Memaklumi Retorika Bunuh Diri

 

Ulasan pementasan “In X” dari Forum Seni Budaya Retorika, Filsafat UGM.

Oleh :  M. Dinu Imansyah.

SETIAP kali menyaksikan sebuah pertunjukan teater, saya selalu berupaya untuk menjadi penonton awam yang berusaha melepaskan diri dari teori-teori pemanggungan, literasi, bahasa, atau disiplin ilmu apapun yang kiranya mengurangi penikmatan saya terhadapnya. Bahkan sedapat mungkin saya selalu berupaya untuk menahan diri tidak membaca booklet yang dibagikan di pintu masuk pertunjukan demi menjaga “kemurnian” pengalaman menikmati sebuah pergelaran. Pergelaran apapun yang disajikan, selalu saya perlakukan sebagai peristiwa pada umumnya, ibarat kita menyaksikan peristiwa sehari-hari.

In X oleh FSB Retorika. Foto oleh Dinu Imansyah.

Pada umumnya, teater kampus dikenal sebagai teater yang memiliki seabreg “pemakluman”. Mengingat teater kampus pada umumnya didirikan sebagai aktivitas selingan atau ruang ekspresi berkesenian kaum akademika perguruan tinggi—khususnya perguruan tinggi non-seni. Teater kampus biasanya dipandang sebagai komunitas teater yang serba apa adanya. Jika pemeranannya kurang baik, maklum saja karena aktor-aktornya mahasiswa non jurusan teater. Jika artistiknya kurang memikat, maklum saja karena tim artistiknya mahasiswa non jurusan seni rupa. Jika ruang pertunjukannya bukan di gedung pertunjukan tapi di ruang kelas atau halaman kampus, maklum saja karena keterbatasan dana. Dan masih banyak pemakluman-pemakluman lainnya yang membuat teater kampus seringkali dipandang sebelah mata, khususnya dalam hal kualitas karya, di dunia perteateran Indonesia.

Saya selalu berupaya melepaskan pemakluman-pemakluman semacam itu. Tidak peduli siapapun yang menggelar pertunjukan teater, entah teatrawan professional, amatiran, atau bahkan dadakan, segala bentuk pertunjukan, tidak peduli seberapapun kualitasnya, tetaplah pertunjukan utuh, karya seni yang “rampung”. Tentu saja pemaknaan istilah “rampung” ini masih bisa diperdebatkan lagi, terlepas apakah sebuah karya seni pertunjukan itu masih on progress, serial, atau masterpiece sekalipun, selama sebuah karya seni sudah siap untuk disajikan ke audiensnya, karya itu sudah tuntas bagi saya. Sama halnya dengan menikmati pertunjukan dari teater kampus manapun, bagi saya dia tetaplah karya seni yang sama dengan karya seni yang disajikan oleh teater professional manapun, karya seni yang tetap layak untuk diapresiasi.

Meski tentu saja keinginan untuk mendapatkan pengalaman tertentu mau tidak mau pasti kita jinjing dari rumah saat hadir di sebuah perhelatan teater. Terlebih lagi jika mengetahui siapa yang menggelar. Meski harus diakui, ini adalah kali pertama saya menyaksikan pertunjukan dari Forum Seni Budaya (FSB) Retorika. Meski sudah lama mendengar sepak terjangnya, baru pada pertunjukan “In X” inilah saya berkesempatan untuk mengenal lebih jauh Badan Kegiatan Mahasiswa Filsafat UGM ini.

Sebagai orang yang juga pernah berkecimpung di dunia teater kampus, menyaksikan pertunjukan “In X” pada 8 Mei 2018 lampau ini, melontarkan saya kembali ke masa saat masih menjadi mahasiswa sarjana beberapa tahun lampau. Selasar Filafat UGM yang disulap menjadi ruang pertunjukan dengan tirai-tirai backdrop hitam, tata cahaya lampu paar-kaleng susu yang bersahaja, tata panggung yang minimalistik, tata rias yang asalkan-tidak-membuat-kulit-terlihat-mengkilat, hingga kostum yang dicomot dari pakaian sehari-hari atau pinjam-punya-bapak. Belum lagi jika membicarakan seni pemeranan yang “memang-aslinya-seperti-itu”. Meski sebelumnya dikatakan bahwa saya selalu berupaya menghindari pemakluman-pemakluman dalam menikmati sebuah sajian pertunjukan, seringkali pemakluman-pemakluman semacam inilah yang saya rindukan.

Dari pemakluman-pemakluman semacam inilah yang kemudian membersitkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran saya: kenapa teater kampus dari dulu selalu “khas” seperti ini? Seperti apa proses regenerasi yang terjadi dalam teater kampus sekarang? Sejauh apa perkembangan dramaturgi teater kampus saat ini? Hingga seberapa signifikankah posisi teater kampus sebagai salah satu motor penggerak perkembangan teater di Indonesia di era di mana semua orang bisa menciptakan “drama”nya sendiri-sendiri ini?

Tapi biarlah pertanyaan-pertanyaan itu sebagai bahan berkarya kita semua. Tulisan ini tidak akan berupaya untuk mencarikan jawabannya. Saya akan mengajak kita untuk menilik tema yang ditawarkan FSB Retorika melalui  “In X”nya ini: Bunuh Diri.

Verifikasi Bunuh Diri

Pertunjukan yang digelar kurang dari satu jam ini bercerita tentang konflik batin Bram (Haikal Mubarok) yang ingin mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun. Pertanyaan yang ditawarkan oleh pertunjukan arahan sutradara Pascal Caboet ini adalah apakah keputusan Bram untuk melakukan bunuh diri akan membuat kematiannya menjadi lebih luhur, atau justru lebih hina dari hidupnya saat ini? Setidaknya itulah yang dijabarkan dalam booklet yang dibagikan sebelum audiens memasuki ruang pertunjukan.

Dalam booklet yang baru saya baca usai pertunjukan itu dijabarkan pula bahwa Bram sebenarnya mengalami pergolakan batin yang cukup berlapis-lapis, mulai dari usahanya yang bangkrut hingga jatuh miskin, menganggur, merasa menjadi beban bagi orang lain, dicibir tetangga, disorientasi hidup, dikhianati oleh sahabatnya sendiri, hingga nyaris bercerai dengan istrinya. Dalam booklet pula dijabarkan bahwa Bram sebenarnya seorang lelaki paruh baya. Émile Durkheim, sosiolog terkemuka itu, turut disinggung pula di dalam booklet atas keterkaitan teorinya tentang pengategorisasian bunuh diri yang konon semuanya tuntas dialami oleh Bram. Sayangnya di booklet yang sama tidak diterangkan  apa saja kategori yang diteorikan oleh sosiolog kelahiran Prancis itu—meski sebelumnya telah diterangkan masalah apa saja yang mendera Bram.

Kenapa semua kata-kata saya harus merujuk pada booklet?

Alasan mengapa saya acapkali baru membaca booklet pasca pertunjukan adalah untuk memverifikasi peristiwa yang saya alami semasa pergelaran disajikan. Tanpa bermaksud untuk mencari-cari cela, bagi saya proses verifikasi ini adalah peristiwa kedua yang saya alami pasca menonton pertunjukannya. Ada dua teks yang berbeda di sini: teks pertunjukan dan teks booklet—sebut saja demikian. Teks pertunjukan adalah apapun yang tersaji nyata di atas panggung melalui medium ketubuhan aktor maupun dukungan tata artistiknya. Sedangkan teks booklet adalah teks ide dasar pertunjukan itu digelar, dengan kata lain, bisa dibilang teks booklet ini merupakan perwujudan yang berbeda dari naskah pertunjukan—sebuah titik tolak mise en scene.

Saya paham betul bahwa sebagian besar alasan mengapa booklet dibagikan di awal pertunjukan adalah untuk memberikan “pengantar” bagi penonton awam akan pertunjukan yang akan disajikan. Tidak hanya pengantar mengenai konten pertunjukannya tetapi tentu saja perkenalan orang-orang yang terlibat di dalamnya dan (jika ada) mengetahui pihak sponsor mana saja yang mendukung pertunjukan ini. Beberapa pertunjukan bahkan sangat menggantungkan pemahaman penonton melalui booklet, alih-alih menangkapnya langsung dari sajian pergelaran di atas panggung—biasanya ditemui pada pertunjukan-pertunjukan eksperimental.

Tentu tiap orang memiliki pilihannya masing-masing kapan harusnya membaca booklet yang dibagikan. Mau sebelum atau setelah pertunjukan, atau bahkan tidak membacanya sama sekali. Semua memiliki caranya masing-masing dalam menikmati pertunjukan.

Dalam proses verifikasi yang saya lakukan dengan membaca booklet pasca pertunjukan ini biasanya saya akan mendapatkan tambahan wacana—atau setidaknya bisa membantu saya dalam memahami peristiwa pertunjukan yang baru saya alami jika sajiannya terlalu abstrak. Imajinasi yang sudah saya susun selama menyaksikan pertunjukan bisa lebih kaya dengan mendapatkan informasi baru dari booklet-nya. Berbeda jika saya membaca terlebih dahulu booklet-nya, imajinasi saya akan lebih dulu terkungkung dalam bingkai tertentu—seperti yang diharapkan sutradara. Tentu saja seberapa kuatpun teks yang ditawarkan oleh booklet, tiap orang pasti memiliki caranya masing-masing dalam menikmati dan menerjemahkan teks yang dihadirkan di atas panggung.

Salah satu adegan dalam “In X”. Foto oleh Dinu Imansyah.

Jadi begini penangkapan saya terhadap pertunjukan sebelum membaca booklet: Bram berdebat dengan dirinya sendiri tentang keputusannya untuk bunuh diri – Di scene berikutnya, seorang pegawai perempuan hamil tengah berbincang dengan rekan kerjanya, seorang laki-laki yang belakangan diketahui ternyata mantan pacarnya – scene berpindah ke adegan pegawai perempuan tadi yang tiba-tiba mesra dengan mantan pacarnya itu – scene berpindah lagi ke kegelisahan Bram untuk bunuh diri—yang kemudian berujung pada penjelasan bahwa perempuan tadi istrinya yang tengah affair dengan mantan pacarnya – scene terakhir tentang pertengkaran Bram dan istrinya – tamat.

Tadinya saya berpikir ada dua lapis peristiwa yang tidak terkait di sini: Peristiwa pergulatan batin Bram untuk bunuh diri dan peristiwa hubungan di antara dua pegawai kantoran. Namun setelah mengetahui jika perempuan itu adalah istri Bram, lapisan itu luntur dan kemudian terasa seperti kisah sinetron yang linear. Sayang sekali. Padahal saya membayangkan seandainya dua peristiwa ini tidak terkait sama sekali, mungkin pertunjukan ini akan jadi lebih kaya. Ibarat kolase dua gambar yang sama sekali berbeda tapi ditempelkan di sebuah bingkai yang sama. Mungkin imajinasi yang ditangkap oleh penonton akan lebih liar pula.

Sayangnya, linearitas pertunjukan ini semakin terasa lemah ketika saya membaca booklet pasca pertunjukan. Alih-alih memperkaya imajinasi saya dengan wacana baru, saya malah jadi sibuk memverifikasi apa yang ditawarkan di dalam booklet dengan apa yang disajikan di atas panggung. Seperti misalnya jika di dalam booklet dikatakan bahwa ada banyak sekali masalah yang mendera Bram sehingga memaksanya untuk bunuh diri, di panggung hanya ditampakkan masalah yang paling nyata adalah perselingkuhan istrinya, kalaupun ada masalah-masalah yang dibahas dalam perdebatan Bram 1 dengan Bram 2, itu juga kurang bisa ditangkap dan dicerna dengan baik oleh audiens karena tampak sekali kedua aktor tampak lebih sibuk untuk memindah-mindahkan meja dan kursi—yang tidak jelas apa motivasinya itu—alih-alih menghayati emosi yang seharusnya mereka alami. Di booklet juga digambarkan jika Bram adalah seorang lelaki paruh baya, tapi di atas panggung, Bram tampak lebih mirip remaja atau setidaknya pasangan muda yang baru beberapa tahun menikah. Hal ini disebabkan upaya untuk menggambarkan karakter pria paruh baya yang kurang matang seperti bagaimana postur tubuh, intonasi bicara, kostum, dan tentu saja tata rias. Belum lagi tata ruang yang tidak jelas fungsinya, di beberapa adegan, beberapa kursi dibiarkan terbengkalai tanpa direspon aktor-aktornya, sehingga alih-alih berupaya untuk menghadirkan impresi ruang tertentu, yang terasa hanyalah ruang dengan kursi-kursi yang mubadzir.

Satu-satunya hal yang terasa cukup bisa saya nikmati adalah pemilihan ilustrasi musiknya yang jelas berbeda dengan karakter musik teater kampus “klasik”—yang biasanya khas dengan irama balada, komikal, dan cenderung monumental. Ilustrasi musik yang cenderung elektris namun tetap terasa cukup lekat dengan adegan dengan yang disajikan. Meski terkadang di beberapa kesempatan musiknya terasa memiliki karakter yang berjarak dengan pertunjukan itu sendiri.

Tentu saja jika saya terpaksa harus mengenakan pemakluman-pemakluman seperti yang telah saya utarakan sebelumnya atas teater kampus, beberapa hal di atas bisa dimafhumkan. Tapi saya berusaha seminim mungkin tidak menggunakan pemakluman-pemakluman seperti itu. Karya seni, siapapun pelakunya, tetaplah karya seni yang patut diapresiasi dan dijunjung tinggi. Terlebih lagi teater kampus yang dari dulu dikenal sebagai motor utama penggerak dinamika jagad teater di Indonesia ini. Teater kampus yang dimotori oleh mahasiswa yang selalu mengikuti perkembangan jaman itu harusnya juga harus lebih berani untuk progresif. Regenerasi teater kampus harusnya jangan hanya dimaknai sebagai pewarisan dramaturgi yang itu-itu saja. Teater adalah media seni yang paling kaya, yang merangkul semua aspek. Sungguh ironi jika teater harus terasa semakin (dan lebih) miskin di era melimpahnya kekayaan akses informasi ini.

Jangan sampai teater harus membunuh dirinya sendiri dengan kemiskinan eksplorasi dan kemilitanan berkarya. Kasian Durkheim, bingung nanti dia bikin teori baru.

Sukses terus buat FSB Retorika, mari kita perkaya teater kampus Indonesia!

 

Yogyakarta, 10 Mei 2018

M. Dinu Imansyah, aktor, saat ini sedang menimba ilmu di Pasca Sarjana UGM.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *