Teater Jadi Jawaban Kegelisahan Suzuki

oleh Y.E. Marstyanto*

 

Tadashi Suzuki lahir pada 20 Juni 1939 di Shizuka, Shimizu. Wilayah itu berjarak satu jam dari Tokyo. Dalam dirinya menyatu sebuah perpaduan latar belakang unik. Kakeknya adalah pemusik Bunraku dan ayahnya adalah pengusaha penggergajian kayu. Suzuki adalah sebuah perpaduan keturunan yang memiliki selera artistik dan kalangan borjuis. Tetapi Suzuki ingin melepaskan diri dari baying-bayang ayahnya sejak awal. Hingga suatu kali, ia pernah berseloroh, “saya ingin jadi dokter di Afrika, atau mengajar di sebuah pulau terpencil, atau jadi pasukan gerilya di pegunungan.” Tetapi ia buru-buru melakukan koreksi supaya orang tidak salah mengerti tentang “gerilya” dan ia ingin memberi kesan “bukan seorang teroris.” Lantas Suzuki menekankan, “saya hanya ingin keluar dari tempat di mana saya berada. Saya tidak tertarik menjadi kaya dan terkenal di Tokyo. Saya ingin melakukan petualangan dan jika saya bisa membantu orang lain itu lebih baik.”

Tadashi Suzuki. foto : americantheatre.org

Suzuki mengambil Jurusan Politik dan Ekonomi di Universitas Waseda, sebuah perguruan tinggi elit di Jepang. “Saya ingin belajar sastra Perancis, khususnya Rimbaud. Rimbaud berkelana keliling dunia dan melakukan petualangan. Tetapi universitas tersebut tidak mengajarkan bahasa Perancis, hanya Bahasa Inggris. Jadi saya belajar sendiri bahasa Perancis.”

“Sebenarnya, saya tidak berminat belajar di perguruan tinggi sama sekali. Saya ingin jadi penulis atau berteater, tetapi orang tua saya menentang keras hal itu. Saya sering bolos kuliah, makanya saya perlu enam tahun untuk lulus.”

Setelah Suzuki menjadi mahasiswa di universitas tersebut, ia langsung bergabung dengan kegiatan drama dan ia menjadi anggota aktor mahasiswa. “Menurut saya, aktor itu adalah pekerjaan terbaik dalam teater,” ungkapnya sambil ngakak.

Setelah ia menyelesaikan kuliah, ia luntang-lantung ke sana kemari. Ia adalah produk masa-masa kacau tahun 1960an. Pada masa itu, Jepang diguncang aksi protes terbesar dalam sejarah Negeri Matahari Terbit itu. Gerakan demonstrasi terbesar dalam sejarah Jepang, dipicu oleh Pengesahan Perjanjian Kerja Sama dan Keamanan antara Jepang dan Amerika Serikat (singkatan dalam Bahasa Jepang Anpo). Gambar-gambar kekerasan demonstrasi hadir di televisi setiap hari. Tetapi pertumbuhaan ekonomi yang tinggi pada tahun 1960an itu juga mampu menyingkirkan kemiskinan. Faktor ini lambat laun memunculkan perilaku apatis secara politis di kalangan mahasiswa. Sehingga sebuah polling tahun 1965 menunjukkan bahwa mahasiswa menikmati kuliah mereka bisa menyalurkan hobi dan berkegiatan di klub-klub. Sementara satu persen saja yang masih tertarik berpartisipasi dalam gerakan mahasiwa.

Suzuki tumbuh dalam sebuah masa di mana di Jepang sedang mengalami transisi. “Ada kebingungan besar ketika Jepang bergerak dari masyarakat agraris ke masyarakat industri,” kenangnya. Saat itu, populasi besar menumpuk di wilayah-wilayah metropolitan, pertumbuhan ekonomi melaju cepat, dan muncul ketegangan antara nilai-nilai tradisional dan modern.

Ketika kegelisahan sosial sedang melanda di seluruh negeri, Suzuki malah berpikir soal teater. Ia mungkin juga merasa bahwa salah satu kegelisahan yang ada karena krisis identitas. Orang-orang sibuk memikirkan masalah kebutuhan domestik masing-masing. Semua sedang berpikir dan bertindak memenuhi kenikmatan diri-sendiri. Hal-hal berkait ekonomi sedang digandrungi semua orang dan negara seperti membuka kran untuk itu.

“Jadi alih-alih mencari pekerjaan,” katanya sambil tersenyum, “kumpulan kami memutuskan membentuk sebuah teater dengan saya sebagai ketua. Kami menciptaan sebuah teater sebagai bentuk tanggapan bagi krisis identitas yang terjadi di Jepang saat itu.”

Karya perdana kelompok ini, “Dramatic Passion,” sebuah kolase teks-teks Jepang terkenal yang diciptakan secara kolektif. Hal itu segera menarik perhatian seniman-seniman eksperimental. Peter Brook pun mengundang aktor-aktor muda itu menampilkan karya-karya mereka di Paris. Brook memilih Suzuki bukan karena gaya penyutradaraan atau estetikanya, tetapi lebih pada komposisi yang ia lontarkan berkelas internasional. Hal itu menjadi sesuatu yang baru bagi Brook. Brook melihat bahwa untuk memperluas gagasan maka teater dapat mengambil tempat di manapun. Produksi tidak lagi harus dibangun di atas panggung atau di auditorium. Suzuki memang tergelitik dengan konsep teater lingkungan dan/atau tempat khusus.

Kini, Suzuki menganggap penting bagaimana sebuah lakon ditempatkan. Untuk gagasannya itu, Suzuki telah membantu merancang delapan gedung teater besar di seluruh Jepang. “Gedung-gedung teater tersebut kembali ke aslinya –baik teater Jepang tradisional atau ampiteater Yunani, dengan sejumlah modifikasi, tergantung pada di mana gedung akan dibangun (misalnya, di daerah pinggiran atau daerah metropolitan),” ungkapnya. Suzuki juga masih punya obsesi membangun semacam Globe Theatre, bangunan berbentuk bundar. Gedung itu hanya untuk pementasan karya-karya Shakespeare. “Teater tersebut menjadi lambang visi dari teater yang asli.”

Sumber: https://www.backstage.com/news/tadashi-sazuki-seeking-a-common-grammar/

*Y.E. Marstyanto, adalah pemain drama dan penulis dari Solo, Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *