Sense and Sensibility | Spectatorship Meeting

Map Unavailable

Date/Time
Date(s) - 11-06-2019 - 14-06-2019
All Day

Location
Tentacles Gallery

Categories


PRESS RELEASE

 

SENSE and SENSIBILITY: Sensing and Making Sense of spectatorship and democracy in Southeast Asia’s artistic practice

 

Tentacles Gallery, Bangkok/ 11-14 Juni 2019

 

 

Penonton dan kepenontonan (spectatorship) menjadi isu penting yang kita gunakan untuk mengkritisi produksi relasi sosial lewat praktik artistik. Wacana penonton dan kepenontonan terkait erat dengan kajian penonton pasif (audience passive reception), namun beragam praktik artistik yang progresif mendorong perubahan paradigma dengan mengembangkan dan mengelaborasi seni sebagai alat untuk mengaktivasi agensi penonton. Perubahan ini memberi implikasi sosial dan etis pada peristiwa artistik sebagai fokus utama diskusi, karena karya/ proyek seni individu (film, teater, performance art, seni rupa) bukan lagi menjadi satu-satunya obyek analisa.

 

Kami percaya diskusi praktik artistik terkait dengan penonton dan kepenontonannya- dan tidak melulu evaluasi atas aspek artistiknya semata- akan membawa kita pada analisa pengembangan produksi praktik artistik yang melampui batas disiplin seni. Kami ingin meninjau kepenontonan sebagai proses transformasi estetik yang bekerja dengan melibatkan indra: dengan melihat, mendengar, menyentuh, merasakan dst. Bagaimana seniman melihat hubungan mereka dengan penonton? Bagaimana mereka membangun hubungan dengan penonton? Apa peran, atau kemungkinan peran baru penonton dalam produksi artistik terkini? Apakah moda kepenontonan baru mengubah peran (atau bahkan definisi) seniman? Jika demikian, dalam hal apa dan bagaimana?

 

Selain dari itu, kami mengusulkan untuk mempertajam diskusi kami melalui gagasan ‘kepenontonan demokratis (democratic spectatorship)’ untuk memahami pandangan ideologis terhadap aktivisme yang muncul sebagai respons atas iklim politik di Asia Tenggara saat ini. Untuk satu hal, ini bisa terkait dengan bagaimana seniman membaca perkembangan demokrasi negara dan transisi kekuasan elit di negara mereka masing-masing. Pada saat yang sama, dan mungkin yang lebih penting, kami tertarik mendiskusikan bagaimana para pekerja seni melihat ‘kepenontonan demokratis’ sebagai bentuk dari resistensi (perlawanan) kreatif dan tindakan kewarganegaraan di tingkat lokal. Apakah isu yang paling mendesak dalam gerakan masyarakan sipil di Asia Tenggara hari ini? Bagaimana hubungan antara aktivisme sosial dan praktik artistik di Asia Tenggara? Jaringan apakah yang kita miliki dan yang masih kita butuhkan? Bagaimana metode artistik dapat berkontribusi dalam proses demokratisasi yang partisipatif, secara taktis, strategis dan organisasional?

 

Dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, enam seniman dan aktivis kebudayaan dari wilayah Asia Tenggara akan mengadakan sebuah program pertemuan yang dinamai SENSE and SENSIBILITY: Sensing and Making Sense of spectatorship and democracy in Southeast Asia’s artistic practice, bertempat di Tentacles Gallery, Bangkok pada tanggal 11-14 Juni 2019. Kin Chui (Singapore), Ornanong Thaisriwong (Thailand), Zikri Rahman (Malaysia) akan berpartisipasi bersama dengan kolaborator Brigitta Isabella and Joned Suryatmoko (keduanya dari Indonesia) sebagai inisiator dan Pavinee Samakkabutr(Thailand) sebagai tuan rumah. Proyek ini didukung oleh ANA – Arts Network Asia (www.artsnetworkasia.org), sebuah badan hibah yang didirikan oleh sekumpulan seniman independen, pekerja budaya dan aktivis seni dari Asia, yang mendorong kolaborasi, diprakarsai dan berlangsung di Asia dan dilakukan oleh seniman Asia.

Contact Person/ Informasi: Joned Suryatmoko (+62817263465) jos.suryatmoko@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *