Tegangan Kediaman dan Mobilitas dalam Cabaret Chairil Vol. I

Oleh : Ficky Tri Sanjaya

11-12 Juli 2018 studio Black Box Teater Garasi, telah diawali sebuah program dengan judul Cabaret Chairil: Vol. I – Kediaman (Home/Stllness). Sebuah ruang transit untuk menampilkan reportoar pertunjukan ekperimental lintas medium dan disiplin. Dalam dua hari akan menampilkan presentasi karya-karya yang sedang tumbuh dari Teater Ghanta (Jakarta) Rokateater (Yogya) dan Aliansyah Caniago (Bandung), dengan kurator Taufik Darwis. Cabaret Chairil mengambil inti tajuk pada tegangan “kediaman dan mobilitas”. Di hari pertama pertunjukan dibuka oleh Rokateater membawakan judul Passport, Pass Photo, dilanjutkan Teater Ghanta dengan Judul Tak Ada Microfon Untuk Takdir (#1-side B).  

Penonton yang hadir lebih dari 50 orang, sambil menunggu dimulainya reportoar para penonton yang hadir diminta untuk mengisi sebuah blangko permintaan untuk pembuatan pass photo di sebuah studio. Blangko tersebut berisi pertanyaan mengenai biodata diri  mulai nama, tanggal lahir, alamat, pekerjaan, serta alasan keperluan pengambilan pass photo di studio tersebut. Para penonton diminta oleh fotografer studio  untuk masuk menduduki kursi yang telah disusun pada area panggung Black box menghadap ke studio cabang Nyoo yang berada di bibir depan panggung Black Box. Penonton yang hadir melebihi jumlah kursi yang disediakan oleh Nyoo Studio, sehingga beberapa orang yang ikut masuk mengantri ke area studio untuk berfoto terpaksa berdiri di belakang kursi-kursi duduk. Ada pula yang berdiri di kanan-kiri studio. Ruang studio hanya disusun dengan latar kain polos berwarna biru dan merah menggantung setinggi lebih dari dua meter dengan tripot berada di tengah panggung.

Pertunjukan “Passport” oleh Rokateater. Foto : Instagram @teatergarasi

Sang fotografer studio kemudian membuka dialog dengan para pengantri foto. Dia memberi pengantar sambil memegang tumpukan kertas berisi biodata diri orang yang akan berfoto. Lampu panggung terang, di belakang kursi para pengantri terdapat sebuah layar putih yang memunculkan gambar, sebuah gantungan baju terletak di samping kiri kursi penonton berisi baju almamater, terdapat pula kaca serta sisir rambut. Di dekat gantungan baju ada sebuah meja dan seorang misterisus yang sedang bekerja mengedit foto menghadap ke laptop membelakangi area studio. Tak berselang lama seseorang telah dipanggil untuk maju, kemudian terjadi semacam tanya jawab mengenai biodata diri. Percakapan berjalan kikuk, tegang, namun lambat laun mencair. Sambil berdialog pengguna jasa studio tersebut diminta oleh fotografer untuk mengenakan beberapa pakaian almamater, ataupun jas, yang disesuaikan dengan keperluan dan kepentingan kerja atau sekolah.

Para pengguna jasa yang telah selesai berdandan kemudian dipersilahkan duduk untuk berfoto. Fotografer terkadang mengganti warna kain yang menjadi latar belakang studionya berdasar dari  ganjil atau genapnya tahun lahir pengguna jasa. Dialog pengguna jasa dan fotografer berjalan beberapa kali secara bergilir. Terkadang terjadi dialog yang janggal, intervensi yang mengandung tendensi tertentu mengenai percakapan soal idenditas dari fotografer ke pengguna jasa. Dalam peristiwa ini penonton terlibat menjadi aktor dan aktor terlibat menjadi penonton, sebab tidak ada batas ruang antara kursi penonton sekaligus pengantri, fotografer, dan studio. Peristiwa dialog antara aktor (fotogrfer) dan aktor penonton terjalin terbuka seperti tanya jawab dalam sebuah audisi kontes bakat atau pengalaman ditanyai petugas imigrasi ketika membuat pasport untuk ke luar negeri. Bahkan penontonpun dapat langsung merespon komentar terhadap peristiwa dalam percakapan yang sedang berlangsung. Dialog diakhiri dengan memfoto pelanggan. Kemudian fotografer meminta pengguna jasa untuk mengambill fotonya di Nyoo Studio pusat Kalisat, Jember, Jawa Timur, karena seluruh foto akan diarsip di sana, sambil mengarahkan untuk keluar panggung.

Dalam pertunjukan ini terjadi peristiwa berpantul-pantulan antara aktor fotografer, aktor penonton yang menjadi pengguna jasa foto dan seorang misterius yang bekerja membelakangi studio, mengoperatori layar di belakang penonton dengan memunculkan berbagai gambar pass poto. Sosok misterius itu nampaknya berprofesi  sebagai editor foto.  Namun di sisi lain ia membuka gambar-gambar mengenai identitas pelaku teroris dalam laman website yang berwujud kartu idenditas. Dari sana jadi tampak sedikit bagaimana gagasan sutradara yang berangkat dari arsip, identitas, dan relasi terhadap konteks lain. Dialog mengenai isu kediaman dan mobilitas dalam pertunjukan ini disajikan dalam pertunjukan teater yang non konvensional, pertunjukan ini agaknya mencoba memantulkan medium bahasa arsip ke dalam simbol pass photo dan dialog identitas. Bahasa arsip diubah ke dalam simbol dalam kebutuhan pembuatan pass photo, yang mendorong posisi penonton yang pasif berubah menjadi aktor yang terlibat dalam peristiwa. Dengan adanya perubahan tersebut sutradara dan aktor sudah tidak lagi berada dalam pusat gagasan akan isu, melainkan penontonpun dapat terlibat mengintervensi isu peristiwa yang akan terjadi dalam setiap percakapan di panggung.

Pada pertunjukan kedua dari Teater Ghanta posisi ruang penonton kembali berubah. Penonton dan kursi yang sebelumnya berada di panggung black box berpindah keluar panggung. Penonton kemudian menyusun diri di hadapan panggung untuk menikmati sajian kedua. Properti dan setting panggung ditata sedemikian rupa; beberapa mikrofon disusun berderet dengan berbagi level tinggi dan dalam posisi berbeda, serta ada beberapa tiang partitur tempat meletakkan buku notasi musik.  Kotak-kotak kardus disusun disesela mikrofon, dengan latar belakang panggung berwarna putih. Lampu mulai menerang disusul para aktor yang masuk. Kemudian salah seorang menyalakan penghitung waktu yang muncul di belakang layar, dan nafas serta suara mulai bermunculan, disusul seorang aktor bersuara menirukan dan menubuhkan suara pidato yang bersumber dari suara Sutan Takdir Alisjahbana (STA).

presentasi karya Teater Gantha. foto : instagram @teatergarasi

Komposisi nafas, suara pidato yang silih berganti satu pemain dengan pemain lain dengan nada dan gerak tubuh yang beragam adalah merupakan respon atas nafas, diiringi berbagai suara lain seperti batuk, deham, menguap, suara cicak, katak, jangkrik, kertas, disusun menjadi musik kata yang disusun secara partitur. Kata-kata dalam pidato STA berhamburan ke mana-kemana dari satu mulut aktor ke mulut yang lain. Suara menjelma menjadi ruang bagi kata, menyusun memorinya sendiri, seperti buih-buih di laut yang maha luas. Terasa keluasan adalah kesepian itu. Suara mengajak kita tamaysa kepada masa lalu, sejarah kata, makna, visi, impian, utopia, ketakutan, optimisme, kesepian, kehilangan serta imaji-imaji lain.

Sejenak kita seperti diajak untuk memiliki dan berdialog pada diri dan peristiwa yang sedang terjadi. Kepada pertanyaan-pertanyaan  mengenai STA. STA menjadi semacam hantu dalam benak yang meteror, meski seluruh impresi yang menghenyak tersebut terasa sangat subjektif. Ganguan-ganguan terjadi ketika pemain mengeluarkan kata-kata sambil bergerak, ada semacam gangguan terhadap imaji visual. Imaji visual mengalami gangguan makna dari setiap satu kata yang keluar. Visual dari kata yang keluar bergantung dari cara dan nada ucap setiap aktor. Kediaman dan Mobilisasi tampak muncul dalam makna kata di dalam ucapan pidato. Bagaiman suara dari kata membentuk semacam konsekwensi dan tanggung jawab, serta  konteks lain dalam ruang dan waktu yang berbeda. Misal dalam salah satu kata “Kecepatan” sebagai kata pembuka dalam pidato pertunjukan ini di tahun 2018, akan sungguh berbeda konteks dengan saat diucapkan ditahun 1980.

Di hari berikutnya giliran pertunjukan dari Aliansyah Chaniago (Alin) yang berasal dari Bandung melalui sebuah pertunjukan video yang diputar di panggung black box di latar belakang. Sementara di depannya beberapa benda telah disusun merupai imaji-imaji barang-barang di sekitar rumah. Video tersebut berdurasi panjang. Berisi rekaman dirinya bersama tim saat melakukan investigasi terhadap barang-barang yang dibuang warga kampung di sekitar ruang tinggal Teater Garasi. Dalam perjalanan tampak dalam video bagaimana Alin menyusuri kampung, bertualang, melakukan percakapan bersama warga, hingga menemukan barang yang diarasa menarik dan membawanya untuk direkonstruksi secara visual di panggung Teater Garasi. Terkadang barang-barang yang diambil berada di samping rumah, di halaman warga, di teras rumah, dan di belakang rumah. Pada saat bertualang tersebut ia tampak berusaha menyusun ulang makna visual barang tertentu, dengan barang lain, dan menaruhnya untuk saling berdialog di panggung.

Tumpukan barang-barang bekas yang saling berdialog. Foto : instagram @teatergarasi

Barang-barang seperti boneka, payung, kursi bolong, ayunan, lukisan rumah, sepeda,  ia susun membentuk imaji dan memori akan lingkungan. Barang-barang menjadi medium sejarah dan ingatan mengkonstruksi ulang kata dan menawarkan wacana mengenai lingkuangan yang tidak terurus, kosong, sepi, kotor. Secara visual Alin tampaknya ingin memindah barang-barang yang “terbuang” atau disingkirkan dari rumah, dan diletakkan sebagai aktor (objek) visual. Dan objek-obejek tersebut saling berdialog membentuk peristiwa panggung berupa wacana visual terhadap lingkungan. Ada alur progresif dalam skema pertunjukan visual tersebut dengan menghadirkan video sebagai latar dan visual benda-benda yang telah dikonstruksi di depannya yang telah selesai sebagai wujud.

Ketika sudah tersusun dan mewujud sebagai visual utuh, benda-benda tersebut menjadi memiliki pengertian berbeda, dari sejarah awal benda tersebut diambil. Ada semacam konstruksi ruang, peristiwa, tubuh, video yang berjalan, yang dilakukan secara sadar. Tema Kediaman dan mobilitas dari pertunjukan Alin dapat tampak dari benda-benda yang hadir, video, kreator, penonton, yang silang dan saling dikonstruksi oleh seluruh kejadian peristiwa dalam alur yang progresif

 

Ficky Tri Sanjaya, aktor dan penulis, tinggal di Yogyakarta

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *