Sabtu, Oktober 17, 2026
ULASANPanggung Teater

Wayang Nganjor dan Potensinya dalam Peta Teater Tradisional: Catatan atas “Oemoen Dengan Sepoetjoek Soeratnja”

Meminjam, menafsir, mereproduksi ulang, dan mengemas beragam bentuk dan memproduksinya menjadi sebuah bentuk baru adalah kerja yang biasa dalam sebuah produksi teater. Kerja yang menjadi ruang terbuka bagi seorang penggarap untuk melepaskan gagasan kreatif mereka. Pengantar ini adalah gambaran dari apa yang dipentaskan oleh Komunitas Wayang Nganjor. Pertunjukan berjudul Oemoen Dengan Sepoetjoek Soeratnja yang dipentaskan di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung dan disutradarai oleh Tirta Nugraha Pratama.

Pertunjukan ini bercerita tentang Prabu Pucuk Umun, seorang penguasa terakhir kerajaan Banten Girang yang beragama Sunda Wiwitan sebelum masuknya Islam di area Banten. Pertunjukan ini berusaha untuk memberikan pandangan tentang bagaimana proses negosiasi seorang Pucuk Umun dalam menghadapi dua arus kebudayaan baru yang masuk ke wilayahnya, yaitu Portugis dan Islam. Pengadeganan kisah ini dibuat parsial dan melompat dengan memberikan fokus pada irisan-irisan pertemuan Pucuk Umun dengan dua kebudayaan tersebut dan bagaimana diplomasinya dengan keduanya.

Bentuk pertunjukan yang memadukan Longser, Ubrug, dan Wayang Golek membuatnya menjadi lebih fleksibel untuk memberikan ruang bagi alur cerita yang lebih terbuka. Aktor dapat bebas keluar masuk peran tanpa harus terikat dengan konvensi Barat yang memiliki aturan yang ketat terhadap karakter tokoh yang dimainkan. Isu menjadi sangat memungkinkan untuk diolah di ruang transisi antara menjadi tokoh atau keluar dari tokoh tersebut. Pertunjukan ini, walau meminjam beberapa bentuk kesenian tradisional, juga berusaha untuk menghadirkan identitasnya dan berdiri sendiri sebagai sebuah pertunjukan yang memiliki ciri khas. Ini terlihat dari usaha untuk menjadikan pertemuan antara Longser, Ubrug, dan Wayang tanpa sekat yang membatasi ketiganya, sehingga ia bisa dilihat secara utuh sebagai bentuk estetika yang hadir dan memiliki identitasnya sendiri.

Di wilayah pemeranan, para aktor berusaha untuk membaginya ke dalam dua tipe pemeranan. Pada awal adegan, dengan gaya longser, mereka memainkan gaya pemeranan yang sangat cair dan mampu melakukan komunikasi baik verbal maupun fisikal dengan penontonnya. Namun, seiring alur cerita kemudian aktor masuk pada pengkarakteran yang lebih ajeg dan identifikasi peran yang jelas ketika cerita mulai fokus pada tokoh Pucuk Umun. Set tempat dan waktu yang berubah dan berpindah-pindah kemudian dibangun di ruang yang sama dan dapat diterima secara logis oleh para penontonnya. Hanya saja tentu juga memiliki risiko lain atas padatnya pilihan estetika pertunjukan. Ia tak bisa berfokus pada alur yang panjang yang sesuai dengan cerita. Sutradara harus merecahnya menjadi potongan-potongan narasi yang ditampilkan ke dalam adegan-adegan singkat dan dapat dipahami menjadi sebuah alur oleh penonton. Ada banyak adegan transisi yang dialog-dialognya harus dilontarkan oleh pemusik yang sayangnya hanya lewat begitu saja karena dialog yang hanya “dibacakan” begitu saja dan jadi terkesan datar, tak lagi naratif.

Sebenarnya, dengan pilihan ini (pencampuran beberapa bentuk teater tradisi-red), sutradara memiliki banyak peluang untuk membangun gagasannya ke dalam bentuk baru yang variatif. Misalnya, kemunculan dalang membuat adegan pertarungannya tak lagi harus dilakukan oleh dua orang manusia tetapi digantikan oleh dua wayang yang menambah variatifnya elemen visual adegan ini. Pada wilayah visual ini, pertunjukan Oemoen Dengan Sepoetjoek Soeratnja terlihat bekerja cukup maksimal dalam pengerjaannya, meski tentu juga tetap berakar pada bentuk-bentuk dasar yang digabungkan (longser, ubrug dan wayang golek). Dan di sinilah peluang masih terbuka lebar untuk dieksplorasi.

Selain unsur visual, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kerja pertunjukan ini untuk dapat dibaca sebagai kerja “lintas budaya” sebagaimana tema festival yang menampilkannya? Dalam kaca mata saya, ada ruang antara dalam konteks tubuh, yang disadari atau tidak, sebenarnya telah menjadi ruang antarbudaya yang bisa kita lihat dengan jelas di pertunjukan ini. Aktor sendiri telah memilah cara mereka memperlakukan peran di atas panggungnya. Secara penubuhan, ada ruang yang membuat mereka dengan sadar membangun tubuh dan gaya aktingnya berbeda. Sebagai contoh, di adegan awal, para aktor bermain dengan tubuh yang lebih rileks. Tidak melakukan pembesaran gesture akting, dan berdialog dengan cara yang lebih natural karena menggunakan bahasa Sunda sebagai pengantar adegan. Gaya ini berubah ketika mereka masuk pada ruang berbeda ketika setiap orang telah mendapatkan identifikasi yang jelas terhadap karakter yang mereka mainkan. Sikap tubuh mereka menjadi lebih ditata, cara berdialognya tiba-tiba berubah menjadi lebih teaterikal dan dramatis.

Selanjutnya, dengan menyadari karya ini sebagai sebuah irisan yang menarik dalam konteks ruang antara tadi, kerja lanjutannya adalah secara perlahan mengupas potensi teks untuk bisa menemukan ruang berbeda dari sekedar memotong narasi-narasi penting dan menempatkannya ke dalam adegan-adegan yang ditebalkan. Teks juga harus mampu membentuk cara pandang baru dalam konteks kultural, sehingga konsep Wayang Nganjor ini akan semakin tajam. Ia tak hanya sekadar menjadi bentuk pertunjukan baru yang mencampurkan beberapa unsur dari bentuk lain yang sudah ada, tapi juga mungkin menjadi cara baru bagi banyak orang untuk melihat sebuah narasi tak lagi hanya karena keumumannya. Tapi bagaimana kemudian narasi itu (sebagaimana juga bentuk pertunjukan mapan lainnya) dapat dipertanyakan ulang, didiskusikan ulang, lalu dilihat sebagai sesuatu yang tak lagi statis.

Dian Ardiansyah

Dian Ardiansyah adalah seorang Aktor, Sutradara, Penulis Naskah, Penerjemah, dan Penyanyi yang saat ini berdomisili di Kota Cimahi. Pengalaman berada di panggung teater selama 20 tahun merupakan perjalanan yang tidak sebentar dalam berkesenian. Dari 20 tahun perjalanan tersebut telah mengantarkannya pada beragam kerja kesenian, mulai dari panggung konvensional hingga ruang publik. Mulai dari aktor teater hingga kaum difabel telah menjadi partner kerja dalam berkesenian.