Mother or Earth, Tinjauan dari Kursi Penonton Mother Earth Produksi Mila Art Dance

Oleh : Maulana Mas

Memasuki pekan kedua di bulan Maret lalu, jika kita memperhatikan jalanan, tayangan televisi, atau beranda media sosial banyak dikibarkan gambar-gambar atau posting tentang perjuangan sosok perempuan (semangat feminis). Ya, warga dunia memang sedang merayakan Hari Perempuan se-Dunia yang diperingati setiap 8 Maret. Kemudian, di tengah giatnya perayaan itu, kabar akan terselenggara Pentas Karya Tari Mila Roshinta dengan Judul Mother Earth hadir sebagai suguhan yang mencuri perhatian. Seakan ada semangat perayaan yang sama. Perbincangan mekar di mana-mana. Sudah pasti banyak yang menanti digelarnya karya ini.

Mila Roshinta (koreografer) bekerja bersama Luise Najib (penyanyi) dengan menggandeng beberapa seniman lain dari berbagai disiplin seperti Gardika Gigih (Komposer), Lia Pharaoh (Make up artist), Jenny Subagyo (Hair stylist), Manda Baskoro (Desainer), Yugo Risfriwan (Videografer), Rio Pharaoh (Fotografer), dan Kokoksaja (Visual artist), Mila dan Luise membangun Mother Earth menjadi karya tari yang multidisiplin, mutakhir dan memikat.

Sebagai pengantar, pertama-tama mari kita pahami terlebih dahulu bahwa hari ini dunia seni pertunjukan telah lebur menjadi satu dimensi besar yang berupa adukan dari berbagai disiplin ilmu seni. Begitulah kiranya dalam memasuki pertunjukan “Mother Earth” karya Mila Art Dance (MAD) yang bisa dibilang sebuah karya pertunjukan yang mix media antara tari sebagai unsur dasar, dengan ilusi visual dan musik. Yang mana, tiap unsur yang ada di dalamnya itu bisa diperhatikan secara independent maupun komplementer / secara keutuhan.

Mother Earth” ini telah melalui perjalanan panjang, serta kabar tentangnya pun telah tersiar marak di media sosial. Sebagai suatu strategi publikasi, ia punya kekuatan yang ampuh untuk menarik perhatian masyarakat. Judul “Mother Earth” mudah ditelan oleh masyarakat karena mengundang berbagai rasa penasaran. Dua-duanya merupakan kata yang akrab terdengar dan tersandingkan bersama. “Mother”  yang berarti “ibu”, dan “Earth”  yang berarti “bumi”. Ketika disandingkan jadilah : “Ibu Bumi”. Di keseharian kita, kata “bumi” dan “ibu” seringkali diperumpamakan satu sama lain. Kerap kali kita dengar berbagai ungkapan semisal: “ibu pertiwi” atau “ibu kota” dan sebagainya. Kata “ibu” dan “bumi” secara tidak langsung sering terhubung. Kemudian, dalam pertunjukan kali ini apa yang coba digali melalui karya tari dalam kerangka tajuk “Ibu Bumi” ?

Kedua kata ini memiliki banyak padanan sifat. Keduanya adalah pintu kehidupan, pemelihara, subjek dari kasih sayang, serta jalianan pemaknaan yang puitik satu sama lain. Jika disimak benar-benar maka terjajar dua kata ini dapat merangsang imaji pada pembandingan unsur-unsur yang terdapat dalam tiap katanya.

Kemudian bagaimana secara utuh pertunjukan Mother Earth ini? Apakah spirit feminis dari Hari Perempuan Sedunia juga ada di dalamnya? Lalu bagaimana posisi karya Mother Earth sebagai sebuah larya tari kontemporer?

Pertunjukan Mother Earth oleh Mila Art Dance. Foto : Maulana Mas

Pecahnya Buah Publikasi ala Kini

MILA ART DANCE

Mempersembahkan

Pertunjukan Kolaborasi Tari, Musik dan Visual .

“Mother Earth”

Cinta Kasih Ibu Kepada Anak

Kolaborasi Antar Seniman Lintas Disiplin Seni

Mila Rosinta X Luise Najib X Gardika Gigih X Lia Pharaoh X Jenny Subagyo X Manda Baskoro X Yugo Risfriwan X Rio Pharaoh X Kokoksaja

 

Selasa, 13 Maret 2018

18.30 – selesai

PKKH UGM Yogyakarta

 

Bumi sebagai naungan kehidupan bagi seluruh isinya adalah bagaikan seorang ibu bagi anak2nya.

Pemberi kehidupan, memelihara alam beserta isinya dengan kasih sayang tanpa balas jasa.

Air, api, tanah dan udara merupakan akar kehidupan di dalam ibu bumi. Alam menyediakan segalanya bagi seluruh kehidupan di bumi.

Kecintaan seorang ibu adalah pengorbanan bagi seluruh anak2nya . Bahagia, sedih, senang , kesakitan, kemarahan, kerusakan yg di rasakan ibu tdk membuat ketulusan ibu hilang.

Bumi adalah ibumu

Langit adalah sang ayah

Engkau hadir di bumi sebagai kebahagiaan dan memberikan pembelajaran tentang arti sebuah cinta.” (Instagram : @milaartdanceschool )

Sederetan kalimat di atas menjadi caption yang cukup apik : Menarik, Informatif, puitik, serta mudah dicerna oleh berbagai lapisan masyarakat. Karena keunggulannya itu serta jejaring kemitraan yang baik banyak akun ikut me-repost dalam sosial media sehingga kabar tentang pentas ini begitu lekat di telinga orang banyak.

Walhasil, Gedung PKKH UGM penuh! Suatu capaian yang luar biasa, bahwa suatu eksibisi tunggal Karya Tari dapat mendatangkan sejumlah penonton yang mampu membuat Gedung PKKH UGM penuh sesak. Mulai dari baris paling depan yang tersaji lesehan, sampai bangku undangan bahkan balkon penuh. Tim Produksi Mother Earth terbukti berhasil memikat perhatian masa dari berbagai kalangan di penjuru Yogyakarta dan sekitarnya. Prestasi yang lain adalah pertunjukan ini dapat memikat banyak masyarakat dari kalangan umum. Ini menjadi penting untuk diperhatikan bahkan dijadikan tauladan karena kerap kali peminat karya seni pertunjukan itu terkungkung di kalangan pelakunya saja, apalagi kalau yang digelar adalah sebuah karya tunggal.

Foto : Maulana Mas
Perjalanan Kasih Seorang Ibu dalam Karya Tari

Secara garis besar Mother Earth merupakan representasi perjalanan seorang ibu, sejak mengandung bayi, melahirkan kemudian membesarkan anaknya. Proses atau tahapan ini ditampilkan oleh penari-penari melalui gerakan dan komposisi yang terstilis. Bahkan di tengah pertunjukan dihadirkan pula dua orang bayi untuk ikut dilibatkan dalam karya tari ini. Segala tatanan tersebut dikemas rapi dalam panggung PKKH UGM yang ditebari daun-daun kering. Elemen visual berupa video mapping pun memberi nuansa serta tanda penjelas selama pertunjukan, seperti gambar pohon, hutan, gambar bayi di dalam kandungan, foto wajah ibu dan sebagainya.

Sebagai sebuah pertunjukan karya ini dapat disebut representatif karena ia berupaya untuk menggambarkan fase hidup yang dialami seorang ibu dan melahirkan alur dramatik yang linear antara satu peritiwa dengan peristiwa lainnya. Sampai pada akhirnya pada bagian penggambaran proses ibu mengasuh anak, sang ibu mengalami dilema batin, yang lalu memuncak dengan amarah. Namun di puncak amarahnya itulah dia justru tersadar akan rasa cintanya pada sang anak. Ia meluapkan perasaan cinta itu dengan menyanyikan lagu “Winter’s Fault” ciptaan Luise Najib bersamaan dengan gerak tubuh dan visual art.

Foto : Maulana Mas

Secara utuh serangkaian penggambaran ini seolah menjabarkan secara agung bagaimana kasih sayang seorang ibu yang begitu dalam ketika keberadaannya dihadapkan dengan kehadiran sosok yang bertalian secara langsung dengannya, yaitu anaknya. Sepintas memang hal ini merupakan suatu nilai luhur yang amat lekat dengan keseharian kita. Tidak ubahnya dengan perayaan-perayaan seperti Hari perempuan, Hari Ibu, Hari Kartini dan sebagainya yang menjadi monumen dari sifat-sifat keperempuanan itu sendiri. Fenomena ini marak dan populer sekali terjadi terutama di media sosial. Hal ini mengingatkan saya pada pandangan Dominic Strinati dalam ”Popular Culture”  (1995) tentang pengagungan perempuan sebagai suatu ritus populer berikut :

“Berbagai representasi kultural kaum perempuan dalam media massa dianggap bekerja mendukung dan meneruskan pembagian kerja seksual yang sudah umum diterima maupun konsepsi-konsepsi ortodoks feminitas dan maskulinitas. “Anihilasi Simbolis Perempuan” dipraktikan oleh media massa berfungsi menegaskan peranan istri, ibu, ibu rumah tangga, dan sebagainya, merupakan takdir perempuan dalam sebuah masyarakat patriarkal. Kaum perempuan disosialisasikan dalam menjalankan peranan-peranan tersebut melalui berbagai representasi kultural yang berusaha membuatnya tampak menjadi hak istimewa alami kaum perempuan.” (2007:207-208)

Yang penting untuk diperhatikan dalam hal ini adalah “apakah kasus tersebut memiliki tingkat darurat yang spesifik sehingga perlu disoroti besar-besaran?” Apabila tidak, jangan-jangan sesuatu yang sudah lumrah dan memiliki titik toleransi keberadaannya justru jadi dimuncul-munculkan kembali. Apabila disepakati bahwa karya seni adalah monumen dari kesadaran keseharian yang coba untuk dibagikan pada khalayak akan labih baik apabila dilakukan terlebih dahulu peninjauan kembali teks dan konteks keadaan hari ini. Sehingga keberadaan karya tersebut tidak terpisah dengan pergulatan wacana yang sedang berjalan saat ini. Sebuah pertunjukan memiliki kekuatan untuk mengumpulkan perhatian massa musti menjadi corong yang selektif dan mengarahkan. Lebih dari sekedar memberikan pukauan artistik dengan konten yang bersifat ‘common’ dan terkesan narsistik.

Pilihan tajuk “Mother Earth” pun perlu dikoreksi kembali sinkronitas dua kata ini. Bagaimana menempatkan “mother” lalu bagaimana menempatkan “earth”. Penari sebagai subyek yang hadir di atas panggung mengambil posisi “mother dengan merepresentasikan perjalanan sebagai seorang ibu. Kemudian elemen “earth yang difungsikan sebagai corak artistik akhirnya hidup seperti perumpaan yang tidak terkaitkan secara langsung. Yang mempertautkan keduanya hanyalah dugaan-dugaan dalam benak penonton karena bingkai narasi tentang pertunjukan yang sudah diberikan sejak awal.

Foto : Maulana Mas
Mother Earth sebagai bagian dari penerjemahan Tari Kontempoter

Pergulatan terbesar yang sedang dihadapi Tari Kontemporer hari ini adalah : “Bagaimana sebenarnya tari kontemporer Indonesia itu?” Tentu jawaban dari pertanyaan ini bukanlah dimaksudkan pada jawaban yang sifatnya definitif (yang dalam keadaan hari ini mudah untuk ditemui), namun “apa” atau “seperti apa” yang hidup dan berkembang pada panggung-panggung kita hari ini. Apakah ia hanya bentuk karya tari bebas yang secara sah menggabungkan segala macam elemen untuk menjadi serangkaian pertunjukan tari yang gemebyar? Atau ia adalah pertunjukan tari yang berusaha membongkar kekokohan konstruksi tradisi menuju penemuan tradisi baru? Atau ia merupakan bentuk hibridisasi tari dengan narasi-narasi dramatik sehingga karya tari tari terlepas dari sifat repititifnya? Lantas, Bagaimana menempatkan tari sebagai sebuah disiplin di antara berbagai media yang menunjangnya?

Melalui referensi barat telah disuguhkan kepada kita beberapa studi kasus perjalanan lahirnya tari kontemporer. Seperti di Barat misalnya, dimana para seniman melakukan pembongkaran terhadap kemapanan tari tradisi mereka yaitu balet. Kemudian pembongkaran tersebut dilakukan seiring dengan bergeraknya wacana dan ilmu pengetahuan. Bagaimana dengan tari kontemporer di Indonesia ?

Sebagai suatu studi penciptaan karya seni, bisa dibilang penciptaan karya Mother Earth juga tidak terlepas dari upaya pembongkaran macam di atas tadi. Hal itu terlihat dari penggunaan ikon-ikon yang disematkan oleh Mila Roshinta selaku koreografer di dalam karyanya. Dalam merepresentasikan perjalanan seorang ibu, ia menggunakan ikon-ikon seperti kendi, kain, perut buncit, hutan, gambar bayi dalam kandungan dan sebagainya. Mari berkaca kembali pada judul utama, yaitu Mother Earth. Dimana karya tari coba ditempatkan oleh pengkarya sebagai representamen namun penandanya tumpang tindih dengan elemen lain. Di sini hal yang amat disayangkan adalah kemudi berjalannya alur pertunjukan tidak dipegang oleh penari namun visualisasi. Lalu bagaimana kerangka dramatik sebuah karya tari? Narasi-narasi yang terlalu banyak akhirnya memangkas ruang pemaknaan terhadap gerak yang seharusnya menjadi dimensi pemaknaan baru namun malah terkesan terlalu jelas. Hal ini amat disayangkan karena menciutkan kembali ruang perenungan penonton. Tari yang merupakan bahasa tubuh yang arbiter dan alami jadi bersifat seperti kata yang lugas dan tunggal makna.

Prestasi dalam mix media dan Yang perlu diselami kembali

Pada akhirnya, sebagai sebuah pertunjukan populer, dalam hal mengemas dan menejemen karya ini mencapai prestasi yang luar biasa dan memukau. Prestasi itu patut dijadikan panutan sebagai suatu strategi yang mutakhir dan memiliki efektifitas tinggi. Namun, tentang konten dan kontekstualnya hendaknya dilakukan perhatian yang lebih dalam, terutama dalam penakaran antara porsi narasi dan eksplorasi ekstetik. Dengan begitu, keberhasilan Mila Art Dance untuk memikat massa akan lebih dalam dan luar biasa.

 

** Maulana Mas, mahasiswa Jurusan Teater di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *