Napas Pantomim Jemek Supardi

oleh : Ficky Tri Sanjaya*
Jemek Supardi dan Kinanthi Sekar. Foto : tamanbudayayogyakarta.com

Jika kita mencari di laman google dengan kata kunci “Tradisi Potong Rambut di Indonesia” Maka akan keluar beberapa blog ataupun website yang membahas tentang tradisi potong rambut dalam tradisi Jawa. Beberapa blog membahas tentang pemotongan rambut untuk bayi yang baru lahir. Tujuannya adalah membuang sial dalam tradisi Jawa, Islam, maupun pada tradisi lokal daerah lain. Di Jawa sendiri terdapat daerah Dieng, Bajarnegara dimana ada anak-anak balita yang dinamai  anak “bajang” atau “gimbal” karena terlahir dengan rambut yang gimbal alami. Rambut gimbal ini harus di potong dengan menggelar acara ruwatan. Acara ruwatan ini kini menjadi acara tahunan yang menjadi destinasi wisata budaya dan religi populer. Menurut Sapna (http://www.inddit.com/f-642k03/potong-rambut-anak-gimbal-dieng-tradisi-leluhur-dengan-sejuta-makna)  Anak Gimbal dipercayai sebagai titisan Kyai Kolodete yang merupakan salah satu tokoh penting dan sangat dihormati warga Wonosobo. Kyai Kolodete dipercaya sebagai orang yang dahulu membabat alas Wonosobo. Dipercayai sang Kyai Kolodete ini juga berambut gimbal.

Seperti pada 1 Sepetember lalu di Taman Budaya Sosietet Militer Yogyakarta, di gelar pertunjukkan persembahan pantomim Jemek Supardi kesekian kalinya dengan judul “nafas”. Menurut Jogja Update (31/08/16) pertunjukan tersebut adalah perwujudan janji dari Jemek Supardi untuk melepaskan masa lalunya karena sebentar lagi akan menerima kehadiran cucu dari putri tunggalnya, Kinanthi Sekar.  Seperti halnya Kyai Kolodete–dan bukan bermaksud menyamakannya–, yang di Wonosobo dianggap tokoh penting yang membabat alas Wonosobo, Jemek Supardi-pun dalam dunia pantomim Indonesia  dianggap sebagai seorang tokoh Pantomim penting. Ia terbukti secara nyata telah malang melintang puluhan tahun, konsisten berkarya memberikan sumbangsih terhadap pertumbuhan sejarah pantomim Indonesia, setia dan penuh dedikasi.

Pertunjukan malam itu sebagai peristiwa adalah bentuk konsistensinya terhadap seni pantomim yang ia hidupi dan yakini telah menyelamatkan hidupnya. Meski menurut Iswantara (69:2007) dalam bukunya Wajah Pantomim Indonesia, di Indonesia pantomim sebagai bentuk seni pertunjukan masih dikesampingkan atau hanya sebagai pelengkap. Jemek Supardi malam itu di usianya yang hampir 70 tahun dengan temaram lampu panggung, di atas kursi goyang, di tengah tetembangan jawa yang dilantunkan apik, berusaha mewujudkan visual tubuhnya untuk memenuhi hasrat janjinya; meninggalkan masa lalunya yang setelah sekian lama mencari (visual topeng wajah) yang berusaha dilepaskannya, mengalami kesakitan dan kesulitan seperti visual butoh oleh Toni Broer.

Jemek malam itu menemukan cahaya lampu-lampu beraneka macam warna dalam sentir untuk menerangi diri dan terpana, yang pada akhirnya cahaya tersebut menuntunnya pada satu titik pencapaian hidup. Dalam visual film digambarkan dibakarnya lembaran kain-kain berwarna-warni di belakang panggung, berusaha menggambarkan masa lalunya yang sudah habis dilalap api, untuk kemudian terlahir kembali.

Pada layar hitam di belakang panggung gambar seorang bayi yang sedang tertidur lelap muncul. Jemek terbangun dari kursi goyangnya mendengarkan suara aliran air yang segar, berlari mencari sumber suara dan menemukannya, membasuh wajah dan diri, diiringi tetembangan jawa, disusul oleh anaknya Kinanthi Sekar dengan pakaian tari Jawa lengkap, menari dengan kain jarit jatuh dilantai. Kain tersebut ditendangnya menyebarkan bunga ke seluruh area panggung. Dengan membawa gunting Kinanti menari pelan disambut oleh Ki Wahono yang mengambil gunting dan memotong rambut gimbal Jemek Supardi, pertunjukanpun usai.

 

Jemek Supardi pantomim dan Peristiwa

Sebenarnya bukan hanya kali ini saja pertunjukan pantomim Jemek Supardi menggunakan tema “Ruwatan”.  Pertunjukan dengan tema “Ruwatan” sudah menjadi salah satu bentuk pertunjukan lain dari pantomim Jemek supardi.  Tema itu seperti tidak pernah terlepas dari aksi dan karya Jemek Supardi selama ini dalam menggeluti seni Pantomi. Beberapa karyanya bertemakan “Ruwatan” bersumber dari pengalaman batin Jemek Supardi yang unik dalam keseharian hidup yang dilakoninya. Mungkin Jemek sedang berseloroh untuk “Meruwat” dirinya yang bisa pula dibaca melakukan “Ruwatan” bagi lingkunganya melalui aksi-aksi pertunjukan pantomim sebagai bentuk kritik terhadap kondisi sosial yang terjadi.

Menurut saya peristiwa pantomim “ruwatan” dalam cerita-cerita jemek dapat masuk disejajarkan dengan sejarah pantomim yang berkembang dahulu. Ketika saya membaca ulang sejarah, mungkin cerita-cerita pertunjukan Jemek Supardi seperti dalam sejarah phlyake. Menurut Iswantara (2:2007) Phlyake adalah sebuah pertunjukan jenaka yang mengangkat tema dari kehidupan yang nyata dan dan mitologi yang berkembang di kawasan Sparta. Meski tidak spesifik mengarah pengertian mitologi Sparta, tetapi beberapa cerita Jemek Supardi bersumber dari pengalaman pribadi dan beberapa mengarah pada penciptaan mitologi Seperti Arwah Pak Wongso, Perahu Nabi Nuh, Adam dan Hawa, Bedah Bumi kembali Kepegawaian Bumi.

Jemek Supardi sangat produktif. Pertunjukan yang pernah dimainkannya dari 1976-2016 telah lebih dari 50 karya baik di panggung maupun di ruang publik, dengan berbagai gaya, tema, dan bentuk ekperimental. Seperti ; Sketsa-sketsa Kecil proses pencarian mime jemek mulai 1976-1979, Perjalanan Hidup Dalam Gerak (1982), Jemek dan Laboratorium (1984), Jemek dan Teklek (1984) Jemek dan Katak (1984), Jemek dan Pematung (1984), Arwah pak Wongso (1984), Perahu Nabi Nuh (1984) Lingkar-Lingkar (1986) Air (1986), Sedia payung sebelum hujan (1986), Adam dan Hawa (1986), Terminal-Terminal (1986), Manusia Batu (1986), Kopyoh (1987), Patung Selamat Datang (1988), Pengalaman Pertama (1988), Balada Tukang Becak (1998), Halusinasi (1998) Operasi Bedah (1988), Wamil (1998), Maisongan (1991), Menanti di Stasiun (1992), Termakan Imajinasi (1995), Pisowanan (1997),  Kesaksian Udin (1997), Kotak-Kotak (1997), Pak Jemek Pamit Pensiun (1997) Badut-Badut Republik atau Badut-Badut Politik (1998), Bedah bumi atau Kembali Kepegawaian Bumi (1998), Dewi Sri Tidak Menangis (1998), Menunggu Waktu (1998) , Pantomim Yogya-Jakarta (1998), Eksodos (2000),  50 tahun Jemek Supardi Eksodos (2000), HIV-AIDS (2009), Caleg Brontosaurus (2009), Wang sinawang (2009), Manusia Koran (2014) banyak lagi mungkin yang tidak tercatat.

Karya-karya Jemek Supardi-pun menurut Garin Nugroho (dalam Iswantara 79:2007) memecahkan polemik pertunjukan yang pada waktu itu sedang diperdebatkan oleh Putu Wijaya dan Sardono W. Kusumo tentang panggung bergerak melalui karyanya Badut-Badut Republik atau Badut-Badut Politik yang  pertunjukan dilakukannya menggunakan forklift keliling kota. Juga pementasannya yang berinteraksi dengan penumpang di atas gerbong kereta api tujuan Jogja-jakarta non stop.

Unsur teater kotemporer juga merasuk dalam pertunjukan-pertunjukan yang dibawakan Jemek Supardi. Seperti yang dikatakan Putu Wijaya dalam (Iswantara 88:2007) bahwa seni kontemporer sebagian dari pelafalan kotemporer, selalu membebaskan diri dari kemacetan pada satu nilai yang semula disangka sebagai sumber segalanya, padahal segala sesuatunya itu ternyata sudah bergeser dan menjungkirbalikkan segalanya. Menurut Iswantara (88:2007) Lakon-lakon Jemek Supardi seperti  Pelukis Yang Terjebak Dengan Imajinasinya, Pisowanan, Kotak-kotak, dan Kesaksian Udin merupakan pertunjukan mim teater yang dapat dikategorikan sebagai teater kotemporer.

Keproduktifan Jemek Supardi dalam berkaryapun tidak terlepas dari kehidupan yang dijalaninya keseharian. Banyak cerita-cerita yang dipertunjukannya merupakan pengalaman pribadi dan cukup personal dalam hidupnya. Namanya-pun sangat unik. Pertunjukannya banyak diulas oleh media karena kontekstual, familiar, ikonik sebagai representasi pantomim yang populer dan dikenal mudah oleh masyarakat awam. Selain ada nama lain seperti Septian Dwi Cahyo yang dikenal publik yang namanya dibesarkan oleh media televisi.

Peristiwa hidup, kekaryaan dan pertunjukan Jemek Supardi sebagai sebuah peristiwa dalam jagad kesenian adalah sebuah proses unik dan langka. Ia dibesarkan dan dihidupi oleh jagad kesenian dan pergaulannya dengan sahabat-sahabat senimannya dari era teater Alam hingga kini, yang membuat pertunjukanya tumbuh beranekaragam. Rasa-rasanya tidak ada orang yang mampu melampaui batas totalitas, dan dedikasinya dalam sejarah pantomim Indonesia sebagai sosok dan personal di dunia seni pantomim. Jemek adalah peristiwa itu sendiri, yang menulis narasi bersama kehidupanya yang selalu tumbuh, Jemek Supardi adalah naluri seni di tengah kehidupan yang terus bergulir dalam pergulatan hidup keseharian dan keseniannya.

 

Anak Muda dan Peristiwa Pantomim

Dalam pengamatan saya saat ini ada beberapa anak muda yang juga aktif produktif mengikuti jejak Jemek Supardi sebagai Pantomimer. Meski seni pantomim tidak dapat menjanjikan sesuatu untuk hidup dan diremehkan dalam bagian seni pertunjukan, namun beberapa anak muda ini berusaha produktif untuk membuat hidup dan gairah seni pantomim di Indonesia pasca Jemek. Walau sejauh ini saya hanya mengikuti melalui media sosial dan memang sekarang banyak peristiwa pertunjukan beralih ke media sosial dari pada di panggung. Menurut saya pribadi itu bukan soal untuk menangkap fenomena dan gejala yang terjadi dalam perkembangan dunia seni pertunjukan Pantomim Indonesia.  Meski saat ini rutin tiap tahun marak digelar Festival Lomba Seni Siwa Nasional (FLS2N)  pantomim tingkat Sekolah dasar, tidak pula menjamin distribusi pengetahuan pantomim menjadi kasanah pengembangan kajian seni pertunjukan secara mandiri.

Namun sebagai gejala dan fenomena saat ini dapat nampak beberapa kesimpulan awal. Bagaimana saat ini seni pantomim digandrungi oleh anak muda sebagai individu dalam ekpresi pertunjukannya.

Yuliono Singsot adalah salah satu seniman pantomim dari Wonosobo yang saat ini bermukim di Yogyakarta. Menurut pelacakan saya secara konsisten dirinya mengembangkan pantomim sebagai media hiburan di tengah masyarakat umum. Pada awal pantomimnya ia aktif mengamen dari warung-ke warung. Dalam acara-acara seni dan festival ia dan kawan-kawanya aktif menjadi manusia patung dengan berbagai tokoh dan peran menjadi bagian mempopulerkan pantomim, serta mengembangkan pantomim dengan musik dan menyanyi.

Wanggi Hoed adalah seniman Pantomim Bandung yang banyak memainkan pantomim di berbagai acara aksi bersama aktivis-aktivis kemanusiaan. Wanggi Hoed yang aktif pula di sosial media, pengikut Instagramnya mencapai 4500 orang lebih. Mempopulerkan pantomim sebagai bagian ekpresi dirinya dengan tema-tema dan aksi pantomim nyentrik dan unik. Pertunjukan Wanggi banyak mengkritisi persoalan kemanusiaan, spiritual, sosial dan politik di negri ini. Pertunjukan Wanggi banyak dilakukan di jalan, di gunung, di stasiun, dan dalam perjalanannya ke kota-kota tertentu dan berkolaborasi dengan banyak seniman lintas disiplin.

Banon Gautama adalah seniman Pantomim Bojonegoro yang hidup dan tumbuh di Jakarta. Banon menempuh kuliah di jurusan perfilman Istitut Kesenian Jakarta (IKJ). Banon banyak bekerja dengan pantomim bersama Septian Dwi Cahyo. Ia mengembangakan pantomim dengan tajuk Funtomime. Pertunjukan funtomime ini mencoba menggabungkan pantomim dengan berbagai displin seni lain seperti stand up comedy mime, magic mime, breakdancemime dan banyak pengembangan lain. Banon juga banyak membuat video-video pantomim di sosial media dan terkadang menjadi bintang video klip, serta aktif berkolaborasi pantomim dengan banyak seniman lain.

Tiyaswening Maharsi adalah seorang perempuan berasal dari solo yang bermukim di Jogja yang kesehariannya bekerja di sebuah rumah budaya. Dia aktif sebagai penulis cerpen dan baru-baru ini sedang tekun mendalami pantomim sebagai medianya untuk menemukan bahasa seni kedua untuk mengembangkan karya-karya cerpennya, harapannya karya cerpennya tidak berhenti sebagai sebuah karya seni tulis semata, namun dapat dinikmati dari sudut pandang artistik seni lain.

Solo Mime Society adalah kumpulan anak muda yang aktif dan bekerja mengembangkan pertunjukan pantomim di solo melalui pelatihan di sekolah-sekolah dan aktif di bebagai acara seni. Pada setiap tahunnya mereka membuat acara pementasan bersama untuk menyemarakkan pertunjukan pantomim dengan menampilkan karya-karya pantomim baik solo maupun berkelompok dan meramaikan acara-acara seni tertentu sebagai paritisipan ataupun bintang tamu.

Purwokerto Pantomim Series adalah sekumpulan anak muda pula yang aktif menghidupi pantomim di daerah Purwokerto. Mereka sering mengelar acara penggalangan dana untuk anak dan  kanker. Mereka rutin menggelar pertunjukan  solo maupun kelompok di kampus ataupun ruang publik.

Bali Pantoret adalah penggabungan pertunjukan pantomim dan operet yang dilakukan oleh kelompok anak muda bali dari Teater Kini Berseri. Mereka rutin melakukan pertunjukan karya dan melakuakan pementasan di acara-acara seni tertentu bahkan pernah melakukan lawatan hingga Singapura.

 

Pelem Sewu, 2 September 2016

*Ficky Tri Sanjaya, aktor pantomim, anggota Bengkel Mime Theater Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *