Mengalami Ruang dan Bunyi: Laporan dari Menonton YesNoKlub #35

Oleh : Ficky Tri Sanjaya

Jumat 6 Juli 2018, pukul 19.30 di Black Box Teater Garasi menggelar pertunjukan musik dari Yes no Klub yang ke #35.  Yes No Klub adalah acara bulanan yang menampilkan “pertunjukan budaya” antar musisi lokal dan manca negara. Yes no Klub sendiri adalah salah satu program dari Yes No Wave Music, sebuah netlabel yang berbasis di Yogyakarta. Netlabel ini sudah lahir sejak 2007, untuk lebih lengkap bisa tengok di laman Wikipedia. Pertunjukan budaya sebagaimana dikatakan penggagas Woto Wibowo alias Wok The Rock adalah ruang yang diperuntukkan bagi para penggemar bunyi untuk merepresentasikan karyanya. Penyelenggaraan dilakukan secara swadaya oleh para peserta yang terlibat. Menampilkan berbagai hasil ragam dan ekplorasi bebunyian secara langsung seperti ekperimental rock, elektronik, indie pop, trash metal, hingga folk, terlepas dari ada atau tidak penggemar yang hadir menyaksikan.  Tiket presentasi pertunjukan dijual seharga Rp. 25.000 yang sebenarnya adalah ruang bagi penonton dan para musisi lain yang turut hadir untuk berpartisipasi dalam terwujudnya penyelenggaraan dan pengelolaan acara ini.

Acara berjalan santai, banyak anak muda yang hadir untuk berpartisipasi membeli tiket. Kemasan acara juga sederhana, meski tampak para penampil tidak menyederhanakan penampilan. Namun ruang keterbukaan dan dialog antar penggemar ragam bebunyian cair dan hangat. Acara biasanya diselengarakan secara berpindah-pindah, dan kebetulan tempat presentasi malam itu adalah di Teater Garasi. Pendengar yang membeli tiket mendapatkan cap di tanda lengan dan mengisi daftar hadir. Tidak ada pengantar atau keterangan tambahan selain dari poster yang didapat dari jejaring sosial. Bagi saya yang jarang menononton pertunjukan musik, tentu tidak begitu akrab dengan para penampil dan berbagai peralatan bunyinya. Tetapi sebagai sebuah peritiwa pertunjukan acara ini menarik untuk di tengok menjadi bagian akan pengalaman ruang dan bunyi.

Setelah sambutan dari penggagas acara kemudian berlanjut ke penampilan pertama Hasana Edition: Duto Hardono. Musik Duto bersumber dari komposisi yang ia susun menggunakan teknologi laptop (musik elektronik). Suara-suara yang ia hadirkan dalam musik elektronik terdengar seperti susunan kekacauan yang bersumber dari lingkungan. Seperti suara batu-batu berjatuhan, suara yang berlintasan, tumpuk-menumpuk secara otonom. Ada semacam perspektif ruang dalam bunyi yang otonom tersebut. Bunyi-bunyian yang tersusun dengan komposisi yang komplek dari suara-suara kasar dan keras, besar dan kecil. Terasa saling menarik dan berkaitan menyusun peristiwanya sendiri. Semacam garis-garis pada lukisan yang abstrak memunculkan perspektif ruang. Duto bermain dengan penuh konsentrasi pada laptopnya, dengan penuh ketegangan dan keleluasaan yang terbatas.

Penampilan kedua oleh Riar Rizaldi, dia menghadirkan banyak set chanel suara dalam sebuah box dengan berbagai warna kabel, dan tampak rumit. Ada permainan dan dialog komposisi, ekplorasi warna bunyi dan irama bunyi yang berbentur dan bergeser-geser, satu dengan yang lain keluar masuk, putus sambung. Semacam menyusuri ruang-ruang kosong yang penuh dengan liku-liku, penuh dengan bidang-bidang dan pola-pola yang saling menjalin.

Pertunjukan terakhir adalah Raja Kirik dari Yennu Ariendra dan J Moong Santosa Pribadi yang terinspirasi dari musik Jaranan Buto Banyuwangi. Jaranan Buto adalah salah satu seni pertunjukan tari tradisi rakyat yang berlatar cerita mengenai Minak Jinggo. Musik Jaranan Buto terdiri dari kendang, kempul, gong dan terompet. Namun malam itu keempat alat musik tidak hadir sebagaimana sumber, berbagai alat dan suara yang hadir sebagaimana sumber bunyi aslinya dicoba untuk elaborasi menggunakan berbagai peralatan bebunyain yang berbeda oleh Moong.

Yennu menggunakan musik elektronik dan sebatang besi seperti pir mobil, sedangkan Moong menggunakan kempul, terompet, seruling, siter gendang versinya. Alhasil, ritme, bunyi, dan komposisi yang berbasis narasi teks, bunyi dan visual, mudah untuk dikenali.  Muncul pula sensasi lain dalam percampuran bunyi-bunyian tersebut. Terasa secara komposisi Yennu dan Moong dalam musiknya ingin menghadirkan visual penari Jaranan Buto tanpa penarinya, dan mencoba menghadirkan sisi trance dalam musik tersebut. Namun tampaknya hal tersebut masih gagal, secara koreografi komposisi musik tidak serapi versi rekamannya yang memang diakui Yennu dan Moong yang pada pertunjukan pada acara ini kurang waktu berlatih bersama dalam suasana santai.

Sedayu, 19 Juli 2018

 

Ficky Tri Sanjaya, aktor dan mimer, tinggal di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *