Puisiku Berjalan Menuju Naskah Teater

Oleh : Andy Sri Wahyudi*
Pertunjukan “Energi Bangun Pagi Bahagia”. Foto : indonesiakaya.com

Sudah dua kali ini setiap peluncuran buku puisi saya, sebuah pertunjukan teater selalu menyertainya. Saya tidak tahu mengapa bisa terjadi, naskah teater menyusul begitu saja tanpa terkendali. Kali ini saya menerbitkan sebuah kumpulan puisi “Energi Bangun Pagi Bahagia”. Saya kembali menulis naskah yang dimasuki puisi – puisi dalam kumpulan tersebut. Di waktu menulis naskah, saya merasakan sebuah perjalanan masa lalu yang musti saya tulis. Terkadang muncul banyak pertanyaan dalam benak saya yang tak terjawab. Bagaimana mungkin puisi – puisi yang saya tulis saat ini kontekstual dengan masa lalu yang telah saya lewati. Pilihan – pilihan puisi yang disisipkan dalam naskah teater seperti tak sengaja menjadi pasangan kalimat dan dialog dalam naskah.

Buku kumpulan puisi Energi Bangun Pagi Bahagia, diterbitkan oleh Penerbit Garudhawaca.

Pada saat menulis naskah teater, saya seperti berada dalam keheningan panjang. Entah siapa atau apa yang mengisi tubuh dan pikiran saya. Tapi saya yakin tidak sedang kerasukan mahkluk halus. Saya lebih meyakini bahwa saat berada dalam keheningan panjang tersebut, saya sedang intens bekerja. Tubuh dan pikiran sedang mengolah tumpukan peristiwa dan mengingat karakter orang – orang yang saya pernah temui. Juga imajinasi tentang masa depan dan kisah keseharian yang berlintasan. Kemudian dari “keheningan” itu mengalir lewat jari – jari tangan menjadi serangkai tulisan berupa naskah. Naskah teater itu terwujud karena adanya bantuan dari apa yang dinamakan: kreatifitas dan kesabaran.

Naskah teater yang saya buat kadang terasa janggal, kekanakan, dan tak beralur linear. Begitu kata beberapa teman setelah membaca isinya. Saya merasa hal itu sangat biasa karena memang begitulah adanya apa yang ada dalam pikiran saya. Semula hanya ada dua tokoh yang berdialog tentang satu kisah pribadi masing – masing. Mereka bercakap – cakap disebuah tempat yang belum saya mengerti. Hingga muncul satu tokoh lagi kemudian dialog menjadi semakin ramai. Adegan demi adegan hadir bersusulan sesuai dengan tema dan perjalanan alur dalam naskah. Tema naskah adalah sebuah biografi tiga tokoh remaja (Frank, Bas, Bob) berlatar tahun 90an. Gagasan dan isi cerita bertolak dari ruang dan peristiwa kehidupan setiap tokoh: induvidu, keluarga, sekolah, kampung, kota, dan negara. Peristiwa hadir ketika melewati beberapa fase kehidupan: menjadi berandal jalanan kota, reformasi 1998, kisah cinta, cita – cita dan pernyataan hidup. Dari ruang dan pristiwa itulah saya merangkainya menjadi rangkaian cerita dan memasukkan muatan cerita dari ranah pendidikan, sosial, politik, dan dunia keseharian.

Setelah naskah sudah saya tulis, kemudian menyusul konsep pemanggungan, agar saya dapat membayangkan bagaimana nanti bentuk pementasannya. Mungkin hal ini terjadi karena saya kadang merangkap sebagai penggarap atau sutradara. Kali ini saya hanya berprinsip bahwa naskah tersebut bisa dipentaskan dimana saja, tidak tergantung pada acuan estetika dan tata aristik yang boros. Juga membebaskan ruang dan waktu. Dalam artian, di ruang apapun dan kapanpun tetap bisa dipentaskan. Saya melihat kembali bentuk dari naskah yang saya tulis. Naskah tersebut mempunyai ruang yang berbeda-beda dan rentang waktu yang panjang. Maka saya berpikir bagaimana mewujudkanya dengan format yang efektif dan efisien tapi terkomunikasikan dengan jelas.

 

Konsep Pementasan

Pementasan ini hampir tak memerlukan bloking yang bergerak dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Aktor hanya duduk di atas bangku dengan posisi Frank di sebelah kanan Bas, lalu Bob di sebelah kiri Bas. Properti yang digunakan diletakkan di seputar bangku agar bisa diambil sewaktu waktu. Bangku menjadi ruang imajiner yang bisa mewakili berbagai tempat yang tertulis dalam naskah. Akting para aktor diutamakan banyak mengeksplorasi mimik wajah dan gerak tubuh, juga intonasi dalam ketrampilan berdialog. Panggung dengan para penonton jaraknya tak terlalu jauh.

Jika konsep pementasan sudah terbayangkan, maka konsep tersebut bisa menjadi acuan membuat setting panggung. Pada prinsipnya setting sudah tergambar dalam konsep pemanggungan. Setting dan properti benda – benda inti harus tersedia terlebih dahulu untuk permainan aktor – aktornya. Akting para aktor juga lebih mengerucut dan lebih jelas takarannya jika setting sudah tergambar. Lantas tugas aktor adalah merespon setting dan properti untuk menciptakan imajinasi ruang, waktu dan peristiwa di setiap adegan. Di bawah ini gambaran setting panggung dalam naskah “Energi Bangun Pagi Bahagia” :

 

Setting

Setting bisa berupa apa saja dan di mana saja, tetapi bangku panjang menjadi inti Setting sebagai tempat duduk aktor. Diharapkan Sett panggung tidak statis tetapi sesekali bergerak. Setting menjadi sesuatu yang dinamis untuk mendukung suasana adegan. Apabila statispun tidak masalah asalkan tertata secara artistik.

Mengenai puisi – puisi yang saya masukkan dalam naskah memang butuh kecermatan dalam memilihnya. Saya harus mensingkronkan antara isi puisi dengan konteks adegan yang sedang berlangsung. Kalau tidak berhati – hati tentu saja akan menjadi bias makna antara puisi dan adegan. Tidak semua puisi dapat masuk menjadi satu narasi dalam sebuah adegan. Terkadang puisi juga berfungsi sebagai pemecah suasana atau menjadi benang merah antar fragmen satu dengan yang lainnya.

Munculnya karater tokoh juga tak lepas dari ruang dan peristiwa yang ada dalam naskah tersebut. Adapun dalam naskah “energi Bangun Pagi Bahagia” ada tiga tokoh inti yakni Bob, Bas dan Frank. Dimunculkan juga dua tokoh figuran, yakni Mahasiswa dan Perempuan pembaca puisi. Tokoh – tokoh tersebut berakting untuk membuat dunia kecil sesuai karakternya. Bob adalah remaja yang cinta dengan kekerasan dan nekad. Frank remaja yang kritis dan banyak bicara. Sedang Bas adalah remaja yang bijak, pandai membaca situasi dan berjiwa pemimpin. Ketiganya berlatar belakang sama yakni berasal dari keluarga broken home. Ketiganya juga remaja yang berkarakter, suka bekerja keras, agak manja, melankolis, dan sedikit punya jiwa pemberontak.

Adanya ruang dan peristiwa dalam naskah, untuk membentuk konteks dan menguatkan karakter tokoh. Ketika Frank, Bas dan Bob masih menjadi berandalan kota, jiwa kebersamaan dalam bekerja sangatlah kuat. Mereka bekerjasama dan saling menyemangati. Setelah peristiwa reformasi terjadi mereka mulai terpisah lantaran beda pandangan. Frank pro Reformasi, Bob pro Suharto, sementara Bas membaca arah ke depan untuk menjaga semangat dan daya juang dirinya dan teman – temannya. Karena menurutnya sebagai rakyat kecil tugasnya bekerja dan mandiri membangun karakter diri agar tetap berdaya. Mampu mendidik diri sendiri dan menghidupi diri mereka sendiri. Demikian juga tentang kisah cinta mereka bertiga, Bob dan Frank sangatlah pemalu dengan lawan jenis. Mereka harus dibimbing oleh Bas yang paling Flamboyan, dalam menjalin relasi dengan lawan jenis.  Kisah tersebut dapat dibaca dalam sinopsis di bawah ini.

 

Energi Bangun Pagi bahagia

“Tugas Seorang Pemimpin adalah membuat Rakyatnya Bangun Pagi Bahagia.”

Ini sebuah kisah tiga remaja jalanan di masa pemerintahan orde Suharto. Pemerintahan yang mengajari mereka untuk mencintai tanah air dan bangga menjadi bangsa indonesia. Tapi sayang mereka tak tahu bagaimana cara mencintai dan bangga menjadi bangsa Indonesia.  Hari – hari mereka hanya di jalanan, yang mereka tahu hanyalah bertahan hidup. Hingga suatu ketika kata “Reformasi”  dikumandangkan di seantero negeri. Merekapun terbawa arus reformasi, Bertiga turut merasakan dan melakoninya. Pro dan Kontra-pun terjadi dalam pergaulan mereka. Sejatinya jauh di kedalaman hati mereka sungguh tak mengerti, juga tak peduli dengan itu semua. Peristiwa reformasi seperti sebuah acara ulang tahun atau pesta kebun yang hanya menjadi kenangan berdebu dalam album foto. Setelah reformasi terjadi, orang – orang beranjak saling cakar, saling sikat dan menjilat demi sesuatu yang mempesona: Kekuasaan. Yah, memang begitulah hukum rimbanya. Akan tetapi hal buruk dan memalukan itu tak terjadi pada mereka bertiga. Sebab mereka paham benar sebagai rakyat biasa. Bahwa hidup ini dipenuhi ketidaksengajaan dan selalu bersiap untuk kehilangan. Maka mereka membangun dunia kecilnya. Mereka mendidik diri sendiri untuk bangun pagi bahagia dengan segala cinta dan cita-cita: menjadi warga negara yang berdaya guna.

 

Cerita yang Berbeda

Sebenarnya penulisan naskah ini adalah sebuah kemasan lain yang biasa saya lakukan di waktu remaja. Waktu itu setiap kali saya membacakan puisi selalu berada di tengah para tetangga dan teman –teman. Ya, setiap ada acara tirakatan tujuh belasan (hari kemerdekaan Republik Indonesia) dan acara mabuk – mabuk’an bersama teman – teman sekampung. Ketika sedang berkumpul bersama teman – teman di pinggir jalan atau di pos kampling, semua teman bisa bermain musik dan bernyanyi bahagia. Sementara saya tak bisa bermain musik dan bernyanyi, hanya puisi yang bisa saya sumbangkan untuk kebahagiaan bersama. Saya selalu bercerita tentang banyak hal yang saya alami, kemudian di tengah cerita saya membacakan puisi.

Di masa dewasa ternyata saya masih menulis puisi. Maka kebiasaan dulu seperti datang lagi namun dalam kemasan yang berbeda. Teman – teman saya bertambah banyak, tak hanya di kampung tapi di kota-kota. Sementara itu puisi saya bertumbuh kembang dan meminta dibaca banyak orang. Teknik bercerita dikemas dalam sebuah pertunjukan teater dengan konsep sederhana, tapi dapat terkomunikasikan maksud dan tujuannya. Lalu disesela cerita saya sisipkan puisi – puisi yang turut serta diucapkan menjadi satu dengan naskah.

 

Selintas Tentang Naskah yang Lain

Buku kumpulan naskah berbahasa jawa, Mak Ana Asu Mlebu Ngomah. Diterbitkan oleh Penerbit Garudhawaca.

Demikian juga dengan naskah teater bahasa jawa yang saya buat: “Mak…! Ana Asu Mlebu nGomah!”. Judul tersebut berasal dari teriakan seorang anak kecil yang melapor pada emaknya lantaran rumahnya kemasukan Anjing. Naskah tersebut hadir saat saya dipertemukan kasus sengketa tanah yang berakhir dengan kekalahan si pemilik sejatinya. Dua puluh lima Kepala Keluarga lainnya meninggalkan tanah tersebut. Tanah itu akan didirikan sebuah perumahan. Proses perebutan itu sangatlah kotor: Terjadi konspirasi antara pemodal dan beberapa elit kampung. Membuat warga menjadi resah karena setiap hari diteror preman berambut cepak. Kasus seperti itu banyak terjadi di daerah lain. Bahkan ada yang lebih parah lagi, digusur tanpa ganti rugi sepeserpun. Dari kenyataan tersebut saya tergerak membuat naskah teater,  karena menurut saya peristiwa tersebut harus menggaung menjadi ingatan kolektif. Sebenarnya naskah tersebut adalah sebuah pernyataan pribadi setelah kekalahan dan kehilangan. Disanalah imajinasi saya berperan, saya tak akan membuat naskah berbentuk realis yang hanya mempertontonkan konflik lokal dan ketergusuran yang nestapa. Saya tidak mau berhenti di sana. Bagi saya setelah kekalahan dan kehilangan, hidup masih terus berlangsung. Manusia boleh sejenak disorientasi dan melankoli, tapi tidak boleh mati dalam hidupnya. Ia musti bergerak.

pertunjukan “Mak Ana Asu Mlebu Ngomah” oleh Teater Temmu. Foto : insideindonesia.org

Kemudian saya membuat cerita, tentang sebuah kampung yang tak tercatat dalam peta kecamatan. Hanya enam orang yang bertahan hidup untuk melawan ribuan Anjing. Semua penduduk kampung telah menjadi Anjing dan turut menyerang mereka berenam. Meskipun pertahanan mereka gagal dan semua-muanya tumpas dimakan Anjing – anjing, tapi mereka berhasil menyelamatkan batu nisan yang berisi jasad mbah Karto. Seorang Tetua pendiri kampung yang pernah berjuang membela negara dan bangsa. Beliau telah menurunkan ajaran dan kekuatan untuk bertahan hidup.

Enam tokoh yang bertahan adalah sebagai gambaran perwakilan warga. Sementara mbah Karto sebagai gambaran nilai, cita-cita, energi yang selalu menghidupkan. Sedang Anjing bukan semata berhenti pada pengartian para cecunguk atau begundal pengembang perumahan yang serakah, atau elite kampung yang berhasil disogok. Anjing atau Asu adalah sesuatu atau tangan tangan tak dikenal yang tiba – tiba datang merobohkan semua-muanya. Anjing bisa berupa modal besar yang menggulung hidup secara semena-mena, atau hukum yang tak mau tahu, atau kekuatan asing yang sistem kerjanya tak dimengerti pikiran orang – orang kecil. Atau apa saja yang dapat membuat manusia kehilangan, terampas dan hanya menjadi ternak tak berdaya melawan. Enam orang itu dikalahkan oleh sistem, tergusur secara geografis. Akan tetapi mereka pergi menggenggam kekuatan, akal budi, cita – cita, kebijakan, dan keberanian yang tak pernah tergusur. Nilai – nilai itu akan terus mendampingi hidupnya menjadi manusia dengan karakter kuat dan mampu bertahan. Dimanapun mereka berada.

Naskah “Mak Ana Asu Mlebu Ngomah” awal mulanya berasal dari gurit bahasa jawa di bawah ini.

 

lemah karang abang

 

lin, embuh, pirang abad laku kuping mubeng jagad

nanging nora bisa krungu gumuyu lan bungahing urip

nganti tekan titi mangsane kabeh wis dadi areng

dadi arerupa wengi lan biru arem.

 

wektu sing manis, ayu, lan kenes dadi abang mangar;

dadi watu; dadi awu; dadi asu!

 

saiki awake dewe lagi wae menyat saka pangkonane simbah

arep nggoleki dalan sing jare wis digawe dewa

dalan warnane jambon sing kudu disrateni kanthi gemati

sing kudu dipacaki nganggo laku nalar lan landeping lathi

 

sakarepmu anggonmu ngonceki

sakarepmu anggonmu ngudak-udak

sakarepmu anggonmu lumaku

 

merga saka adoh kana, ana wewayangan hanggegirisi

wewayangan sing nyabrang liwat langit suwung

wewayangan sing ora nate dikandakake simbah:

jagad mesin tanpa patrap isin, mutah-mutah mbubrah sawah.

mbubrah lemah. mbubrah manah.

 

nganti tekan titi mangsane jaman nggulung manungsatama

dadi bajingan nasar; dadi gedibaling pasar!

 

kae galo delok’en…

 

lin, ana asu cacahe sewu ndilati omahe simbah nganti leleh

wong-wong padha nglungani wengine, nggoleki srengenge dewe-dewe

saiki mung ana kuburan sing kudu ditresnani ngganggo kringet lan ati.

 

ngayogjakarta, april 2009

Demikian sedikit cerita dari saya. Semoga menjadi sesuatu yang bermanfaat. Terimakasih atas apresiasinya.

Gudang Kayu, Sonosewu, 19 Februari – 2 Juli 2017

 

Disampaikan dalam workshop Sinau Penulisan Naskah Omah Teater Jogja (OMTEJO ) #1. Pada tanggal 22 Februari 2017 di Gelanggang Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Disampaikan dalam Pendidkan Dasar penulisan Naskah Teater di Sanggar Terpidana Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta bulan Maret 2017. 
*Andy Sri Wahyudi, adalah aktor, penulis dan sutradara. Bergiat di Bengkel Mime Theatre Yogyakarta.

2 tanggapan untuk “Puisiku Berjalan Menuju Naskah Teater

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *