Tradisi “Dibuang” Kemana? : Kegelisahan Yang Dibawa Penari Ke Atas Panggung

laporan dari : Nia Agustina

19 Juli 2017, pertunjukan dan diskusi Tradisi “Dibuang” Kemana? Hari kedua. Pertunjukan dan diskusi wacana tari ini dihelat oleh Serenpita, sebuah komunitas yang berfokus pada upaya pengembangan karya dan wacana tari kontemporer. Acara ini berlangsung di Pendhapa Art Space. Dengan ruang terbuka, panggung kosong tanpa tendensi lighting dan setting yang disengaja, hanya tubuh penari yang ada di atas panggung, menawarkan memori-memori teknis maupun non-teknis dari proses-proses yang telah mereka lalui.

I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra atau akrab disapa Gusbang mengawali acara sore itu dengan tari Kebyar Duduk. Kebyar Duduk dipentaskan pertama kali pada tahun 1925 oleh sang maestro sendiri, I Ketut Marya. Tarian ini fokus pada perpindahan gerak yang mendadak, tempo cepat, energi tinggi dan bagaimana penari menginterpretasikan iringan melalui bahasa tubuh dan ekpresi: mata anak panah yang maju mundur (sumber : booklet acara). Bisa dibilang tarian ini adalah tari androgini/bebancihan. Di Bali kita mengenal 3 jenis tari berdasarkan gendernya, tari maskulin, tari feminine, dan tari bebancihan yang ditilik tidak hanya dari unsur geraknya saja tetapi juga kostum, dan make-upnya. Salah satu bagian tersulit dalam tari ini adalah salah satu kaki disilangkan ke kaki yang lain dalam posisi setengah jongkok kemudian berlari dengan cepat di sekeliling panggung (sumber : booklet acara).

Gusbang dalam tari Kebyar Duduk. Foto : instagram @Cultivootee

Sepanjang pengamatan saya, Gusbang memang penari Bali yang baik. Tetapi selama tinggal di Jogja dan berkuliah di ISI Yogyakarta, dia terlihat lebih fokus bergelut di dunia tari kontemporer, meskipun Bali hampir selalu tetap menjadi bagian dari karyanya, baik di dalam tubuh maupun tema. Beberapa diantaranya adalah karya berjudul Buncing, Mbali, Pamerasan, dan ada beberapa yang lain (saya lupa judulnya). Kemudian hari ini menjadi menarik melihat kembali tubuh Gusbang dalam tari bergenre tradisi Bali, Kebyar Duduk.

Ada pernyataan Riana–salah satu penonton dan peserta diskusi–yang menyatakan lebih merasakan karisma Gusbang ketika menari kontemporer dibanding menari tradisi seperti tadi. Gusbang sendiri mengiyakan. “Memang rasanya tidak senyaman ketika menari kontemporer karena mungkin saya (Gusbang) sudah lama tidak fokus menari tradisi.” Dia melanjutkan bahwa hal lain yang agak mengganggu adalah karena iringannya tidak dalam bentuk gamelan live. Hal ini dibenarkan pak Sal Murgiyanto. Memang perbedaan seperti iringan music antara live dan tidak, kemudian perbedaan ruang, pencahayaan, dan waktu sangat berpengaruh terhadap mood penari dan seberapa powerfull pertunjukan itu.

Hal menarik yang lain adalah, 3 Penampil lainnya menarikan tari “kontemporer” dengan tabungan tubuh “tradisi”, sedangkan Gusbang menarikan tari “tradisi” dengan tabungan tubuh “kontemporer”. Tentu terlalu gegabah kalau saya bilang Gusbang sudah memiliki “tradisi” tubuh kontemporer. Tapi secara mudahnya bisa dibilang demikian. Bukan tidak mungkin tabungan “tradisi” tubuh kontemporer itu kemudian mempengaruhi tubuh Gusbang di saat menari Kebyar Duduk, tapi memang tidak terlalu kentara, hanya bocoran-bocoran kecil postur dan power saja.

Setelah Gusbang, ada seorang koreografer muda bernama Yurika Meilani. Yurika adalah mahasiswi tahun ketiga di ISI Yogyakarta. Ia punya latar belakang belajar berbagai macam genre tari, namun jauh sebelumnya dia adalah penari tradisi Banyumasan. Karyanya yang berjudul Rambu(t) mewakili kegelisahannya soal dilema diri. Ia punya rambut keriting di tengah-tengah teman sepergaulannya yang percaya bahwa rambut lurus lebih baik, lebih cantik, lebih keren. Di booklet acara juga ditambahkan bahwa dari judulnya, dengan penulisan “t” di dalam kurung, Rambu(t) memiliki 2 pengertian rambu yang berarti tanda, dan rambut itu sendiri. Kalau ala-ala ilmu othak athik gathuk mungkin Yurika ingin menunjukkan eksistensinya sebagai seseorang yang memiliki rambut keriting, dan rambut keriting adalah sign atau penanda seorang Yurika.

Rambu(t) oleh Yurike Meilani. Foto : instagram @cultivootee

Dengan latar belakang tari banyumasan yang menuntut tubuh yang gesit, ekspresi yang centil cantik (untuk tari perempuan), dan gerakan serta iringan yang sigrak, saya agak surprised dengan pilihan-pilihan Yurika. Pertama, Yurika memilih tidak menggunakan musik. Sebelumnya, saya pernah melihat karya ini di Pasadatari #1. Tidak ada banyak hal yang berubah, termasuk soal pilihan tidak menggunakan musik. Kemudian jeda dari satu titik pose ke pose yang lain cukup lama dengan tempo yang lebih banyak lambat, dan dengan kosa gerak yang tidak terlalu banyak. Di awal Yurika memilih berada di tengah panggung dengan pose kayang cukup lama, baru berpindah-pindah. Kebanyakan gerakannya mengeksplorasi gerakan dengan media rambut, dari menggoyangkan rambut, memeganng rambut, menarik rambut, hingga menggunting rambut. Kebanyakan ekspresi yang muncul adalah kemarahan dan ketidaknyamanan.

Sebenarnya tema-tema kegelisahan soal masalah diri pribadi seperti ini memang menarik. Tetapi, setelah 2 kali dipentaskan saya rasa Yurika perlu mengeksplorasi lebih jauh isu terkait rambut keriting ini, supaya tidak terkesan selfish. Saya membayangkan jika Yurika mau melihat ini bukan hanya sebagai masalahnya sendiri tetapi masalah perempuan pada umumnya.

Perempuan mendapat masalah ini yang diakibatkan citra yang dibentuk media terutama televisi dan iklan. Citra bahwa perempuan yang cantik dan dicintai siapapun memiliki syarat, kulit putih, rambut lurus dan panjang, langsing, dan sebagainya yang diperlihatkan terus menerus dalam iklan kecantikan maupun sinetron dan film. Semuanya kemudian menjadi awal mula tumbuhnya konstruksi citra akan perempuan cantik yang mengakibatkan ketidakpercayaan diri pada perempuan-perempuan yang tidak memiliki syarat-syarat di atas. Ini adalah salah satu isu gender yang kuat tersebar di masyarakat, dan karya Yurika mestinya dapat mewakili keadaan tersebut. Selain itu, saya setuju dengan pendapat mbak Riana bahwa Yurika perlu memperbanyak kosa gerak, mungkin dengan mengeksplorasi lebih dalam dan mengaitkan karyanya dengan isu dan pengetahuan yang lebih luas. Juga, saya pikir penting untuk para koreografer memikirkan setelah karya ini mampu menampung kegelisahan pribadi, kemudian dilanjutkan memikirkan soal jika karya ini ditampilkan apakah berefek untuk publik ataukah hanya untuk melegakan diri sendiri saja.

Karya ketiga, dari I Gede Radiana Putra. Terlahir dari keluarga seniman pertunjukan di Bali, Radi sudah memulai pertunjukannya di atas panggung pada umur 5 tahun (sumber : booklet acara). Sebelumnya saya pernah menonton pertunjukan Radi sekitar tahun 2015 di acara yang dihelat PAC (Pondok Art Community) di SMKI Yogyakarta. Saya melihat interest Radi memang tidak jauh-jauh dari tema-tema tentang Bali, berikut pada eksekusi bentuk, hingga detail seperti properti maupun kostum. Di atas panggung Tradisi “Dibuang” Kemana? Ini Radi merefleksikan harapannya untuk tumbuh dan menjadi besar, seperti namanya, Gede, yang dalam bahasa Jawa berarti besar dan dalam kebudayaan Bali merupakan nama untuk anak pertama. Refleksinya juga mengarah pada bagaimana tubuh Balinya selalu hadir meskipun dia telah belajar bermacam tari di Jogja selama 8 tahun.

Gede Radiana. Foto : instagram @cultivootee

Radi memulai pertunjukannya dengan duduk menghadap belakang di tengah belakang panggung. Sesaat kemudian ia mulai dengan mengeksplorasi gerakan mulai bagian punggung, dilanjutkan tangan kemudian jari hingga berdiri dan mulai bergerak dengan seluruh tubuhnya yang…ya…Bali. Saya menduga dengan alur tersebut Radi ingin membuat statement atas sangat melekatnya tubuh Bali dalam dirinya dan tarinya bahkan sampai ke sendi-sendinya, meskipun selama belajar di Yogyakarta banyak pengalaman dan memori tubuh yang sudah terserap, namun tidak mengurangi intensitas ketubuhan Balinya, semuanya memperkaya.

Terakhir, Danang Pamungkas. Danang adalah koreografer dan penari yang sudah mencicipi berbagai panggung di tingkat internasional, dan 3 tahun menjadi penari di Cloud Gate Dance Theatre Taiwan milik Lin Hwai-Min. Melihat pengalaman tubuhnya yang bersentuhan dengan berbagai teknik, terutama tari tradisi Surakarta. Kemudian selama 3 tahun bersama Hwai-Min juga sangat memperkaya pengalaman tubuhnya. Dari mulai sentuhan gaya Martha Graham, Opera Cina, sampai martial art terutama Tai Chi adalah bagian dirinya selama menjadi penari di Cloud Gate 2. Maka, di atas panggung Tradisi “Dibuang” Kemana? Danang tampil seakan mengumpulkan kembali teknik-teknik tersebut menjadi sebuah sajian. Ya, saya rasa sah saja, karena statement Danang, pentas ini adalah embrio karya berjudul runthrough. Dalam bahasa Indonesia runthrough berarti melintas atau mengulang. Saya melihat bagaimana Danang menggerakkan tubuhnya sesuai dengan apa yang terlintas pada dirinya saat itu, mengulang teknik-teknik yang sebelumnya telah dikuasainya dan bergerak dengan smooth seperti lintasan tanpa patahan.

Danang Pamungkas Runtrough. Foto : instagram @cultivootee

Untuk memulai karya memang saya setuju soal mengecek kembali teknik-teknik tubuh yang diperlukan dan mengingat kembali “tradisi” tubuh, sebelum masuk ke tahap memilah dan memilih yang dibutuhkan berdasarkan hasil observasi, riset, serta eksplorasi. Ini semacam pemanasan kembali supaya tubuh, hati, dan pikiran lebih siap memulai berkarya dengan waktu yang tidak sedikit, serta menguras energi dan pikiran.

Energi penari

Selain pertunjukan dan diskusi yang sedikit banyak sudah saya ulas di atas, ada PR di luar bahasan pertunjukan. PR ini sangat penting dan mungkin sering menjadi kegelisahan tersendiri bagi teman-teman seniman tari terutama yang berada di ranah tari kontemporer non entertain. Yaitu bagaimana bertahan berada di jalur tersebut tapi tetap mampu menghidupi diri dan karyanya? Ong Keng Sen (Director TheatreWorks, Director Singapore Art festival (SIFA) sejak 2013), pernah berkata dalam Asian Dramaturg’s Meeting 2017 di Yokohama, bahwa Indonesia memiliki sumber daya seniman yang kreatif dengan inspirasi yang beragam, but have no money.

Pernyataan Ong Keng Sen memang benar adanya. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana mengolah sumber-sumber non material seperti, sumber daya manusia, dan sumber inspirasi. Indonesia memiliki 1331 kategori suku–disini termasuki sub suku–yang artinya kita kemungkinan memiliki jenis kesenian tradisi sebanyak itu. Kemudian juga sumber daya sosial. Masyarakat di Indonesia sebagian besar masih sangat memegang tradisi gotong royong, begitupun di dunia kesenian, modal sosial atau pertemanan menjadi sangat penting. Maka jika belum memiliki modal materi yang cukup untuk berkarya, terlebih dahulu bangun pertemanan, dan ciptakan karya yang berkualitas. Jika karya tersebut diterima oleh masyarakat baik domestik maupun dunia, maka kualitas karya tersebut akan terbayar dengan harga yang sepadan. Terus semangat berkarya. #banggatariindonesia

 

*Nia Agustina, pegiat tari, founder Paradance Festival Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *