Ruang Temu, Upaya Eka Wahyuni Mewarnai Pertumbuhan Seni Pertunjukan

Oleh : Mathori Brilyan.

Sungguh salut ketika awalnya melihat kabar sebuah acara diskusi ini. Acara yang didesain khusus bagi para penggiat seni dan seniman khususnya untuk menceritakan kisah kreatif pada sebuah karyanya. Pada bulan April ini, sekelompok penggiat seni yang beruntung mendapat kesempatan tersebut adalah kelompok Kalanari Theatre Movement dengan judul karya terbarunya Moro : a Fashion Story. Dari karya tersebut teman-teman Kalanari bercerita banyak mengenai perjalanan karya tersebut, hingga tidak canggung untuk menceritakan dapur kelompoknya. Gandes Sholekah sebagai pimpinan produksi dan Dina Triastuti sebagai sutradara menjadi pemantik obrolan malam itu, 15 April 2018 yang berada di Wapres Lumbini, sebuah tempat ngopi yang asik dengan bangunan rumah berpoleskan nuansa jawa.

Gandes Solikah, pimpinan produksi “Moro : A Fashion Story” ketika berkisah tentang kerja keproduksiannya.

Dari peristiwa diskusi tersebut yang tentu disalutkan merupakan pembuka gerbang kesempatan dari pertemuan inspiratif malam itu. Ialah Eka Wahyuni, seniman perempuan yang bergerak dalam seni tari khususnya dan seni kontemporer sebagai pijakan karyanya. Tinggal di daerah Tarudan, Sewon, Bantul bersama kamar kosnya. Eka Wahyuni yang biasa dipanggil Echa sebagai seniman perempuan yang tinggal di Yogyakarta agaknya sadar betul dengan kondisi hingga kebutuhan publik seni, khususnya seni pertunjukan Yogyakarta. Tentu saja, dari kesadaran tersebut barangkali yang mengilhami Echa untuk membuat semacam ruang diskusi dengan format khusus yaitu melakukan penceritaan oleh seniman maupun kelompok terhadap proses berkaryanya. Echa membingkai acara diskusi tersebut dengan nama Ruang Temu dibawah progam Portaleka. Portal yang bersifat membuka jalan untuk memasuki sebuah ruang, senada dengan yang dicita-citakan Echa untuk membuka kesempatan pertemuan antara pegiat seni maupun seniman bersama publik seni secara luas yang tinggal di Yogyakarta.

Echa dengan portaleka yang ia bangun bersama semangat militansinya membuka peluang untuk menghangatkan publik seni khususnya di kota Yogyakarta. Karena memang harus disadari jejaring gerak seni di kota ini sungguhlah sangat rapat, hampir tidak ada jeda untuk sekedar beristirahat mengurangi hasrat untuk menonton maupun mencipta karya, dalam hal ini, seni pertunjukan. Melihat kasus ini tentu setiap kelompok maupun personal akan menemui jejaring lintas gerak seni yang mengantarkan pada sebuah pemetaan titik-titik jaringan seni pertunjukan Yogyakarta. Sungguh banyak, sangat. Dari sekumpulan jaringan seni yang beredar di kota ini, tentu memiliki keunikan saat bertemu dengan sesamanya. Tidak dipungkiri, ketika Yogyakarta yang njawani ini pertemuan para penggiat seni atau yang menyebut diri sebagai seniman biasanya begitu lamis hingga politis. Jangan kaget ketika menceburkan diri untuk bergerilya dari titik-titik pemetaan jaringan tersebut akan mendapati informasi,isu,wacana hingga kabar sejarah yang beragam. Dari ragam tersebut beserta banyak jejaring seni pertunjukan yang beredar di kota ini, ruang diskusi hangat seperti progam Ruang Temu pada Portaleka menjadi pertemuan alternatif untuk saling mengakrabkan para penggiat seni maupun seniman di Yogyakarta. Echa sebagai pendiri dari Portaleka dengan progamnya Ruang Temu setidaknya sudah memulai untuk melakukan niatannya dalam menjalin pertemuan hangat dengan materi pembicaraan inspiratif mengenai keberadaan seni pertunjukan di kota Yogyakarta. Echa dengan sadar mendudukan diri sebagai pemantik untuk mempertemukan beberapa penggiat seni hingga seniman di kota ini untuk saling berdialog yang secara khusus dibingkai mengenai perjalanan dan pengalaman sebuah produksi karya seni pertunjukan dari seorang seniman maupun sebuah kelompok.

**

Dina Triastuti, sutradara, tidak canggung membongkar proses kerja “Moro : A Fashion Story”-nya di Ruang Temu.

Pada ruang temu malam itu kelompok Kalanari tidak canggung untuk membuka dapur kerjanya sebagai sebuah lembaga pergerakan teater. Bahkan begitu terbuka ketika harus menjawab bagaimana Kalanari sebagai sebuah lembaga menyusun strategi untuk dapat menggerakkan roda ekonomi-produksi pada setiap pergerakannya. Dina sebagai bagian dari pendiri Kalanari membagikan beberapa trik bagaimana menyusun sebuah proposal pengajuan konsep karya. Dalam penyusunan sebuah proposal konsep karya, Dina menegaskan jika sebelumnya harus tau siapa yang akan membaca proposal tersebut yaitu yang akan mengkurasi konsep karya yang diajukan. Kemudian Dina menambahkan juga untuk belajar memaparkan sebuah konsep karya dengan lugas, jelas, dan tentu saja menarik.  

Pada karya berjudul Moro : a Fashion Story ini, Kalanari mendapat kesempatan mengikuti progam ruang kreatif 2017 yang diselenggarakan Galeri Indonesia Kaya. Pada progam tersebut pimpinan produksi dari kelompok terpilih mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop seni pertunjukan yang menjadi serangkaian progam dari Galeri Indonesia Kaya. Gandes, alumni jurusan teater ISI Yogyakarta yang merupakan pimpinan produksi dari Kalanari pada karya ini sangat beruntung mendapat kesempatan tersebut. Mendapat asupan pengetahuan mengenai dunia seni pertunjukan dari seniman senior Indonesia yaitu, Sari Madjid, Iswadi Pratama, Eko PC, Ratna Riantiarno, Garin Nugroho, hingga aktris cantik senior Happy Salma.

**

Eka Wahyuni, penggagas Ruang Temu dan Portaleka.

Secara tidak langsung Echa mempertemukan progam Ruang Kreatif oleh Galeri Indonesia Kaya, Jakarta dengan progamnya Ruang Temu yang kemudian menjadi pokok pembahasan diskusi oleh penggiat seni maupun seniman di Yogyakarta. Walaupun perlu disadari ruang pertemuan diskusi berada pada posisi pinggiran serta memiliki jaringan yang lebih sempit. Diskusi hanya untuk orang yang membutuhkan. Bukan mereka yang datang untuk mencari kesenangan seperti pada niatan penonton pertunjukan. Kalau memang seperti itu, apakah benar diskusi selalu berorientasi untuk mencari kerumitan, perdebatan, atau pertarungan. Barangkali tidak. Terlalu jauh jika harus berpikir demikian. Pertemuan diskusi seperti apa yang dicita-citakan Echa dengan Ruang Temu didalam Portaleka menjadi sebentuk cara bagaimana membuka pengetahuan mengenai seni pertunjukan di Yogyakarta. Walaupun secara khusus pergerakan kali ini masih menyentuh pada kalangan teater-tari hingga seni kontemporer namun patut diapresiasi dan mendukung gerakan yang Echa lakukan. Terlebih Echa sebagai perempuan yang seniman, maupun seniman yang perempuan berani mengambil peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan seni pertunjukan di Yogyakarta.

**

Tim PortalEka, Tim Kalanari dan beberapa seniman muda yang hadir berfoto bersama usai diskusi ditutup.

Ruang Temu yang digagas oleh seniman perempuan muda Echa ini tentu banyak harapan yang dapat dititipkan. Melihat pergerakan yang dilakukan oleh Echa ini memantik penggiat seni hingga seniman Yogyakarta untuk mendukung keberadaan Ruang Temu dibawah progam Portaleka. Seperti yang tertulis diatas, menyadari begitu banyaknya jaringan seni yang beredar di kota Yogyakarta sudah menjadi kebutuhan untuk menghadirkan pemetaan beberapa titik jaringan seni tersebut. Echa bersama progamnya Portaleka berpotensi melakukan hal tersebut dengan melakukan gerakannya ini secara konsisten, taruhlah angka 5 tahun dalam menjalankan progam ini. Kemudian dalam jangka waktu tersebut dilakukan pencatatatan mengenai data seniman, karya pertunjukan, serta titik-titik keberadaan seniman maupun sebuah kelompok berdiri. Dimulai dari hal sederhana tersebut tentu akan berguna bagi keberlangsungan seni pertunjukan kota ini. Tidak dipungkiri jika pada progam Portaleka yang digagas Echa ini dapat menitipkan sebuah cita-cita untuk menciptakan semacam geografi seni pertunjukan Yogyakarta. Sebuah cita-cita luhur untuk menggaas diciptakan peta Yogyakarta dengan menghadirkan titik-titik keberadaan sebuah komunitas, kelompok seni pertunjukan, seniman, hingga tempat berlangsunya pertunjukan. Peta tersebut dapat diciptakan dengan teknologi digital yang dapat diakases dan diupdate setiap harinya, bahkan setiap jamnya. Pemetaan titik-titik jaringan tersebut menjadi kebutuhan seni pertunjukan Yogyakarta dengan menyadari percepatan produktifitas produk karya di kota ini yang hampir tidak terekam sebagai sebuah catatan sejarah. Kesadaran ini pula dibarengi dengan sebuah harapan untuk menciptakan sebuah arsip sejarah seni pertunjukan Yogyakarta dengan dimulai dari proses pemetaan tersebut. Dalam sebuah angan, dapat dibayangkan masyarakat seni pertunjukan Yogyakarta memiliki jalinan yang rekat seperti halnya karakter masyarakat Yogyakarta yang njogjani. Meyakini hal ini memang lahir dari sebuah hasrat, untuk memantik kesadaran jika pergerakan seni pertunjukan di kota ini dapat berperilaku sesuai karakter kota Yogyakarta. Menjadi menarik tentu saja ketika kehadiran seni pertunjukan pada sebuah kota mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai seni menjadi sebuah kebutuhan dengan selalu menyadari budaya kota tersebut, Yogyakarta.

 

Mathori Brilyan, penikmat teater, tinggal di Yogyakarta.

Sumber Foto : Tim Dokumentasi Wapres Lumbini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *