Sajian Imaji Kebudayaan Anak-anak Zaman Now

Oleh : Mathori Brilyan*.

 

Sebelumnya saya ingin mengajak pembaca untuk sejenak diam dan merenungkan dunia anak-anak yang pernah kita alami. Walaupun memiliki bentangan jarak waktu yang sangat panjang, namun coba kita panggil ingatan itu kembali. Apa saja teringat dalam dunia anak-anak dalam benak kita yang sekarang sudah menjadi dewasa karena jumlah umur. Dari pembaca tentu saja akan berbeda menanggapi ingatannya terhadap dunia anak-anak.

Pertanyaan yang ‘kurang penting’ sebenarnya.

Pertama, apa yang membuat bahagia ketika kita menjadi seorang anak-anak?

Kedua, jenis hiburan/permainan apa yang paling disukai?

Ketiga, apa yang ada didalam benak seorang anak-anak (saat itu) ketika melihat orang dewasa?

Dan yang terakhir, jika ingatan itu dapat dikembalikan, apakah kita masih bisa menjadi seorang ‘anak-anak’ dalam tubuh ‘dewasa’ kita?

Beberapa pertanyaan tersebut barangkali dapat menjadi pemantik dalam usaha kita untuk menyelami dunia anak-anak. Dewasa yang menjadi anak-anak atau dengan keikhlasannya dapat benar-benar menjadi anak, menyerahkan tubuh, pikiran, serta jalan emosionalnya untuk menjadi seorang anak.

 

Teruntuk Sahabat Teater, Galang Ngikngok.

Sutradara yang baru saja menentaskan tuganya sebagai mahasiswa jurusan teater ISI Yogyakarta.

 

Kerajaan Burung menjadi pilihan naskah bagi Galang untuk dijadikannya sebagai bahan dasar dalam mengolah sajian pertunjukan tugas akhirnya. Sebelum menjalani pendalaman dari bahan dasar yang akan dikerjakan tersebut, Galang sudah memberikan bingkai khusus dari sajian pertunjukannya. Saya mengira hal ini berawal dari pengalaman Galang dalam beberapa bulan terakhir sebelum mengerjakan karya tugas akhirnya tersebut. Pengalamannya mengajar teater pada sebuah Sekolah Dasar barangkali menjadi pemantik bagi diri Galang dalam bersinggungan dengan dunia anak-anak. Dari pertemuuannya bersama murid-murid SD tersebut, Galang mencoba meneruskannya sebagai langkah awal dari tugas akhir penciptaan teater dengan ‘beban’ kompetensi Sutradara. Sebagai seorang sutradara, Galang membingkai pertunjukannya dengan penonton yang spesifik yaitu anak-anak SD. Dan yang menarik dari apa yang saya lihat dari jarak jauh, (karena saya tidak ikut serta dalam proses kreatifnya), dalam memberikan pembingkaian karya tersebut berada pada awal proses kreatifnya bersama pemain serta pendukung yang lain. Meletakkan sebuah mimpinya untuk menyajikan pertunjukan teater yang diperuntukkan khusus bagi anak-anak SD.

Kedekatan Galang pada dunia anak-anak memang bisa dilihat dari bagaimana ia membawakan dirinya dalam dunia kesehariannya sebagai ‘Galang’, yang menyebut dirinya ‘Galang Ngikngok’. Keterbukaan terhadap apa dan siapa saja yang ia temui menjadikan Galang sebagai sosok yang luwes-lentur dalam memposisikan diri dalam masyarakat. Galang seorang yang senang berteman pada siapapun menjadi pendorong kedekatan dan kelekatannya pada dunia anak-anak. Karena saya menyadari jika tidak semua orang khususnya para pegiat teater dapat membangun kedekatan hingga keikhlasan untuk dapat menceburkan dirinya pada dunia anak-anak, apalagi dengan tujuan tertuntu yaitu ‘teater’. Barangkali pembacaan saya terhadap Galang sebagai salah satu dari pegiat teater yang berpotensi untuk meleburkan diri pada dunia anak-anak sedikit meleset. Iya ataupun tidak saya berharap akan menjadi pemantik obrolan seusai tulisan ini diselesaikan.

Memberikan bingkai khusus “teater untuk anak-anak” barangkali menjadi tujuan yang akan menyempitkan, namun juga di sisi lain meluaskan tujuan teater itu sendiri. Meluaskan teater sebagai sebuah tujuan bagi penontonya dalam hal ini melihat bahwa dunia anak-anak juga menjadi tujuan itu sendiri. Teater dalam hal ini ditempatkan sebagai media alternatif pendidikan dalam proses tumbuh kembang seorang anak. Sebagai hiburan, teater anak-anak memilih untuk berkonsentrasi terhadap wacana perkembangan hiburan anak-anak pada zaman ini. Yang tentu saja, pilihan teater semacam ini mengharuskan kreatornya meluaskan cakrawala pengetahuannya terhadap pendidikan, hiburan, hingga wacana terkait terhadap apa yang dialami generasi anak-anak hari ini. Boleh saja jika kita akan menyebut, bahwa dunia anak-anak juga bisa memiliki sebuah brand, Anak-anak Zaman Now. Dengan kesadaran itu, kita dapat melihat sejauh mana kita mengenal dunia anak-anak. Barangkali dalam mencermati dunia anak-anak sangat perlu untuk meluaskan pandangan kita. Misalnya mengenai dunia pendidikan anak-anak pada zaman ini, tentu mengalami sebuah perkembangan metode dengan melihat semakin majunya zaman. Juga mengenai hiburan dalam dunia anak-anak, saya kira hiburan yang dimaksud tidak bertujuan hanya sebagai hiburan saja. Namun bahwa hiburan merupakan pendidikan itu, tujuan pendidikan disampaikan dengan bingkai hiburan tersebut. Kemudian jika kita menelisik, apakah hiburan hari ini mengandung tujuan pendidikan bagi anak-anak. Hiburan dan pendidikan akan kita tempatkan pada sebuah pokok pembicaraan dalam tulisan ini yaitu teater. Bagaimana teater menempatkan dirinya dalam dua hal penting ini, yaitu sebagai hiburan sekaligus pendidikan.

Sebagai hiburan, saya rasa sajian pertunjukan Kerajaan Burung belum bisa menjadi media pendidikan alternatif bagi anak-anak. Kata alternatif sengaja dititipkan disini bersanding dengan pendidikan dengan kesadaran bahwa teater sebenarnya sangat berpotensi menjadi media pembelajaran terkait, penguatan jati diri, mental, hingga karakter anak nantinya. Namun, sebagai hiburan saja kurang mendapat ketertarikan dari anak-anak, apalagi akan menaruh nilai pendidikan di dalamnya. Tidak ada lagu anak-anak yang dapat menjadi ingatan kolektif bagi penonton (anak-anak maupun orang dewasa) yang coba dihadirkan dalam sajian Kerajaan Burung. Dunia dongeng yang coba dihadirkan terasa sangat bersusah payah untuk mendapat ketertarikan pada anak-anak. Jika saya harus memberikan alasan kenapa hal itu dapat terjadi, barangkali ini menyoal hal yang sangat sepele. Mengenai keterbukaan diri dan keikhlasan para pemain dan pendukung pementasan Kerajaan Burung dalam mengahadapi anak-anak, dunianya, imajinasinya.

Dunia imajinasi anak-anak hari ini sangatlah luar biasa, mereka disuguhkan dengan kecanggihan teknologi yang mengantarkan mereka pada pengalaman indera mereka terutama dalam hal visual. Mereka sebagai anak-anak Zaman Now disangdingkan dengan dunia Game, Youtube, Televisi yang sudah menjadi kesatuan dari aktivitas keseharian mereka. Bahkan kelekatannya dengan smartphone mengantarkan anak-anak Zaman Now pada konten isu dan wacana bagi orang dewasa. Tidak ada batas yang jelas dan tegas. Apakah mungkin dapat dikatakan jika Anak-anak zaman Now ini kehilangan dunia kekanak-kanakannya?

Ruang batas itu barangkali ingin disampaikan lewat pertunjukan Kerajaan Burung yang disajikan dua kali dalam sehari. Pada pagi hari, dikhususkan untuk anak-anak SD yang sengaja didatangkan dari beberapa SD di Yogyakarta. Kemudian pada malam harinya diperuntukkan bagi penonton umum, yang nyaris tidak ada anak-anak, menurut pengamatan saya.

 

Pada malam itu menjadi sebuah pertunjukan teater anak-anak Kerajaan Burung dengan para penontonnya yang bukan anak-anak, apa yang terjadi.

 

Singkat cerita, saya harus mengatakan jika Kerajaan Burung menjadi pertunjukan yang tidak memiliki orientasi sebagai sebuah sajian bagi para penontonnya. Memang benar jika pada peristiwa pertunjukan tersebut dibanjiri gelak tawa para penonton ketika melihat aksi para pemain. Namun yang menjadi pertanyaan, siapa penonton itu, kenapa mereka tertawa, apakah mereka para penonton itu benar-benar bahagia. Karena bagi saya gelak tawa penonton tidak cukup menjadi sebuah peristiwa teater dengan pertemuan antara penonton dan penyaji pertunjukan. Penonton yang tertawa menjadi pengulangan yang terus menerus coba diciptakan oleh para pemain. Ibarat makan, dalam format tiga kali makan dalam sehari, harus kita selesaikan dalam satu kali makan. Karena pada malam itu, hampir semua para pemain melakukan aksinya diatas panggung dengan orientasi menciptakan sebuah lelucon, saya menggunakan kata menciptakan, bukan menghadirkan. Orientasi yang dijalankan para pemain tersebut menjadikan mereka seakan-akan begitu menyepelekan peristiwa teater yang sedang disajikan. Mereka seakan tidak menghargai penonton yang datang untuk melihat sebuah sajian teater, terlebih barangkali beberapa penonton sudah tau jika pertunjukan ini merupakan pertunjukan teater untuk anak-anak. Apa yang hadir dalam benak penonton, terlebih lagi jika menyadari apa yang dilihat merupakan sebuah tugas akhir Mahasiswa yang akan mengantarkan pada gelar sarjana di bawah payung dewi kesenian yang terlegitimasi atas nama Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Salah satu peristiwa yang saya ingat pada bagian adegan awal ketika tokoh anak bernama Kiku dibangunkan burung-burung dari tidurnya. Kemudian setelah bangun tokoh Kiku berkata, “terimakasih, kalian sudah membangunkan burungku”. Saya tidak tau kesatuan pikiran dan emosi apa pada aktor yang berlagak sebagai tokoh Kiku tersebut. Menginginkan penonton tertawa, barangkali iya. Lalu, apakah hal itu dapat dikatakan sebagai sebuah peristiwa komedi dalam teater. Saya kira terlalu jauh jika harus dikaitkan dengan sebuah komedi teater.

Saya tidak melihat para aktor beserta pendukung lainnya berusaha untuk memberikan roh, nyawa, energi ke dalam pertunjukan yang mereka sajikan. Jika lebih dalam lagi melihat, sebenarnya beberapa aktor yang terlibat sangat memiliki potensi besar untuk dapat diolah sebagai sajian teater yang lebih bisa dinikmati, untuk anak-anak, maupun bukan untuk anak-anak. Beberapa potensi sebenarnya sudah tersedia, mulai dari sumber daya keaktoran, hingga pendukung artistik yang ikut terlibat. Namun saya tidak tau, kondisi ini disebabkan karena apa, dimana tidak dirasakan sebuah kesatuan energi untuk menyajikan pertunjukan Kerajaan Burung.

Saya justru sedikit melirik Galang sebagai sutradara dalam pertunjukan tersebut. Barangkali dalam diri Galang, ada sesuatu yang belum selesai dalam pikirannya. Kepercayaan diri untuk menyuguhkan sajian pertunjukan Kerajaan Burung terasa mengalami kerapuhan energi. Sebagai sutradara barangkali Galang belum selesai untuk menularkan energi bagi para aktor dan pendukung artistik maupun produksi. Atau yang lebih ditakutkan barangkali Galang yang seorang diri sebagai sutradara masih setengah hati dalam mengerjakan sajian Kerajaan Burung tersebut. Entah apapun itu, semoga pada pengalaman menonton sajian pertunjukan Kerajaan Burung dan lebih utamanya para pelakunya sebagai aktor, pendukung artistik, maupun produksi dapat menjadi proses pembelajaran. Terutama hal yang yang menyoal mengenai tanggung jawab dalam menyuguhkan sajian pertunjukan. Karena tidak hanya sutradara, namun juga pendukung semuanya hingga yang paling mendapat porsi terkecil dalam penyajian pertunjukan tersebut mempuyai tingkat tanggung jawab yang sama. Dalam hal ini, tanggung jawab menjadi kunci bagaimana teater memberikan pengalaman terhadap mental kemanusiaan di dalamnya. Yang juga menjadi nilai penting adalah tanggung jawab sebagai penyaji maupun pegiat pertunjukan ketika memilih diri untuk bersingungan dengan dunia anak-anak. Pertunjukan tidak tunggal berdiri, ia juga sebagai hiburan bagi anak-anak, sekaligus nilai pendidikan di dalamnya. Sajian Kerajaan Burung memberikan pengalaman imaji kebudayaan terhadap anak-anak sekaligus mengantarkan pada pembacaan atas apa yang terjadi pada dunianya, masa depan, hingga kebudaayan yang menuntunnya.

 

*Mathori Brillyan, aktor dan sutradara. bergiat di Kalanari Theatre Movement dan Komunitas Pesantren Kali Opak.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *