Menjejak Ingatan pada Semangkuk Sup Makan Siang atau Cultuurstelsel

oleh : Ficky Tri Sanjaya
Pertunjukan Semangkuk Sup Makan Siang atau Cultuurstelsel. Foto : whanidproject.com

Hari Sudah pagi, dan saya memulai ingatan tentang pertunjukan tersebut juga tepat di pagi hari, ketika matahari mulai sedikit muncul. Ada apa dengan pagi hari? Ada apa dengan lakon Semangkuk Sup yang menunjukan latar waktu dalam lakonya terjadi antara jam 6 pagi hingga 12 siang? Sungguh pendek waktu untuk mengingat dan  mendekatan sejarah adanya Cultuurstelsel di nusantara ini berabad lalu terkait pengaruh warisannya pada abad ini.

Bagaimana dengan pertunjukan Semangkuk Sup Makan siang atau Cultuurstelsel yang malam itu 10-11 Agustus 2016 di persembahkan oleh Ars Management & WhaniDProject? Naskah & Sutradara Hedi Sartono,  Pemain Whani Darmawan, Theodorus Cristanto, Rendra Bagus P didukung kurang lebih 25 tim kreatif.  Ya, Semangkuk Sup saya menyebutnya, disajikan pada siang hari di terik yang panas di negara yang tropis. Seperti umumnya kebiasaan makan siang di Indonesia, kebiasaan tersebut adalah utama dan penting. Di siang hari yang lapar kita akan memakan karbohidrat berupa nasi penuh dalam satu piring untuk memuaskan rasa lapar. Begitu aku berusaha menggambarkan pertunjukan malam itu. Jika kamu tidak lapar atau sudah terbiasa dengan pola makan modern dengan berbagai treatment dan usaha diet bisa pasti dibayangkan apa reaksi tubuhmu saat akan makan, begitulah perasaanku seusai menonton.

Lama setelah pertunjukan saya mendiamkannya. Memang cukup padat kegiatan, dan menulis ingatan membutuhkan energi yang tepat untuk melepaskannya. Walau memang setelah pertunjukan berusaha mencatat sedikit yang teringat dan tercecer dalam peristiwa yang disajikan. Sebenarnya juga dengan berbagai alasan tertentu, mencari sela dan jarak untuk melihat ulang pertunjukan tersebut dengan jarak tertentu. Pertanyaannya apakah kita memang terbiasa mendiamkan dan membiarkan sejarah sebagai wacana penting dalam kehidupan? Tradisi akan sejarah yang dihilangkan sudah pernah terjadi di negara ini. Dan penumpukan sejarah sebagai wacana baru menjadi kabur dan bid’ah saat ini.

Sebuah praktik pertunjukan seni berusaha menggali serpihan sejarah berabad lalu. Dengan tawaran waktu pemaparan 6 jam dan dalam tempo pertunjukan sekali selesai kurang lebih 2 jam dalam Semangkuk Sup makan siang. Tentu kamu akan mengumpat dan mengatakan “sabar, tawakal” seperti  yang salah satu pemain katakan dalam pertunjukan malam itu berulang-ulang. Kita memang harus bersabar dan tawakal untuk memahami sejarah nusantara dalam konteks kekinian.

Malam itu sejarah Cultuurstelsel di masa kolonial disajikan ulang dalam panggung kecil Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Kursi penonton yang berjumlah ribuan dipangkas menjadi kurang lebih hanya ratusan di bagian depan. Panggung dengan seting domestik di dalam rumah dengan seperangkat kichen set dan perabotan memasak tepat berada dan diletakkan di tengah hampir ke belakang panggung. Hiasan rumah berupa kepala kuda dan bola bisbol, bergantung menjadi background panggung bersama latar hitam di belakang. Scaffolding yang tinggi menjulang dengan bendera merah putih di ujungnya. Seperangkat meja makan mewah bulat seperti dalam restoran lengkap dengan gelas-gelas kacanya yang khas. Pemusik orkestra kecil di pojok kiri panggung memkai jas rapi. Kanan panggung di bawah scaffolding ada rung kerja kecil dengan kursi roda dan bola dunia serta buku-buku di atasnya. Rasaya panggung begitu dekat, sekaligus begitu asing bagi saya.

Sebelum pertunjukan dimulai saya telah membawa keriuhan rumah, peristiwa harian, orang-orang di jalan dan percakapan para seniman yang menunggu di lobi gedung malam itu. Pertunjukan yang begitu dekat dan asing ini, memulai pentas malam itu dengan seting waktu di pagi hari, dimana ingatanku harus kuatur kembali seperti jam weker saat pagi, dan bagaimana pagi harus aku konstruksi ulang melalui peristiwa pertunjukan yang sedang berlangsung malam itu. Ada seperti pengulangan waktu yang disengaja saat penyajian pertunjukan.

Ketika pertunjukan dimulai, saya cukup tegang sekaligus senang melihat aktor-aktor profesional bermain dalam ranahnya. Namun aku sedikit terkejut saat awal pertunjukan dengan pilihan penyajian keatoran malam itu. Dialog yang ketat dan teknik keaktoran yang lumrah (konvensional) yang dilakukan membuatku kaget dan lumrah. Butuh waktu kurang lebih 30 menit untuk menerima bentuk dan teknik  keaktoran yang lumrah dalam pertunjukan konvensional teater malam tersebut. Lama-kelamaan terasa terbiasa dengan suara vokal yang keras, nada irama vokal yang hampir mirip, tempo yang monoton, ping-pong dialog yang selalu konstan dan nyaris tanpa perubahan hingga kurang lebih 2 jam.

Dua jam pertunjukan itu yang ketat dengan percakapan dan bobot percakapan yang ulang alik, diputar, dikocok dan dikembalikan lagi ke awal. Menjemukan, sekaligus menjengkelkan, sekaligus mengusik, dan kata-kata yang disampaikan  hingga telinga menuntut pemaknaan. Seluruh pertunjukan malam itu seperti sedang menyusun kata-kata yang kurasakan menuju kerusakan berulang pada topik yang sama. Mengerti, Pengertiaan, Makna, Manusia, Orang asing, Kuda, sapi,  dari sinilah cerita dimulai,  Ayah yang merantau tak kunjung pulang, perusahaan dagang, akhir yang menyenangkan, tidak menyenangkan, membosankan, kopi, merica, gula, garam, bahwa, komoditas ekspor, bangsa hindia, terlahir kembali, dia yang melihatnya, jangan minum itu, Rantai makanan, cacing tanah, sistem produksi, kekacauan, politik, modernisasi, ribuan petani, mengikuti pasar, Kau, aku, kita, kau saja, atau kalian berdua, sulit sekali menjelaskan pada kalian, bukankah itu sudah menjadi tugas kita, tuan dengan jongosnya, hubungan kerja, relasi tuan dengan hambanya, pengeras suara, bom rakitan, aku sama seperti dia, tak bisakah kau diam, dan selanjutnya bagaimana?

Keaktoran Yang Kuat

Tiga orang yang dimainkan dalam pertunjukan tersebut tidak memiliki nama. Ketiga tokoh tersebut terlibat langsung dalam satu hubungan dalam satu rungan. Entah, relasi seperti apa yang mereka harapkan dan bangun. Relasi yang saling membantu namun tidak seperti keluarga atau saudara, tapi seperti bos dan bawahan. Seperti sejajar tetapi ada salah satu tokoh yang lebih besar porsinya dalam cerita. Sebut saja tokoh utama dan dua tokoh pembantu utama sehingga peran mereka saling menguatkan satu dengan yang lain dalam percakapan panggung. Padatnya dialog dan materi dalam naskah tersebut seperti berjalan tanpa rem, disajikan tanpa henti dan terus menerus tanpa jeda kesunyian. Riuh kata, riuh dialog, nyaris sempurna, rapi, terukur, jelas, padat, hanya sesekali ada improvisasi bahasa berlogat jawa namun penyegaran tersebut nampaknya tidak menjadi bagian pertunjukan ini.

Terpukau dengan kemampuan aktor utama Whani Darmawan yang dalam pertunjukan malam itu sangat kuat dan rapi dalam membagi energi untuk memenuhi kebutuhan naskah, nyaris konstan, dan dialog terasa stabil. Memang butuh energi yang kuat sebagai aktor utama, kemampuan manajemen energi keatoran Whani Darmawan membuktikan mampu menguatkan pertunjukan tersebut.

Pertunjukan malam itu penuh dan riuh kata-kata. Tubuh-tubuh aktor malam itu hanya sedikit sekali berlintasan karena banyaknya kata dalam dialog. Minimnya bahasa tubuh tanpa kata membuat pertunjukan malam itu menjadi dekat sekali dengan pemaknaan kata semata dan jauh dari memberi tawaran imajinasi dan improvisasi visual lain. Hanya sesekali mereka merayakan tubuh dengan menari ketika kata-kata menjadi membosankan.

Theo D. yang selama ini lebih dekat dengan bahasa tubuh, nampaknya malam itu cukup berusaha mengejar tempo dialog yang berjalan cepat. Rendra B.P yang malang melintang dengan berbagai grup pertunjukan nampaknya cukup bisa dan luwes menyesuaikan tempo pertunjukan, namun memang  kecenderungan tubuh tertentu masih dapat dikenali pada pementasan malam itu.

Ketiga aktor menjaga tempo dengan sangat baik, menunjukan semua kemampuannya yang maksimal. Sehingga seni nyaris serius, formal, dengan etika terukur, tanpa improvisasi dan kecelakaan.

Merayakan Cultuurstelsel

Merayakan Cultuurstelsel berabad lalu saat ini seperti merayakan perbincangan dalam obrolan santai di cafe modern dengan memesan secangkir kopi, lengkap denga alat modern dalam penyajiannya. Memperbicangkan sejarah kolonial yang mewariskan  budaya  korup  dan  mental inlander  memasuki  ruang kafe yang mahal dan mewah membawa semacam virus idenditas tren abad ini tanpa tahu sejarah gelap masa lalunya. Sementara itu para petani penanam kopi masih terjebak dalam kondisi kemiskinan yang sama. Persolaan agraria yang tidak pernah selesai hingga kini.

Sejarah dan ingatan adalah bid’ah, maka dari itu kita harus sabar dan tawakal dalam menjalani kehidupan yang selalu di putar ulang oleh pengusa menjadi topik dan konsumsi warganya yang selalu sama. Memang kekuasan dan politik  hanya mampu memberi tawaran solusi kreatif terhadap segala topik saat ini yang selalu diputar ulang. Suasana mendengarkan lagu pada budaya kita masih menggunakan kaset pita. Harus diputar terus menerus dan diulang lagi agar kita lebih baik dalam mendengarkan lagunya. Walau perilaku  orang-orang mulai menunjukan menggunakan smartphone yang mampu menjangkau informasi apapun dengan sekali tekan. Mampusnya, yang ditekan adalah informasi-informasi yang selalu saja terjebak dengan topik yang selalu saja sama, dan kita harus menerima, tenang dan terhibur dengan hal tersebut. Itulah dunia dalam Semangkuk Sup kaya dan aneka ragam isinya.

Sementara itu Agustus telah tiba, dimana kampung-kampung di seluruh wilayah nusantara sedang merayakan kemerdekaan, menyiapkan berbagai lomba, mengibarkan bendera, menyanyanyikan lagu-lagu perjuangan dan dengan riang gembira merayakan kebahagiaan kemerdekaan dalam alunan musik dangdut.

Semangkuk Sup Makan Siang atau Cultuurstelsel sudah selesai dimasak, sudah  disajiakan di atas meja makan. Siapa hendak menyantapnya?

Pelem Sewu, 27 Agustus 2016

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *