fbpx

Perang dan Teater

Bom Rusia menghantam sebuah gedung pertunjukan di Kota Mariupol pada Hari Rabu, 16 Maret 2022. Bom yang dijatuhkan oleh pesawat Rusia ini tentu saja bukan hanya menghancurkan teater dalam arti fisik, tapi sekaligus 300 orang yang bernaung di dalamnya.

Apakah kejadian ini mengusik orang teater di seluruh dunia?

Atau mereka hanya “mabuk” dalam pesta?

Gambar1 | Perang dan Teater
Gedung pertunjukan di Mariupol yang berisi para pengungsi perang Ukraina-Rusia. sumber : CNN
TEATER DAN PERANG

Hubungan antara teater dan perang dalam literasi kita saat ini merujuk pada istilah Theatre of War. Istilah ini tentu saja tidak ada kaitannya dengan teater sebagai seni pertunjukan maupun teater sebagai gedung pertunjukan. Theatre of War berasal dari istilah Kriegstheater yang ditulis Carl von Clausewitz dalam bukunya yang berjudul On War. Istilah ini merujuk pada tempat di mana perang berlangsung (Clausewitz, 1956). Istilah ini kemudian menjadi popular dalam berbagai perang yang terjadi setelahnya.  

Jauh sebelum itu, pada tahun 415 Sebelum Masehi, orang-orang Athena menonton sebuah pertunjukan karya Euripides yang berjudul Trojan Women yang menceritakan tentang para lelaki Troya yang dibantai dan para wanita ditawan setelah kemenangan Agamemnon. Pertunjukan ini mampu menggetarkan hati dan menggerakkan masyarakat Athena dalam melawan Sparta beberapa waktu kemudian (Aita, 2008).

Selama Perang Dunia Pertama, teater memiliki peran vital dalam menghadirkan hiburan sekaligus sebagai pembangkit semangat penonton dalam menghadapi peperangan dan meningkatkan moralitas para prajurit dan masyarakat. Hal ini disebut dengan istilah Military theatre. Sebagaimana umumnya, teater sekaligus sebagai “surga” bagi mereka yang ingin kabur sejenak dari relaitas yang tidak menyenangkan di sekitarnya. Peningkatan harga tiket selama perang bertujuan untuk mendukung para pejuang secara finasial (Thomas, 2020).

Teater tentu saja tidak hanya asyik di “rumahnya,” teater juga berpentas di medan peperangan bersama dengan para komedian. Pertunjukan ini untuk memberikan hiburan bagi para pejuang di Perang Dunia I. Salah satu kelompok yang melakukan itu adalah The Balmorals yang menyajikan pertunjukan sketsa satir yang sangat relevan untuk kondisi perang. Salah satu pertunjukannya berjudul A Peep into the Future menampilkan tentara Jerman yang menggunakan periskop Inggris untuk mencukur. Perilaku tentara Jerman ini dimaksudkan sebagai ejekan bagi kecerdasan tentara Jerman (Thomas, 2020).

BACA JUGA:  Mbakyu Aku Nyuwun Suntik : Butet Mengenang WS Rendra

Kaitan antara teater dan Perang Dunia Pertama ini terus berlanjut dalam konteks perang sebagai inspirasi penulisan naskah teater. Lebih dari 3.000 naskah teater telah ditulis berdasarkan situasi Perang Dunia I. Menyebut beberapa judul diantaranya adalah Night Watches karya Allan Monkhouse (1916), The Old Lady Shows Her Medals karya J.M. Barrie (1918), dan War Horse adaptasi oleh Nick Stafford (2007).

Di Inggris, selama periode Perang Dunia II, teater mendapat perhatian besar karena dianggap sebagai salah satu urat nadi jiwa bangsa dan penting dalam kemajuan kebudayaan Inggris. Meskipun tidak bisa dipungkiri, berbagai bangunan gedung pertunjukan—seperti juga bangunan lain di Inggris—mengalami banyak kerusakan. Meski demikian, setelah perang berakhir, teater langsung mendapatkan ijin untuk menggelar pertunjukan untuk—lebih dari usaha untuk mengembalikan semangat masyarakat tapi juga—mengembangkan fungsinya sebagai sarana edukasi dan membangkitkan nasionalisme (Heinrich, 2010).

Pasca perang, teater juga berperan dalam menghilangkan trauma masyarakat yang terdampak. Penceritaan Kembali peperangan di panggung teater merupakan momen penting bagi para penyintas perang. Seorang penyintas Holocaust, Gerald Hartman, menyatakan bahwa “Saya selama ini tidak mengingatnya hingga sampai hari ini, sekarang aku mengingat begitu banyak hal” dan hal ini menjadi momen release of memory. Proses ini penting dalam tahapan penyelesaian trauma (Balfour, 2007).

WORLD THEATRE DAY

Ada luka yang tiba-tiba muncul setelah membaca berita hancurnya gedung pertunjukan di Kota Mariupol. Apalagi terdapat fakta bahwa hal itu juga membunuh 300 orang pengungsi yang menggantungkan hidup-matinya pada sebuah gedung pertunjukan. Terlepas dari telah hancurnya berbagai bangunan lain yang bisa digunakan juga sebagai tempat perlindungan, tetapi pemilihan para pengungsi untuk menggunakan gedung pertunjukan adalah sebuah catatan penting.

Mungkin berlebihan, tapi memilih gedung pertunjukan adalah upaya terakhir yang bisa dilakukan para pengungsi. Theatre dalam arti sebuah gedung pertunjukan telah ikut berjuang melindungi para pengungsi, meskipun akhirnya kalah juga. Tapi di mana Theatre dalam arti sebuah pertunjukan dan kumpulan seniman?

BACA JUGA:  Tentang Dramaturgi: Syarat. Tuntutan yang Berlebihan. Seni Hidup.

Selama perang berlangsung antara Ukraina dan Rusia, sedikit sekali terdengar suara protes dari para seniman teater. Para penulis, lewat organisasi mereka PEN International telah lama mengecam terjadinya perang tersebut, termasuk penangkapan dan penahanan para penulis Ukraina oleh tentara Rusia. PEN International, melalui presidennya Burhan Sonmez, menyerukan agar dicapainya resolusi damai dan ponghentian perang melalui dialog.

Mana suara para seniman teater?

Itulah kepedihan yang harus ditelan. Selama World Theatre Day, 27 Maret 2022, sedikit sekali terdengar suara yang menyinggung tentang perang Ukraina-Rusia. Kesimpulan ini tidak mengada-ngada, sebab saya secara pribadi telah menggunakan berbagai cara untuk mencari informasi hal ini di media sosial Instagram dan media pencarian terbesar Google. Bahkan website World Theatre Day (https://www.world-theatre-day.org/) yang setiap tahun menyajikan pesan dari tokoh teater, sama sekali tidak menyinggung solidaritas bagi para korban perang Ukraina-Rusia. Yang terjadi dan dipertunjukkan dengan penuh rasa bangga adalah pesta besar-besaran. Pentas-pentas digelar di mana-mana, nyanyian, dan gelak tawa dihambur-hamburkan di berbagai belahan dunia.

Tentu sebuah perayaan atas ulang tahun seni yang digeluti tidak ada yang salah, tapi tidak kah kita tersengat panas perang Ukraina-Rusia sedikit saja?

Untungnya, masih ada beberapa seruan dari seniman teater pada perang Ukraina-Rusia. Para seniman teater di Polandia menggelar beberapa acara untuk memberikan solidaritas dari para korban perang Ukraina-Rusia berupa acara Tables instead of walls, Reading for Ukraine – Notes from the War, pertunjukan Let’s pray that everything will be fine! Yang dimainkan oleh Halina Chrobak, Anna Sandowicz, Marzena Trybała, dan Bartosz Bednarczyk (ETC, 2022). Pada tanggal 1 April juga akan digelar pertunjukan Bad Roads karya Natal’ya Vorozhbit di The Royal Court theatre, London yang mengeksplorasi efek brutal dari perang, khususnya pada hubungan personal.

BACA JUGA:  Mampir Ngombe di Larantuka : Oleh-oleh Seniman Mengajar

Tentu saja saya berharap, aksi solidaritas itu juga terjadi di Indonesia. Mungkin ini berhenti sekedar harapan, atau dalam waktu ke depan juga akan menjadi kenyataan.

Yang jelas, tahun ini adalah perayaan World Theatre Day yang ke-60 tahun, dengan usia setua ini, saya sekali lagi berharap teater bukan hanya berhenti pada fungsi hiburan, tapi dapat menjadi agen perubahan jaman.

REFERENSI

Anselm Heinrich. 2010. Theatre in Britain during the Second World War. New Theatre Quarterly 26 (1): 61 – 70 DOI: 10.1017/S0266464X10000060.

Carl von Clausewitz. 1956. On War. Jazzybee Verlag. p. 162. ISBN 9783849676056.

European Theatre Convention (ETC). 2022. Voices for Ukraine, Sharing Messages From Artists And Theatres From Ukraine. https://www.europeantheatre.eu/page/resources/voices-for-ukraine

Michael Balfour. 2007. “Performing War: ‘Military Theatre’ and the Possibilities of Resistance”. Performance Paradigm 3: 23-31.

Sean Aita. 2008. Theatre and / in war. Theatre in The Time of War. The European Off Network (EON). Vienna.

Sophie Thomas. 2020. A history of theatre during World War One. https://www.encoretickets.co.uk/articles/theatre-during-world-war-one/

Ekwan Wiratno
Latest posts by Ekwan Wiratno (see all)

Ekwan Wiratno

Ekwan Wiratno adalah Dosen Universitas Brawijaya, Malang yang juga merupakan kritikus teater, penulis naskah, dan sutradara. Selain sebagai kritikus, penulis merupakan pendiri Malang Study-Club for Theatre (MASTER) (IG: master.malang) yang berfokus pada upaya literasi dan pengembangan keilmuan teater secara umum. Kini tinggal di Malang dan membuka peluang komunikasi melalui account Instagram @ekwan_wiratno.