Tubuh di Antara Burung, Kata-kata dan Sumpah Pemuda : Catatan untuk Paradance #17

Oleh : Dinu Imansyah

Lima orang penari mungil menjinjing kayu berwarna merah berbentuk seperti gerbang kerajaan Tionghoa. Kelima penari mungil itu dengan lincahnya mengikuti irama lagu yang bernuansa oriental itu. Kain merah dengan pola semi polkadot yang mereka bawa kemudian dipermainkan dengan berbagai macam bentuk dan fungsi mulai dari tirai, kerudung, sarung, hingga kain batik yang tengah dicanting. Kayu yang mereka jinjing sedari awal tadi juga kemudian mereka alih fungsikan dengan berbagai macam cara mulai dari sebagai penghias latar belakang, tempat untuk menggantungkan kain, alat olahraga seperti di gym hingga terakhir menjadi semacam karya seni instalasi.

Niswasana Batik Jumputan” merupakan sebuah repertoir yang menjadi pembuka pertunjukan dua bulanan, Paradance, yang telah menginjak seri ke-tujuh belas ini. Dibawakan oleh anak-anak SDN 2 Padokan, Yogyakarta, repertoire yang menceritakan tentang proses pembuatan batik ini menjadi pertunjukan pembuka yang cukup mampu menghidupkan energi di Balai Budaya Minomartani malam itu.

Meskipun di malam yang sama terdapat berbagai macam pilihan pertunjukan di Yogyakarta seperti salah satunya Bedog Art Festival, salah satu pertunjukan tahunan yang acapkali dipenuhi penonton itu, Balai Budaya Minomartani tetap diramaikan oleh puluhan penonton. Bahkan penonton pada malam itu lebih banyak dibandingkan penonton pada Paradance-Paradance sebelumnya. Meskipun yang memenuhi bangku penonton pada malam itu sebagian besar adalah anak-anak–yang agaknya teman-teman dari para penari SDN 2 Padokan–tapi mereka cukup tertib dan tidak terlampau membuat keributan layaknya (penonton) anak-anak pada umumnya.

Dengan koreografer (atau dalam hal ini lebih dikenal dengan istilah: pelatih) Assabti Nur Hudan Ma’rufi dan Risa, para penari mungil dari SDN 2 Padokan itu tidak menyia-nyiakan sedikitpun ruang dan waktu yang diberikan bagi mereka untuk mengekspresikan kelincahan tubuh mereka dalam menari. Ruang pertunjukan Balai Budaya Minomartani yang khas dengan tiang-tiangnya itu dipenuhi dan dikuasai dengan baik. Pilihan gerak yang digunakan juga sangat efektif, meskipun sederhana tapi cukup bertanggung jawab pada tema yang mereka bawakan: membatik. Kecermatan para koreografer dalam memilih beberapa kosa-gerak tarian yang sudah dikenal seperti salah satu contohnya gerakan tangan nyithing (atau ngithing?) dalam tari Jawa dimanfaatkan sebagai gerakan mencanting batik. Para penari juga tampak cukup nyaman dan menguasai gerakan-gerakan yang diajarkan sehingga membuat pertunjukan ini jadi lebih hidup.

Selain anak-anak SDN 2 Padokan, ada delapan penyaji lain yang meramaikan Paradance #17 pada malam hari itu. Ada Marvel Gracia, Artha Dance, Yemima Prasetya, Andy Sri Wahyudi, Febri Irawan, Ati Dance, Miftahul Hauna (Acul), dan Muharram Bungamayang. Sama seperti Paradance sebelumnya, ada sembilan penampil yang mengisi pertunjukan yang diselenggarakan tepat sehari pasca perayaan Hari Sumpah Pemuda itu. Bedanya, meskipun sama-sama sembilan penampil, Paradance ke-17 itu usai lebih larut, mengingat beberapa penyaji tampil lebih dari lima (bahkan sepuluh) menit, meski ada juga yang tampil sangat singkat, kurang dari lima menit.

 

Tubuh-Kata, Tubuh-Burung, Tubuh-Pemuda

 

Entah disengaja atau memang kebetulan belaka, pertunjukan Paradance pada malam itu terasa kental sekali dengan nuansa Nasionalisme. Ditandai dengan beberapa gerak yang menggambarkan bentuk burung Garuda (atau burung lain pada umumnya), kata-kata yang diucapkan secara verbal baik deklamasi tentang kenegaraan atau kata-kata apapun, hingga penggunaan bendera merah putih sebagai bagian dari pertunjukan. Jangan lupakan juga bahwa Paradance kali ini telah menginjak seri yang ke-17. Seperti yang sudah awam diketahui, angka 17 identik sekali dengan hari kemerdekaan Indonesia. Sebuah angka yang juga identik dengan masa peralihan ke jenjang kedewasaan.

Cukup masuk akal jika dihubungkan dengan pelaksanaan Paradance yang kebetulan tepat sehari pasca perayaan Hari Sumpah Pemuda itu. Seolah hangatnya suasana Sumpah Pemuda sama-sama disepakati para penampilnya sebagai pemantik utama eksplorasi pertunjukan pada malam itu. Meski Nia Agustina dan Ahmad Jalidu sebagai pemrakarsanya mengaku tidak pernah mau membatasi ruang gerak para penampil dengan memberikan satu tema khusus di setiap edisinya. Para penampil diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk menampilkan tema apapun yang mereka mau.

Pasca penampilan dari SDN 2 Padokan, Marvel Gracia membawakan “Garuda”. Dimulai dengan deklamasi tentang burung Garuda yang gagah perkasa melindungi bangsa Indonesia dengan sayapnya yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, putra bungsu dari penari kenamaan Mugiyono Kasido ini dengan bertelanjang dada dan kostum yang menyerupai sayap garuda mulai dengan lincah dan liar bergerak menguasai panggung. Sesekali “sang burung” berteriak dengan suara yang tinggi dan memekakkan telinga seolah baru saja terpanah pemburu. Meski masih duduk di bangku kelas lima SD, tapi kesadaran tubuhnya cukup luar biasa. Marvel sepertinya paham betul apa yang sedang dia lakukan. Setiap gerak-geraknya dia pertanggungjawabkan dengan maksimal. Sama halnya dengan kakaknya, Magnum, yang juga tampil pada gelaran Paradance sebelumnya. Uniknya, Marvel mengaku kalau sebagian besar inspirasi geraknya bukan dari tarian yang sudah jadi tapi dari gerakan-gerakan Yoga dan keterampilan tubuh lain macam gerak split dan lain sebagainya. Agaknya ini yang menjadi sumber kesadaran dalam bergeraknya.

Di penampilan ketiga, Made Diah Agustina sebagai sang koreografer berusaha menuturkan perihal masa remaja dengan segala macam kecamuknya dalam mencari jati diri dan kebenaran. Melalui Artha Dance, tujuh orang (yang lagi-lagi) mungil bergerak dengan ekspresi yang cenderung datar sehingga penonton jadi lebih fokus kepada eksplorasi gerak dan komposisinya, alih-alih menerjemahkan ekspresi mimik wajahnya. Artha Dance lebih banyak memanfaatkan permainan levelitas dan pembagian dua “kubu”. Sayangnya penulis agak terganggu dengan pemilihan ekspresi para penarinya yang terkesan terlalu “dewasa” jika untuk menggambarkan psikologi masa remaja yang sedang mencari identitas. Alih-alih mengesankan remaja yang sedang bimbang akan berbagai macam pilihan identitas hidupnya, ekspresi yang ditampilkan di sini lebih mengesankan akan peristiwa traumatis mencekam. Lain perkara jika seandainya tarian ini memang menggambarkan kejadian trauma yang dialami oleh anak-anak di bawah umur.

Tema tentang pergulatan dibawakan pula oleh penampilan selanjutnya dari Yemima Prasetya. Berbeda dengan Artha Dance yang menggambarkan pergulatan masa remaja dalam mencari identitas, Yemima menceritakan tentang pergulatan seorang perempuan yang bergulat dengan kemampuan “khusus”nya, kemampuan untuk merasakan kehadiran makhluk halus. Memberinya judul “Mereka”, Yemima membawakan repertoire tersingkat jika dibandingkan dengan para penampil di Paradance edisi 17 kali ini. Kurang dari lima menit pertunjukan yang menggambarkan seorang perempuan yang tengah enaknya terlelap lalu tubuhnya seperti diseret lalu dirasuki oleh sesuatu yang tak kasat mata ini usai. Meski singkat, sayangnya pertunjukan ini masih terasa kurang padat, mengingat di beberapa bagian, Yemima terasa membawakannya dengan ragu-ragu. Khususnya pada bagian kontras antara “kesurupan” dan “tidak kesurupan” yang kurang tajam.

Paradance edisi ke-17 kali ini benar-benar mempertanggungjawabkan tagline-nya yang berbunyi “Festival Mini Gerak dan Tari”. Tidak hanya penari yang berhak tampil di sini, pertunjukan apapun yang berbasis gerak tubuh pun diperkenankan mengaktualisasikan dirinya di even dua bulanan ini. Salah satu contohnya adalah penampilan dari Andy Sri Wahyudi yang lebih dikenal sebagai teatrawan dan pantomimer di Yogyakarta. Membawakan salah satu repertoire andalannya, “Dilarang Berburu Burung, Apalagi Burung yang Sedang Pacaran”, Andy yang tampil di urutan keenam ini membawakannya dengan monoplay yang memadukan antara gerak pantomime, bunyi-bunyian mulut, dan selipan kata-kata jenaka. Meski tanpa iringan instrumen musik, Andy mampu membius penonton yang sebagian besar anak-anak itu dan membuat mereka yang awalnya bersenda gurau sendiri menjadi menikmati betul sajian dari pentolan grup pantomime Bengkel Mime ini. Sesekali beberapa penonton menirukan bunyi-bunyian yang disuarakan oleh aktor kelahiran daerah Minggiran Barat, Yogyakarta ini. Sesekali pula Andy menyelipkan kata-kata seperti “Sik, To!” (sebentar), “Eh, kuwalik” (Eh, terbalik) hingga kata-kata bahasa Inggris macam “Come on!” yang membuat tawa penonton meledak. Melalui repertoire ini, Andy berusaha untuk mengingatkan kita untuk menjaga lingkungan dengan tidak merusaknya dan tidak berburu sembarangan.

Menyusul Andy berikutnya adalah Febri Irawan yang membawakan “Tali Air” bersama Safira Emeralda. Dengan berbaju serba hitam, Febri bersama Safira menjelajahi setiap sisi panggung dengan tubuh berputar, melompat, berlari, berbaring, menabrakkan diri dan berbagai macam variasi gerak lainnya. Tidak hanya gerak tubuh, nafas yang mendesis serta kata-kata seperti “Kita, Kami, Mereka” yang diulang-ulang dengan cepat juga menjadi pengiring gerak mereka yang tidak menggunakan musik ini. Tak hanya tubuh dan kata-kata, Febri dan Safira juga menyisipkan permainan bayangan yang dibentuk dengan jemari mereka sambil mengucapkan secara gamblang binatang-binatang yang mereka bentuk seperti burung, anjing, hingga ular. Berbekal pengalaman dan jam terbang yang cukup tinggi, Febri paham betul bagaimana menguasai panggung dengan maksimal. Dengan memainkan garis-garis panggung, Febri dan Safira tidak menyisakan sedikitpun titik di panggung untuk tidak dijelajahi. Sayangnya, meski menampilkan variasi gerak, komposisi, dicampur dengan lintas media seperti kata-kata dan permainan visual yang menarik, entah kenapa penulis merasa kosong ketika menikmati pertunjukan ini. Agaknya Febri dan Safira terlalu memfokuskan pada bagaimana menciptakan visual yang memukau tapi kurang mampu menikmati permainan mereka sendiri. Ditambah lagi dengan durasi pertunjukan yang cukup panjang (saya tidak tahu pasti, tapi kira-kira lebih dari 20 menit–jika dibandingkan dengan penampil lain yang rata-rata hanya 5 menit), terasa cukup melelahkan jika pertunjukan ini tidak dibawakan dengan rasa yang dinamis. Pertunjukan terasa seperti kolase gambar-gambar yang menarik tapi tidak memiliki kepaduan yang utuh.

“Niao Hong” (kalau tidak salah dengar dan tulis) adalah judul pertunjukan yang dibawakan oleh Ati Dance selanjutnya. Dibawakan oleh enam penari dan ditatageraki oleh Anisa Tri Hartanti, pertunjukan ini berusaha memadukan antara tari Jakarta dengan tarian budaya Tionghoa. Besarnya pengaruh kebudayaan Tionghoa dalam kebudayaan Betawi memang tidak bisa dipungkiri. Bangsa Tionghoa yang tereksodus akibat kemarau berkepanjangan dan perang saudara di abad ke-16 dan 17 itu memaksa mereka bermigrasi ke Asia Tenggara, salah satunya Indonesia. Sejak saat itulah, kebudayaan Tionghoa mulai merasuk ke dalam kebudayaan Indonesia, khususnya budaya Betawi yang sejak dulu dikenal sebagai salah satu pintu gerbang perdagangan Internasional di Indonesia. Yang menarik dari pertunjukan Ati Dance ini adalah adanya kontras yang cukup mencolok antara tari Jakarta dengan tarian Tionghoa yang didominasi gerakan-gerakan akrobatik ini. Berdasarkan penjelasan mereka, Niao Hong adalah nama salah satu burung dalam mitologi Tionghoa yang kemudian dijadikan salah satu motif baju tari Betawi.

Tema tentang burung agaknya masih saja diminati para penampil pada Paradance 17 kali ini. Datang jauh-jauh dari Riau, Miftahul Hauna atau yang akrab disapa Acul membawakan pertunjukan yang lebih kontemplatif berjudul “Sekangkang Kera”. Berbeda dengan para penampil lain yang menggambarkan burung dengan penuh energi dan tempo yang cepat, Acul menubuhkan burung dengan lebih perlahan namun kuat. Seolah setiap sisi tubuhnya telah menubuh menjadi burung yang baru lahir dan ingin terbang dari sarangnya. Kekhidmatan penonton dalam menikmati pertunjukan Acul ini diperkuat lagi dengan penonton yang tersisa saat itu hanyalah penonton berusia remaja dan dewasa–mengingat malam telah larut saat Acul tampil, jadi para penonton anak-anak sudah pulang terlebih dahulu. Acul bisa menghadirkan burung yang kesakitan walau tanpa mendramatisirnya secara berlebihan. Meski cenderung menggunakan satu titik di tengah panggung, Acul mampu membawa imajinasi penulis pada burung yang tengah mengembara di cakrawala yang tiada berkesudahan. Kalau ada yang perlu dikritik dari pertunjukan ini sebenarnya bukan dari Acul tapi dari tata cahayanya sendiri yang entah kenapa dibuat menyala kelap-kelip bergonta-ganti warna dalam tempo tertentu. Meski untungnya lampu “warna-warni” itu hanya menerangi kedua sisi samping tempat Acul “mengepakkan sayapnya”, cahaya yang menerangi Acul sendiri hanya sebuah lampu kuning statis. Mungkin ada baiknya jika kedua sisi panggung dibuat gelap saja, tidak perlu memainkan tata cahaya, mungkin suasananya bakal terasa lebih khidmat. Yang patut disaluti dari Acul ini adalah dia benar-benar datang dari Riau untuk tampil di Paradance 17 kali ini. Berbeda dengan beberapa penampil di Paradance sebelumnya yang mengaku dari berbagai daerah tapi sebenarnya sudah berdomisili (seperti kuliah atau bekerja) lama di Yogyakarta.

Menutup gelaran Paradance ke 17 kali ini adalah penampilan dari Muharam Bunga Mayang yang semakin menguatkan suasana Sumpah Pemuda yang sehari sebelumnya dirayakan. Hampir serupa dengan penampilan dari Febri Irawan, Muharam dan kawan-kawan memulai pertunjukan dengan kata-kata “Merah-Putih-Merah” yang terus diulang-ulang. Tidak hanya kata-kata, Muharam juga mengisi pertunjukan ini dengan menghadirkan lagu “Tanah Airku” yang didendangkan oleh salah satu penarinya. Muharam berusaha mengajak penonton untuk menguatkan kembali kecintaannya terhadap kebudayaan Tanah Air melalui isu-isu seperti dugaan penghinaan Malaysia terhadap Indonesia dengan memasang bendera Indonesia secara terbalik di gelaran SEA Games 2017, suara pidato Soekarno yang mengajak untuk mengganyang Malaysia, hingga beberapa tarian tradisional Indonesia yang diakui oleh Malaysia. Sayangnya, tema sesensitif ini digarap kurang maksimal melalui berbagai macam kumpulan adegan yang terasa kurang saling bertautan dengan baik. Bahkan di beberapa adegan tampak tidak memiliki motivasi atau arah yang jelas kenapa harus dihadirkan. Beberapa adegan tampak berusaha menyimbolkan sesuatu tapi penulis agak susah menerkanya ditambah distribusi energi antar penarinya yang terasa lemah. Satu-satunya adegan yang cukup menyentuh adalah ketika Muharam dan salah satu penarinya memperagakan gerakan tarian jaranan sambil menantang seseorang (simbol Malaysia?) untuk mengambil dan mengakui begitu saja kebudayaan kita. Tema yang dihadirkan sebenarnya masih cukup potensial untuk dikembangkan lagi.

 

Lintas Media

Seperti yang telah disinggung beberapa kali sebelumnya, gelaran Paradance kali ini menghadirkan pertunjukan gerak yang lebih dari sekedar permainan olah tubuh. Para penampil Paradance kali ini juga menghadirkan kata-kata, seni peran, dendang lagu, hingga permainan visual yang menarik. Banyak teoris yang mengatakan bahwa saat ini memang eranya posmodern. Era di mana dunia seni tidak lagi dibatasi oleh pengotak-ngotakan jenis atau genre kesenian tertentu. Seni rupa boleh memanfaatkan seni teater untuk mengekspresikan ekspresi kesenirupaannya melalui performance art, happening art dan lain sebagainya. Seni musik, seni tari maupun seni teater sendiri juga bisa saling bersilangan dan berpadu untuk menghadirkan pengejawantahan ekspresi berkesenian yang utuh.

Tidak ada yang salah dengan penggunaan lintas media semacam ini. Lintas media adalah sebuah keniscayaan dalam berkesenian. Terlebih lagi dalam dunia pertunjukan. Ketika sudah hadir di atas panggung, kebutuhan untuk menghadirkan kesenian di luar dari seni yang dikuasai oleh seorang seniman tidak dapat dipungkiri lagi. Seni pertunjukan akan selalu memadukan seni rupa, peran, musik, dan gerak tubuh, tidak peduli apapun jenis keseniannya.

Namun perlu diingat bahwa kehadiran lintas media yang ingin dihadirkan ini sepatutnya mampu untuk memperkuat akar dari kesenian yang dimiliki oleh seorang seniman, bukannya malah menenggelamkannya. Seperti misalnya seorang aktor yang ingin menghadirkan nyanyian atau tarian dalam pertunjukannya, seharusnya nyanyian dan tarian ini menjadi bagian yang memperkuat karakter dan cerita yang dibawakannya, bukan membuatnya dianggap menjadi penyanyi atau penari dan bukan aktor. Tentu saja ini dalam konteks seorang aktor yang tampil dalam pertunjukan teater. Lain perkara jika di luar pertunjukan teater, aktor ini memang berbakat dalam menyanyi atau menari.

Tentu saja di sini penulis tidak ingin memaksakan bahwa seorang seniman harus mengisolasi dirinya pada hal-hal yang merepresentasikan jenis kesenian yang dikuasainya. Justru sebaliknya, seorang seniman harus mau untuk mempelajari berbagai macam jenis kesenian agar nantinya mampu memperkaya kesenian yang telah mengakar pada dirinya.

Seperti burung-burung yang bertebaran di Paradance kali ini. Penulis berharap melalui tulisan ini para penampil bisa terus mau mengepakkan sayap kreatifitasnya, tidak mudah berpuas diri dan mendekam di hangatnya sarang dan tidak takut terus menjelajahi cakrawala meski ancaman pemburu yang ingin menjatuhkan selalu ada. Jangan takut menjadi burung yang diburu, walau belum punya pacar.

 

Yogyakarta, 25 November 2017

  • Dinu Imansyah : Aktor, Mahasiswa Pascasarjana Kajian Seni Pertunjukan UGM, bergiat di Kalanari Theatre Movement,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *