan keragaman fokus. Khalayak dapat memilih tatapannya berdasarkan interaksi yang dibangun oleh penampil dan partisipan. Interaksi murni di antara keduanya memperlihatkan sikap saling dukung, dengan bentuk yang beragam, khas pertunjukan partisipatoris.
Solidaritas inilah yang juga mengantarkan pada relasi kedua yaitu konsistensi. Partisipan yang daya kesiapannya berbeda dengan penampil, perlu menyesuaikan diri, baik gerak maupun napas. Keduanya adalah ritme yang menentukan ketepatan irama dalam air, demi menjaga intensitas antara penampil dan partisipan. Mau tidak mau, sejak pertunjukan dimulai, subjek-subjek yang terlibat adalah bagian dari pergelaran. Pada apresiasi lebih lanjut, relasi penampil dan partisipan sebagai peramu perlu bijak berkeputusan.
Hal ini berkaitan pada latar belakang partisipan yang akrab dalam dunia kekaryaan, meliputi aktor, penari, dan koreografer. Bekal masing-masing menjadi modal tersendiri, yang menuntut kepekaan terhadap respons artistik yang sangat mungkin dibangun bersama. Keselarasan untuk menyeimbangi satu sama lain patut diapresiasi. Mereka juga yang ikut membentuk Levitating: Under the Surface sebagai satu kesatuan yang dapat disaksikan di Sendang Ngabean, Boyolali, kala itu.
Lagi-lagi, ruang tunda menurut Sekar adalah tentang berkeputusan. Membutuhkan kesadaran terhadap proyeksi langkah yang senantiasa berorientasi ke depan. Setidaknya dapat muncul dari proses inovasi atas evaluasi terdahulu. Keputusan adalah bagian dari menilik potensi diri menuju langkah konkrit terhadap kekuatan lain yang perlu dibangun, sebagai upaya meruntuhkan sesuatu yang sudah tidak relevan. Demi menggantinya pada hal-hal yang lebih fungsional dan krusial. Darinya, Sekar menyampaikan bahwa karya tidak selalu diproduksi olehnya sebagai kreator tunggal. Melainkan, partisipanlah yang juga turut andil sebagai kreator, yang memperkaya corak gerak dan menentukan bagian dari keselarasan dramaturgi.
Ulasan poin kedua ini adalah apresiasi saya yang mendalam atas usaha yang penampil lakukan. Pada 29 Desember 2025, Sekar menunjukkan kesediaannya memberikan kesempatan berjumpa, bahkan di arena yang bukan kebiasaan kita: air. Sekaligus mengantar pada poin ketiga sebagai penghargaan lain yang saya berikan, lewat paragraf penutup.
Sekaligus Menutup
Di antara air kolam yang mengkilap karena pantulan cahaya, Sekar adalah arusnya. Menegur kita tentang kapan timbul dan tenggelam sebagai sebuah ketetapan penuh atas respons dari situasi yang terjadi: isu ekologi dan sosial. Ada hal mendalam yang bahkan tak teridentifikasi dari ruang tunggu yang dihadirkan oleh Sekar, yaitu harapan. Sekar mengingatkan akan sumber air, yang perlu dialirkan terus menerus. Sumber sebagai asal muasal, meyakinkan diri pada langkah-langkah kecil yang senantiasa tetap diusahakan. Bahwa air yang menjadi bagian kehidupan senyatanya juga dapat menenggelamkan. Di situasi krisis, air pula yang dicari-cari untuk menyelamatkan.
Pada relasi ombang-ambing, napas mengambil peran besar. Keputusan hirup dan lepas adalah cara-cara sepele yang sering kali mangkir diperhatikan. Senyatanya, napas-lah yang mengajarkan pengertian pada hal-hal penting berikutnya. Darinya, kita mengetahui bahwa napas adalah peristiwa sadarโautomaticallyโsebagai aktivitas yang โgak perlu dipikir-lah.โ Senyatanya, napas adalah pemeran utama sebagai pengambil langkah awal berkeputusan. Ketidaksadaran dari aktivitas otomatis inilah, yang tanpa sengaja menjadi belenggu karena hadirnya luput untuk disadari.
Tarik, kemudian hembuskan adalah realisasi menggenggam lalu melepaskan. Relasi keduanya mengingatkan pada kerja kompleks lainnya yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Pada kerja intrinsik, kita memahami bahwa napas berkaitan dengan sistem organ dalam, yang memompa jantung untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Kerja yang apabila tidak dijalankan secara optimal dapat menimbulkan berhentinya sebuah siklus. Efeknya adalah ketidakfungsian organ tubuh.
Kerja lainnya, adalah ekstrinsik yang mengenalkan relasi terhadap napas yang berhubungan pada interaksi luar tubuh. Napas yang terengah akan mempersempit pandangan, menimbulkan aktivitas-aktivitas serba cepat tanpa mengukur kedalaman. Napas yang teramati, memungkinkan pengambilan sikap, mengarah pada rasa tenang sebagai capaian. Realisasi ketenangan maksudnya adalah keberhasilan akan dua hal: tajam beranalisis dan bijak berkeputusan.
Memahami kehadiran napas masuk dan napas keluar adalah proses pengamatan terhadap ritme. Bukan tentang penentuan panjang dan pendeknya napas. Atau, mengendalikan kapan napas masuk dan keluar. Mahatthanadull memperkuat pernyataan saya, bahwa yang diperlukan adalah sadar. Secara alami sebagai regulator aliran udara manusia. Signifikansi penyeimbangan ini terlampaui melalui kesadaran pernapasan (ฤnฤpฤnasati), menekankan keseimbangan antara unsur udara intrinsik dan ekstrinsik, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, untuk mencapai keseimbangan sistem tubuh manusia pada akhirnya.
Bahkan napas pula yang mengajarkan, bahwa racau yang ada di dalam ataupun di luar diri tidak dapat teratasi. Sialnya, mereka juga menjalani napasnya sebagai yang kacau dan terus ada. Pilihannya, akan tetap terombang-ambing dalam keputusasaan yang tak tentu ini, yang seolah aman dalam situasi jemu. Atau, menyelami ketidakpastian dengan napas sebagai kuasa subtil yang jelas-jelas โmasihโ dapat terkendali. Ruang tunda akhirnya yang memberi kita kesempatan merenungi, bahkan mengandaikan keputusan demi menentukan ruang bernapas berikutnya.
Mengetahui beragam ritme napas adalah bagian dari refleksi ruang tunggu yang begitu halus dan samar. Jika dikumpulkan, berkesadaran terhadap napas tak ubahnya sebagai bentuk pengumpulan proses mengamati ritme. Memperhatikan napas dapat dilihat sebagai latihan sederhana yang diajarkan Sekar. Tentang mengingat kembali terobosan murah meriah dan pasti, yang dimiliki oleh mereka, yang masih mau disebut manusia: bernapas.


