EVERYTHING YOU WANT IS PROCESS : Catatan atas pertunjukan Sally Dance Masstricht di Yogya 2017

oleh : M Dinu Imansyah *

Sally Dansgezeschap Maastricht mementaskan empat repertoire dalam tajuk “Skyline” di Pendhopo Art Space, Yogykarta. Masih terbata-bata.

Seorang lelaki menenteng selembar kertas karton putih besar lalu menjunjung kertas itu tinggi-tinggi di atas kepalanya. Kertas itu bertuliskan “EVERYTHING YOU WANT”. Kemudian menyusul seorang perempuan berambut pendek dan seorang lelaki berkulit hitam yang juga melakukan hal yang sama, kali ini kertasnya bertuliskan “IS ON THE OTHER SIDE OF” dan “FEAR”. Sesaat kemudian muncul sepasang lelaki dan perempuan dari dua sisi yang berbeda. Mereka berjalan mendekat, saling mengagumi lalu mendekatkan kepala hendak berciuman. Mendadak suara alarm tanda bahaya berbunyi memekakkan telinga. Sepasang laki-laki dan perempuan ini urung berpagutan. Sekian detik kemudian mereka berupaya mengulangi niat berciuman mereka yang tak tertuntaskan. Tapi setiap kali kepala mereka saling mendekat, saat itu juga alarm kembali berbunyi dan lagi-lagi mengurungkan niat kedua insan untuk bercengkrama.

Adegan ini merupakan salah satu bagian dari repertoire “Skyline” yang dibawakan oleh Sally Dansgezelschap Maastricht (atau dikenal juga dengan nama “Sally Dance Company”) dari Belanda. Pertunjukan yang digelar oleh Erasmus Huis ini diselenggarakan pada Sabtu, 7 Oktober 2017 di Pendhopo Art Space, Yogyakarta. Selain “Skyline”, ada tiga repertoire lain yang dibawakan oleh kelompok tari yang dipimpin oleh Stefan Ernst dan Ronald Wintjens ini antara lain: “It just happens for a reason”, “The Golden Pas de Deux” dan “Alone Together”.

Seluruh repertoire dibawakan secara minimalis tanpa tata panggung, properti, hingga kostum khusus. Bahkan pada repertoire puncak sekaligus yang menjadi tajuk acara ini, Skyline, seluruh penari mengenakan baju casual sehari-hari.

Selain itu, unsur teatrikal terasa cukup kentara di pertunjukan ini. Tidak hanya memanfaatkan keterampilan teknik tari tapi juga permainan ekspresi bahkan gerak-gerak tubuh yang lebih realis layaknya dalam gerak sehari-hari seperti mendorong tubuh, mengusap keringat dengan kaus, menunjuk orang lain tatkala marah, hingga adegan menampar yang dilakukan apa adanya tanpa stilisasi yang membuat penonton sempat terhenyak sedetik pasca adegan tamparan itu dilakukan.

Pertunjukan “Skyline” oleh Sally Dance Masstricht. Foto : Henricus Benny Hendriono

Terbata-Bata

Sayangnya, hampir semua repertoire terasa kurang digarap dengan matang. Banyak adegan yang terasa kurang menggigit bahkan cenderung main-main. Terlihat sekali di beberapa adegan gerak terasa sangat teknis bahkan ada yang terlihat menunggu untuk mendapatkan “umpan” gerakan dari penari lainnya. Belum lagi manajemen energi yang masih belum tertata dengan baik. Di beberapa repertoire, khususnya di repertoire terakhir, para penari sudah mulai tampak kelelahan sehingga adegan-adegan dibawakan dengan lemah dan tidak mampu menyentuh empati penonton.

Sejak repertoire pertamapun, penulis sudah merasa ada yang “kurang beres” dengan garapan pertunjukan ini. “It Just Happens For a Reason” dibawakan oleh sepasang lelaki perempuan yang berinteraksi dengan banyak menggunakan gerakan lifting. Bahkan hampir sembilan puluh persen gerakan yang digunakan dalam pertunjukan ini adalah lifting. Sang penari perempuan berpilin, diangkat, dipelintir dan berbagai macam varian gerakan akrobatik lainnya. Sayangnya sang penari lelaki terlihat sekali tidak cukup siap dan rileks dalam melakukan adegan-adegan gimickal semacam ini. Di beberapa kesempatan tampak sekali sang penari lelaki sudah bersiap-siap menyambut gerakan berikutnya dari pasangan tarinya. Gerakannya terasa tidak smooth, terbata-bata. Bisa jadi karena hampir seluruh gerakannya menggunakan lifting, spektakel-spektakel yang ditawarkan terasa tidak lagi istimewa.

Adegan-adegan lifting yang menguras tenaga. Foto : Henricus Benny Hendriono

Pertunjukan berikutnya, “The Golden Pas de Deux” dibawakan secara tunggal. Seorang lelaki berbaju merah marun berjalan menuju panggung dengan membelah kerumunan penonton yang duduk di depan panggung. Sesampainya di panggung, dia melepaskan sepatunya, meletakkannya di bibir panggung dan kemudian sesekali bergerak secara eksplosif, seolah ada sesuatu yang menarik bagian-bagian tubuhnya. Yang menarik adalah gerakan-gerakannya seolah ingin menggambarkan keinginan sang penari untuk melepaskan diri dari basic tari balletnya. Berulangkali tubuhnya ingin mengadegankan gerak-gerak khas tari ballet tapi belum tuntas gerakan-gerakan itu dihadirkan sudah dia putus sendiri. Seolah dia ingin melawan doktrin tari ballet yang sudah mendarahdaging dalam tubuhnya. Sebuah upaya yang menarik di era di mana masih banyak penari muda kita yang beranggapan bahwa tari kontemporer harus berkiblat dari gerak-gerak ballet. Repertoire kedua ini seolah menggambarkan perlawanan akan pergerakan yang seseorang mulai sendiri. Kesadaran penuh akan segala tindak tanduk yang kita perbuat sendiri. Tapi bukankah memang itu ruh dari sejatinya kontemporer? Kesadaran penuh.

Seorang penari tunggal di pertunjukan Skyline. Foto : Henricus Benny Hendriono

Interaksi antara laki-laki dan perempuan kembali dihadirkan di repertoire “Alone Together”. Berbeda dengan interaksi di repertoire pertama yang lebih banyak menggunakan teknik lifting serta kedekatan fisikal antar dua penari yang tiada henti, pada sajian ketiga ini malah seolah memberikan jarak antara penari satu dengan yang lain. Tatkala seorang penari beraksi, lawan mainnya diam saja memperhatikan. Yang menarik, meski tiap penari bergerak sebebas mungkin, pandangannya tetap terikat pada lawan mainnya. Ibarat hati dan pikiran yang berkecamuk dalam diri seorang gadis atau laki-laki yang tengah bertatap muka dengan lawan jenisnya. Sajian yang ketiga ini benar-benar mempertanggungjawabkan judulnya, merasakan kesendirian bersama-sama. Meskipun sayangnya presentasi sajian ketiga ini agak ternoda dengan keragu-raguan para penarinya untuk mengekspresikan emosi, baik melalui wajah ataupun ketubuhan. Akibatnya, meski pesannya tetap tersampaikan, tapi seolah tersendat-sendat untuk bisa dinikmati penonton dengan baik.

Repertoire keempat menjadi repertoire pamungkas dari pertunjukan ini–sekaligus menjadi tajuk utama dari even ini–yakni Skyline. Seperti yang telah disinggung di awal tulisan ini. Repertoire terakhir ini menggunakan unsur teatrikal yang cukup kental. Tema besar yang diusung sajian pamungkas ini adalah tentang ketakutan, ketakutan untuk membuka diri dan ketakutan atas penerimaan (atau penolakan) orang lain terhadap kita. Sebuah isu yang memang sedang santer digaungkan belakangan ini.

Yang menarik, repertoire terakhir ini dimainkan oleh para penari yang berasal dari negara yang berbeda-beda. Ada yang berasal dari Kuba, Amerika Serikat, Spanyol, Italia dan tentu saja Belanda. Adanya perbedaan latar belakang ini semakin menguatkan tema ketakutan akan penerimaan perbedaan di era yang serba ironis ini. Era di mana manusia seharusnya makin dimudahkan untuk melakukan interaksi dan komunikasi dari penduduk dari belahan dunia manapun tapi justru malah menguatkan keberadaan kaum-kaum pembenci orang yang berbeda latar belakang seperti kasus kaum Xenophobis di Amerika, Jerman, dan negara-negara lainnya.

Meskipun sayang sekali, seperti yang sudah sempat disinggung sebelumnya, repertoire terakhir yang seharusnya menjadi nomor andalan ini malah terasa menjadi repertoire yang paling lemah. Selain faktor manajemen energi yang kurang sehingga para penarinya kelelahan, penggarapan dramaturginya sangat lemah. Terlebih lagi ketika beberapa penari harus berakting layaknya di teater, tampak sekali mereka cukup canggung dan kurang nyaman dalam melakoninya.

Di beberapa adegan tampak beberapa adegan “bocor” seperti penari yang mengusap keringatnya menggunakan kaos saat adegan seharusnya dilakukan dengan tenang namun mencekam dan wajah beberapa penari yang tampak sekali kelelahan dan seolah terpaksa dalam melakoni beberapa adegan.

Dari beberapa adegan yang dihadirkan dari repertoire terakhir ini, hanya ada dua adegan yang cukup menarik yakni adegan ketika seorang penari perempuan berjalan di udara yang ditopang oleh tangan-tangan penari lainnya digarap cukup halus sehingga seolah penari itu benar-benar berjalan ringan di udara. Adegan lainnya adalah ketika sepasang laki-laki dan perempuan beradu “argumen” dengan berdiri saling berhadapan lalu bahu mereka berhantaman satu sama lain seiring nada-nada lagu “Moonlight Sonata” dari Beethoven. Seolah ingin menciptakan perlawanan atas kesendirian yang amat sangat sebagai kontras dari lagu dengan judul asli “Piano Sonata No. 14 in C#minor ‘Quasi una fantasia” yang memilukan ini.

Parahnya lagi, repertoire puncak ini semakin dilemahkan oleh ending : para penari kembali mengangkat tulisan “EVERYTHING YOU WANT IS ON OTHER SIDE OF FEAR” lalu kertasnya di balik dan berubah menjadi “EVERYTHING YOU WANT IS LOVE”. Puluhan eksplorasi gerak yang berusaha disusun dan dibangun sejak awal harus dimentahkan dengan konklusi yang sangat verbal. Bahkan pada teater yang sesungguhnya sekalipun, penyampaian informasi melalui tulisan fisik yang dihadirkan di atas panggung sudah dianggap tidak lagi efektif, seperti lelucon lawas di teater melalui palang-palang bertuliskan “Ini pohon”, “Anggap saja di sini gunung”, atau “Saya polisi, lho”.

Bisa jadi ini memang bagian dari proses perkembangan Sally Dansgezelschap Maastricht untuk menemukan formula kebaruan bagi penciptaan karya-karya mereka. Mengingat 10 tahun usia yang sudah mereka tapaki, sudah saatnya mereka tidak lagi membawakan karya yang sudah mapan, terlebih lagi jika harus terus diakui menjadi ciri khas. Bukankah seni memang harus selalu gelisah?

Semoga pertunjukan Skyline ini tidak dijadikan sebagai titik akhir bagi Sally Dansgezelschap Maastricht (dan kita sebagai pelaku dan pengapresiasi seni) untuk terus berproses. Bukankah proses memang tidak selalu mulus? Terkadang tersendat-sendat bahkan harus berhenti sejenak. Karena pada akhirnya yang kita rindukan kelak bukan lagi hasil atau pencapaian tapi proses itu sendiri.

Everyting we want is process.

 

*M Dinu Imansyah, Aktor, bergiat di Kalanari Theatre Movement, Yogyakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *