SEMAAN TEATER TAMARA: ROMANTISME SEJARAH SENI YANG ‘DIHILANGKAN’

oleh : Ficky Tri Sanjaya*

Suasana pertunjukan “Gejolak Makam Keramat” oleh Teater Tamara 13 Juli 2017. Foto : ypkp1965.org

Sebagai sebuah pertunjukan, teater Tamara (Tak Mudah Menyerah) mampu mengundang penonton atau publik yang hadir untuk ikut terlibat dan memahami apa yang akan disajikan, peristiwa. Apa yang dilakukan teater Tamara yang mengangkat judul Gejolak Makam Keramat, adaptasi dari naskah berjudul LENG karya Bambang Widoyo Sp,  menghadirkan peristiwa yang tidak biasa bagi penonton. Naskah tersebut menceritakan sebuah penggusuran semena-mena karena adanya industri pabrik dengan perangkat modal dan kekuasannya, pada sebuah masyarakat kecil. Menghalalkan segala cara, termasuk melegalkan ancaman dan pembunuhan.

Naskah Bambang Widoyo SP ini dibacakan ulang oleh teater Tamara yang pemainnya berisi gabungan dari persatuan Ibu-ibu mantan Tahanan Politik (Eks. TAPOL) 1965, dari Pelantungan, Ambarawa, Bulu, dan lain-lain. Menggunakan model  semaan (menyimak), Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri (PKKH) UGM, Kamis 13 Juli 2017, terasa menggugah kembali semangat perlawanan dan perjuangan terhadap penindasan, kesewenang-wenangan, serta ketidakadilan sosial yang terjadi akibat oleh penguasa.

Peristiwa sejarah dalam pertunjukan tersebut memunculkan sebuah romantisme sejarah seni. Mengapa? Berbicara sejarah seni, tentu tidak bisa lepas dari tokoh yaitu seniman.  Seniman yang dalam hal ini ‘dihilangkan’, baik yang tidak tahu kemana rimbanya, ditemukan menjadi mayat, bahkan mengalami siksaan tanpa mengalami proses pengadilan. Bukan suatu yang mungkin enak dikenang. Namun, romantisme peristiwa hadir melalui narasi dalam teks yang dibacakan 12 aktor wanita yang tidak muda lagi usianya. Peristiwa sejarah yang menyimpan banyak pengetahuan sejarah, politik, seni, sosial, pertanian, hukum,  dan banyak lagi dimunculkan kembali melalui kehadiran langsung oleh ibu-ibu pelaku sejarah 1965. Tentu saja, sebagai peristiwa akan banyak muncul pertanyaan dan jawaban yang compang-camping,  dengan banyak  kekurangan dan kelebihannya. Bahwa peristiwa itu pernah ada, tetapi seolah tidak ada atau ‘dihilangkan’. Peristiwa tersebut menjadi momok atau semacam hantu gentayangan yang terus menghantui. Tetapi kita tidak mengerti apa sebenarnya yang kita takuti.

Menyuarakan apa yang hilang hanya dapat dilakukan dengan kekuatan yang tentu maha dahsyat. Perlawanan dan perjuangan.  Dan tanpa ragu ibu-ibu  teater Tamara sebagai aktor dalam pertunjukan sekaligus sebagai pelaku sejarah seni yang pernah ‘dihilangkan’,  tidak diragukan lagi keaktorannya. Secara naluriah, mereka memiliki sifat dan karakter perjuangan dan perlawanan dalam menghadapi hidup hingga kini. Rata-rata aktor yang bermain dalam teater Tamara berumur di atas 50 tahun. Dalam seluruh rangkaian pertunjukan teater Tamara dari awal hingga akhir, penonton yang hadir harus mengikuti prosesi ritual atau cara menonton tertentu. Tidak seperti menonton teater konvensional, penonton dilibatkan juga sebagai aktor yang dibagi dalam beberapa Kamp Konsentrasi seperti Pelantungan, Buru, Ambarawa, dan Jeferson Library, untuk masuk arena peristiwa. Penonton dilibatkan sebagai aktor sekaligus latar bebunyian dengan bernyanyi, bersuara, bahkan ada pula yang ikut berdialog dengan aktor utama. Untuk menjalin keseluruhan, seorang konduktor berdiri di tengah-tengah semua untuk mengatur suara pononton menjadi bagian rangkaian pertunjukan tersebut.

Tengoklah bu Kadmiyati menembang Jawa sebagai pembuka pertunjukan. Kepiawaiannya menyanyi ia peroleh ketika di Taman Kanak-kanak (TK) Melati. TK Melati adalah TK yang didirikan oleh anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Gerwani memiliki program pemberantasan buta huruf, salah satunya melalui pendidikan taman kanak-kanak tersebut. Program-program yang lain yaitu pengentasan kemiskinan dan mendorong terlahirnya peraturan larangan pernikahan dini. Bu Kadmiyati bermain dengan membacakan tokoh Bongkrek.  Bu Endang Lestari sebagai Mbok Senik dengan suara khasnya yang lembut tapi lucu, nyleneh dan nylekethe. Bu Hartiti bermain sebagai pak Rebo yang kalem dan sumeleh. Suara Bu Hartiti dan Bu Endang dipadupadankan dengan suara Bu Sri Muhayati sebagai Kecik yang karakternya suka clemongan dan hafal nama-nama beberapa orang yang hilang dan tak kembali saat peristiwa 1965 dan ia sebutkan saat bermain di panggung.

Bu Sri adalah juru bicara serta kepala suku dari teater TAMARA, Eks Tapol KIPPER (Kiprah Perempuan). Sebagai tahanan ia pernah merasakan kamp tahanan di 5 tempat berbeda. Tuduhannya adalah karena Ibu Sri diyakini mengikuti organisasi yang mengusung prinsip Atheis. Padahal, menurutnya semua orang yang berada di penjara saat itu memiliki  agama yang dianutnya masing-masing. Bu Sarjiah bermain sebagai Janaka, Kuatini, Premiyati, Aminem, Svetlana Dayani, Ponirah, dan Sri Wahyuni sebagai Juragan. Dari beberapa nama terakhir ada orang yang masih kecil ketika masuk penjara lantaran mengikuti orang tuanya yang juga masuk penjara, atau didakwa ikut menyanyikan lagu Genjer-genjer. Salah satu kursi sengaja dikosongkan malam itu, lantaran Bu Cristina Sumarmiyati salah satu pemain pokok tidak bisa hadir karena serangan stroke ringan. Padahal dia sudah latihan hingga hampir menjelang pentas. Namun hal tersebut tidak mematahkan semangat ibu-ibu yang tetap tampil prima. Dan malam itu pertunjukan ditutup oleh seorang Diva atau bintang. Beliau adalah Bu Sri Wahyuni (Bu Nik: 86 tahun) yang juga bermain sebagai Juragan. Pada masa Soekarno ia adalah penyanyi keroncong istana. Dengan menggunakan alat bantu jalan (walker), Bu Nik menyanyikan lagu ciptaannya sendiri, dengan suara bergetar dan kadang tercekat. Namun, penampilannya mampu menghipnotis penonton dan membuat bulu kuduk bergetar.

Sebagai sebuah peristiwa, aktor berperan sebagai pembaca sekaligus sebagai pelaku sejarah yang masih hidup dan berjalan sebagai sumber pengetahuan atau informan. Pertunjukan teater adalah peristiwa kolektif. Penonton yang telah mereservasi tiket masuk, hadir dari berbagai kalangan, baik tua maupun muda, dengan berbagai profesi. Begitu pula dengan banyaknya orang yang terlibat bermain dan membantu dalam mewujudkan pertunjukan ini. Semua seakan punya semangat yang sama yakni menghidupkan kembali sebuah rasa dan gagasan  seni yang ‘dihilangkan’.

Ada ‘teks’ di dalam teks, dalam pertunjukan tersebut dan teks tersebut telah berhasil  dibuat menjadi sebuah jalinan peristiwa pertunjukan oleh Sutradara Agung Kurniawan dan Irfanudin Ghozali, lewat pilihan naskah, artistik, suasana, serta warna dalam pertunjukannya. Para aktor yang bermain telah memiliki teks pribadi masing-masing sebagai pelaku sejarah. Ditambah teks karya Bambang Widoyo S.P. yang bernada perlawanan dan perjuangan terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan kekuasaan, lalu teks dari masing-masing penonton yang telah dibawa masing-masing, membuat sajian keseluruhan pertunjukan terasa samar-samar, tetapi kaya akan warna-warni simbol.

Memahami peristiwa pertunjukan dan sejarah cerita peristiwa 30 September 1965 dalam konteks masa kini–di era reformasi dan keterbukaan informasi–setiap orang secara lebih objektif dalam menerima dan menyerap informasi, dibanding pada masa Orde Baru. Pertunjukan Teater Tamara dengan melibatkan aktor sekaligus pelaku langsung sejarah Eks TAPOL peristiwa 1965, kamis malam lalu, mampu menjadi daya tarik, seolah pertunjukan tersebut adalah romantisme akan sebuah pengetahuan sejarah seni yang pernah ‘dihilangkan’.  Dan kita mendapatkan pengetahuan tersebut dari sosok-sosok asli secara langsung. Belenggu-belenggu doktrin dan stigma buruk dalam memahami informasi atas korban sejarah politik, runtuh seketika.

Pungkasan, pertunjukan adalah ruang ekpresi dan ruang menyampaikan gagasan secara terbuka dan bebas bagi manusia kepada manusia lain. Teater sebagai peristiwa pertunjukan harus mampu dan ikut menjaga akal sehat, untuk mendapatkan hak serta menjaga ruang-ruang ekpresi bagi manusia mengemukakan pendapatnya. Malam itu, Teater Tamara memberikan pelajaran serta pengetahuan walau secuil akan romantisme sejarah seni yang ‘dihilangkan’. Sebagai penonton saya bahagia, menyaksikan ibu–ibu Tamara yang tegar menjalani hidup setelah menjadi korban secara langsung peristiwa 1965. Mereka masih dapat berbagi cerita dan tampil di hadapan kami, yang paling tidak hanya punya sedikit kesempatan menikmati pengalaman membaca, mendengar dan menonton mereka. Pertunjukan Gejolak Makam Keramat membangunkan imaji kita akan dahsyatnya peristiwa ‘65 yang mengubah keseluruhan arus sejarah Indonesia yang temurun hingga kini.

Yogyakarta, 14 Juli 1917

 

* Ficky Tri Sanjaya (aktor, pantomimer, dan penulis lepas tinggal di Yogyakarta)

 

Satu tanggapan untuk “SEMAAN TEATER TAMARA: ROMANTISME SEJARAH SENI YANG ‘DIHILANGKAN’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *