Toleransi di Antara Decit Kosong : Catatan untuk “Marka” karya APDC

oleh : M Dinu Imansyah

Sebaris lampu sorot dari sisi kiri atas panggung memapar lantai sisi kanan panggung sehingga membentuk garis diagonal yang mengiris panggung dan mencetak sebilah garis di lantai. Di atas garis itu, seorang perempuan berusaha mempertahankan keseimbangannya agar tidak terjatuh, seolah dia sedang berdiri di sebilah papan di ketinggian. Jauh di belakangnya, seorang perempuan yang dikelilingi dua orang laki-laki bergerak berputar perlahan layaknya mesin giling. Sementara pengeras suara memekikkan suara-suara distorsi dan noise yang mencekam.

 

Toleransi yang kosong dalam “Marka”. Foto : Jehezkiel Natan

Adegan ini menjadi salah satu adegan dari pertunjukan Jagongan Wagen – Marka oleh Ayu Permata Dance Company (APDC) yang digelar pada Sabtu malam, 25 November 2017 di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul, Yogyakarta. Melalui koreografi berdurasi kurang lebih 45 menit, Ayu bersama tiga seniman lain menghidupkan panggung Diponegoro, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) dengan sederhana: tanpa kostum atau tata rias yang “wah”, tanpa properti, bahkan tanpa tata panggung. Bilik-bilik ruang dicipta melalui garis-garis komposisi yang tajam dan dukungan tata cahaya yang cantik.

Bagi Anda yang belum tahu apa itu Jagongan Wagen, Jagongan Wagen (JW) adalah pertunjukan yang diselenggarakan oleh Yayasan Bagong Kussudiardja (YBK) setiap bulannya (kecuali awal tahun dan bulan puasa). Digelar sejak tahun 2007, JW selalu rutin digelar di Padepokan yang terletak di daerah Bantul, Yogyakarta ini. Para seniman penampil JW amatlah beragam, mulai dari seniman tari, teater, musik, bahkan pernah pula berkolaborasi dengan seniman rupa untuk menampilkan performance art. Tidak hanya dari Yogyakarta, seniman yang tampil di JW juga berasal dari luar Yogyakarta bahkan manca negara. Setiap bulannya, JW selalu menawarkan tema-tema yang menarik mulai dari yang jenaka, puitik hingga kontemplatif.

Jika pada tahun-tahun sebelumnya, seniman pengisi JW biasanya berasal dari siswa magang PSBK yang dikenal dengan sebutan “Seniman Pasca Terampil” (SPT) atau seniman profesional yang diundang oleh YBK, pada tahun ini YBK menawarkan seniman manapun untuk mengajukan diri untuk bisa tampil di JW–tentu setelah melalui beberapa proses penyeleksian. Program ini bernama “Hibah Seni Jagongan Wagen PSBK 2017”. Ayu Permata Dance Company (APDC) adalah salah satu seniman peraih program ini yang berkesempatan untuk mengisi JW edisi November 2017.

Malam itu Ayu Permatasari mengajak Aditta Dheamastho, Didik Saputro dan Ghalib Muhammad yang ketiganya bukan berasal dari dunia tari. Aditta dan Didik berasal dari dunia seni teater, sedangkan Ghalib merupakan salah satu mahasiswa didikan Ayu di salah satu universitas swasta di Jogja. Bersama ketiga seniman ini, APDC mengajak penonton untuk merenungkan kembali permasalahan toleransi dalam kehidupan sosial kita yang makin lama makin terkikis.

Saling himpit saling seruduk, Marka by APDC. Foto : Jehezkiel Natan
Di Mana Tolerasinya?

Secara jamak kita pahami toleransi sebagai sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok maupun antarindividu. Pemaknaan toleransi pada umumnya diasosiasikan dengan kehidupan antar umat beragama atau budaya (termasuk suku dan ras). Namun toleransi sebenarnya bukan hanya pada hal-hal yang menyangkut perbedaan ideologi atau budaya semacam itu, toleransi juga menyangkut perbedaan kepentingan dan kebutuhan penggunaan ruang publik seperti perilaku berlalu lintas, mengantri di loket atau peristiwa-peristiwa “remeh” lain. Pemaknaan yang terakhir inilah yang ingin diangkat oleh APDC di even yang pada awalnya hanya diselenggarakan saat hari Jawa Wage ini (itulah kenapa dinamakan Jagongan WAGEn).

Mencomot dari beberapa peristiwa sehari-hari seperti menyerobot antrian, menyalip dan membelokkan kendaraan bermotor begitu saja hingga saling sikut untuk berebut tempat duduk digambarkan dengan jenaka sekaligus miris oleh APDC. Memang, seringkali hal-hal “remeh” seperti ini hanya bisa membuat kita geleng-geleng kepala campur tertawa geli. Kenapa begitu susahnya meredam egoisme diri demi kepentingan bersama. Kita makin enggan untuk menghargai orang lain dan hanya ingin mewujudkan keinginan

Toleransi memang menjadi salah satu permasalahan utama di masyarakat majemuk. APDC berusaha menggambarkan kemajemukan ini melalui kostum yang serba berwarna-warni. Kostum yang serba berwarna-warni ini ditabrakkan dengan musik ilustrasi yang meski sesekali terdengar riuh tapi terasa “kosong”. Seolah ini adalah simbol dari kehidupan bangsa Indonesia yang beragam namun terasa kosong akibat absennya sikap saling menghargai eksistensi masing-masing.

Meski patut disayangkan pilihan akan nada-nada atau bunyi-bunyian ilustrasi musik yang panjang, melengking, hingga memekakkan telinga dimainkan dalam durasi yang cukup panjang dan diulang-ulang membuat panggung berukuran sekitar 10 x 12 meter itu terasa semakin kosong, mengingat tidak ada properti atau instalasi apapun yang dipasang di sana. Panggung yang “hanya” diisi oleh empat penampil itu jadi terasa lengang sekali. Walau sesekali ruang dicipta melalui bantuan isolasi tata cahaya.

 

APDC juga seolah berupaya untuk menampilkan berbagai macam peristiwa “kasus” toleransi dengan menghadirkan berbagai macam peristiwa yang sayangnya tidak rajut dengan baik satu sama lain sehingga membuat penangkapan penonton akan makna toleransi itu jadi kabur. Meski beberapa adegan tampak cukup gamblang menggambarkan kasus toleransi seperti menyerobot antrian, menyalip kendaraan sembarangan, hingga saling sikut untuk berebut posisi–seperti yang sudah disinggung sebelumnya, namun sebagian besar adegan yang kurang bisa diraba makna dan keterkaitannya dengan toleransi.

“Marka” oleh APDC. Foto : Eka Wahyuni

Beberapa adegan sebenarnya cukup potensial untuk dikembangkan lebih jauh seperti adegan ketika beberapa penampil berjalan dengan kaki telanjang dan sengaja dihentakkan serta digesek-gesekkan ke lantai ketika melangkah menciptakan suara “decit” yang mencabik namun terasa hidup. Ketika adegan sikut-menyikut (menjelang akhir pertunjukan), bunyi decit ini kembali dihadirkan meski hanya melalui playback. Jika boleh berandai-andai, mungkin decit ini bisa dijadikan sebagai simbol suara tikus yang serakah dan tidak peduli kerusakan yang ditimbulkannya, atau bisa juga sebagai simbol dari suara rem kendaraan, di mana kita diharapkan untuk sering-sering mengerem keegoisan diri demi membangun toleransi kehidupan bersama.

 

Selain itu, mungkin sebaiknya makna toleransi bisa dikerucutkan melalui pemilihan ruang tertentu saja. Misalnya toleransi berlalu lintas. Dari jalan raya saja kita bisa menjumput berbagai macam peristiwa pelanggaran toleransi (selain tentu saja pelanggaran hukum berlalu lintas). Makna toleransi akan lebih mudah diraba dan mengena. Tidak perlu muluk-muluk menghadirkan berbagai macam peristiwa yang dikhawatirkan malah mengaburkan nilai asli yang ingin disampaikan.

Bagaimanapun selamat untuk Ayu Permata Dance Company atas pertunjukan dan eksplorasinya untuk selalu menggali nilai-nilai kemanusiaan kita yang mulai terkikis ini. Keberanian Ayu untuk mengajak seniman lintas disiplin ini juga patut dipuji. Tentu saja akan lebih syahdu jika Ayu memahami lebih mendalam keunikan dari tubuh-tubuh seniman non-tari ini sehingga bisa memperkaya pertunjukan yang ingin dihadirkan.

Tabik.

Yogyakarta, 2 Desember 2017

 

*M Dinu Imansyah. Aktor dan pengamat seni pertunjukan, mahasiswa Pasca Sarjana Pengkajian Seni UGM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *