Tubuh Pantomim Milan Sladek dan Catatan-Catatan dari Berbagai Pertemuan

oleh : Ficky Tri Sanjaya*

 

Pantomimer Milan Sladek (Slovakia-Jerman) kali ini melakukan perhelatan karya kolaborasinya pada acara The Intercultural Art Collaboration 2017, di Solo, mulai Jumat 21-23 Juli 2017.  Dengan tema Milan Sladek and Topeng Solo, pementasan dihelat di nDalem Prodjoloekitan, Kemlayan, Jln. Gatot Subroto 32/83 Surakarta. Ndalem Projoloekitan adalah rumah peninggalan dari seorang arsitek keraton Kasunanan dan telah berdiri sejak 1874. Sebuah rumah dengan desain berbentuk joglo Solo dengan empat tiang kayu sebagai penyangga, di tengah terdapat lampu gantung, beratap tinggi dipenuhi dengan kayu-kayu berwarna cokelat gelap. Lantai dengan tegel klasik bermotif yang kinclong, di seputaran tembok terdapat hiasan patung prajurit berwarna abu, ada kepala tanduk rusa, kaca, dan topeng-topeng Klana ukuran besar. Di Ndalem Prodjoloekitan ini pulalah dulu pertama kali tari Klana Topeng muncul untuk ditarikan.

Milan Sladek membawakan empat repertoar karya-karya tunggalnya antara lain Bunga Matahari, Leda dan Angsa, Pesta, Samson Und Dalila dan satu karya kolaborasi dengan judul Gamelan Mask Performance. Pertunjukan disajikan di tengah pendopo dan para penonton berada di sekeliling luar teras. Tidak terdapat jarak antara pemain dengan penonton seperti panggung konvensioanal. Suasana  lebih santai, dengan ditemani makanan kecil dan minuman. Hanya saja penonton secara formal tetap duduk di kursi. Tidak ada penonton yang menonton lesehan di pendopo. Para pemusik gamelan dan pesinden berada di sebelah kiri penonton.

Acara kemudian dibuka oleh pembawa acara yang memberi pengantar masuk mengenai latar belakang kerja sama pementasan ini diselenggarakan dari kedua belah pihak. Pertemuan cucu pemilik rumah yang saat ini bekerja di Jerman sejak belasan tahun lalu sebagai tetangga rumah Milan Sladek, memicu pertemuan antar budaya ini setelahnya. Meski ide untuk berkolaborasi sudah cukup lama, tetapi perwujudan ide itu baru dapat terlaksana tahun ini. Setelah melalui beberapa rangkaian sambutan acara secara formal, dan sebagai penutup tidak lupa pembawa acara memberi intruksi tata cara menonton pertunjukan.

Pementasan kemudian dibuka dengan pertunjukan tari Klana Topeng. Tarian Klana Topeng dalam tiga hari ini ditarikan oleh penari dan dalam repertoar karya yang berbeda beda. Ada 3 babak atau repertoar tarian yang disajikan dalam setiap malam, narasi pementasan yang disajikan mengenai Sekartaji, GunungSari, dan Bapang. Di tengah hingar bingar globalisasi, percampuran budaya, pertumbuhan pertunjukan kotemporer-modern, universalisme budaya, perubahan kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik yang terjadi  saat ini, membuat pementasan tari Bapang dengan suara alunan tembang dan gamelan, sangat meneduhkan hati dan perasaan. Gerakan tariannya yang kadang lebut dan dinamis membuat tubuh seakan ikut hanyut dan larut terbawa emosi yang dibangun. Di sisi lain kemudian musik dan tari sebagaimana komposisi harmoni tersebut secara pribadi pelan tapi pasti, terasa pula memberikan ganguan-ganguan personal akan kondisi perubahan budaya dalam ruang lingkup waktu yang telah tumbuh. Masa lalu yang selalu muncul kemudian sebagai sebuah pertanyaan ulang, representasi ingatan dan perasaan yang muncul dari impresi audio visual. Ada sebuah ruang dan waktu saat ini (baca:sekarang), yang hadir dan dapat dimengerti sebagai ruang serta waktu ‘diantara’ pengertian-pengertian makna dan tanda yang dihadirkan.

Pertunjukan langsung dilanjutkan oleh karya pertama repertoar Milan Sladek, Bunga Matahari. Dalam sinopsisnya, Milan menyampaikan bahwa pertunjukan ini adalah pantomim puisi. Kurang lebih ceritanya mengenai seorang pria yang menanam biji bunga matahari ke dalam tanah. Repertoar ini singkat kurang lebih 5 menit. Namun rima, irama, intonasi, tangga nada dari narasi yang dihadirkan dari gagasan makna pantomim ‘puisi’ berhasil dibingkai melalui pengalaman dan gerak stilisasi estetik tubuh Milan secara bening. Gerak tubuh Milan sebagai ‘puisi’ dalam gagasan simbolis pantomim secara gamblang, mudah, dan tidak berlebihan ornamen mampu memampatkan makna pengertian mengenai biji ‘Bunga Matahari’ sejajar pada pengertian narasi ‘lain’ mengenai pemaknaan ‘Kehidupan’ dan ‘Kehancuran’.  Pertunjukan Bunga Matahari ini juga pertunjukan yang sangat menyentuh, penyikapan Milan pada tubuh dan musik yang tidak sekedar teknik dan mekanis. Pada sisi lain tampak mengarah pada sifat ‘kontemplatif.’ Sebagai wujud dan bagian dari strategi pengalaman, secara tidak gegabah keseluruhan pertunjukan ini terasa mampu menggugah moment-moment penubuhan secara puitik pada objek yang dicitrakan melalui impresi gerak pantomim.

Repertoar kedua berjudul Leda dan Angsa. Pantomim ini lebih mendekatkan diri berpijak pada narasi mitologis. Selain itu melalui apa yang terbaca dalam sinopsis nampaknya Milan mencoba menggali sejarah pantomim yang telah populer berabad lalu di Roma. Pantomim Leda dan Angsa bersumber dari cerita mitologi petualangan cinta dewa Jupiter yang selalu memuja Leda tetapi Leda tidak menyukainya. Untuk menaklukkan Leda, Jupiter berubah menjadi Angsa. Pada pertunjukan ini, tubuh Milan tampak sekali membawa unsur komedi dan ironi melalui permainan karakter yang berganti-ganti secara dinamis. Karakter Jupiter yang tua, angkuh, dan menjengkelkan sangat tampak melalui gaya serta gestur yang Sladek munculkan. Pada saat yang sama, Leda yang berkarakter sebaliknya dari Jupiter,  angun, lembut, ayu, membuat warna serta suasana kontras yang kuat antar karakter yang langsung bersinggungan. Ketika ketegangan karaker keduanya beralih dari karakter manusia (Jupiter) berubah menjadi Angsa, dalam permainan komedi bercampur ironi penonton secara tidak sadar diposisikan seperti halnya Leda yang terpukau pada Jupiter. Ketika adegan seks antara angsa dan Leda terjadi, penonton tertawa terpingkal. Padahal, pada saat yang sama Angsa tersebut adalah jelmaan si tua Jupiter yang tua. Namun, baik Leda maupun penonton tidak peduli lagi dengan bentuk dan karakter Jupiter, sebab pada akhirnya apapun wujudnya yang menjadi puncak keindahaan adalah kepuasan.

Pesta repertoar ini sempat berhenti sebentar lantaran seperempat pertunjukan berjalan ada penonton yang masih asyik berbicara, sehingga Sladek menghentikan permainannya sebentar. Milan menuju penonton yang berbicara dan meminta penonton untuk diam. Sebab dia merasa terganggu konsentrasi dan fokusnya. Menurutnya, cuaca hari itu di Surakarta begitu panas dan dia harus berkonsentrasi dengan intensi yang baik sebab secara perfect. Dia ingin menjaga ketepatan gerakannya dengan musik, agar dapat ditangkap rasanya secara baik oleh penonton. Pada nomor yang ini, gerak tubuh Milan dan musik, mengalir seperti halnya irama dalam tari. Hal tersebut kemudian mengingatkan akan Marchel Marcheau, Charlie Chaplin dan Buster Keaton, dimana ketiganya dalam permainan karakter dan narasi yang berbeda berusaha pula mengakrabi musik sebagai pijakan tubuh dan improvisasi dalam frame dan ketepatan terbatas.

Samson dan Delila ini menurut sinopsis bersumber dari kitab perjanjian lama. Secara permainan karakter hampir tidak berbeda dengan Leda dan Angsa, yaitu hadirnya tokoh dengan gerak dan gestur laki perempuan yang dimainkan dalam perubahan teratur secara bergantian. Meski pertunjukan disajikan secara komedi, namun pertunjukan ini lebih berakhir tragis. Secara apik melalui permainan dan dinamika yang cepat dalam peralihan  karakter, Milan mampu menjaga irama perubahan karakter satu ke karakter kedua (Samson menuju Delila), sehingga ketika Samson yang kuat dan jantan harus kehilangan kelaminnya lantaran digunting oleh Delila, simbol karakter laki-laki tersebut hilang. Pengguntingan tersebut dilakukan Delila lantaran Samson menyetubuhi secara brutal dan norak Delila yang sedang bekerja. Pengguntingan kelamin Samson oleh Delila seolah wujud protes kesemena-menaan kekuatan dan dominasi laki-laki terhadap perempuan dalam berbagai relasi. Maka, perdebatan kelamin dan fungsinya yang terkadang mejadi perdebatan dan ketegangan terus berlangsung, menjadi konflik dan klaim akan kuasa identitas laki-laki dan perempuan. Seketika pengguntingan kelamin Samson langsung menghentikan perdebatan secara tragis persoalan jenis kelamin.

Pertunjukan terakhir ditutup melalui repertoar dengan judul Gamelan Mask Performance. Pertunjukan ini adalah karya kolaborasi Milan dengan musik gamelan. Pada karya ini Milan lebih tampak berimprovisasi dengan menggunakan medium beberapa topeng dan kostum  plastik tipis yang melayang-layang. Tampak gerakannya lahir seperti roh yang menempel pada tubuh platik dan topeng. Secara tidak sadar respon pantomimer ini juga kadang terbawa irama untuk menari meski tak utuh, tetapi kadang juga muncul referensi tubuh yang bebas bergerak improvisasi. Namun, di lain sisi secara tidak sengaja masuk penanda referensial yang telah terkodefikasi pada tetabuhan tertentu yang hadir dari musik gamelan.

Dari beberapa pertunjukan yang telah dimainkan, setelah istirahat usai pementasan dalam diskusi kecil, salah satu  cerita yang saya ingat adalah ketika dia awal masuk Indonesia dan menonton pertunjukan tari-tari Indonesia yang sangat detail secara penggarapan musik, gerak dan artistik, koregrafi. Hal tersebut sangat mempengaruhi dan menginspirasi dirinya. Dimana setelah awal pertemuan dengan kesenian Jawa, pada kemudian hari  refleksi tersebut mendorong dirinya untuk melakukan pendetailan ulang dalam karya-karya garapan tunggal pantomimnya.

Milan Sladek

Pertemuan dan Pesan Milan Sladek

Bagi saya, pengalaman menonton pementasan Milan Sladek secara langsung, sudah terjadi sebelumnya kurang lebih 2 kali. Pertama kali menonton Sladek adalah saat perayaan 70 tahunnya di Black Box teater Salihara Jakarta tahun 2008. Waktu itu dia juga hanya membawakan beberapa nomor tunggalnya untuk dimainkan. Disusul pertunjukan dari hasil workshop dengan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan Naskah Donjuan (2013). Pertunjukan ini digarap secara kolosal, dengan memasukan unsur-unsur teater, tari, rupa melalui kostum dan properti yang menjadi bagian dalam presentasi karya.

Menurut catatan dari sumber buku yang ada, Pantomimer kelahiran Slovakia yang saat ini tinggal di Jerman ini, telah melakukan lawatan karyanya dan mengadakan lokakarya dari tahun 1980 ke berbagai negara tidak terkecuali Indonesia. Sejak persentuhannya dengan seniman dan ketertarikan akan berbagai budaya yang ada di Indonesia, sejak itu pula Milan hampir sering datang kembali setiap waktu ke Indonesia. Menurut catatan dari buku Wajah Pantomim Indonesia penulis Nur Iswantara: Sladek adalah seorang yang penuh perhatian dengan pengembangan dunia pantomim, baik kemampuan fisik, teknis, maupun bentuk ekspresinya. Ia berusaha mencari terobosan dalam mengembangkan sistem pendidikan seni pantomim agar betul-betul berangkat dari ekpresi seni teater.

Dari catatan buku tersebut pula, Sladek memberikan catatan komentar mengenai pantomimer Marchel Marcheau dan David Glass. Dikatakannya bahwa kedua orang tersebut memiliki posisi penting dalam perkembangan pantomim modern. Menurutnya, pemain pantomim lainnya hanya meniru mereka, tidak mengambil manfaat dari apa yang mereka berikan. Dari sana Milan mendorong agar pantomim Indonesia salah satunya dinyatakan kepada Alm. Sena A. Utaya (pendiri Sena Didi Mime-Jakarta) agar berani mengembangkan gaya pantomim sendiri.

Pada tahun 2010 dan 2013 secara langsung Milan pernah berkunjung ke sanggar Bengkel Mime Theater, yang saat itu masih bermarkas di daerah Nitiprayan Yogyakarta. Milan mengaku terkejut ada kelompok berbasis mime di luar Sena Didi Mime Jakarta yang eksis dengan karyanya kala itu. Dalam catatan pribadi beberapa obrolan penting menyangkut karyanya, pertunjukan Milan salah satunya mengenai garapan pantomim Don Juan. Menurutnya, karya tersebut mendudukan Pantomim tidak lagi sebagai bentuk pertunjukan insidental atau improvisasi, melainkan memiliki potensi penggarapan yang baik secara kemasan pertunjukan yang terkonsep secara artistik. Milan mengatakan bahwa dia berangkat mempelajari seni pantomim melalui pertunjukan teater dan pantomim, yang memungkinkan pula berangkat melalui jalan atau media seni yang lain untuk memperkuat seni pertunjukannya.

Dalam Proses karya Don Juan, ia mengungkapkan ketika ia menyutradari pertunjukan Don Juan 3 tahun lalu, Milan tidak mengajarkan teknik berpantomim melainkan mengarahkan aktor untuk berusaha menemukan sendiri perasaan serta kenyamanan tubuh secara pribadi dalam bergerak untuk memahami tokoh yang ia perankan. Metodenya adalah aktor diminta untuk berdialog dengan si tokoh dan mengenali perasaan si tokoh tersebut dengan menggunakan daya ingat secara personal.

Sladek bercerita tentang seorang perempuan Rusia yang mengalami gangguan kejiwaan karena kehilangan sanak keluarganya. Sladek menunjukan hasil beberapa gambar perempuan tersebut yang terdapat dalam ruangan isolasinya. Perempuan tersebut berusaha mencurahkan peraaan-perasaan kehilangan melalui gambar seukuran kertas foto. Beberapa gambar seperti dua daun jendela terbuka, seorang perempuan berusaha menangkap bintang dan bulan di atas langit, serta beberapa foto lain. Sladek berusaha menjelaskan bagaimana proses mengungkapkan perasaan dengan memori tersebut. Pengungkapan tersebut tidak mustahil dengan membayangkan diri yang berdialog secara fisik, sebagaimana perasaan kehilangan si tokoh tersebut mampu mempengaruhi bentuk dan gerak tubuh. Oleh karena itu, setiap orang memiliki rasa yang sama dalam tubuhnya.

Make up dan kesan mendalam

Perihal make up putih, Sladek mengungkan hal tersebut bukan sebagai pembatas antara pantomim atau bukan pantomim. Meski ia selalu menggunakan dalam setiap pertunjukannya. Menurutnya make up putih ia gunakan untuk mempertegas karakter setiap tokoh dalam karyanya. Alasaan lain make up putih juga sudah menjadi hal biasa digunakan unsur dalam seni yang lain, sebagaimana penanda tokoh. Secara tradisional memang make up putih identik dengan pantomim. Namun menurutnya, make up tersebut lebih menjadi alat untuk memperkuat ekspresi. Seperti seorang aktor teater yang mengandalkan suara untuk membedakan karakter tokohnya secara keras atau lirih. Make up putih dalam pantomim juga berfungsi agar penonton dapat menangkap ekpresi yang sekecil-kecilnya dari seorang aktor pantomim. Paling terpenting adalah siapa tokoh yang akan di bangun seorang aktor di balik make up yang membedakan dengan dirinya secara jelas ketika memainkan karakter lebih dari satu watak.

Sladek juga bercerita tentang pengalamannya dalam mengikuti dan menyaksikan atau menyelengarakan berbagai pertunjukan dalam festival. Suatu ketika Sladek terkesan dengan pertunjukan Butoh yang di pentaskan oleh Kazuo Ono. Pertunjukan Butoh Kazuo yang berbeda dengan bentuk pertunjukan butoh yang pernah dia saksikan sebelumnya. Kazuo mementaskan seorang penari balet yang menari kegirangan di atas panggung dengan musik piano yang indah. Kemudian, tiba-tiba ia berhenti dan mengangkat tangannya di atas kepala lama sekali, sehingga penonton mampu merasakan rasa sakit dan perihnya penari tersebut saat mengangkat tangannya lama-lama. Pementasan tersebut membuat kesan yang sangat mendalam dan pengalaman tersebut masih membekas hingga saat ini. Dalam pementasan lain Kazuo menjadi seorang perempuan yang sangat cantik sekali berjalan menggunakan payung di atas panggung dengan riang kemudian tiba-tiba si-perempuan tersebut jatuh dan mati. Cerita dan pertunjukan selesai.

Menurutnya dalam semua pertunjukan-pertunjukan yang telah ia saksikan, yang paling penting adalah  bukan ketika seorang aktor yang memiliki teknik tubuh bagus, mampu berakrobat, ataupun membentuk kekuatan tubuh yang kuat. Tetapi bagaimana sebuah pertunjukan mampu efektif dalam mengkomunikasikan pesan, tidak bertele-tele namun berkesan mendalam bagi penonton sehingga pengalaman menonton tersebut mampu tidak terlupakan sepanjang hidup. 🙂

Yogyakarta, 29 Juli 2017

 

NB : Lebih lengkap dan belajar mengali lebih jauh profil Milan Sladek dapat dilongok di www.Milansaldek.de dan link youtube tentang Milan Sladek.

 

 

*Ficky Tri Sanjaya (Aktor, Pantomimer, dan Penulis Lepas. Tinggal di Yogyakarta)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *