Deskripsi
Dalam dunia teater kontemporer di Bali—bahkan Indonesia—Nanoq da Kansas bukan sekadar seniman, melainkan juga seorang pejuang teater. Bersama Teater Kene pada dekade 1980-an, serta Bali Eksperimental Teater (BET) sejak dekade 1990-an, Nanoq menggerakkan estetika teaternya yang cukup unik dari Jembrana, sebuah kabupaten di ujung barat Bali, yang—secara sentimen kultural—sering dianggap sebagai “bukan Bali”. Bersama BET pula, hingga kini, Nanoq bukan hanya mencipta dan mengembangkan karya-karya teaternya, melainkan juga melahirkan dan menumbuhkan persona-persona muda pegiat teater kontemporer Bali. Tujuh naskah teater karyanya dalam buku ini—“Ringsek”, “Min”, “Tuberpakakilu”, “Marilah Kita Terus Tersenyum”, “Fragmen Sebuah Halte”, “Rezim”, dan “Grubug”—sangat sahih untuk diposisikan sebagai salah satu penanda penting bagi sejarah dan kecenderungan estetis teater kontemporer di Bali sejak 1980-an hingga kini. Naskah-naskah teaternya sering kali berupa oplosan tekstual. Dengan teropong individual, terutama pada masa awal kepenulisannya, Nanoq mengoplos bahasa dari “masyarakat udik” serta cara pandang khas mereka terhadap lingkungan dan narasi sosiopolitik yang melingkupi mereka.
- Monolog Satir yang Menyentak Kesadaran Sosial Dipentaskan di Yogyakarta - 30 Januari 2026
- Siliwangi Monologue Event 2025: Menghidupkan Seni, Meresonansi Kehidupan - 31 Oktober 2025
- Memoar Lengger Narsih, Menjelajahi Laku Hidup Penari Tradisi - 10 Oktober 2025






